Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 15: Duo Monster, part 2



Xavier mengibaskan pedang api birunya, memandang datar pada para prajurit yang telah melangkah mundur selangkah demi selangkah.


Dari jumlah semula mereka yang mencapai lima ratusan, tiga per limanya sudah melebur menjadi abu. Kehilangan lebih dari setengah anggota membuat sisa anggota menjadi ragu dan takut; melihat kematian berhamburan di hadapan mereka membuat nyali para prajurit yang besar menjadi menyusut. Tidak mengherankan mereka mencoba mundur selangkah demi selangkah.


“Kesigapan kalian dalam bertahan cukup buruk, kuberi poin 1 dari 5. Namun, anehnya kalian masih tetap lebih baik dari Imperial Army.” Xavier mengedikkan bahu, menampilkan ekspresi tidak habis pikir. “Sekarang, perlu kita lanjutkan? Kalian harus kunilai dari segi kekuatan mental?”


“Mo-Monster!” teriak salah satu prajurit yang tampak muda—kemungkinan dia anggota Knight Templar yang masih baru. Namun begitu, Xavier tetap masih lebih muda darinya.


“Bagaimana bisa kau membunuh semuanya dan bersikap seolah-olah nyawa mereka tak berarti?!”


Mata Xavier menajam memandang pria itu. “Monster katamu?” tanyanya dengan nada dingin. “Hm, mungkin itu benar di mata kalian. Namun, bisakah kau mengatakan hal yang sama kepada salah seorang Saintmu saat mereka membantai musuh tanpa ampun?”


“Tentu saja tidak,” lanjut Xavier tanpa menanti balasan. “Di mata kalian, Saint itu adalah pahlawan. Namun, bagaimana jika kita tanyakan pada korban keberingasannya? Jawabannya cuma satu: monster.”


Xavier melangkahkan kakinya ke depan, berjalan menghampiri para prajurit yang tersisa. Para prajurit serentak mundur. Satu langkah yang Xavier ambil maju, satu langkah mereka ambil mundur.


“Monster…definisi tentangnya itu relatif.” Xavier melanjutkan tanpa memedulikan para audiensnya. “Bagi kalian aku monster, tetapi bagi penduduk Favilifna aku ini pahlawan. Pun begitu dengan penduduk kekaisaran. Kalian membenciku, mereka memujiku. Tidakkah kalian mengerti hal yang sesederhana itu?”


Xavier menggelengkan kepalanya pelan, merasa sia-sia berbicara dengan mereka yang memandang diri sebagai satu-satunya yang benar. “Tetapi terserahlah, tidak penting juga kalian memahami itu atau tidak. Seperti yang kukatakan sebelumnya, kalian hanya memiliki diri sendiri untuk disalahkan. Sekarang, persiapkan diri kalian.”


Langkah Xavier naik tempo secara eksponensial. Kedua pedang apinya seketika memanjang hingga empat kali lipat; Xavier berniat menghabisi banyak prajurit dalam satu ayunan pedang. Namun, Xavier tiba-tiba menghentikan lajunya, laser putih tepat menyasar tanah selangkah di depannya—dan itu diikuti rentetan laser lain, yang membuat Xavier mundur dengan cepat.


“Kau terlalu besar kepala, Twelfth Commander Xavier von Hernandez.” Rossia Himera mendarat dengan elegan di hadapan dua ratusan para prajurit yang tiba-tiba sudah kembali percaya diri. “Perlukah kuajarkan apa itu kerendahan hati, sehingga otakmu yang angkuh dan bebal itu bisa mengerti?”


“Heh, aku ragu kau mengerti apa yang kau katakan.” Xavier mengubah pedang api birunya menjadi api hitam. “Kau terlihat seperti manusia yang tidak pernah mengerti frasa itu.”


“Cih, dasar dungu! Tapi, akan kuabaikan apa yang sudah kau lakukan.” Rossia mengedarkan matanya memandangi sisa-sisa api biru yang telah memusnahkan ratusan prajuritnya. “Ini sama sekali tidak bisa diterima mereka mati begitu saja, tetapi Holy Kingdom tak berminat mencari gara-gara dengan Holy Kingdom. Pergilah. Tinggalkan Favilifna Kingdom. Kau hanya sendiri. Menghadapiku beserta 14 ribu lebih prajurit sama saja bunuh diri.”


“Bagaimana jika begini,” respons Xavier dengan satu pedang api hitam teracung ke depan. “Tinggalkan teritorial Favilifna Kingdom saat ini juga. Dengan begitu, kami akan melupakan aksi tak bisa dimaafkan yang telah kalian lakukan. Tentu saja, kalian harus membayar kompensasi sekaligus menuliskan surat permintaan maaf secara resmi. Jika tidak, sayang sekali kalian akan berakhir di sini.”


“Ada dua hal yang keliru dalam ucapanmu,” kata Xavier, tak ambil pusing dengan lingkaran sihir putih yang tercipta di ujung tongkat Rossia. “Pertama, kau mengajariku kekalahan itu tak lebih dari sekadar delusi. Dan kedua, para prajuritmu yang tersisa tidak akan keluar dari area perkemahan kalian.”


Kening Rossia mengernyit, tetapi dia tak perlu membuka mulut untuk mengetahui apa yang Xavier maksudkan dengan poin kedua. Suara debuman yang terdengar di belakangnya sudah cukup untuk memberi jawaban. Ketika ia melirik ke belakang, mata Rossia membulat lebar melihat sosok First Commander melayang di atas pusat perkemahan. Pun Rossia merasakan dinding gravitasi telah berdiri mengurung area perkemahan, tidak mengizinkan siapa pun untuk masuk dan keluar.


“Begitu rupanya. Aku mengerti sekarang. Kepercayaan dirimu karena keberadaan Lilithia von Sylphisky. Heh, betapa tak berguna.” Amarah terpancar membara di wajah Rossia. “Akan kubinasakan kau dan kuhancurleburkan wanita itu!” serunya, melepaskan rentetan laser putih dari lingkaran sihirnya.


Xavier tidak merepotkan diri membalas ucapan wanita yang memandang diri sebagai yang paling superior itu. Ia sudah cukup berbicara. Pun Xavier tak mencob menghindar. Laser putih yang [Holy Magic] hasilkan itu ia biarkan melewati tubuhnya seolah ia telah menjadi hologram.


...* * *...


Lilithia memandang tak berminat pada serangga-serangga yang kini mengarahkan pandangan pada sosoknya yang indah.


Berbagai ekspresi terlihat jelas mewarnai wajah-wajah itu, dan tak ada dari ekspresi itu satu pun kelegaan atau ketenangan. Tetapi memang begitulah seharusnya. Serangga-serangga seperti mereka harus mengerti perbedaan yang begitu kentara antara diri mereka dan dirinya.


“Siapa yang menyuruh kalian berdiri dengan kepala terangkat seperti itu?” Berkata Lilithia dengan suara datar nan dingin laksana pisau es—matanya memandang rendah mereka, seolah-olah mereka adalah kotoran yang menjijikkan. “Berlutut, serangga!”


Gravitasi seketika menimpa mereka dengan daya yang berkali-lipat, dan sekonyong-konyong belasan ribu prajurit itu jatuh berlutut—mereka tak mampu melawan gravitasi yang tiba-tiba menekan berat.


“Kalian masih berani melihat ke atas?” Lilithia menurunkan tubuhnya perlahan-lahan. “Letakkan kepala kalian di bawah, serangga-serangga hina.”


Gravitasi yang menimpa mereka semakin bertambah, dan tanpa perlawanan berarti keseluruhan prajurit terjerembak tak berdaya di tanah.


Saat kedua kaki mungil Lilithia mendarat di atas tenda yang sudah rata dengan tanah, tidak ada satu pun kepala yang memandang ke atas.


“Menghancurkan tubuh kalian semua sekaligus hingga menjadi seukuran debu sama sekali tak menjadi kendali; itu bisa kulakukan dalam sekelip mata. Namun, aku ingin mengetes berapa lama aku bisa menghabisi kalian satu per satu sebelum kesabaranku habis. Jadi, kalian para serangga yang jauh dariku, bersabarlah menanti kebinasaan diri kalian yang tak berguna.”


Lilithia lantas menjatuhkan pandangan pada korban pertamanya. “Biarkan yang lain mendengar jeritanmu yang mempolusikan udara,” katanya tanpa ampun, dan seketika jeritan memekakkan mengisi keheningan udara bersamaan dengan retakan tulang dan suara hancurnya organ yang terdengar.