
Xavier keluar dari dimensi ciptaannya sebelum dimensi itu lenyap akibat Turn Null. Ia telah melihat separuh tubuh Lucifer lenyap, tetapi ia tak tinggal lebih lama untuk melihatnya lenyap. Dan tentu saja, ia tak keluar sendiri. Tubuh tak bernyawa Nueva turut melayang di sampingnya. Karena bagaimanapun juga, Nueva adalah ayahnya Artemys. Paling tidak, sang emperor pantas dimakamkan dengan baik.
Xavier mengedarkan pandangannya melihat kehancuran yang terjadi. Pada detik berikutnya, ia (dan mayat Nueva) sudah berada seribu meter di udara. Dan pada detik berikutnya, segala kerusakan menghilang tak berbekas. Pegunungan Amerlesia sudah sepenuhnya kembali ke sedia kala. Dan Xavier tak kehilangan sedikit pun mana akibat hal ini.
“Aku sudah jadi begitu kuat, terlalu kuat….”
Xavier bergumam sembari memandang kedua tangannya. Ia merasa semua latihan kerasnya selama ini tidak berguna; kekuatan yang ia miliki membuat perjuangannya menjadi tak bermakna. Semua waktu yang melelahkan saat sparing dengan Evillia seakan tak berarti. Ia sudah sangat kuat sedari awal. Ia ingat bagaimana dirinya duduk di atas kepala Phoenix setelah membuat sang makhluk legenda babak belur.
“Tapi ini bukan tanpa konsekuensi.”
Ia jadi ingat pertemuannya dengan Edenia untuk pertama kali. Ia tak seharusnya mengingat hal yang tak mungkin diingat oleh bayi, tapi Xavier ingat.
Ia bahkan ingat saat masih berada di dalam kandungan. Ia bahkan ingat degub jantung ibunya. Dan ia ingat bagaimana pekikan sang ibu saat melahirkannya ke dunia. Bukan saja kelahiran pertama, tapi juga kedua. Begitu juga dengan kehadiran Edenia yang memberinya buku sihir dan mengusulkan Hernandez agar dijadikan nama belakangnya.
Xavier mengingat semuanya…dan karena itu pula ia jadi tidak tahu harus membenci Edenia atau tidak.
Apakah anak ayam yang dirawat oleh seorang peternak sejak menetas akan membenci peternak karena menjadikannya makanan setelah dia besar?
Begitulah analogi Xavier untuk pertanyaannya tentang Edenia. Makhluk itu telah memberinya segalanya, tetapi pada akhirnya ia hanyalah alat bagi sang avatar untuk melepaskan diri dari belenggu rantai Throne of Heaven. Itu terdengar menyakitkan bagi orang lain, tapi Xavier mengerti mengapa Edenia melakukan itu semua. Tidak ada yang mau dirantai seperti peliharaan.
Dan karena itu pula Xavier tidak ingin menerima kembali ingatan yang telah lalu, …tetapi situasi telah memaksa kedua tangannya.
“Tapi mengetahui ada makhluk lain yang berada di luar ini semua….”
Xavier menghela napas panjang dan memutuskan untuk mengesampingkan hal itu dulu. Sekarang ia harus memutuskan apa yang harus dilakukan, langkah apa yang harus ia ambil. Xavier punya kekuatan untuk melakukan segala sesuatunya. Tidak ada satu pun yang bisa menghentikannya selain Edenia sendiri. Dan walaupun ia tak bisa merasakan keberadaan makhluk itu, ia tahu hanya masalah waktu sampai mereka bertemu kembali.
Apa ia akan mengikuti perkataan Edenia dulu yang jelas-jelas kedustaan untuk merantai kakinya? Atau, ia akan menghadapi Edenia sebagaimana yang Luciel harapkan? Atau barangkali, sebenarnya Edenia memang menginginkan pertarungan di antara mereka?
Apa pun itu, yang jelas—jika ia pikir-pikir lagi—tak satu pun dari pilihan itu yang berakhir buruk baginya. Jadi avatar atau tidak, ia tetap akan bisa melakukan apa pun yang ia mau. Mengapa ia harus peduli pada makhluk yang berada di luar semesta? Kecuali makhluk itu ingin menghancurkan dunia ini, segalanya akan baik-baik saja. Ah, ia bisa menjadi avatar lalu membuat Luciel menggantikannya. Sempurna. Tak ada masalah sama sekali.
Sebagaimana sebelumnya, Xavier memutuskan untuk tidak melakukan apa pun. Melakukan salah satu dari kedua hal itu sama saja dengan menuruti Edenia. Ia berhenti menjadi pion sang avatar. Xavier akan hidup dengan damai di pulau kecil tak berpenghuni tanpa memedulikan apa pun. Edenia harus mengotori tangannya sendiri jika dia mau rencana yang telah lama dia rancang terwujud.
“Tapi sebelum itu, masalah di Islan ini harus diselesaikan.”
Ia teringat perbincangannya tempo hari dengan Minner Ertharossa. Menggunakan cara yang diasumsikan Minner cukuplah baik. Namun, itu kurang dramatik. Ia memerlukan cara yang lebih menarik, bumbu yang membuat semuanya lebih menak—Xavier terdiam tiba-tiba saat melihat mayat Nueva.
“Ah….”
Ide yang brilian muncul di kepala Xavier. Ini tak berbeda jauh dengan asumsi Minner, tetapi tak ada cara yang lebih menakjubkan lagi dari apa yang baru saja ia pikirkan. Ini juga lebih fantastik. Dan setelah segala kebohongan yang telah ia jejalkan ke mulut Kanna, sang putri pantas mengetahui kebenaran.
“Tapi sebelum itu aku harus meyakinkan Artemys; tak ada gunanya menciptakan pulau surga tanpa Artemys ikut serta. …Monica takkan menyukai ini.”
Namun begitu, Xavier tidak punya pilihan. Cepat atau lambat Monica akan mengetahuinya. Lebih baik ia sendiri yang memberi tahu daripada dia tahu sendiri. Paling tidak, Monica akan bisa melihat kesungguhannya jika ia mengatakannya langsung. Monica juga akan mengerti kalau ia tak lagi menyembunyikan apa pun darinya. Ini berat, memang, dan Monica tentu saja akan marah. Namun, harapan Xavier, kemarahan itu takkan bertahan lama.
Bersamaan dengan helaan napas panjang yang keluar dari mulutnya, Xavier menghilang dari tempatnya melayang—begitu juga dengan mayat sang emperor.
...—Royal Palace, Cornnas, Provinsi Emeralna—...
Meski usia kandungannya telah menginjak bulan yang kedelapan, Artemys masih aktif mengurus urusan pemerintahan. Jenny sudah menawarkan agar semuanya dia yang tangani, tetapi sang gubernur hanya mengalokasikan tugas yang memerlukannya keluar istana pada sang maid. Karena bagaimanapun juga, Artemys tak ingin terlalu membebani Jenny.
Alice ada menawarkan bantuan, tetapi ia tolak. Bukan karena ada alasan khusus, tetapi karena Artemys sudah terbiasa mengerjakan tugas. Akan aneh rasanya jika ia hanya berleha-leha.
Hari ini pun begitu. Walau Islan tengah dijejali konflik terbesar sepanjang abad ini, Artemys dengan santai mengecek dokumen-dokumen yang Jenny letakkan di mejanya. Emeralna sangat sibuk seperti biasa; jumlah dokumen yang sampai ke mejanya lebih banyak dari hari kemarin. Sementara itu, Alice duduk membaca buku di samping pintu.
Hanya bunyi lembar kertas yang dibalik dan goresan pena yang terdengar – ruangan ditelan kesunyian.
Namun, kelengangan itu menghilang seketika saat tiba-tiba Xavier muncul begitu saja di antara Artemys dan Alice.
“Alice, di halaman belakang istana ada pohon berbatang emas, berdaun adamantite, dan berbuahkan permata. Coba kau cek bagaimana itu bisa ada di sana.”
Alice mengabaikan keterkejutannya saat mendengar ucapan tak masuk akal itu. Namun, ia tak punya kesempatan untuk mengeluarkan suara. Tiba-tiba ia sudah berada dua meter di depan pohon berbatang emas, berdaun adamantite, dan berbuah permata. Alice hanya bisa terdiam dengan mata membelalak.
“Di-Dia tidak berdusta….”