Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 37: 1 vs 70,000, part 1



GALLAHAD tak pernah berpikir ia akan dikalahkan dengan begitu mudah. Tetapi itulah kenyataannya. Sihir yang membuatnya merasa bisa mengalahkan siapa saja (selama ia bisa menggunakan sihir) telah dibuat tak berguna. Gallahad tak bisa melakukan apa-apa lagi sekarang—selain mencoba menghancurkan ruang dimensi ini berikut dirinya sendiri dan sang commander.


Ia mencintai wanita, terutama istri-istrinya. Tetapi Gallahad bukan pengekang. Jika ada dari istrinya yang ingin bercerai untuk menikah dengan pria lain, ia akan menceraikan. Maka, Gallahad tidak khawatir istri-istrinya menikah lagi selepas ia mati. Jika menikah lagi membuat mereka bahagia, restu Gallahad bersama istri-istrinya. Ia pria yang seperti itu. Keinginan Gallahad adalah membuat wanita bahagia.


Karena itu, Gillahad tidak takut menggunakan kemampuan yang terkesan bunuh diri tersebut. Dan itu adalah apa yang dilakukan sang saint. Proses penghancuran ia mulakan, dan seketika tubuh Gallahad dipenuhi retakan tak berdarah—begitu pula dengan ruang dimensi ciptaannya.


“Ah, jadi itu pilihanmu? Kalau memang begitu maka aku takkan menghentikannya. Tapi aku punya pertanyaan, bagaimana kau masih bisa melakukan sesuatu terhadap tempat ini meski posisi kita telah berubah?”


Gallahad tak langsung memberi jawaban, ia terlebih dahulu memaksa tubuh retaknya berdiri.


“[Soul Incarnate]. Itu nama sihirku.” Gallahad memutuskan membeberkan semuanya. Karena ia akan mati, tidak masalah memberi tahu Xavier. “Namun, aku tak cukup kuat untuk menggunakannya secara maksimal. Aku tak cukup berbakat untuk benar-benar memahami sihir ini. Aku hanya bi—”


“Tidak perlu kau lanjutkan,” potong Xavier. “Aku akan mengetahuinya setelah mengambil sihir itu darimu.”


Gallahad menaikkan sebelah alisnya. “Itu mustahil,” sanggahnya. “Kau tak punya waktu untuk memulai ritual. Berbeda dengan Supreme Magic dalam legenda, setiap sihir adalah bagian dari jiwa seseorang. Mengambil sihir orang lain otomatis akan membuat orang itu mati. Karena itu sihir mustahil bisa diambil tanpa melakukan ritual.”


“Ritual? Aku tidak tahu cara melakukan ritual yang kau maksud.” Xavier mulai melangkah memperpendek jarak di antara mereka. “Aku tak memerlukan ritual untuk mengambil sihir orang lain. Aku sudah mengambil sihir sensorik, pembagi, teleportasi, ruang, angin, air, tanah, serta petir dari sejumlah orang. Dan sekarang akan kuambil [Soul Incarnate] milikmu.”


“…Mengambil sihir tanpa ritual?” Gallahad kesulitan percaya. “Bagaimana kau akan melakukannya?”


Hal itu belum pernah terdengar dalam sejarah. Tak ada yang namanya sihir yang dapat mengambil sihir lain. Bahkan [Soul Absorption] tidak bisa menyerap sihir meski bisa menyerap jiwa. Menyerap jiwa hanya akan memperpanjang usia hidup dan kapasitas mana pelaku; tidak ada kelebihan lain. Ketika seseorang terlahir, minimal satu sihir akan melekat dalam jiwa mereka. Pada saat seseorang itu mati, sihirnya akan lenyap dari jiwa. Begitulah yang sebenarnya.


“Bagaimana aku melakukannya?”


Tepat saat pertanyaan retorik itu keluar dari mulut Xavier, tepat saat itu pula sang commander menghilang dari pandangan Gallahad. Kemudian keretakan pada tubuh Gallahad dan dimensi ciptannya seketika berhenti melebar. Begitu sebuah tangan menyentuh punggungnya, sang saint tiba-tiba tak bisa lagi menggerakkan tubuhnya.


“Aku hanya perlu meraih jiwamu dan mengambil sihir itu. Dan aku juga akan mengambil jiwamu untuk meningkatkan kapasitas manaku. Meskipun potensiku lebih tinggi dari Luciel, aku hanya manusia sekarang. Meningkatkan kapasitas mana akan membantu.”


Gallahad mencoba melepas suara, tetapi itu mustahil dilakukan. Bahkan ketika rasa sakit menggerogoti tubuhnya hingga ke ubun-ubun, tidak ada suara yang berhasil kabur dari mulutnya. Gallahad seolah berdelusi, ia seperti melihat jiwanya sendiri meronta minta keluar. Kehidupannya seperti berputar di depan matanya. Wajah putri-putrinya adalah hal terakhir yang terlihat sebelum ia tertelan dalam kegelapan.


“…Jadi begitu. [Soul Incarnate] adalah sihir yang mewujudkan kekuatan jiwa. Atau bisa dibilang, ini sihir yang mengubah keinginan terdalam pemiliknya menjadi kemampuan. Gallahad adalah pria pemalas yang ingin semuanya menjadi mudah, jadi perwujudan sihirnya adalah ruang yang membuatnya seolah menjadi dewa. Dan kekuatanku—”


“Aku.”


Xavier langsung berbalik, dan seketika pula ia terdiam dengan mata melebar. Pemilik suara itu adalah dirinya saat ia berusia dua belas tahun. Xavier tidak salah lihat. Ia sedang memandang versi dirinya saat masih kecil yang kini duduk dengan kedua kaki terlipat dan satu tangan memangku wajah.


“Kau terkejut?” Bibir Xavier Kecil melengkung terhibur.


Melihat senyum itu membuat Xavier mengernyit. Senyum itu bukan senyum yang ia miliki saat masih kecil.


“…Siapa kau?” Xavier tak bisa menahan diri untuk tak melontarkan pertanyaan itu.


“Yang paling kau inginkan adalah kekuatan, kan?” Xavier Kecil tak menanti jawaban. “Karena itulah aku ada. Ah, tapi, Edenia bilang di dunia tidak ada yang benar-benar gratis. Jadi, kalau kau ingin menjadi luar biasa kuat, kau harus memberikan tubuhmu padaku. Sejak awal, harusnya tubuh ini adalah milikku!”


Xavier, untuk pertama kali setelah sekian lama, dilanda keterkejutan yang hebat. Xavier Kecil telah berada di sampingnya tanpa ia sadari. Dia dalam posisi melayang sambil menginspeksi tubuh Xavier. Xavier tak melihat adanya pergerakan, dan ia juga tak merasakan fluktuasi mana. Xavier Kecil berada di sisi kirinya seoah dia sudah berada di situ sejak tadi.


“Semua ini gara-gara Luciel,” gerutu Xavier Kecil dengan ekspresi kesal. “Jika dia tak memaksa diri untuk berada di dalam tubuh ini, kau pasti takkan ada. Ckckck. Jika dia masih ada dalam dirimu, akan kutendang bokongnya sekarang juga. Gara-gara dia aku terkurung dalam jiwaku sendiri. Ah, maaf karena asal ngelantur, tapi aku tak bisa menahan antusiasme yang besar ini setelah akhirnya terbebas. Jadi, bagaimana?”


“…Aku tidak mengerti. Apa yang kau bicarakan?” Xavier tak bisa mengikuti apa yang makhluk ini katakan. “Kenapa kau membawa-bawa Edenia? Mengapa kau bilang tubuhku harusnya milikmu? …Apa kau mengimplikasikan seharusnya aku tak ada?”


Xavier mencoba menyerang Xavier Kecil. Melihatnya membuat Xavier kesal. Namun, sebelum kepalan tangan Xavier mengenai wajah Xavier Kecil, Xavier Kecil telah terlebih dahulu menahan pukulan Xavier dengan hanya jari telunjuk kirinya. Xavier mengerahkan [Reverse Law], tapi tak ada hasil yang terjadi. Itu seolah sihirnya menjadi tak berguna.


“Jadi Edenia belum menemuimu?” tanya Xavier Kecil dengan ekspresi serius—dia mengabaikan keterkejutan Xavier yang luar biasa. “…Apa kau membenci Edenia? Ingin memusuhinya?”


Xavier mencoba menjauh, berusaha memperlebar jarak di antara mereka. Namun, ia tak bisa bergerak. Dan sebelum ia menyadarinya, mereka telah berada di dataran bersalju di sejauh mata memandang.


“Begitu rupanya. Kau tidak mengakui Edenia, dan kau lebih ingin membunuhnya daripada harus menerimanya. Kau telah tumbuh menjadi individu yang berbeda dariku.”


Xavier Kecil menutup kedua mata dan melepaskan telunjuknya dari menahan pukulan Xavier, membuat sang commander bisa kembali bergerak.


“Aku sejak awal punya asumsi kalau Edenia punya rencana lain,” kata Xavier Kecil sembari berbalik badan dan melangkah pergi. “Tapi Edenia adalah satu-satunya yang bisa kupercaya. Aku perlu waktu berpikir. Jika memerlukan kekuatanku, cukup panggil aku saja. Kita adalah satu jiwa yang terbagi dua. Tapi, jika kau sampai menggunakan kekuatanku, ada kemungkinan kesadaranmu akan gantian terkekang. Pikirkan itu baik-baik sebelum memanggilku.”


Xavier tak sempat membuka mulut melempar tanya. Xavier Kecil telah menghilang. Dataran bersalju telah lenyap. Begitu juga dengan ruang khusus ciptaan Gallahad. Xavier menemukan dirinya di kepung puluhan ribu prajurit. Mereka memandang marah padanya dan meminta agar ia tak menghancurkan mayat Gallahad yang tergeletak di samping kaki Xavier.


Tetapi pikiran Xavier tak memberi perhatian pada para prajurit yang ada; kepalanya masih sibuk memproses apa yang terjadi setelah ia menyerap [Soul Incarnate] berikut jiwa Gallahad.