
...—Nevada, Vermillion Empire—...
Saat Lilithia keluar dari ruang singgasana setelah berbicara dengan Nueva, matanya bertemu tatap dengan manik biru eksotis Kanna yang memancarkan kekhawatiran. Lilithia belum pernah melihat ekspresi seperti itu di wajah sang putri sebelumnya, tetapi ia terlalu apatis untuk bertanya. Apa pun itu yang membuat Kanna khawatir, itu bukan urusannya.
“Commander Lilithia, bukankah kau seharusnya di Etharna bersama Xavier?” tanya Kanna dengan kening mengernyit.
“Aku baru memberitahu Nueva tentang kehadiran Vermyna di sana. Itu hal penting untuk diketahuinya. Sekarang juga aku akan kembali ke sana.”
“Vermyna datang ke sana? Ini situasi yang tak diekspektasikan. Lantas, bagaimana Xavier? Vermyna terlalu kuat untuk dia atasi.”
Lilithia mengedikkan bahu. “Vermyna tak punya niat menyerang Xavier; dia datang menyelamatkan iblis dari mati di tangan Xavier, kemudian pergi.”
“…Begitu? Baiklah. Akan kutanya lebih lanjut saat Xavier kembali. Sekarang kembalilah ke Etharna, aku ingin kalian menyelesaikan urusan di sana dengan cepat.”
Mata Lilithia menajam mendengar ucapan perintah itu, tetapi ia tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Sang First Commander hanya mendengus dan berlalu melewati Kanna. Kemudian sebuah cermin bermanifestasi di hadapannya, Lilithia memasukinya tanpa kata.
Melihat sang first commander menghilang bersama cerminnya dari ekor mata, Kanna langsung memasuki ruang singgasana yang pintunya masih sedikit terbuka. Matanya langsung bertatapan dengan mata merah sang emperor. Meskipun sama merahnya dengan mata Xavier, tetapan pancaran yang diberikan berbeda.
“Kau terlihat khawatir,” ucap Nueva dengan volume yang pelan, tetapi terdengar jelas di telinga Kanna.
“Baru saja prajurit utusan Commander Zenith melaporkan kalau istana tempat Artemys tinggal diserang,” ujar Kanna bersamaan dengan langkah kakinya. “Semua pekerja di sana telah dibunuh, tetapi jasad Jenny dan Artemys tidak ditemukan. Kemungkinan besar mereka telah dibawa pergi. Satu-satunya jejak berarti yang ditemukan adalah gambar bendera Emiliel Holy Kingdom yang dibuat dengan darah di sana.”
“Itu mengkhawatirkan,” respons Nueva tepat saat Kanna berhenti selangkah di depan anak tangga yang memisahkan area lantai dan singgana. Meski mengatakan mengkhawatirkan, ekspresi Nueva sama datarnya dengan suaranya. “Lantas, mengapa kau ke sini? Aku sudah mengizinkanmu melakukan apa yang kau rasa perlu.”
Kanna menahan diri dari mengernyitkan kening. Itu respons yang menyebalkan. Paling tidak, Kanna mengekspektasikan mendengar sedikit nada khawatir. Artemys putri tertuanya!
“Aku ingin mendengar pendapat Ayah,” respons Kanna tanpa menunjukkan emosinya. “Ada kemungkinan ini ulah Holy Kingdom, tetapi peluang pihak ketiga lebih besar. Tidak menutup kemungkinan ini ulah Vampire Kingdom yang ingin mengadu domba. Pun tidak mustahil ada kekuatan tak kita duga yang bertanggung jawab.”
“Kau sudah mendengar pendapat Achilles?” tanya Nueva, suaranya masih monoton.
“Belum,” geleng Kanna. “Kemungkinan sebentar lagi aku akan mendengarnya.”
“Kalau begitu, tunggu kabar darinya. Jika Achilles juga tidak tahu pelakunya, tidak perlu lakukan apa pun. Jika Artemys tidak kembali dengan pelayannya dalam waktu dekat, Xavier akan menemuiku dan meminta izin untuk pergi. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan.”
Kali ini Kanna tidak menyembunyikan kerutan di dahi. “Apa Ayah baru saja mengatakan kalau Xavier tahu apa yang terjadi, padahal dia berada di Etharna?”
“Kanna.” Kali ini emosi terselip dalam suara Nueva. “Jika kau ingin Xavier menjadi pendampingmu, kau harus bergerak cepat. Sebagai ayahmu, aku sangat setuju jika kau memilih Xavier. Namun, jika kau berlama-lama, Artemys akan menikungmu. Kau tentu menyadari kedekatan mereka, bukan?”
“Hanya karena aku jarang menunjukkan kepedulian pada anak-anakku, bukan berarti aku tak mengikuti perkembangan mereka.” Nueva melanjutkan sebelum Kanna sempat bersuara. “Achilles mencoba mencari tahu rahasiaku, dia juga mencoba membujukmu agar mendukungnya. Verissinia akhir-akhir ini telah menjadi sedikit lembut sifatnya. Dan Artemys…kuasumsikan dia memiliki hubungan romansa dengan Xavier. Kau bisa membuktikan ucapanku. Xavier akan menemuiku dan meminta izin mencari Artemys.”
“I-Ini bukan saatnya membicarakan hal itu,” ucap Kanna mencoba meluruskan pembicaraan. “Bagaimana Xavier bisa mengetahui lokasi Artemys? Bagaimana pula jika Artemys sudah meregang nyawa?”
“…Kau sudah banyak berubah dibanding dulu,” komentar Nueva tiba-tiba, tetapi dengan cepat dia menggeleng kepala. “Aku ingin melanjutkan menikmati ketenangan,” katanya, dan tanpa menanti dia langsung memejamkan kedua mata.
Kanna menggemeretakkan gigi-gigi. Itu adalah bentuk pengusiran tak langsung dari Nueva. Tidak peduli apa pun yang ia katakan sekarang, ayahnya takkan memberi respons. Dan sang emperor benar-benar mengekspektasikan agar dirinya meninggalkan ruangan ini.
Menghela napas panjang, Kanna memutuskan berbalik dan melangkah pergi ‒ ia hanya akan membuang-buang waktu jika berada di sini. Sebaiknya kucoba lacak saja keberadaannya, batinnya saat keluar dari ruangan.
...—Etharna, Favilifna Kingdom—...
Xavier yang sedang melihat-lihat buku yang ada dalam perpustakaan istana spontan mengalihkan mata saat pintu ruangan dibuka. Lilithia pelakunya. Wanita itu membuka pintu tanpa mengetuk. Namun, karena dia telah berada di sini, itu artinya Elmira dan yang lainnya sudah mengetahui kedatangan Lilithia.
“Kau kembali dengan cepat,” komentar Xavier seadanya, kembali menghadapkan pandangannya pada buku-buku.
“Kanna menginginkan kita mempercepat urusan di sini,” kata Lilithia dalam langkahnya memasuki perpus—dia berjalan lurus ke tempat Xavier berdiri. “Itu artinya kita tidak bisa menunggu mereka menyerang. Kita hancurkan Knight Templar segera setelah mereka memasuki wilayah Favilifna.”
Sekali lagi perhatian Xavier berpindah dari buku-buku itu. “Aku sangat menyetujui hal itu,” responsnya, memandang intens Lilithia yang sudah berada selangkah di sampingnya. “Aku ingin cepat-cepat menyelesaikan urusan di sini. Permintaan Kanna itu sangat membantu. Ah, pertama-tama aku harus memberitahu Elmira dulu. Dia punya rencananya sendiri, tidak elok jika kita bertin—”
Ucapan Xavier spontan terhenti saat tiba-tiba Lilithia sudah memeluknya dengan erat.
“Ini tidak adil,” gumam wanita tersebut. “Mengapa kau terkesan menjaga jarak dariku?”
…Xavier terdiam, ekspresinya jelas menunjukkan ketidakmengertian.
“Aku ingin kesal, ingin marah. Namun, setiap melihat wajahmu, aku tak bisa. Mengapa aku tak bisa marah? Mengapa aku tak bisa mengabaikanmu? Mengapa aku tidak senang kau bersikap begitu padaku?”
Xavier kehilangan kata. Ini tidak bagus. Ia tidak bisa mengatakan kalau ia tidak ingin membuat Artemys tidak senang; ia tak mungkin mengatakan kalau ia sudah melakukan hal yang tak harusnya dilakukan dengan Artemys—yang telah membuahkan hasil. Pun ia tidak ingin mengatakan kalau ia…tidak memiliki ketertarikan pada Lilithia sebagaimana ketertarikan Lilithia padanya.
Sangat sulit untuk tidak menyakiti wanita, terlebih ketika dirinya dikelilingi para wanita.
“Jika kau tidak membalas memelukku, akan kuhancurkan tempat ini,” ancam Lilithia dalam bisikannya. “Aku tidak peduli konsekuensinya.”
Xavier menghela napas. Jika ia tidak teringat delikan tajam ibunya saat ia tidak mengacuhkan Monica, tentu tangan Xavier takkan menuruti ancaman Lilithia.
…Saat tangan Xavier membalas pelukan itu, teriakan marah terdengar di ruangan lain di istana yang sama. Tetapi Xavier tidak mendengarkan itu. Hanya Miera yang terhibur mendengar serapahan yang keluar dari mulut Elmira—yang telah diam-diam mengintip aktivitas Xavier dengan bola kristalnya.