
“…Aku tak tahu harus mengatakan apa. Tapi, apa kau tak bisa menemukan alasan yang lebih bagus untuk berduaan denganku? Kesampingkan itu, bukannya kau akan ke Axellibra? Mengapa ke sini? Peperangannya sudah selesai?”
Sebelumnya Xavier tidak merasa grogi saat berada di hadapan Artemys. Ia tahu wanita di hadapannya ini yang paling pengertian, yang paling menerima dirinya. Artemys adalah wanita terbaik yang bisa ia bayangkan, yang paling sempurna. Dia wanita yang telah menaklukkannya tanpa mengandalkan kekuatan apa pun.
Namun…bagaimana reaksinya jika ia memberi tahunya kalau anak pertamanya bukan Artemys yang melahirkan?
“Ada apa? Apa yang kau sembunyikan sampai grogi begitu?” Artemys berdiri dari kursinya dan menghampiri sang commander. “Aku tahu kau bukan tipikal yang akan melakukan hal yang berlebihan di belakangku,” katanya saat berada tepat di depan Xavier—kedua tangan telah membingkai wajah sang kau commander. “Apa kau telah dipaksa melayani wanita lain?”
Pertanyaan itu dilayangkan dengan intonasi biasa, tetapi senyum Artemys berkata lain – senyum yang hampir-hampir takkan pernah sang putri keluarkan.
“Siapa dia? Salah satu prajuritmu? Ratu elf? Monica? Ratu Elmira? Atau mungkin…Kanna? Ah, karena kau dari medan perang, apa itu wanita dari kalangan musuh?”
“…Vermyna Hellvarossa.”
“Ah….”
“Kau terkejut? Aku juga. Tapi bukan itu masalah besarnya.” Xavier memindahkannya dan Artemys ke sebuah pulau kecil yang ada di barat Islan – itu ia lakukan dengan begitu cepat sampai Artemys tak menyadarinya. Sebelumnya ia sudah membuat replika istana Artemys di pulau tersebut—sekaligus menguburkan Nueva. “Ada masalah yang lebih besar,” tekannya sembari mengajak sang istri duduk di sofa.
“Dia hamil?”
“Lebih besar dari itu,” jawabnya seraya menggenggam kedua tangan Artemys yang lembut. “Tapi sebelum kubilang, pastikan kau mengontrol emosimu.”
“Aku mulai khawatir, kau tahu.” Artemys memandang tak berkedip. “Apa dia melakukan sesuatu yang membuatmu tak bisa berdiri di hadapan wanita lain selain dia?”
“Dia mengurungku dalam dimensi yang waktunya berjalan jauh lebih cepat daripada waktu normal. Kurang lebih sepuluh tahun dia menahanku. Karena itu….”
“…Aku mulai mengerti, tapi coba lanjutkan.”
“Aku sudah memiliki putra berusia lima tahun. Namanya Incell Hellvarossa.”
“…Oh.”
…Itu bukan respons yang Xavier bayangkan akan keluar dari mulut Artemys. Namun, wanita yang tangannya ia genggam ini adalah Artemys. Harusnya respons seperti itu tidak mengejutkan.
“…Artemys, kau tak marah, kan?” tanya Xavier memastikan.
Itu pertanyaan yang paling bodoh untuk ditanyakan. Jika wanita cantik ini bukan Artemys, Xavier juga setuju kalau itu pertanyaan bodoh. Namun, sekali lagi, wanita ini adalah Artemys. Pertanyaan yang Xavier tanyakan bisa dibilang normal. Pasalnya, ia tidak tahu apa yang harus dilakukan jika Artemys sampai marah. Itu akan menjadi masalah yang besar daripada marahnya Monica.
“Tentu saja aku tak marah,” jawab Artemys beberapa saat kemudian. “Anak kita, menurut tabib yang Jenny bawa ke istana, perempuan. Justru bagus jika dia memiliki kakak laki-laki yang akan selalu menjaganya, kan? Jika Incell sepertimu, aku yakin putri kita akan memiliki kehidupan yang indah.”
Xavier tanpa sadar melepaskan napas lega.
“Tapi ini dan itu adalah dua hal yang berbeda.”
Namun, napas lega itu langsung tertahan sebelum sempurna keluar.
“Kau tadi bilang menghabiskan sepuluh tahun dengannya?”
Artemys tak membiarkan Xavier untuk sekadar mengangguk. Ia sudah duduk di pangkuan sang commander dengan lengkungan bibir yang berbahaya. Satu tangan kirinya menempel pada pipi kanan Xavier, tangan satunya menahan bibir sang commander agar tidak melepas suara.
“Menghabiskan waktu sepuluh tahun dengan wanita lain…itu dosa yang sangat besar, my dear. Kau harus menjalani hukuman dan penebusan dosa yang berat. Tapi aku mengerti kau tidak bisa melawan, jadi kau tak perlu menjalani hukuman. Namun, my dear, kau bersedia melakukan penebusan dosa, kan?”
Melihat senyum indah sekaligus menakutkan yang Artemys berikan kembali mengingatkan Xavier pada saat ayahnya melakukan kesalahan. Senyum Artemys sebelas dua belas dengan ibunya. Dan karena itu juga, Xavier kembali dibuat mengerti kenapa ayahnya tidak berani macam-macam.
“Semuanya jelas.”
“Aku tahu kau takkan mengecewakan,” respons Artemys sembari mengistirahatkan kepalanya pada bahu kiri Xavier. “Aku tahu melakukan pengakuan dosa bukan satu-satunya alasan kau menemuiku. Jadi, kenapa tak kau bicarakan?”
“Seperti katamu, memang ada alasan lain.” Xavier menghela napas pelan sembari membawa tangan kiri memeluk tubuh sang istri. “Aku pernah mengatakan masalahku dengan ayahmu, kan?”
“Ya.”
“Kuputuskan untuk tak melakukan apa yang ingin kulakukan. Aku tak bisa membayangkan akan menjawab apa saat putri kita bertanya tentang kakeknya. Aku tak bisa membunuh Nueva.”
“Tapi?”
“Tapi aku juga tak bisa menyelamatkannya. Ayahmu dibunuh Lucifer, mantan malaikat agung yang diusir dari surga. Aku berhasil membunuh Lucifer, tapi aku tak bisa mengembalikan ayahmu dalam keadaan hidup.”
“…Begitu, ya. Ibuku akan sedih mengetahui hal ini. Walaupun dia sering mengeluh kalah suaminya brengsek, tapi ibuku mencintainya.”
“Bagaimana denganmu?”
“Aku sedikit sedih, tapi pada saat yang bersamaan aku senang karena kau baik-baik saja. Memikirkan ibuku yang kehilangan suaminya, aku jadi takut jika harus kehilanganmu. Aku tak masalah kau punya istri banyak; aku tahu kau akan selalu menjadikanku tempatmu kembali. Aku memahamimu lebih dari siapa pun. Tapi, aku tak bisa jika kau pergi selamanya. Karena itu, pastikan kau jangan mati sebelum aku mati.”
“Kau wanita yang kuat; aku yakin kau akan baik-baik saja tanpaku.”
“Kau tak bisa lebih benar lagi, tapi ini dan itu adalah dua hal yang berbeda. Jadi, di mana jasad ayahku? Kau sempat menyelamatkan jasadnya?”
“Aku sudah menguburkannya di belakang istana ini. Jasadnya kuletakkan di dalam peti. Aku membekukan tubuhnya, jadi takkan membusuk. Karena itu, kalau kau mau mengadakan upacara pemakaman untuknya, kita bisa lakukan itu setelah peperangan berakhir.”
“Terima kasih.”
“Tidak perlu berterima kasih; hanya itu yang bisa kulakukan. Dan, Artemys.”
“Hm?”
“…Kukira sudah saatnya kita memberi tahu Monica.”
“Kau yakin?” tanya Artemys memastikan, mata menengadah memandang wajah sang suami. “Kau sendiri yang takut dia tahu. Kau khawatir hubunganmu dengannya akan memburuk. Apa kau sudah siap menerima risikonya?”
“Setelah melihatnya mengorbankan diri untuk menyelamatkanku, aku tak bisa membohonginya lebih jauh. Monica pantas mengetahuinya. Aku harus menerima apa pun ri—oh, aku punya ide. Kita bisa memastikan terlebih dahulu apakah Monica bisa menerima atau tidak. Kalau dia bisa menerima, kita beri tahu dia. Kalau tidak…kukira memang lebih baik dia tidak tahu.”
“Ide apa itu?”
“Kau mau membantu?”
“Ya, tapi jelaskan dulu.”
“Begini, aku….”