Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 7: Blood in the Forest, part 2.5



Menez melompat dari dahan pohon tempatnya duduk, tipis menghindari sambaran petir yang Emily tembakkan dengan kedua jari tengah dan telunjuknya.


Ketika kakinya mendarat, Emily sudah berada di hadapannya. Pedang adamantite bermata dua sudah berada tepat di hadapan pemuda berwajah cantik itu, mengayun dengan tajam. Namun, Menez masih dapat menekuk tubuhnya ke belakang ‒ bilah pedang itu menyayat udara di atasnya.


Serangan Emily belum berhenti. Begitu tebasan pedangnya selesai mengayun, detik itu juga tangan kiri berselimutkan petir pinknya menusuk tajam mengincar abdomen Menez. Serangan Emily berhasil: tangannya menembus abdomen Menez—membuat percikan petir menggerogoti tubuhnya. Namun, pada detik itu juga tubuh Menez melebur menjadi pasir yang kemudian terbang berhamburan.


Ilusi lagi? Pikir Emily, berusaha keras mengusir ilusi—yang lagi-lagi tidak memberi reaksi apa-apa.


“Tidak, aku tidak menggunakan ilusi padamu.” Suara itu datang dari belakang, Emily dengan cepat membalikkan badan. “Aku menggunakan ilusi pada tubuhku sendiri. Artinya, selama ilusi ini ada, kau takkan bisa melukaiku.”


Emily pernah mendengar ilusi yang seperti itu saat di Imperial Academy dulu. Pengguna sihir elemental dianggap benar-benar menguasai sihirnya jika dia bisa mengubah tubuhnya menjadi elemen tersebut. Pun demikian dengan pengguna sihir ilusi. Ketika mereka menguasai ilusi hingga ke tahap tertinggi, mereka bisa menjadikan tubuh mereka sendiri sebagai ilusi. Mereka bisa menyerang, tetapi mereka tak bisa diserang.


Untuk menghadapi pengguna ilusi yang sudah sampai ke tahap tertinggi itu, ada dua cara umum yang paling ditekankan: pertama, menggunakan [Rune Magic] menciptakan medan anti-ilusi; kedua, memperlama jalan pertarungan sampai mana pengguna ilusi menipis—dengan begitu, ilusinya akan pudar dengan sendirinya. Dan jelas, cara pertama tak berlaku bagi Emily.


“Aku bisa mengalahkanmu dengan mudah dan mengatasi para prajuritmu yang sudah pergi. Namun, baiklah, kuterima tantanganmu, Commander Emily. Aku tidak akan menyerang di menit pertama, kau bisa menyerang sesukamu. Namun, jika dalam waktu itu kau tak bisa menang, itu artinya kau selesai.”


Emily tidak memedulikan ucapan lawannya. Entah dia melawan atau tidak, entah dia menggunakan ilusi atau tidak; ia tetap akan menyerang sebisanya, setidaknya sampai para prajuritnya cukup jauh. Kemudian, ia akan melakukan sebisanya untuk bertahan hidup.


...* * *...


“Kau tidak membunuh satu pun dari mereka, apa itu tidak apa-apa?” tanya Luciel tatkala Xavier menghantamkan siku kanannya ke dada elf terakhir yang masih berdiri, membuatnya terpental beberapa meter dan jatuh terjerembab. “Mereka boleh jadi akan menyulitkanmu nanti.”


“Mereka terlalu lemah; membunuh mereka hanya akan membuatku kesal.” Xavier beralasan—ucapan itu disuarakan cukup keras sehingga para elf yang masih sadarkan diri dapat mendengar. “Sekarang para gangguan sudah tidak berdaya, saatnya aku menghabisimu, El.”


“Oh, sungguh, Twelve Commander? Kau percaya bisa melakukannya?”


Xavier tidak memberi respons verbal. Dalam kecepatan yang meninggalkan kejutan udara di belakangnya, ia mendaratkan tinju berlapiskan api hitam pada sang penopeng. Luciel sempat menyilangkan kedua tangan memblok pukalan itu, tetapi besarnya tenaga yang pukulan Xavier berikan membuat Luciel terlontar jauh. Belasan pohon patah saat tubuh Luciel menubruk mereka; ia terpental-pental dan kemudian terseret hingga berhenti.


Xavier dengan cepat menyusul Luciel—sang malaikat agung terpental ke sisi tenggara. Ketika ia mencapai posisinya, Luciel sudah kembali berdiri tanpa ada tanda-tanda kalau dia terkena serangan. Dengan [Reverse Law], mereka benar-benar tak memerlukan [Complete Restoration].


“Kau tidak menahan diri,” komentar Luciel—nadanya agak datar.


Xavier mengedikkan bahu. “Berapa lama sampai kedua pasukan utama saling bertemu?” tanyanya.


“Mengingat jarak antar mereka dan kecepatan mereka melaju, paling cepat satu jam.” Luciel memasang kuda-kuda bertarungnya. “Itu waktu yang banyak untuk pemanasan, pertarungan ringan, pertarungan setengah serius, dan pertarungan sungguhan. Rencananya menjatuhkanmu di tengah-tengah medan pertempuran, kan?”


“Meskipun aku yakin mengalahkanmu berada dalam kapabilitasku, aku akan kalah sesuai rencana.” Xavier membiarkan bibirnya menyeringai. “Setelah semuanya, aku tidak ingin melukai harga diri seorang malaikat agung dengan mengalahkannya sampai tak berkutik.”


“Hei, hei, itu bentuk pengoverestimasian diri yang tak bisa ditolerir, Xavier. Apa aku harus mengajarkan ulang tentang apa itu arti kekalahan padamu?”


Xavier terkekeh. “Jika hanya bicara siapa pun bisa, Luciel. Majulah, tunjukkan kau tidak omong besar saja!”


“Heh, kata-katak itu lebih tepat untukmu!” Xavier juga tak menahan diri.


...* * *...


Mengisi ember yang bocor dengan air adalah usaha yang sia-sia. Tidak peduli seberapa lama ditunggu, ember itu takkan pernah penuh—kecuali jika debit air yang masuk lebih besar dari debit air yang keluar, tentu saja. Namun begitu, kendati debit air yang masuk lebih besar dari yang keluar, ember tetap akan kembali kosong jika air berhenti di isi. Benar-benar sebuah usaha yang sia-sia.


Pun begitu dengan usaha Emily. Semua serangannya sia-sia. Semua spellnya tak berguna. Bahkan pedangnya pun tak lebih baik dari ranting yang hina. Tidak ada yang bisa Emily lakukan untuk mengalahkan musuhnya; kekuatan mereka sama sekali tidak kompatibel. Kecuali Emily mampu terus menyerang sampai mana anak itu habis duluan, menang adalah mustahil.


“Satu menit itu telah berlalu, sekarang aku akan menyerang balik.”


Emily spontan melompat menjauh. Pedang berbalutkan petirnya ia lempar sekuat tenaga, menerjang sang lawan yang melaju kencang. Pedang itu mengenai target, dada pemuda itu tertembus. Namun, dengan cepat kondisi tubuhnya kembali normal. Dan dalam sekejap, dia sudah berada di hadapan Emily.


Emily yang sudah menciptakan dua pedang petir di tangan langsung mengayunkan kedua pedangnya dengan kondisi menyilang. Namun—


“Aggh!”


—Tebasan menyilang kedua pedang petir itu menyapu udara kosong. Musuhnya sudah menghantamkan tinju ke punggung Emily, membuat sang commander terhempas ke depan.


“Aku pengguna ilusi; jangan terlalu percaya pada apa yang kau lihat.”


Emily berhasil mempertahankan posisi berdirinya, berbalik dengan cepat. Ilusinya terlalu hebat hingga aku tidak bisa merasakan invasi mana ke dalam tubuhku, batin Emily dengan kening mengernyit.


“Apa kau yakin kau sedang melihat diriku?” tanya Menez dengan kepala sedikit miring ke kanan.


Emily menggemeretakkan gigi-giginya, pedang petir ia tusukkan ke bahu kirinya, secara paksa membebaskan diri dari ilusi—jika ia memang berada dalam pengaruh ilusi.


Dan—


“Aku tahu kau akhirnya akan bisa membebaskan diri. Tapi, selamat datang di duniaku: di sini aku dewa.”


—Seketika Emily menemukan dirinya berada di dataran tandus yang hanya ada pasir di sejauh mata memandang. Semuanya pasir. Tidak berbukit-bukit atau bergulung-gulung seperti padang pasir, melainkan datar sempurna. Ini tempat yang belum pernah Emily lihat sebelumnya.


“Apa yang—!” Emily tiba-tiba mendapati dirinya tak bisa bergerak, padahal tidak ada apa-apa yang mengekangnya.


“Seperti yang kukatakan, di sini aku dewa.” Menez menampakkan diri di hadapan Emily. “Tapi tidak perlu khawatir; aku takkan membunuhmu. Kau berguna untuk memaksa Kanna el Vermillion menyerah. Sampai pertarungan berlangsung, tidurlah di sini dalam angan yang paling kau ingin lihat.”


Emily melakukan yang terbaik untuk menjaga kelopak matanya dari menutup. Namun, seperti usahanya yang tak berguna dalam melawan sang musuh, kelopak mata itu juga gagal ia tahan. Pandangan Emily menggelap, dan ia tak bisa apa-apa.


Mungkin, tak seharusnya ia menerima posisi commander?