
Sisi sebelah timur menenggara Islan adalah tempat yang damai. Kendati di hadapannya adalah lautan luas yang nan jauh di sana terhampar Medea dan Veria, sisi sebelah timur menenggara Islan tetaplah tempat yang damai. Tidak ada apa pun yang berbahaya di sini. Magical Beast yang berkeliaran pun hanya makhluk-makhluk lemah yang bahkan orang biasa bisa kalahkan. Tidak ada makhluk yang berbahaya di sini—selain para penjahat/pencuri yang bersembunyi dari buruan kerajaan-kerajaan/kota-kota.
Dua kilometer dari bibir pantai, tenda-tenda para prajurit gabungan dari berbagai ras telah berdiri berkelompok-kelompok. Itu adalah tempat yang mereka pilih sebagai markas. Dari situ, mereka akan bisa lebih leluasa bergerak kapan pun musuh tiba. Mereka pun tak harus mengkhawatirkan keamanan dari Magical Beast—tidak seperti tempat-tempat lainnya seperti sisi tenggara mereka.
Minner dan Zestya berhasil diteleportasikan ke tempat yang mereka inginkan—satu kilometer di depan tenda-tenda itu yang jumlahnya ratusan. Kedua warebeast bersaudara itu tak berminat menggabungkan diri langsung dengan pemimpin para prajurit. Mereka ingin menjadi penghalang utama bagis musuh. Para prajurit bisa menghadapi orang-orang yang selamat dari keduanya.
“Minner, siapa yang menghabisi lebih banyak orang maka dia berhak menjadi majikan yang kalah selama dua hari penuh. Bagaimana, Minner berani menerima tantangan Zestya?”
“Heh, kalau begitu kau jangan marah kalau nanti aku memerintahmu yang tidak-tidak, ya?”
“Minner berbicara seolah sudah menang saja. Baiklah, apa pun permintaan Minner, meskipun itu hal yang tak bermoral, Zestya tidak akan marah.”
...***...
Tidak ada kota apa pun di sisi paling timur Islan, tetapi jauh ke barat dayanya terdapat sebuah kota independen bernama Easthapola. Namun, lokasinya yang terlampau jauh ke barat daya membuat para prajurit tak bisa menjadikannya sebagai markas. Karena itu, para prajurit harus membangun tenda-tenda sebagai markas operasi mereka di tempat yang tak berpenghuni, berjarak sekitar tiga kilometer dari bibir pantai.
Hernandez, Retsu, dan Vermyna melangkahkan kaki mereka keluar dari portal dimensi yang Vermyna ciptakan. Dengan [Space Magic]-nya, Vermyna dapat menciptakan portal dimensi ke segala penjuru Islan—kecuali radius sepuluh meter dari tempat Fie Axellibra berada. Vermyna bisa melakukan itu karena Islan secara keseluruhan sudah termasuk ke dalam dimensi khususnya. Kendatipun secara nyata Islan masih tetap pada tempatnya, tetapi pada saat yang bersamaan ini berada dalam dimensi luas milik Vermyna.
Kemampuan Vermyna dalam [Space Magic] dan [Time Magic] sangatlah luar biasa hingga Hernandez ragu jika Jiang Yue Yin yang bisa menggunakan semua sihir sanggup menyamai sang vampire. Hernandez berpikir demikian tentu saja bukan karena ia berada di sisi sang vampire semata, tetapi karena ia memang mengakui kalau Vermyna memanglah sehebat itu.
“Hernandez, Retsu, jangan mati sebelum diriku kembali.”
Tanpa menunggu respons kedua manusia yang bersangkutan, sepasang sayap hitam kelam menyeruak keluar dari punggung vampire bertubuh mungil itu. Kemudian dia langsung mengudara dan melesat ke timur dalam kecepatan hipersonik. Saking cepatnya, melesatnya Vermyna menciptakan kejutan udara yang menerpa Hernandez dan Retsu.
Sesaat setalah kepergian Vermyna, Hernandez langsung mengajak Retsu untuk bergabung dengan para prajurit yang sudah terlebih dahulu berkemah tak jauh dari mereka. Karena mereka adalah pasukan utama, dan mengingat musuh-musuh yang harus mereka hadapi, penting bagi keduanya untuk berkoordinasi dengan pemimpin para prajurit. Dengan begitu, diharapkan mereka bisa menghindari terjadinya miskomunikasi.
...* * *...
Dalam terbangnya ke timur, Vermyna menyaksikan cukup banyak kapal yang menuju Islan. Kapal-kapal itu terbagi dalam beberapa rombongan dengan jalur tujuan yang berbeda. Selain rombongan utama yang berlayar lurus menuju pesisir timur Islan yang kapalnya berjumlah dua ratus lebih, rombongan lainnya masing-masing memiliki jumlah kapal yang sama, yakni sekitar 100. Secara total, Vermyna mengestimasi jumlah kapal totalnya antara 800 sampai 900.
“Itu jumlah yang sangat banyak,” gumam Vermyna dengan nada monoton. Namun, karena kecepatan terbangnya bahkan jauh lebih cepat dari merambatnya suara, Vermyna sendiri hampir tak mendengar suara gumamannya sendiri yang telah tertinggal.
Jika mau, Vermyna bisa melenyapkan semua kapal-kapal itu dengan [Space Magic]-nya. Namun, jika ia mencoba melakukan itu, Jiang Yue Yin akan terlebih dahulu mengkonfrontasi dirinya. Jika itu terjadi, Vermyna tidak akan sempat untuk menghentikan Arshvateth dan anak buahnya. Kekuatannya yang sekarang ini seperti sebuah kolam di hadapan sebuah danau jika dibandingkan dengan kekuatan dirinya yang utuh.
“Edenia sialan itu!”
Vermyna tak bisa menyembunyikan kekesalannya. Mengingat kejadian di mana ia kehilangan ingatan dan sejumlah besar kekuatannya selalu membuat dirinya sangat emosi. Saking emosinya, Vermyna sampai ingin menguliti makhluk itu hidup-hidup. Jika saja ia tidak tahu kalau mustahil baginya bahkan hanya untuk menggores kulit Edenia, Vermyna tentu sudah berupaya mencari lokasi makhluk itu.
Jika ia ingin setidaknya memiliki kesempatan menghadapi makhluk hina itu, Vermyna harus minimalnya memiliki Supreme Magic. Namun, itu saja tak cukup. Ia juga harus menyatu dengan kedua bagian dirinya yang lain: Catherine Hermythys dan Sataniciela. Tanpa penyatuan itu, mustahil baginya untuk kembali menjadi Vermyna Hellvarossa. Jika ia tak menjadi Vermyna Hellvarossa, tidak ada peluang baginya melukai Edenia, kendati dengan sebuah Supreme Magic sekalipun.
Namun, memikirkan meniadakan keberadaan Catherine… Vermyna tidak bisa membawa dirinya melakukan itu. Ia telah menghabiskan waktu yang lama bersama Catherine. Meskipun ia sekarang tahu kalau jiwa anak itu bagian dirinya, tetap saja secara teknis Catherine adalah adiknya. Jika ia mengambil kembali jiwanya, …itu akan seperti membunuh adiknya sendiri.
Untuk saat ini, Vermyna tidak sanggup melihat Catherine meregang nyawa.
Lagipula, kekuatannya saat ini sudah lebih dari cukup menghadapi hampir semua orang. Mengecualikan Fie Axellibra yang dapat menegasikan semua sihir, Vermyna tidak merasa ada seorang pun yang bisa mengalahkannya. Mendesaknya mungkin ada, tetapi mengalahkannya?
Itu tak mungkin terjadi.
Tak lama kemudian, Vermyna sudah berada di antara Islan dan Medea. Mengingat ia sampai di sini dan masih belum melihat para naga yang dimaksud, artinya Arshvateth dan bawahannya terbang dalam kecepatan biasa menuju Islan. Mereka pasti dengan arogannya berpikir kalau makhluk superior seperti mereka tak perlu terburu-buru. Atau, jika masa lalu itu masih membekas dalam benak para naga, mereka ingin menghindari pertemuan dengan Fie Axellibra. Jika demikian, mungkinkah mereka mengekspektasikan Jiang Yue Yin akan menangani sang nephilim?
“Sebagai ras naga, diri mereka sangat mengecewakan, tapi itu tidak mengherankan. Setiap diri memiliki insting alami untuk menghindari melawan musuh yang tak bisa dikalahkan. Diri mereka hanya mempermalukan ras naga secara utuh. Hmph, mengapa tidak kulenyapkan saja mereka semua?”
Gramiel, sebagai pria tua yang lunak hatinya, melarangnya melakukan pembunuhan masal terhadap ras naga. Lebih baik untuk membiarkan sebagian besar dari mereka pergi. Atau, jika upaya pengusiran mereka bisa dilakukan hanya dengan menundukkan Arshvateth, Gramiel ingin agar Vermyna memilih opsi itu.
Normalnya, Vermyna akan menuruti keinginan Gramiel – ia memiliki cukup rasa hormat pada pria itu sebagai penyebar risalah dari sang dewa.
Namun, masa-masa di mana ia memiliki rasa hormat yang cukup itu telah sirna saat Vermyna mengingat kembali siapa ia yang sebenarnya. Kendatipun ia masih memiliki sedikit respek pada pria tua itu, tetapi itu tidaklah cukup untuk membuat Vermyna mematuhinya seperti biasa. Ia jelas-jelas adalah makhluk dengan kasta yang jauh lebih tinggi dibandingkan pak tua itu; sangat tak pantas baginya mendengarkan kata-kata Gramiel.
Kekesalan di wajah Vermyna sirna seketika kala mata merahnya melihat rombongan naga terbang di horizon sana.
“Diri mereka akan menjadi hiburan yang tidak buruk,” gumamnya sembari memotong jarak dalam sekejap, dan dalam sekelap mata ia sudah berada di hadapan para naga yang refleks menghentikan laju mereka. “Halo, diri para naga yang hina, bagaimana kabar diri kalian?”
...* * *...
Waktu unjuk gigi bagi mahakarya mereka akhirnya tiba—itu adalah apa yang mengisi pikiran Khrometh dan Stakhneth saat mereka berada di gua khusus yang diperuntukkan hanya untuk mereka oleh Dwarf Kingdom, atas titah King Zolloa. Keduanya berdiri di hadapan golem raksasa bersayap, Titanus. Khrometh sudah membaluti dirinya dengan armor khusus yang membaluti seluruh bagian tubuhnya, kecuali bagian wajah. Sementara itu, Stakhneth hanya berbalutkan pakaiannya yang biasa.
“Tunggu apa lagi, Stakhneth? Cepatlah naik. Kita akan langsung ke sana dan memberantas setiap cecunguk yang mendekat.”
Stakhneth mengangguk pelan, berjalan mendekati golem. Seperti halnya rekannya yang sudah tak sabaran ingin segera mengetes armor barunya, ia juga sudah tak sabar ingin melihat golem penghancur itu. Mereka sudah menghabiskan banyak waktu dan sumber daya untuk memanifestasikan golem tersebut; akan mengecewakan jika mereka tak memanfaatkannya.
Melompat ke udara, Stakhneth langsung menerobos memasuki dada golem yang terbuka.
Khrometh yang menyaksikan saudara tak sedarahnya itu memasuki ruang kontrol golem tersebut menyengir lebar. Dan cengirannya semakin lebar saat kedua mata golem itu menyala, mengindikasikan Stakhneth sudah duduk di kursi kendali dan membiarkan [mana]-nya diserap. Kendatipun mereka sudah menciptakan reaktor [mana] yang mengandalkan kondensasi Air Ethereal sebagai sumber [mana], tetapi Stakhneth tetap perlu menggunakan [mana]-nya untuk mengaktifkan golem tersebut.
Khrometh lantas mengangkat tangan kanannya saat Stakhneth menggerak-gerakkan kaki dan tangan golem, seketika memunculkan lingkaran sihir berwarna coklat di langit-langit gua yang menjulang tinggi. Langit-langit di atas golem itu pun saling memisahkan hingga menciptakan lubang berdiameter dua puluh meter di udara. Lantas, Stakhneth membawa golemnya terbang menembus lubang itu.
Tak ingin tertinggal, Khrometh langsung melesat ke atas menyusul Titanus—tentu saja dia tak lupa mengembalikan atap gua kembali seperti semula.
...* * *...
Kapal Vegasus perlahan melayang dari tempatnya mengapung di permukaan danau bawah tanah. Langit-langit gua yang cukup tinggi itu membuka perlahan, membiarkan kapal satu-satunya di Islan yang dapat terbang itu menerobos bebas ke permukaan. Tak lama, kapal itu sudah berada ratusan meter di atas permukaan tanah.
Di ruang kendali kapal itu, Diatra duduk santai di sofa beberapa belas langkah di belakang kursi kendali yang di atasnya duduk Elemetra. Mereka bersepakat untuk gantian mengendalikan kapal setiap satu jam. Karena tak satu pun dari mereka memiliki [Fire Magic], mereka butuh [mana] yang lebih untuk mengoperasikan kapal. Karena itu pula mengapa mereka akan saling bergantian setiap satu jam.
Kapal Vegasus lantas melesat lurus ke timur laut Islan. Tugas mereka adalah menghancurkan sebanyak mungkin kapal. Karenanya, Diatra dan Elemetra memutuskan untuk memulainya dari yang paling ujung. Kemudian mereka berniat untuk menyisir di sepanjang laut dari sisi timur laut Islan sampai sisi tenggaranya.
Itu adalah rencana yang paling sederhana, tetapi pada saat yang bersamaan itu juga yang paling efektif dan masuk akal. Pasalnya, mereka tidak memiliki cukup informasi tentang musuh untuk merumuskan rencana yang lebih jitu.
...—Kapal Utama Veria—...
“Akan kupotong jarak antara kapal-kapal ini dengan Islan. Jarak yang terpaut tiga jam perjalanan kapal, akan kubuat menjadi tiga puluh menit.”
Gadra hampir terperanjat saat suara itu tiba-tiba menyerang indra pendengarannya. Tetapi karena otaknya langsung mengenali suara monoton itu, ia dapat dengan cepat mengontrol diri dan berbalik menghadap sang pemilik. Seperti yang sudah ia asumsikan, itu benar milik Jiang Yue Yin.
“Mengapa begitu tiba-tiba? Dan sejak kapan pula kau berada di kapal ini?” Refleks Gadra bertanya.
“Aku baru di sini, dan aku baru saja melihat ada yang melesat menuju Arshvateth dan rombongannya. Sepertinya mereka sudah tahu kalau kita akan mengikutsertakan para naga dalam menyerang Islan.”
Gadra mengernyitkan kening mendengar informasi itu. “Itu tidak mungkin! Tidak ada mata-mata dalam pasukan ini. Aku sudah menekankan pada orang-orang kepercayaanku untuk memastikan hal itu. Karenanya, jika ada yang benar-benar membocorkan informasi itu, orang tersebut pastilah menyempil di antara pasukanmu, Yue Yin. Mengesampingkan hal itu, siapa orang yang kau lihat itu?”
“Seorang vampire.”
“Vermyna…Hermythys?”
“Dia adalah individu terkuat di Islan setelah Fie Axellibra. Aku tidak tahu pasti sekuat apa dia, tapi katanya dia tidak terkalahkan dalam [Time Magic] dan [Space Magic]. Aku tahu kau juga menguasai kedua sihir itu, tapi aku tidak tahu apa kau bisa mengungguli Vermyna dalam kedua sihir itu atau tidak. Dan jika harus jujur, aku tak yakin aku bisa mengalahkan vampire itu—bahkan jika diriku ada tiga sekalipun. Kau mempersingkat jarak karena hal itu?”
“Hm, jika Vermyna Hermythys itu sekuat yang kau implikasikan, membuatnya menghadapi Arhsvateth dan bawahannya adalah hal yang bagus. Akan merepotkan jika dia hadir saat aku harus fokus pada Fie Axellibra.”
Hm, Gadra merasa seharusnya ia memberi informasi yang detail pada Yue Yin saat sebelum mereka mengeksekusi rencana. Meskipun mereka percaya diri dengan jumlah, itu tidak akan berarti jika dihadapkan pada kekuatan besar. Orang-orang mengatakan untuk mengalahkan kualitas dengan kuantitas, tetapi mereka lupa kalau kualitas bisa saja melenyapkan kuantitas.
“Tapi tak masalah; aku akan mengatasi mereka berdua sekaligus jika keduanya bertarung bersama. Sekarang, persiapkan dirimu dan yang lainnya, Gadra.” Yue Yin langsung menyatukan kedua telapak tangannya tepat setelah mengatakan itu.
Gadra ingin mengatakan kalau bagi Yue Yin pun itu mustahil mengalahkan Fie Axellibra dan Vermyna Hermythys sekaligus. Namun, ia tak ingin mengantagonisi Yue Yin. Karenanya Gadra hanya mengangguk pelan dan pergi menemui pasukan intinya.
...—Axellibra, Emiliel Holy Kingdom—...
Axellibra adalah kota yang besar, terbesar di seantero Islan yang luas. Pun demikian dengan penduduknya. Mereka lebih banyak daripada elf yang menghuni Evrillia ataupun warebest yang mendiami ibukota Warebeast Great Kingdom. Tetapi itu tak mengejutkan; manusia lebih cepat berkembang biak dibandingkan elf ataupun warebeast—kendatipun mereka jauh lebih cepat mati dibandingkan keduanya.
“Pope Gramiel, silakan ikuti saya.”
Mata Gramiel yang memutar ke sana ke mari memandangi pesona ibukota Emiliel Holy Kingdom seketika mengarah pada pemilik suara. Gramiel tidak pernah melihatnya sebelumnya. Biasanya yang selalu menyambutnya jika pergi ke kota ini adalah perdana menteri. Namun, melihat ketidakberadaan pria itu di hadapannya, artinya sang perdana menteri sedang tidak punya waktu luang untuk menyambutnya.
“Tentu saja,” respons Gramiel pelan.
Mengangguk pelan, pemuda yang berada di hadapan sang pope langsung membalikkan badannya dan melangkah pergi. Selama menjadi pope, ini kali pertama Gramiel menerima pandangan datar itu, tetapi ia tidak berkomentar. Pria tua tersebut hanya melangkahkan kakinya mengikuti pemuda itu.
“Apa Nona Fie bisa ditemui?” tanya Gramiel setelah beberapa lama berjalan. Ia ke sini untuk menemui Fie Axellibra; tidak ada guna baginya berada di sini jika ternyata sang nephilim sedang tidak bisa ditemui.
“Kami akan memberitahu Nona Fie setelah kau tiba di ruang pertemuan yang telah dipersiapkan, Pope Gramiel.”
Gramiel membiarkan bibir tuanya sedikit melengkung. Pemuda di hadapannya ini baru saja terang-terangan menyiratkan kalau baginya Fie Axellibra jauh lebih tinggi derajatnya dibandingkan sang pope. Kendatipun pada dasarnya Fie Axellibra adalah putri dari seorang seraphim, itu tetaplah penghinaan bagi gereja. Namun demikian, Gramiel tidak akan berkomentar.
Ia memiliki tujuan yang jelas datang ke sini; tidak perlu menambah masalah yang memang tidak diperlukan.
...* * *...
“Binatang-binatang berkaki empat, diriku berharap tidak mengganggu kepakan-kepakan sayap diri kalian yang hina.” Vermyna memamerkan senyum arogan miliknya, memperlihatkan sepasang taringnya yang indah nan menggoda.
Perkataan itu sukses menghentikan setiap kepakan sayap para naga. Mereka semua memandangnya tajam, penuh murka. Naga adalah ras yang paling tinggi, mereka sangat amat tidak suka jika ada yang memanggil mereka hina. Namun, Vermyna sama sekali tidak terintimidasi. Mereka hanyalah serangga jika dibandingkan dengannya.
“Vermyna, kearogananmu sungguh tak mengenal batas.”
Suara berat dan terkesan mengancam itu adalah milik sang Dragon Lord—naga tua yang telah berusia lebih dari seribu tahun, yang namanya dikenal luas sebagai Arshvateth. Vermyna tidak tahu apakah itu nama aslinya atau bukan, tetapi yang jelas saat seseorang mendengar kata Arshvateth maka yang pertama terngiang adalah sang Dragon Lord.
“Tentu saja. Sangat wajar bagi diriku berlaku arogan pada makhluk yang posisinya berada di bawah kakiku. Ah, tapi, jika diri kalian mau mengangkat sedikit kepala untuk menjilat bekas telapak kaki diriku, mungkin diriku akan mempertimbangkan menjadikan diri kalian binatang peliharaan diriku.”
Wajah para naga seketika dipenuhi amarah. Tanpa meminta izin sang Dragon Lord, belasan dari mereka sudah melesat mencoba menyerang sang vampire. Dragon’s Breath dari berbagai variasi elemen secara harmoni menerjang sang vampire. Namun, distorsi ruang dengan jumlah yang sama dengan banyaknya serangan seketika muncul.
Semua semburan para naga itu masuk ke dalam distorsi ruang dengan mulus.
Para naga tentu tak diam saja. Mereka meliuk-liuk mencoba mengubah arah semburan, tetapi distorsi ruang itu mengikut mereka seolah mereka telah terhubung secara langsung. Dan, begitu semburan itu terhenti, distorsi itu pun menghilang tak berjejak.
“Hm, mau itu sebelas atau seratus, atau bahkan seribu sekalipun, serangga tetap tak akan ada apa-apanya di hadapan diriku. Tidakkah dirimu mengerti hal yang sesederhana itu? Ops! Diriku lupa kalau otak serangga terlalu kecil untuk memahami hal dasar seperti itu.”
Kali ini, selain Arshvateth, semua naga bergerombol menyerang Vermyna. Mereka seperti sudah kehilangan akal mereka. Meraung-raung tak jelas seperti hewan buas yang gila, itu adalah bagaimana mata Vermyna melihat mereka. Dan, meskipun mereka seperti kesetanan, Vermyna tidak merasa terganggu. Malahan, itu cukup menghibur bisa melihat para naga yang penuh kebanggaan diri bergerombol penuh hina seperti serangga tak berdaya.
Vermyna meliuk ke kiri menghindari terjangan seekor naga, sebelum kemudian melesat ke atas menghindari naga lainnya. Vermyna sama sekali tak berniat membalas serangan; ia berniat membiarkan para naga menyerang membabi buta sesuka hati mereka. Dengan demikian, mereka akan sadar kalau dibandingkan dengan dirinya maka mereka hanyalah serangga yang tak berdaya.
“Yaaa, Arshvateth. Sampai kapan dirimu akan terdiam terbengong di situ? Dirimu tak ingin ikut bergerombolan bersama mereka?” tanya Vermyna sembari menghentikan waktu puluhan naga yang bermanuver di belakangnya, bibirnya melengkung seolah-olah ia sedang melihat pada sampah yang bisa berbicara.
“Grrrr! Vermyna, kau dan kearogananmu!”
“Hoho? Dirimu merasa inferior?”
“Diriku…merasa inferior? Padamu? Ha-ha-ha, ha-ha-ha, khahahahahahaha….” Arshvateth mendecih keras. “Bodoh sekali. Pada dewa saja aku tak merasa inferior, apalagi pada cecenguk kecil sepertimu!” Ekspresi Arshvateth seketika menjadi serius. “Semuanya, mau sampai kapan kalian bertindak bodoh seperti itu? Sudah cukup main-mainnya. Kerahkan segenap kemampuan kalian dan habisi Vermya hingga tak bersisa darinya bahkan hanya sehelai rambut!”
“Hoooh~?” Vermyna menaikkan sebelah alisnya tertarik kala melihat tubuh para naga diselimuti elemen-elemen tertentu: petir, angin, api, dan sebagainya. Bahkan, para naga yang berada dalam efek [Time Magic]-nya tampak menunjukkan resistansi—meskipun resistansi itu langsung menghilang kala Vermyna sedikit memperkuat efek sihirnya. “Tidak buruk.”
...* * *...
Hernandez dan Retsu duduk bersebelahan di depan sebuah meja persegi sederhana di tenda utama komando pasukan gabungan Islan. Di depan keduanya duduk beberapa orang yang berposisi sebagai pemimpin dari pasukan utuh yang dipisah menjadi empat divisi—masing-masing divisi terdiri dari 35.000 sampai 50.000. Mereka membicarakan tentang strategi untuk menyambut musuh yang berniat menjajah mereka.
Sebagai yang terkuat, disepakati bersama kalau Hernandez dan Retsu akan bertarung berdua di garis terdepan. Satu kilometer di belakang mereka, dua dari empat divisi itu akan siap menyambut para prajurit musuh. Lalu, di belakang kedua divisi itu, berjarak satu kilometer, dua divisi sisanya akan mengatasi para prajurit yang mampu meloloskan diri. Singkatnya, itu adalah strategi defensif tiga lapis.
Tidak banyak hal yang perlu didiskusikan dalam pertemuan itu. Sebelum Hernandez dan Retsu bergabung dengan mereka, mereka sudah menentukan strategi itu. Kehadiran Hernandez dan Retsu hanya untuk memastikan tidak terjadi miskomunikasi di antara mereka. Dan Hernandez sudah mengekspektasikan hal itu. Karena, jika saat mereka tiba tetapi strategi belum ditentukan, itu hanya akan menunjukkan ketidakkompetenan para pemimpin pasukan.
“Gawat, Pemimpin!” Seorang prajurit tiba-tiba masuk tanpa permisi ke dalam tenda. “Gawat!”
“Katakan, Prajurit.”
“Para pengawas telah mendapati kapal musuh mendekat ke area pantai. Saat ini, mereka hanya berjarak belasan kilometer saja.”
Hernandez langsung bangkit dari kursinya mendengar laporan sang prajurit. Hal itu diikuti oleh Retsu. “Kami serahkan sisanya pada kalian,” kata Hernandez. “Aku dan Retsu akan langsung ke bibir pantai.”
“Baik, Tuan Hernandez. Kami serahkan pertahanan terdepan pada kalian berdua. Kami berdoa yang terbaik untuk kalian dan kita semua.”
Mengangguk pelan, Hernandez dan Retsu langsung beranjak keluar tenda.
Belasan kilometer dari bibir pantai bukanlah jarak yang jauh. Hernandez bisa memangkas jarak sejauh itu hanya dalam beberapa detik saja. Tentu saja membandingkan kecepatan kapal laut dengan dirinya bukanlah perbandingan yang adil. Tapi, paling tidak, hanya butuh kurang dari sepuluh menit bagi kapal-kapal itu untuk tiba ke tepian. Dan itu bukanlah waktu yang lama. Karenanya, Hernandez dan Retsu sama sekali tidak menunda-nunda untuk beranjak ke pantai.
“…Itu jumlah kapal yang banyak,” komentar Retsu kala matanya mendapati bayang-bayang kapal yang berlayar di horizon sana.
Hernandez mengangguk setuju. “Akan berbahaya membiarkan mereka berbuat bebas di Islan ini,” ucapnya sembari mengeluarkan Kurtalægon miliknya. Retsu pun turut menghunus pedangnya.
“Mari kita lakukan yang terbaik, Retsu.”
“Tentu saja, Tuan Hernandez. Aku tidak akan kalah darimu.”
...»»» End of “Threat from the East” «««...