Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 48: Whole Again, part 1



LUCIFER tidak percaya dengan apa yang terjadi. Bagaimana ia, makhluk empat dimensi, bisa dibuat berlutut hanya dengan sepenggal kata? Tak masuk akal. Sangat tak masuk akal. Ini pasti ilusi yang tak bisa dikomprehensikan. Mustahil ini kenyataan.


Namun, memasukkannya ke dalam ilusi juga mustahil. Bahkan jika itu Supreme Magic [Endless Thought] sekalipun. Dan meskipun (entah bagaimana) ia bisa diseret ke dalam ilusi, [Reality Destruction]-nya akan dengan mudah menghancurkan ilusi tersebut.


Namun, kedua kakinya saat ini benar-benar sedang berlutut. Ini kontra realitas. Paradoks. Ini sesuatu yang mustahil terjadi, tapi terjadi. Lucifer tidak tahu bagaimana ini bisa terjadi selain mengasumsikan kalau ia sekarang berada di dalam mimpi. Namun, matanya terlalu terjaga untuk memercayai ini mimpi.


“Ada apa, Lucifer? Kau tak suka berlutut? Mau mencoba bersujud?”


Begitu pertanyaan Xavier sampai ke telinga Lucifer, tubuhnya mulai bergerak menyejajarkan diri dengan permukaan kawah. Geraman amarah seketika melontar dari mulut Lucifer, memenuhi udara. Dan sejurus kemudian ia kembali memasuki mode terkuatnya – wujudnya telah kembali menjadi energi hitam yang bertangan, berkaki, dan berkepala.


Kali ini kontrolnya lebih baik dari sebelumnya. Jika sebelumnya apa pun yang mendekatinya akan hancur, kali ini Lucifer berhasil untuk tidak menghancurkan permukaan kawah. Gaya yang telah memaksanya berlutut pun kini bisa ia lawan. Dengan perlahan mantan malaikat agung ini berdiri.


“Ah, kukira memang mustahil membuat individu sekuatmu bersujud hanya dengan satu perintah.”


Perhatian Lucifer fokus pada sang commander. Berada dalam mode terkuat membuatnya menyadari perbedaan yang mencolok pada sang lawan. Dia tak memancarkan hawa keberadaan bukan karena terlampau lemah, tetapi karena dia tak membiarkan apa pun dari tubuhnya untuk keluar. Dia bahkan tak mengeluarkan udara saat bernapas.


Tubuh Xavier seperti singularitas; tak ada informasi yang bisa keluar darinya. Dia tak terpengaruh apa pun yang tak melebihinya.


“Begitu rupanya. Kau sekarang telah menjadi makhluk yang sempurna sepertiku – kita sekarang berdiri dalam derajat yang sama. Namun—” Lucifer mengangkat dan mengepalkan kedua tangannya. “—jangan berpikir kau berada di atas angin. Infinity Domain: Cloak of Infinity.”


Energi merah gelap nan panas seketika melapisi tubuh hitam kelam Lucifer. Semestanya yang hancur menghasilkan energi yang sangat besar. Energi itu akan membentuk semesta yang sama setelah beberapa waktu. Lucifer menggunakan energi itu untuk membentuk Cloak of Infinity, meniru Cloak of God yang sebelumnya Xavier gunakan. Setelah ini ia takkan bisa menggunakan [Infinity Domain] untuk beberapa masa, bahkan mungkin selamanya, tetapi Lucifer tak peduli.


Jika aku harus mengorbankan [Infinity Domain], biarlah begitu!


Dengan seruan yang memenuhi kepalanya itu, Lucifer melesat menyerang Xavier yang hanya memandangnya diam. Satu pukulannya sudah cukup menghancurkan segalanya, tetapi Lucifer memusatkan serangannya pada kedua tangan hingga takkan ada energi yang terbuang. Jadi, meskipun seharusnya planet ini sudah hancur, tak tercipta kehancuran sedikit pun. Bahkan kerikil yang tertendangnya pun tak hancur.


“Ini ronde yang terakhir!” seru Lucifer bersamaan dengan kepalan tangan kanan yang meluncur menyasar wajah sang commander. “Mati dan bina—”


“Takkan ada lagi pertarungan,” potong Xavier seraya menahan pukulan Lucifer dengan telapak tangannya. Pada saat yang bersamaan, mereka sudah tak lagi berada di kawah bekas gunung hancur. Mereka secara instan telah berada di atas lautan tenang yang seperti tak berbatas.


Lucifer spontan menarik tangannya dan melepaskan pukulan tangan satunya, tetapi Xavier hanya memiringkan kepala menghindari pukulan itu. Energi yang pukulan itu lepaskan membuat ruang hancur, bahkan lautan terbelah hingga tak terjangkau. Namun, sebelum dimensi tersebut hancur total dengan hanya satu pukulan Lucifer, waktu dengan cepat mengembalikan ruang yang lenyap.


Lucifer tak berhenti di situ. Ia melepaskan pukulan yang ketiga, keempat, kelima, dan seterusnya. Ruang mulai hancur di sana sini. Lautan yang tak terbatas telah menjadi seperti lingkaran yang disayat-sayat. Bahkan langit dimensi mulai runtuh. Waktu berusaha menormalkan ruang, tetapi serangan Lucifer begitu bertubi-tubi.


“Diam dan matilah, Xavier!” seru Lucifer seraya menghantamkan kedua tangannya ke atas kepala Xavier.


“Sudah kubilang,” ucap Xavier sembari memblok kedua tangan mantan malaikat dengan lengan kirinya. “Takkan ada pertarungan.”


“Jangan besar kepala! Ini masih per—”


Mulut Lucifer terbungkam saat Xavier menepis tendangan kaki kirinya lalu dengan cepat mencengkeram lehernya dengan tangan kanan. Cengkeraman itu begitu kuat, dan pada saat yang bersamaan Cloak of Infinity Lucifer menghilang. Energi sang mantan malaikat diserap dalam kuantitas yang besar. Di waktu yang sama, dimensi yang hampir hancur telah kembali seperti sedia kala.


“Takkan ada pertarungan,” ulang Xavier—dan seketika pula wujud Lucifer mulai menjadi normal. Gabungan energi hitam yang membaluti tubuhnya telah diserap Xavier. “Yang ada hanyalah pemberian hukuman.”


Lucifer tentu tak diam saja. Walau tenggorokannya telah pecah akibat cengkeraman Xavier yang semakin kuat, tangan dan kedua kakinya berusaha memberi perlawanan. Namun, tubuhnya seketika tersentak saat [Complete Annihilation] hilang dari dalam dirinya.


“Akan kuambil Supreme Magic darimu,” lanjut Xavier mengabaikan pandangan horor Lucifer.


Lucifer tidak lagi merasakan [Eternal Zero]. Bukan itu saja. Bahkan semua sihir normalnya lenyap. [Holy Magic] dan [Light Magic] yang tak pernah lagi ia gunakan sejak diusir dari surga juga menghilang tak berjejak. Dan yang paling menakutkan, ia merasakan tubuhnya melemah secara signifikan.


“Lalu akan kukeluarkan Nueva dari dalam tubuhmu.”


Tak ada yang bisa Lucifer lakukan. Matanya hanya bisa memandang putus asa pada tubuh normal Nueva yang ditarik sang commander keluar.


Hilangnya cengkeraman tangan Xavier dari lehernya membuat Lucifer jatuh terduduk pada permukaan air. Namun, ia tak mencoba berdiri dan melarikan diri. Matanya memandang syok dan penuh putus asa pada tubuh sang emperor yang terlentang di belakang kaki Xavier. Ia sudah bukan lagi makhluk empat dimensi; ia hanya malaikat yang berevolusi jadi dragonoid.


“Dan kemudian—”


Lucifer refleks menengadah mendengar kedua kata itu – kehidupan telah menghilang dari matanya.


“—aku akan membunuhmu hingga tak ada lagi yang tersisa darimu walau hanya sebuah partikel.”


Api dari segala warna muncul di atas telapak tangan kanan Xavier. Namun, beda dengan yang pernah ia lihat sebelumnya, api putihlah yang menjadi pusat api. Bola energi putih sempurna sebesar kepalan tangan terbentuk saat semua api menyatu. Delapan piringan akresi terbentuk dengan saling menyilang mengelilingi bola energi itu. Namun, berbeda dengan sebelumnya, piringan akresi tersebut berwarna hitam kelam.


“Kau punya kata-kata terakhir? Tidak ada. Kalau begitu, binasalah dalam artian yang sempurna. Turn Null.”