Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 27: NWO Army, part 3



...—Verada, Vermillion Empire—...


“Commander, kebetulan sekali kau sudah kembali. Aku baru saja mau pergi mencarimu. Ada informasi penting yang datang dari Favilifna Kingdom.”


Xavier yang baru tiba meletakkan kakinya di lantai atas tempat ruang kerjanya berada langsung dihadang Heisuke dengan ekspresinya yang serius.


Ucapan Heisuke kalau dia punya informasi penting untuk disampaikan tidak menyita perhatian Xavier, tetapi pernyataan “aku baru saja mau pergi mencarimu”-lah yang menyita perhatiannya. Ia yakin ia tidak mengatakan pada siapa pun kalau ia ke Cornnas, tempatnya Artemys. Ke mana Heisuke hendak mencarinya? Xavier mengkhawatirkan wakilnya ini mengetahui rahasianya.


“Ayo bicara di dalam,” respons Xavier pada akhirnya, melangkah melewati Heisuke menuju ruangannya.


Segera setelah Xavier mendudukkan diri di kursinya, Heisuke langsung menarik kursi dari sudut meja dan duduk di depan Xavier. “Aku sudah mengirim surat resminya ke Nevada. Ini salinan yang kubuat,” jelasnya seraya menyodorkan dua lembar kertas kepada sang commander. “Mengirimnya pada divisi ini langsung itu menyalahi prosedur. Seberapa dekat kau dengan Queen Elmira, Commander?”


Xavier meraih kedua kertas dan membacanya dengan cepat. Begitu selesai, ia langsung meletakkannya ke dalam laci. “Ini tidak mengejutkan,” katanya—sepenuhnya menghiraukan pertanyaan tak berdasar Heisuke. “Sangat sesuai dengan perkirakan. Namun, waktunya terlalu cepat. Apa yang mereka pikirkan?”


“Mungkin mereka juga sudah mendengar berita di Veria?”


Pendapat Heisuke sangat beralasan. Perkembangan Veria memang mengkhawatirkan bagi Islan.


Dengan Vermyna yang telah menjadi luar biasa kuat, mungkin Fie sendiri mulai meragukan kemenangan total Emiliel Holy Kingdom. Perang yang akan datang tentu akan mengurangi jumlah total prajurit di Islan. Jika Veria kembali menyerang seperti dulu, bukan tak mungkin Islan akan takluk. Emiliel Holy Kingdom tidak menginginkan itu. Tidak ada yang menginginkan itu.


“Aku harap ini tak terjadi secepat ini,” gumam Xavier diiringi gelengan kepala. Kemudian matanya menatap intens Heisuke dengan ekspresi serius. “Kita akan menunggu respons Kanna. Jika dia mengindahkan keinginan Favilifna, kita akan mengirim pasukan ke Etharna seperti yang diinginkan Elmira. Jika tidak, kita akan menghiraukannya. Kita Imperial Army, kita mengikuti instruksinya.”


Heisuke mengangguk mendengar keputusan Xavier. Dia tidak mempersoalkan Xavier yang sengaja mengabaikan pertanyaannya. Heisuke bukan tipikal yang memasukkan dirinya dalam urusan pribadi orang lain. Jika penasaran, ia bertanya terus terang seperti tadi. Jika yang ditanya enggan, ia tidak akan lagi menyinggung hal itu.


“Kalau begitu aku akan kembali,” katanya dan berdiri. Namun, sebelum benar-benar pergi dia sempat berpesan: “Pastikan Commander meninggalkan pesan pada staf administrasi jika ada keperluan di luar.”


...—Carolina, Ekralina Kingdom—...


Cainabel berhenti di lorong jalan yang sepi, mengembalikan ukuran tubuhnya ke kondisi semula.


Gumpalan-gumpalan darah bermanifestasi di sekelilingnya, dengan cepat saling menyatu membentuk payung darah. Dunia adalah partikel yang bereaksi terhadap satu sama lain, membentuk molekul dan segala unsur kehidupan lainnya—dan mana tak lebih adalah energi dari rangkaian reaksi antar partikel. Mengubah darah berbentuk payung menjadi payung dari adamantite dan karet semudah membalikkan tangan dengan [Particle World].


Sebagaimana mengubah darah menjadi payung itu mudah, begitu pula dengan struktur gigi dan warna mata. Cainabel menjadikan gigi-giginya selayaknya manusia normal, sedang mata ia ubah menjadi biru cerah dengan pupil yang bulat. Cainabel bahkan bisa mengubah struktur tubuhnya menjadi seperti yang ia mau, tetapi itu tak ia lakukan. Cainabel menyukai bagaimana dirinya terlihat.


Vampire pemegang kursi ketiga dalam Moon Temple itu melangkah keluar dari lorong jalan yang sepi menuju jalan kota yang ramai. Payung berwarna merah gelap menghalangi energi matahari dari mengenainya secara langsung. Ia terlihat seperti seorang ratu yang terlalu lama berada di dalam ruangan yang khawatir kalau sinar matahari akan membuat kulitnya terbakar.


Tentu saja ia tidak memedulikan. Tidak risih, tidak pula senang. Cainabel tahu ia cantik, tubuhnya menggoda. Reaksi orang-orang sangat wajar. Mungkin akan berbeda jika Crow yang melihatnya begitu, tetapi vampire yang satu itu tidak akan pernah berinisiatif. Cainabel bisa saja berinisiatif duluan, tetapi ia tidak sedang terburu-buru. Menunggu seratus atau dua ratus tahun lagi sampi Crow mengungkapkan perasaannya bukanlah waktu yang lama.


“Hei, kau, tunggu!”


Cainabel tidak memedulikan teriakan yang dialamatkan padanya itu. Targetnya berada di belakang gereja terbesar kedua di Islan. Cainabel dapat merasakannya dengan [Sensory Magic]. Mary Anna…auranya lebih mirip mayat hidup dibandingkan manusia. Apa dia bukan manusia?


“Hei! Kau wanita berpayung merah, berhenti!”


Mereka cukup persisten, batin Cainabel, memutuskan berbelok memasuki lorong jalan antar bangunan yang kosong.


Cainabel tidak tahu niat ketiga pria itu apa. Namun, jika mereka adalah sampah masyarakat yang meresahkan, ia akan memberi mereka sedikit hukuman. Jika mereka adalah musuh wanita yang menjijikkan, ia akan menghancurkan barang yang suka mereka banggakan pada para korban. Jika mereka ingin menanyai identitasnya, Cainabel hanya akan mengilusi mereka dan kemudian lanjut ke belakang gereja.


Vampire bukanlah ras yang haus darah sebagaimana yang disebarkan Gereja Agung Luciel. Vampire tidak asal menghabisi manusia untuk diperas darahnya. Orang-orang yang tak berdosa, vampire takkan menyakiti mereka. Vampire hanya menjadikan manusia bejat sebagai sumber darah. Kualitasnya rendah, memang, tetapi vampire bisa membeli darah berkualitas tinggi dari orang-orang. Mendonorkan darah dengan imbalan koin emas, manusia miskin mana yang tidak mau?


“Hei, hei, cantik, bukankah sudah kami bilang tunggu~?” Seorang pria berjanggut tipis berperawakan kasar muncul di ujung lorong, tampaknya dia telah mengambil jalan memutar untuk mencegatnya.


Cainabel berhenti, melirik ke belakang. Dua pria lain telah bersandar di kedua dinding lorong. Mereka tidak kalah kasar penampilannya dengan pria di sisi lorong yang lain.


“Heh, heh, heh, mau lewat sini? Mengapa kita tidak berkenalan lalu minum-minum di penginapan kami?”


“Bos kami akan dengan senang hati memberimu seratus koin emas, atau lebih. Tapi sebelum bertemu dengannya, kita bisa berse—”


Pria berkepala plontos itu tak mampu menyelesaikan ucapannya. Mulutnya yang terbuka telah dipenuhi gumpalan darah. Hal yang sama terjadi pada kedua pria sisanya. Mereka tak mampu bersuara, Cainabel telah memenuhi mulut mereka dengan darah yang dimampatkan hingga ketiga manusia itu tak mampu untuk menggerakkan rahang.


“…Kalian rupanya sampah masyarakat dan juga musuh wanita,” gumam Cainabel pelan sembari berbalik badan menghadap kedua pria—ucapannya datar tanpa emosi, tetapi dinginnya melampaui es. “Kuputuskan kalian mendapatkan hukuman yang tanpa pengampunan.”


Tiga tombak darah sebesar jari telunjuk sepanjang satu meter tercipta di udara, dua mengarah pada kedua pria di depannya, sedang satu sisanya mengarah pada pria yang lain.


Mereka mencoba lari, tetapi dinding darah seketika muncul dan menutup akses keluar—dinding darah itu lantas memadat menjadi besi.


“Jika kalian berani merasakan kenikmatan, kalian harus berani menerima penderitaan.”


Ketiga tombak darah melesat tajam, sukses menusuk benda yang menggantung di antara kedua kaki mereka. Mata membulat dan air mata yang mengalir keluar menunjukkan betapa besar rasa sakit yang mereka terima.