
Xavier menghela napas panjang seraya menghilangkan segala bongkahan pecahan bulan yang tersebar. Kemudian ia menciptakan planet berbentuk piringan datar yang keseluruhannya terbuat dari lonsdaleite. Itu semua terjadi dalam waktu singkat yang tak bisa dikomprehensikan nalar manusia biasa. Tidak ada jejak kehancuran yang tersisa dari ledakan sebelumnya. [Reality Warping] telah menghapus realitas itu.
Seperti Lucifer yang masih belum menerima luka, Xavier pun sama. Namun, berbeda dengan sang lawan yang selalu dalam keadaan prima, Xavier telah kehilangan sejumlah mana. Phoenix memiliki mana yang sangat besar, tetapi Xavier tak bisa menggunakan mana peliharaannya. Mana yang bisa ia gunakan hanyalah mana Xavier yang telah penuh setelah dibakar api putih Phoenix. Hanya masalah waktu sampai mana-nya habis dan ia akan kembali tersegel.
Xavier tidak punya pilihan lain selain meminimalisasi penggunaan mana. Terima kasih atas evolusi tubuhnya, energi kehidupan yang sekarang ia miliki seolah tak terbatas—bagaikan samudra luas yang bertepi dan tak berdasar. Sekarang Xavier dapat menggunakan energi kehidupannya dengan bebas tanpa perlu khawatir memperpendek usia "Xavier". Karena itu, mulai dari sekarang ia sepenuhnya akan mengandalkan energi itu.
“Ledakan dalam skala itu terlalu lambat dan terlampau lemah untuk menyentuhmu,” komentar Lucifer yang sudah mendarat belasan meter di hadapan Xavier. “Dan aku suka dengan arena luas ini. Hm, aku jadi punya ide, tapi bersiaplah untuk tekanan gravitasi besar dan radiasi panas yang tak terkira.”
Xavier tak perlu mempertanyakan apa yang mantan malaikat agung itu maksud. Tubuhnya tiba-tiba merasakan gravitasi yang meningkat secara eksponensial. Hal itu terjadi bersamaan dengan memendeknya jarak antara planet datar yang ia buat dengan bintang-bintang dan segala objek angkasa lainnya. Bukan jarak saja, tetapi ukuran mereka juga menyusut.
“Infinity Domain: Enclose Universe.”
Ketika keempat kata itu keluar dari mulut Lucifer, planet datar yang ia buat telah terkurung dengan sempurna. Kubah hitam yang dipenuhi triliunan bintang dan benda langit lain telah mengambang pada jarak lima puluh kilometer di udara. Ukuran semuanya sangat kecil: ada yang sebesar pasir dan ada yang sebesar penampakan bulan yang dilihat dari Nevada. Namun, cahaya yang dipancarkan begitu terang sampai warna hitam dinding semesta terlihat samar.
Dan jika bukan karena [Reality Warping]-nya yang menjadikan gravitasi di atas planet ciptaannya untuk tetap normal, ia mungkin sudah jatuh terjerembab akibat gravitasi yang terlampau besar. Dan jika bukan karena ia menciptakan kubah langit yang memfiltrasi cahaya dan radiasi, ia mungkin sudah merasa seperti disengat dari berbagai arah.
“Kekuatanmu lebih berguna daripada kekuatanku,” puji Lucifer dengan wajah serius. “Aku hanya bisa menghancurkan; kau bisa segalanya. Tapi tak masalah, aku hanya perlu menghancurkanmu juga. Bersiaplah, Commander Xavier, kau akan segera melihat puncak kekuatanku.”
Xavier tak menganggap ucapan Lucifer sebagai bualan. Ia tak bisa mengabaikan apa yang matanya lihat. Kulit Lucifer terkelupas dan pakaiannya terkikis. Hanya dalam sekejap mata, dia telah menjadi gumpalan energi hitam kelam yang berbentuk manusia. Jangankan telinga, mata dan mulutnya saja tak ada. Hanya gumpalan energi yang bahkan mengikis permukaan planet di sekitarnya.
“Bersiaplah, aku datang.”
Lucifer terlebih dahulu mendaratkan pukulannya pada dada Xavier sebelum ucapannya sampai ke telinga Xavier.
Xavier terhempas hingga puluhan kilometer. Ia sempat bersalto berusaha mengurangi momentum. Tetapi Lucifer luar biasa cepat. Sebelum Xavier sempat mendarat, perwujudan energi itu sudah berada di sampingnya. Kali ini Xavier sempat memunculkan dinding lonsdaleite sebagai tameng. Namun, pukulan Lucifer menembus tameng dengan mulus dan mengenai sisi kiri perutnya.
Xavier spontan terpental ke arah yang berbeda. Energi hitam kelam Lucifer tak mampu menghancurkannya akibat energi kehidupan tebal yang menjadi zirahnya, tetapi lain cerita dengan tenaga dan efek kejut yang pukulan itu berikan. Tubuh Xavier serasa hancur dari dalam. Mulutnya saja sampai melepaskan sejumlah darah.
Tak ingin menerima pukulan lain, Xavier terpaksa menggunakan [Reality Warping] untuk menciptakan ratusan barier dimensi di antara dirinya dan sang lawan. Lucifer menghancurkan tiap barier itu semudah menghancurkan dinding kertas. Namun, jeda yang teramat singkat itu mampu memberi Xavier kesempatan untuk menghilangkan momentum yang mementalkan tubuhnya. Ia berhasil mendaratkan kedua kakinya.
Menggunakan [Reality Warping] pada dirinya sendiri, Xavier menjadikan tubuhnya seringan debu dan sekeras paruh Phoenix. Dengan begitu, kecepatannya meroket tajam. Jika sebelumnya ia tak cukup cepat untuk memblok pukulan Lucifer, kali ini ia berhasil membloknya. Lebih dari itu, ia sempat memanfaatkan keterkejutan Lucifer untuk mendaratkan tendangannya pada sisi kiri kepala wujud energi Lucifer.
Xavier gantian melakukan penyerangan. Ia langsung berada di hadapan Lucifer setelah sang lawan terpental. Pukulan pertamanya berhasil mengenai bagian perut Lucifer, tetapi pukulan keduanya berhasil diblok. Namun, tenaga yang pukulan Xavier lepaskan tetap mementalkan sang lawan.
Tak ingin memberikan kesempatan menyerang balik pada Lucifer, Xavier langsung menciptakan bola energi Turn Null dengan [Reality Warping]. Ia membuatnya sepuluh kali lebih besar dari yang pernah “Xavier” buat. Dan dengan kembali menggunakan [Reality Warping], bola energi yang akan melepaskan ledakan dahsyat itu ia munculkan tepat di atas kepala Lucifer.
Akan tetapi, sebelum ledakan itu terjadi, bola energi itu lenyap. Hal yang sama terjadi pada efek [Reality Warping] yang ia terapkan pada tubuhnya. Bukan itu saja, kubah langit dan efek gravitasi normal juga menghilang. Hal yang sama terjadi pada planet datar yang ia munculkan. Segala pengaruh [Reality Warping] lenyap.
Dan Xavier tak bisa kembali memunculkan semuanya dengan [Reality Warping]; Lucifer menggunakan kekuatan [Reality Destruction]-nya secara terus-menerus. Sebelum efek [Reality Warping] mewujud, [Reality Destruction] telah menghancurkannya. Xavier takkan bisa menggunakan [Reality Warping] lagi selama Lucifer terus menggunakan [Reality Destruction].
Gelombang gravitasi masif seketika menghantam Xavier dari segala arah. Sekujur tubuhnya seperti ditarik menuju setiap objek bermassa besar yang ada. Itu alasan mengapa tiba-tiba tubuhnya terdiam di tengah ruang hampa yang dipenuhi cahaya. Tubuhnya seperti disengat-sengat. Jika bukan karena energi kehidupan yang melindunginya, ia mungkin sudah meleleh—atau mungkin bermutasi.
Satu-satunya alasan mengapa Xavier tak merasakan sakit yang berlebih adalah karena tubuhnya menyembuhkan diri sendiri.
Lucifer mengambang belasan meter di hadapan Xavier yang terkekang dalam pergejolakan gelombang gravitasi. “Kukira inilah akhirmu,” katanya datar—Xavier tak melihat mulutnya.
Ruang hampa tempat mereka melayang ini tidak memiliki udara bagi suara untuk bergerak. Namun, Xavier tetap mendengar ucapan Lucifer. Logika normal benar-benar tak berlaku di sini.
“Kau hanya bisa bertahan sampai mana-mu habis, dan aku akan berbaik hati untuk mempercepatnya.”
Xavier seketika memuntahkan darah; gravitasi yang mengekangnya menjadi sepuluh kali lebih kuat.
“Aku akan mengecilkan ruang hampa ini sepuluh meter demi sepuluh meter. Berapa lama sampai mana-mu habis? Mari kita cari tahu.”