
Bagi Knight Templar dan penduduk Emiliel Holy Kingdom secara keseluruhan, malaikat (apalagi seraphim) memiliki kedudukan tinggi di antara mereka. Makhluk langit itu dipandang sebagai ras yang superior. Mengecualikan Seraphim Emiliel, ada Seraphim Mariel yang pernah menginjakkan kaki di tanah kelahiran mereka. Bagi penduduk Emiliel Holy Kingdom, malaikat bagaikan objek sesembahan – hampir setiap rumah memiliki patung malaikat di dalamnya.
Bahkan bagi Lancelot dan Arthur yang mungkin pernah mendengar perihal Kanna memiliki sayap malaikat, melihatnya secara langsung tetap sangat mengejutkan. Terlebih lagi, berbeda dengan yang diperlihatkan Rossia Himera, sayap malaikat Kanna asli. Itu bukan hasil konstruksi mana. Satu-satunya yang kurang adalah keberadaan halo di atas kepala. Jika Kanna memiliki halo di atas kepala, barangkali sebagian prajurit sudah berlutut penuh pengagungan.
Kanna cukup mengetahui hal itu, makanya ia sengaja menggunakan Parallel Mind of Raphael walau sedang tidak dalam pertarungan. Dengan enam pasang sayap yang mengembang di punggungnya, para prajurit akan lebih menerima kata-katanya. Namun, jika mereka tetap tak mau mengerti dan memilih bersikukuh atas keegoisan mereka, ia akan terpaksa membuat mereka tak bisa meninggalkan Axellibra.
“Kalian sudah mendengar penjelasan Sir Arthur, dan kalian juga sudah mengerti situasi yang kita alami sekarang membuat kita tak punya pilihan lain.” Kanna menjeda sejenak dan mengangkat tangan kanannya, sejurus seketika formula lingkaran sihir tercipta di udara—pilar api hitam selebar ibukota muncul dan meninggi seolah menggapai langit. Kanna sudah berada pada level di mana ia bisa melakukan apa saja dengan [Rune Magic].
“Aku bisa memusnahkan Emiliel Holy Kingdom berikut orang-orangnya sekarang juga, tapi aku tak menginginkan kehancuran.” Kanna menghilangkan pilar api hitam dan menghadap sepenuhnya pada para prajurit. “Leluhurku berasal dari kerajaan ini. Kota Eden dikembangkan oleh Nueva Vermillion. Secara tidak langsung, aku masihlah bagian dari Emiliel Holy Kingdom.”
“Tapi berbicara tentang masa lalu takkan menyelesaikan apa pun.” Pandangan mata Kanna menajam. “Imperial Army telah menghabisi banyak anggoa Knight Templar, tapi begitu juga dengan Knight Templar yang telah menghabisi banyak prajurit Imperial Army. Tak ada yang bisa kita lakukan untuk mengubah semua itu. Namun, masa depan berbeda. New World Order adalah musuh kita bersama. Demi masa depan, kita harus mengesampingkan permusuhan untuk sesaat.
“New World Order adalah pemicu dari peperangan yang tak seharusnya terjadi ini, tapi Pope Genea dan Emperor Nueva sama-sama salah di sini. Seperti yang Sir Arthur katakan, Pope Genea telah berbuat semena-mena yang menghilangkan banyaknya nyawa. Begitu juga dengan Emperor Nueva. Dia sudah memaksa kekaisaran menumpahkan darah. Hal ini tak bisa kita biarkan; hal ini tak bisa kubiarkan. Sebagaimana Seraphim Mariel yang memberikan api hitam pada Retsu Vermillion, 12 Seraphim Utama telah memercayakan kekuatan mereka padaku.”
Kanna berhenti sejenak, mata memandang dari ujung kiri sampai ujung kanan. Ia perlu memastikan suaranya tersampaikan dengan sempurna hingga ke barian yang paling belakang tanpa harus berteriak keras-keras.
“Aku akan menjadi pemim—”
“Wah. Wah. Wah.”
Gumaman yang diikuti tepukan tangan itu membuat Kanna langsung berhenti berbicara. Sebagaimana yang lain, matanya juga langsung mengarah pada pemilik suara. Wajah yang tidak ia kenali itu tengah duduk di atas salah satu tiang gerbang. Lumeira dan vampire yang sebelumnya ia kekang juga telah berada di sampingnya, tetapi keduanya dalam keadaan berdiri.
“Diriku tidak tahu kalau Putri Kanna el Vermillion memiliki lidah yang beracun. Lihatlah, mayoritas prajurit bahkan telah terpedaya dengan kata-kata dirimu. Keenam pasang sayap itu, apa dirimu sengaja mengeluarkannya mengetahui diri mereka sangat menghormati para malaikat?”
Cara bicara itu…tidak salah lagi dia Vermyna Hellvarossa. Dan menyadari hal itu membuat kekhawatiran Kanna memuncak. Apa dia telah membunuh Fie Axellibra beserta Xavier?
Arthur, Lancelot, dan segenap pasukan mereka juga telah menghadapkan tubuh ke sana. Begitu juga dengan prajurit Imperial Army. Bedanya, prajurit Imperial Army hanya menunjukkan wajah waspada, sedang prajurit Knight Templar menunjukkan marah. Mendengar nama “Vermyna” membuat amarah mereka melejit-lejit.
“Fie Axellibra?” Vermyna memiringkan kepalanya sok polos. “Oh!” serunya sok kaget lalu menjentikkan jari. “Maksudmu gadis kecil tak bernyawa ini?”
Mata Kanna melebar. Semua mata melebar. Mereka semua memandang tak percaya pada tiang sebesar pohon pisang yang keluar dari portal dimensi yang Vermyna buat. Tentu saja bukan karena tiang itu terbuat darah; individu yang kedua tangannya tertancap pada batang pilar itulah yang membuat mata mereka semua melebar tak percaya.
Fie Axellibra. Itu benar-benar Fie Axellibra. Dua tombak merah bersarang di perutnya, satu di lehernya, dan satu lagi pada kedua telapak tangannya yang disatukan. Dia dalam keadaan mati. Tidak peduli seberapa keras seseorang menyangkalnya, yang mereka lihat benar-benar kenyataan. Vermyna Hellvarossa telah membunuh Fie Axellibra, makhluk yang dianggap sebagai yang terkuat.
Arthur dan Lancelot sangat syok, tetapi keduanya berhasil menahan sebagian prajurit yang berusaha menyerang.
Kanna mengabaikan aksi mereka semua. Ia bahkan mengabaikan saat Arthur melesat cepat menyambut tubuh tak bernyawa Fie yang Vermyna campakkan. Pikirannya sekarang hanya berada pada satu hal saja.
“…Di mana Xavier?” tanyanya dengan pandangan yang menajam—jumlah sayapnya telah menjadi tujuh pasang. “Apa yang terjadi padanya?”
Kebisingan yang prajurit Knight Templar buat tidak mengganggu Kanna. Matanya menusuk tajam dalam mata Vermyna, sedang Vermyna memandangnya terhibur. Mereka tidak berada dalam jarak untuk berbicara, tetapi suara mereka menjangkau satu sama lain.
“Xavier…? Diriku tidak tahu orang itu. Tapi, jika dirimu bertanya tentang El yang menyusup ke dalam kekaisaran dan menjadi Twelfth Commander, diriku tahu jawabannya. El, atau yang dirimu sebut sebagai Xavier von Hernandez, mungkin sedang bertarung dengan Emperor Nueva el Vermillion. Tapi itu tadi; mungkin sekarang dirinya tengah beristirahat setelah membunuh ayah dirimu. Dan, ngomong-ngomong, El itu suami diriku.”
Sayap Kanna dengan cepat bertambah menjadi lima belas pasang, dan dalam sekejap ia sudah mencengkeram wajah Vermyna. Sebelum ada satu pun yang sempat bereaksi, bahkan Vermyna sendiri sampai kaget, sang anomali pertama ini telah menghantam sebuah gunung es dengan keras. Gunung itu langsung hancur berkeping-keping.
Dan, mereka sudah tak lagi berada di Islan. Kanna telah melemparkan Vermyna menghantam salah satu gunung di Benua Es Gheata.