Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 22: Sky isn't Boundless, part 4



Alice harus mengakui kalau Hyenas adalah warebeast terkuat dari semua warebeast yang sudah ia hadapi sejak tiba di kota ini.


Alice bisa mengungguli kekuatan fisik beberapa warebeast sebelumnya meski mereka sudah bertransformasi ke mode terkuat mereka. Ada juga yang tak mampu Alice ungguli, tetapi ia memanfaatkan kecepatannya untuk mengimbangi perbedaan. Menghadapi lawan-lawan sebelumnya, paling jauh ia hanya menggunakan Light Armor; tiada yang bisa memaksanya menggunakan Light Zone, apalagi Ultra Light Zone.


Namun, Hyenas berbeda. Begitu wanita itu menggunakan fase kedua Art of Beastification, Alice tak bisa lagi mengunggulinya dalam hal kecepatan. Satu-satunya hal yang menghalangi Hyenas dari mengalahkan Alice hanyalah perbedaan di antara kemampuan memainkan tombak mereka. Selain tombak cahaya di tangan kanan, Alice juga memegang pedang cahaya di tangan kiri. Antara dirinya dan cucu raja para warebeast, skill memainkan senjata Alice jelas lebih unggul.


Kendati begitu, Alice hanya bisa bertahan. Ia tak memiliki celah menyerang balik. Ketika ia memblok tombak Hyenas dan hendak menusukkan pedangnya, gagang tombak sang warebeast telah memblok pedangnya. Pun tombak itu langsung menyerang, memaksa Alice kembali membloknya. Meskipun Alice menggunakan dua senjata, Hyenas bisa menghadapinya hanya dengan sebuah tombak—dan kuku-kuku tajamnya, tentu saja.


Tak ingin terus disudutkan, zirah cahaya seketika membaluti tubuh Alice, dan seketika Alice kembali dapat melayangkan serangan pada sang lawan. Mata tombak cahayanya tipis mengenai pipi Hyenas, meninggalkan goresan memanjang di sana. Tak berhenti di situ, peluru-peluru cahaya melesat dari kanan dan kiri Alice. Jumlah peluru cahaya itu puluhan, dan semuanya melesat menargeti Hyenas.


Cucu Minner Ertharossa itu terkejut dengan luka goresan di pipi, tetapi dia dapat mengenyahkan keterkejutan itu dan berusaha menghindar. Namun, peluru cahaya itu cepat—lebih cepat dari peluru angin bahkan petir. Hyenas gagal menghindari semuanya, belasan sukses menghujam tubuhnya. Untung saja Hyenas berada dalam fase kedua Art of Beastification, tubuhnya menjadi cukup kuat untuk mengurangi kekuatan penetrasi peluru-peluru itu.


“Ini bukan permainan. Jika kau lengah, itu salahmu sendiri. Aku tak punya kewajiban untuk menunggumu siap.” Bersamaan dengan keluarnya kata-kata itu dari mulut Alice, peluru cahaya dengan jumlah yang mencapai tiga kali lipat dari sebelumnya memborbardir Hyenas.


“…Beastification.”—Adalah satu kata yang Hyenas gumamkan sebagai respons, dan dalam sekejap ia sudah berada di sisi lain arena dengan tubuh yang berselimutkan petir. “Lightning Drive!”


Hyenas melesat bagai kilat menerjang Alice. Bagi orang biasa yang memandangnya dari jauh, mereka hanya melihat kilatan biru yang menerjang ke arah Alice, saking cepatnya sang warebeast tersebut. Hyenas tak melesat lurus, tetapi zig-zag. Alice bisa mengikuti wanita itu. Bola matanya bergerak lincah ke kanan-kiri, kedua cahaya berbentuk senjata di kedua tangannya siap ia gerakkan kapan saja.


Hyenas muncul di kiri Alice, tombaknya mengayun hendak mematahkan leher gadis itu. Tetapi Alice sempat mengangkat tombak cahayanya, tombak itu berbenturan. Namun, itu hanya terjadi dalam nol koma sekian detik. Sebelum Alice mencoba menyerang, Hyenas sudah berada di belakangnya dalam keadaan mengayunkan tombak secara memutar.


Alice menggemeretakkan gigi-giginya. Meskipun matanya bisa mengikuti gerak Hyenas, Alice kurang cepat dalam menangkis. Tapi untung saja ia sempat memiringkan tubuhnya ke belakang, jika tidak maka bukan batang tombak yang menghantam topeng kirinya, melainkan matanya yang tajam. Alice terhempas kuat, tenaga di balik ayunan tombak Hyenas sungguh tidak main-main.


Namun begitu, Alice masih dapat menahan momentum yang tubuhnya terima. Topengnya retak, tetapi masih belum hancur. Alice membeli topeng yang keras. Paling sedikit, topengnya akan mampu menahan dua pukulan lagi sebelum hancur. Karenanya, Alice tak bisa membiarkan dirinya menerima pukulan lagi.


Ah, tentu saja itu tak masalah jika orang-orang melihat wajahnya. Ia sudah menunjukkan wajah pada penjaga gerbang kota dan beberapa orang lainnya. Para warbeast melihat wajahnya sama sekali bukan masalah. Hanya saja, Alice tahu Karen dan Kanna rutin mengirm orang untuk mencari keberadaannya. Topeng ini perlu ada jika ia tak ingin diketahui orang-orang suruhan mereka.


“Apa kau bisa lebih cepat?” tanya Alice tanpa memedulikan ucapan ocehan Hyenas, kedua senjatanya beretakan dan memudar dalam kepingan cahaya.


“Hah?”


“Jika kau tidak bisa lebih cepat, itu artinya hanya sampai di sini sajalah perlawananmu. Light Zone.” Kobaran mana seketika menyelimuti tubuh Alice, dan perlahan mana itu menarik zirah cahayanya. Bagaikan kue yang dibaluti coklat, begitulah Alice dibaluti cahaya. Pakaian, topeng, dan hal-hal yang ia pakai tak lagi terlihat; penampilan Alice sepenuhnya terlihat seperti kumpulan cahaya berbentuk manusia. “Aku akan jauh lebih cepat dari sebelumnya, cobalah untuk mengimbangi kalau bisa.”


Itu terjadi dalam sekejap. Hyenas belum sempat mengerjap, dan tiba-tiba Alice sudah mendaratkan kepalan tangan kanannya di perut sang warebeast. Tenaga di balik pukulan itu luar biasa kuat, sampai menimbulkan kejutan udara. Namun, tubuh Hyenas tak terpental. Alice telah mencekiknya, menahan sang wanita dari terbawa momentum. Dan, sebelum otak Hyenas sukses menerjemahkan rasa sakit yang tubuhnya terima, Alice menghantamkan tubuh itu ke lantai.


Bersamaan dengan mulut yang memuntahkan saliva bercampur darah, Hyenas kehilangan kesadaran diri.


“Ta-Tak bisa dipercaya! Evil Mask yang selama ini kita lihat…ternyata inilah kekuatannya yang sebenarnya! Betapa kuat! Beri tepuk tangan yang meraih untuk Evil Mask yang kembali sukses menjaga rekor kemenangannya!”


Para penonton yang masih tertegun dengan aksi Alice seketika bersorak, memenuhi arena dengan suara mereka yang berisik.


Pada saat yang bersamaan, petugas medis lekas bergegas memasuki arena ‒ kondisi Hyenas akan memburuk jika tak langsung ditangani (pukulan Alice sama sekali bukan kaleng-kaleng).


Sementara itu, Alice yang masih dalam mode Light Zone-nya hanya diam di tempat. Bukan penonton saja yang tertegun, Alice pun juga. Ia sudah pernah mengetes Light Zone pada beberapa Magical Beast, tetapi ini baru pertama kali ia menggunakannya menghadapi petarung sekaliber Hyenas. Light Zone…ini lebih kuat dan lebih cepat dari yang kubayangkan, batin Alice memuji dirinya sendiri.


Jika Light Zone saja sudah seperti ini, bagaimana dengan Ultra Light Zone? Seberapa cepat ia di mode itu? Seberapa bertenaga pukulannya?


Alice tak sabar ingin mengetesnya. Ia melangkah keluar dari lantai arena dengan kepala sibuk membayangkan dirinya menghadapi lawan kuat dalam mode itu.