
...—10th July, E642 | Markas Utama New World Order, Pulau Beleth, Kepulauan Haikal—...
DEUS CHAPERON. Atland merasa telah kehilangan sedikit gairah berada di dalamnya. Beberapa anggota awal telah tidak lagi bersama mereka: Zie, Moni, Menez, dan bahkan El. Tidak ada jejak antara Zie dan Moni, keduanya kemungkinan sudah tewas seperti El. Sementara itu, Menez telah berkhianat dan bergabung dengan kekaisaran. Anak itu mengikuti Xavier yang telah mengalahkan El—meskipun sampai saat ini Atland ragu jika El kalah di tangan Xavier.
Kendati begitu, meskipun ada perasaan aneh baginya untuk tetap mengasosiasikan diri dengan Deus Chaperon, Atland tetap datang ke markas utama mereka bersama dengan Diametra.
Vermyna Hellvarossa—ratu Vampire Kingdom yang telah mengambil alih New World Order dari tangan El, sosok sebenarnya dari Vermyna Hermythys—telah mengirim pelayannya untuk meminta semua anggota Deus Chaperon untuk datang ke markas utama mereka. Ada dua poin penting mengapa mereka harus datang: pertama, untuk mengenalkan anggota baru Deus Chaperon; kedua, akan diberitahu setelah poin pertama berhasil terpenuhi.
“Silakan ikuti kami, Tuan Atland, Tuan Diametra.” Dua prajurit wanita menghampiri, menggestur agar mereka mengikuti keduanya.
Atland dan Diametra saling memandang dan mengangguk, kemudian mengikuti kedua wanita menuju ruangan di mana kemungkinannya yang lain sudah menunggu. Dan tak lama berselang, Atland dan Diametra tiba di ruangan yang menjadi tempat pertemuan ruangan.
Meja bundar berwarna hitam kelam berdiri di tengah-tengah ruangan yang diterangi oleh delapan obor yang menyala terus menerus. Total ada sepuluh kursi yang mengelilingi meja itu, dan empat di antaranya sudah terisi. Whalef, Krakart, Hireklaf, dan Tsusaza. Dengan Atland dan Diametra yang bergabung dengan mereka, tinggal empat kursi yang kosong.
“Atland, apa hanya perasaanku saja atau kau memang menjadi lebih lemah, eh?” Krakart mengeluarkan suara bodoh bin mengesalkannya. “Yah, meski pada dasarnya kau memang lemah, sih!”
Atland mendengus. “Aku bisa menghabisimu dengan mata tertutup, idiot!” hardiknya. “Pak Tua Hireklaf dapat membunuhmu tanpa kau sadari. Tsusaza akan membuatmu seperti daging giling. Diametra akan membuatmu mengemis memohon ampun. Dan yang paling jelas, kau tak pernah bisa menang dari Whalef. Bukankah itu artinya kau yang terlemah, eh, Krakart?”
“Bedebah!” Krakart berdiri dan menggebrak meja. “Ayo kita keluar sekarang juga, bangsat! Akan kutunjukkan kalau kau yang terlemah!”
“Heh, kau pikir aku takut? Ayo, akan kuhabisiku kau sebelum matamu sempat berkedip!”
“Bocah ingusan sepertimu memang perlu diberi pelajaran. Whalef, jangan hentikan aku; aku takkan mengasihaninya sama sekali.”
“Aku tak punya niat menghentikanmu, Krakart.”
“…”
“…”
“A-Anggap saja aku mengantisipasi kalau-kalau kau berniat menghenti—”
“Jangan banyak omong, oi, manusia burung!” ketus Atland, memotong pembelaan diri Krakart. “Ayo kita keluar sekarang juga.”
Ucapan Krakart kembali terhenti. Namun, kali bukan Atland atau Whalef yang membuat sang manusia burung berhenti, bukan pula Tsusaza, Hireklaf, atau bahkan Diametra yang kalem. Terdistorsinya ruang di belakang Krakart-lah penyebab sang Birdman menutup mulut. Tekanan yang portal dimensi itu keluarkan sungguh tak bisa dipandang sebelah mata.
“Diriku harap diri kalian tak menunggu lama.” Seorang dewi—jika dia bisa disebut dewi—melangkah keluar dari portal. Di belakangnya, tiga orang mengikuti dengan ekspresi mereka yang datar—dan semuanya wanita. “Seperti yang sudah diri kalian tebak, diriku adalah Vermyna Hellvarossa. Ini adalah wujud diriku yang sebenarnya.”
Mantan Third Commander Lumeira von Talhasta dan Valeria, dua orang itu Atland kenali. Namun, wanita berambut hitam yang pembawaan dirinya tampak begitu arogan sama sekali tidak ia kenali. Yang jelas, Atland bisa mengatakan wanita itu lebih kuat dari Lumeira dan Valeria. Lalu, sosok Vermyna yang bak seorang dewi…Atland merasa ia akan mati konyol jika menantangnya bertarung.
“Diri mereka bertiga adalah pengganti Zie, Menez, dan Moni.” Vermyna memperkenalkan ketiga wanita yang sudah berdiri di kanan dan kirinya. “Dua dari diri mereka sudah diri kalian kenali: Lumeira dan Valeria. Lalu, diri wanita di kanan diriku ini bernama Ciela. Dirinya dan Lumeira akan berpartner, sedang Valeria akan bersama diriku. Lalu, dengan ini Deus Chaperon menjadi komplit kembali.” Vermyna menjadi dan memandang yang lainnya satu per satu. “Diri kalian punya pertanyaan?”
Tidak ada yang membuka suara. Bahkan Krakart yang idiot mengerti bahwa di hadapan Vermyna dia akan mati konyol jika membuka mulut bodohnya untuk mengatakan yang tidak-tidak.
“Apa yang sebenarnya terjadi dengan Nona Zie dan Moni?” tanya Atland—ia merasa perlu menanyakan pertanyaan yang pasti juga terlintas di kepala semuanya.
“Diri Zie sudah mati, tetapi diri Moni masih hidup. Seperti diri Menez, Moni juga berkhianat. Diri mereka sepertinya tak bisa menerima kematian diri El. Apa ada lagi?”
Moni dan Menez berkhianat sama sekali tidak mengejutkan. Mereka memang sangat dekat dengan El. Untuk kematian Zie, Atland ingin menanyakan kronologisnya. Namun, pada akhirnya ia memilih menggeleng. Jika Vermyna tidak ingin menjelaskan lebih lanjut, tidak ada gunanya bertanya lebih jauh.
“Bagus. Kalau begitu langsung saja diriku katakan alasan utama diriku memanggil diri kalian ke sini,” lanjut Vermya sembari melangkah menuju pintu keluar. “Diri kita akan menundukkan Kepualauan Haikal. Pulau Utama Baal akan menjadi pusat admistrasi New World Order, Pulau Beleth akan fokus menjadi basis militer. Diriku akan menemui Elder Solomon; Valeria akan memberi instruksi lebih lanjut pada kalian.”
Tanpa menanti respons siapa pun, Vermyna menghilang begitu saja. Sihir teleportasinya berada pada level yang berbeda. Saking berbedanya, dia tidak terlihat seperti berteleportasi. Vermyna Hellvarossa seolah lenyap dari alam eksistensi. Bahkan bagi Atland yang termasuk pengguna sihir sensorik tingkat atas, ia sama sekali tak merasakan fluktuasi mana saat Vermyna menghilang.
“Seperti yang Nona Vermyna katakan,” mulai Valeria belasan detik kemudian. “Kita akan menaklukkan Kepulauan Haikal. Aku dan Nona Vermyna akan menangani Pulau Utama Baal. Ciela dan Lumeira akan mengatasi….”
...—Haikal Solomon, Pulau Utama Baal—...
Bahkan bagi seorang Vermyna Hellvarossa, Haikal Solomon adalah sesuatu yang lain. Kota Heavenly Crystal memang mengagumkan, tetapi kota dan seisinya tak bisa disandingkan dengan Haikal Solomon. Jika di permukaan dunia ini ada yang namanya istana dewa, Haikal Solomon adalah istana tersebut. Sederhana saja, tiada bangunan lain yang mampu menyaingi kemegahan tempat ini.
Sayangnya, tujuan Vermyna berada di langit Haikal Solomon sama sekali bukan karena ingin mengaguminya. Untuk visi masa depannya, ia memerlukan tempat indah tersebut sebagai pusat dunia. Permukaan dunia ini berbentuk sedemikian rupa sehingga tidak ada tempat yang lebih cocok untuk menjadi pusatnya selain Haikal Solomon. Danau Deus memang penting, tetapi itu ada campur tangan Edenia. Sementara itu, Haikal Solomon tidak memiliki sentuhan dewa di dalamnya.
Menemukan individu yang ia cari, Vermyna langsung berteleportasi ke hadapan orang tersebut. “Elder Solomon Baalaim,” sapa Vermyna. “Diriku memberimu dua pilihan: bergabung dengan New World Order secara sukarela, atau bergabung dengan New World Order sebagai boneka hidup. Pilihan ada di tangan dirimu.”
......©©©......