Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 34: Chaos in Holy Kingdom, part 5



...—Axellibra—...


Tak ada penyangkalan kalau itu Emperor Nueva. Lancelot memang sudah belasan tahun tak pernah melihatnya secara langsung, tapi tak ada keraguan. Pria berusia empat puluhan yang baru saja menghabisi dua prajurit itu benar-benar Nueva el Vermillion.


“Saint Lancelot, Sir!”


“Kalian semua pergi dari sini,” ucap Lancelot pada para prajurit yang memaksa Nueva bertarung di sini. “Lawan kalian para Death Knight. Dia biar aku yang mengatasinya.”


“Siap, Sir! Ayo semuanya, kita serahkan tempat ini pada Saint Lancelot. Ayo habisi para undead!”


Bersamaan dengan para prajurit yang mundur, Lancelot melesat menerjang sang emperor dengan pedang yang terayun tajam. Api oranye membaluti bilah pedangnya, memberi hawa panas yang besar. Ketajaman pedang yang dipadu dengan hawa panas yang besar akan menaikkan tingkat ketajaman bilah pedang ke level yang lebih tinggi.


Namun, sebilah pedang es yang telah terbentuk di masing-masing tangan Nueva berhasil menahan ayunan pedang Lancelot dengan mudah. Nueva bahkan mulai menyerang balik. Lancelot yang memulai serangan kini justru berada dalam posisi bertahan. Terlebih ketika kedua pedang es Nueva dibaluti pedang angin, baju zirah sang saint sampai tersayat-sayat di beberapa bagian.


Dia memang kuat, batin Lancelot sembari tetap dalam posisi bertahan, tapi harusnya Nueva lebih kuat dari ini. Sihir anginnya harusnya lebih berbahaya. Sihir esnya harusnya dapat membekukan pedangku hanya dengan bersentuhan dengan pedang esnya. Apa yang terjadi? Dia menahan diri? Atau…sebenarnya dia bukan Nueva.


Mengamati sang emperor dengan lebih teliti, Lancelot menyadari hal yang janggal. Mata Nueva seperti mata orang mati. Ekspresinya juga. Lancelot pernah melihat Nueva bertarung, dan ekspresi yang ia lihat sekarang sangat jauh dari apa yang biasa sang emperor tunjukkan. Nueva el Vermillion adalah seseorang yang sangat menyukai pertempuran. Apa dia telah berubah?


“…Apa kau benar-benar Nueva el Vermillion?” tanya Lancelot memastikan, menghempaskan sang emperor dengan Lightning Explosion.


Tidak ada respons balik yang Lancelot terima. Eksperinya tetap datar, matanya juga sama. Lebih dari itu, dia seperti tidak mendengar ucapan Lancelot. Keraguan sang saint kalau dia benar-benar emperor meroket tajam. Lebih tepatnya, Lancelot tak lagi memandang individu di hadapannya sebagai sang emperor.


“…Jika kau bukan boneka yang dikendalikan, kemungkinan kau pengguna sihir nekromansi yang bersembunyi dalam sihir transformasi.”


Nueva palsu itu masih tak memberi respons. Dengan zirah angin yang sudah membaluti tubuhnya, dia kembali menyerang. Kali ini serangannya lebih cepat dan presisinya lebih sempurna. Dia seperti belajar dalam pertarungan, menjadi kuat semakin banyak bertarung.


“…Artinya kau boneka yang dikendalikan,” simpul Lancelot seraya sekali lagi menggunakan Lightning Explosion. “Kalau begitu aku tak perlu menahan diri dan waspada.”


Bersamaan dengan Nueva palsu yang mendarat setelah terhempas, Lancelot mencopot semua zirahnya. Bajunya juga ia lepaskan. Sang saint berbadan kekar ini kini hanya berbalutkan celana hitam panjang saja. Ia bahkan tak lagi menggunakan alas kaki. Tubuh pria berambut hitam pendek ini kemudian diselimuti api keemasan dalam bentuk jubah—itu kombinasi [Holy Magic] dan [Fire Magic].


“Aku maju sekarang, Boneka!”


...* * *...


Lilithia menonton jalannya pertarungan antara Lancelot Knitherland dan replika Nueva yang ia buat. Di sampingnya ada cermin persegi panjang yang berdiri tegak menghadap sang saint. Ke mana pun sang saint bergerak, cermin itu Lilithia buat mengikutinya. Bagi Lilithia untuk bisa membuat replikasi seseorang dalam kekuatan penuh mereka, cermin [True Mirror] miliknya harus menangkap refleksi orang tersebut saat mengeluarkan kekuatan penuh.


Sejauh ini, pion terkuat dalam [True Mirror] Lilithia adalah replika Undead Thevetat dan Xavier. Menangkap refleksi mereka saat bertarung waktu itu membutuhkan mana yang besar. Replika Emperor Nueva yang sedang bertarung dengan Lancelot juga terbilang kuat, tetapi itu tak sebanding dengan Undead Thevetat. Bagi Replika Nueva untuk bisa menjadi lebih kuat, dia harus Lilithia buat bertarung dengan Nueva asli.


Lilithia tidak ingin menunjukkan pada siapa pun tentang kemampuan [True Mirror] yang sesungguhnya. Jadi, tidak mungkin ia akan membuat Replika Nueva bertarung dengan Nueva asli. Ia ingin semua orang tetap mengasosiasikan cerminnya dengan kemampuan berpindah tempat.


Lilithia yang fokus menonton jalannya pertarungan tiba-tiba menolehkan wajah ke kanan ‒ sebuah portal dimensi sudah terbentuk sempurna di sana.


Dari dalam portal keluar seorang vampire berpakaian pelayan. “Kebetulan melihatmu di sini, First Commander Lilithia von Sylphisky,” kata sang vampire sembari menundukkan kepala layaknya maid sungguhan. “Namaku Valeria. Tujuan utamaku ke sini untuk menduduki Axellibra. Tapi aku juga punya tawaran dari ratuku untukmu. Pasti ada alasan mengapa kau merahasiakan [True Mirror]-mu dari Nueva, kan?”


“Oh, apa kau sedang mencoba menjadikan Lancelot sebagai model untuk menciptakan pionmu yang lain?”


“Bagaimana kau bisa tahu [True Mirror]-ku?” tanya Lilithia dengan pandangan tajam. Gravitasi di sekitar mereka mulai meningkat secara perlahan. “Kau tak punya banyak waktu. Katakan sebelum kulenyapkan kau dalam singularitas.”


“Eh, jangan terburu-buru, Lilithia! Sabar, mohon bersabar. Aku tidak ke sini untuk cari gara-gara denganmu.” Valeria mengangkat kedua tangannya, memperlihatkan gestur menyerah. “Seperti yang kukatakan, aku membawa tawaran dari ratuku untukmu. Tapi untuk membuatmu yakin, pertama akan kujelaskan mengapa aku tahu tentang sihirmu yang kau rahasiakan. Bagaimana, bisa kita duduk dan bicara baik-baik?”


“Bicaralah.”


“…Oke. Berdiri juga tidak apa-apa. Jadi, Nona Vermyna pernah bertarung dengan pemilik sihir yang sama sepertimu sebelumnya. Itu lebih dari seribu tahun lalu. Tidak mungkin dia tak langsung mengenali cerminmu saat melihatnya.”


Itu mengejutkan. Lilithia tak pernah berpikir ada yang memiliki [True Mirror] selainnya, walaupun itu lebih dari seribu tahun lalu. Namun, mengingat kembali kalau di dunia ini ada sangat banyak pengguna sihir api, air, petir, tanah, dan angin, bukan hal yang mustahil jika ada pengguna sihir yang sama dengannya.


“Lalu, apa tawaran Vermyna?”


“Kau tak mau kita duduk dulu dan bicara baik-baik sembari melihat pertunjukan yang kau buat?”


Respons Lilithia tak lain adalah meninggikan gravitasi yang menimpa sang vampire.


“Oke-oke! Tidak perlu kasar. Wanita tidak suka kekasaran, kecuali kau seorang maso‒oke! Kukatakan sekarang juga!”


“Cepat katakan.”


“Haaaaa. Jadi, Nona Vermyna me….”


...* * *...


Lancelot menghela napas panjang setelah melihat tubuh Nueva palsu hancur berkeping-keping seperti cermin yang dipecahkan. Meskipun hanya boneka, tetapi Nueva palsu benar-benar kuat. Ia memang belum menggunakan sihir utamanya, tapi Lancelot telah bertarung dengan serius. Sangat serius. Tubuhnya langsung dipenuhi keringat saat jubah api keemasannya menghilang.


Namun begitu, Lancelot tak punya waktu untuk beristirahat. Ada begitu banyak undead yang perlu dihabisi. Maka, setelah menarik kembali pedangnya yang menancap di bata jalan, Lancelot langsung berbalik dan berlari membantu para prajurit.


Akan tetapi, baru beberapa detik kedua kakinya berlari, sang saint sekonyong-konyong berhenti dengan kedua mata yang melebar. Pandangannya tergelut pada dua wanita yang berada di atap bangunan tak terlalu jauh darinya.


“Mengapa…mengapa mereka muncul di saat yang tak tepat begini?” tanya Lancelot pada dirinya sendiri. Kekesalan menerkam wajahnya.


Tak punya pilihan lain, Lancelot kembali membaluti tubuhnya dengan jubah api keemasan dan melesat ke tempat dua wanita itu berada.


...»»» End of Chapter 34 «««...


Next----› Chapter 35: Old Friends