Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 37: 1 vs 70,000, part 3



Xavier bergerak lebih cepat dari suara yang merambat di udara menghabisi prajurit Knight Templar. Setidaknya, itu adalah pergerakan kedua tangannya. Kaki Xavier hanya mengambil beberapa langkah kecil saja. Ke depan, kanan, kiri, belakang, dan berputar. Ia tak bergerak lebih dari radius satu meter dari tempatnya berdiri. Tetapi jumlah raga yang berjatuhan terus bertambah dan bertambah.


Hanya saja, jumlah prajurit yang ada terlalu banyak untuk dibandingkan dengan jumlah mayat yang bergelakan dan terbakar dilahap api. Meski kedua tangan Xavier menggerakkan pedang dengan cukup cepat, jumlah prajurit Knight Templar seakan tak berkurang. Mereka terus berdatangan bagai ombak yang menabrak karang. Bedanya, mereka tak mampu menyentuh Xavier.


Sang Twelfth Commander hendak mengeluarkan semburan api berskala luas saat tiba-tiba sebuah suara menginvasi kepalanya langsung dari dalam:


“Commander Xavier, ini saya—wakil commander Divisi 1. Divisi 12 sudah bergabung dengan Divisi 1. Nona Vermyna sedang meneleportasikan semuanya ke depan gerbang Axellibra dengan cermin-cermin teleportasinya. Untuk sementara, tidak ada tanda-tanda keberadaan Fie Axellibra. Saya akan kembali menghubungi Commander begitu sang nephilim menampakkan diri. Saat itu saya harap Commander sudah selesai dengan urusan di sana dan langsung ke sini.”


Wakil Commander Divisi 1 tak menanti datangnya respons; dia langsung memutuskan koneksi telepatinya sebelum Xavier sempat membalas. Itu sangat tidak sopan, tetapi mereka tak punya waktu memikirkan hal sepele seperti itu di tengah pertempuran.


Mengabaikan hal yang memang tak perlu dipermasalahkan itu, Xavier melompat ke udara menghindari tusukan tombak dalam keadaan dada membusung. Dan sebelum ia mencapai titik balik di mana tubuhnya akan mematuhi gravitasi, semburan api berskala masif langsung termuntahkan dari mulut Xavier.


Para prajurit yang berada dalam jarak dekat gagal berbuat banyak untuk melindungi diri mereka, tetapi para prajurit yang berjarak lumayan jauh sudah bereaksi dengan menyemburkan air dari mulut. Semburan api Xavier terlalu masif dan kuat untuk diimbangi belasan pengguna sihir air, tetapi cerita akan berbeda jika puluhan (bahkan ratusan) dari mereka bekerja sama.


Kabut tebal seketika tercipta akibat benturan kedua elemen yang bertolak belakang itu. Pada akhirnya tak ada pemenang; napas api Xavier berakhir bersamaan dengan habisnya semburan air para prajurit.


Xavier mendarat dengan pelan di tengah-tengah gumpalan kabut. Namun, para pengguna sihir angin dari kalangan musuh tak ingin sang commander memanfaatkan situasi. Kabut yang tebal dengan cepat dihempaskan oleh gelombang angin yang kuat. Dan pada saat yang bersamaan, para prajurit telah berlarian menyerangnya.


Xavier mengayunkan katana bergagang hitam memotong leher setiap prajurit yang menyerang, memisahkan kepala dari badan mereka. Ia bergeser ke kiri menghindari sebuah ayunan pedang dari memotong tangannya, lalu menggunakan katana bergagang biru di tangan kirinya untuk menusuk perut sang prajurit.


Bersamaan dengan itu, dua prajurit menerjang membabi buta dari belakangnya, pedang mereka terhunus tajam siap mencabut nyawa musuh pemegangnya.


Xavier hanya melirik sekilas kedua prajurit itu, kemudian melesat maju menghabisi prajurit-prajurit di depannya. Dengan memanfaatkan tubuh seorang prajurit, Xavier melompat lalu bersalto ke balakang, melewati dua prajurit yang hendak membunuhnya. Tanpa belas kasih, Xavier mengayunkan katana hitam memotong tubuh kedua prajurit naif itu secara horizontal.


Xavier terus membunuhi mereka dengan cepat. Ia bahkan tak lagi fokus hanya dalam radius tertentu. Xavier tak punya waktu untuk bermain-main di sini. Xavier mengerahkan kedua api berbeda warna miliknya untuk menghabisi puluhan hingga ratusan prajurit sekaligus.


“Mo-Monster!!!”


Bibir Xavier sedikit melengkung, bukan tersenyum, melainkan seringaian jahat yang membuat beberapa prajurit yang masih memiliki jiwa petarung berkeringat dingin. Itu sangat tak sopan memanggilnya monster, tetapi sang commander juga tak bisa menyalahkan mereka.


“Akan kutunjukkan seberapa monsternya diriku ini!” seru Xavier seraya menyelimuti kedua katananya dengan api—api biru untuk katana bergagang biru dan api hitam untuk katana bergagang hitam. Tanpa aba-aba, Xavier melesat bagaikan anak panah yang lepas dari tali busur memburu target. Api hitam dan biru menyala terang, membakar setiap prajurit yang terkena tebasan pedang sang empunya menjadi abu.


Beragam sihir pertahanan dikerahkan, tetapi di hadapan api hitam yang membakar apa pun juga api biru yang mampu melelehkan orichalcum dengan cepat, semua sihir-sihir pertahanan tingkat rendah sama sekali tak berguna. Kedua api itu melahap semuanya sebagaimana ia membakar kertas, tanpa hambatan berarti. Jeritan-jeritan kesakitan sontak memenuhi medan pertempuran, membuat siapa pun yang mendengar ciut nyali untuk sekadar menyaksikan pembantaian itu.


Satu lawan tujuh puluh ribu, itu adalah jumlah awal pertarungan—lebih tepatnya pembantaian—tak seimbang ini. Kini, pasukan yang dihadapai Xavier telah berkurang lebih dari tiga puluh persennya.


Menghadapi mereka secara langsung dengan pedang seperti ini akan cukup memakan waktu, tapi Xavier juga enggan membantai habis mereka semua dalam sekejap seperti monster.


Xavier lantas melompat mundur menjauhi para prajurit. Menancapkan kedua katananya di tanah, kedua telapak tangan Xavier langsung menyatu. Tepat setelah kedua telapak tangannya bersatu, sebuah lingkaran sihir raksasa berwarna hitam muncul menyelimuti para prajurit. “Kurung mereka, Black Prison!” seru Xavier, seketika api hitam muncul mengelilingi lingkaran sihir.


Tatkala lingkaran sihir itu menghilang, api hitam itu meninggi menjilat-jilat langit, memerangkap para prajurit dengan sempurna.


Tak cukup sampai di situ, Xavier meningkatkan konsumsi energi sihirnya, dan sejurus kemudian muncullah tiga lapis lingkaran sihir raksasa (berturut-turut oranye, biru, dan hitam) ratusan meter di atas Xavier. Perlahan-lahan, api yang intensitasnya tak terukur meluap-luap dari dalam lingkaran sihir membentuk sesosok burung yang dalam legenda dikenal sebagai penguasa matahari.


Wusss!


Phoenix raksasa yang terbuat dari api tiga warna (oranye, biru, hitam) terbang tinggi ke angkasa lalu menukik tajam menuju para prajurit yang terjebak dalam kurungan api hitam.


Prajurit yang kalang-kabut melakukan apa yang mereka bisa untuk menyelamatkan diri: ada yang membaluti tubuhnya dengan tanah, mengurung dirinya dalam penghalang transparan, diam pasrah menerima nasib, bahkan ada juga yang nekat menerobos kurungan api hitam. Mereka semua berusaha keras. Namun—


“Itu sudah cukup.”


—dalam sekejap, phoenix raksasa dan semua api yang mengurung serta membakar sebagian prajurit yang tadi nekat melarikan diri langsung menghilang begitu saja.


Bukan hanya itu, semua sihir yang digunakan oleh para prajurit itu pun menghilang tanpa jejak, seolah-olah medan perang berubah menjadi medan anti-sihir. Keheningan lekas menyelimuti medan pertempuran, wajah para prajurit dipenuhi keterkejutan yang kemudian berubah menjadi kesyukuran. Melihat hal itu, Xavier mengernyitkan keningnya dan mencari sang pelaku yang telah melenyapkan sihirnya.


“Nona Fie, itu Nona Fie, sang pelindung Emiliel Holy Kingdom!”


“Benar, itu Nona Fie, kita selamat!”


Mendengar seruan para prajurit, pandangan Xavier secara refleks tertuju ke atas.


Di sana, seorang gadis bertubuh mungil berambut perak panjang sepinggang dengan sebuah tombak tersemat di tangan kanannya tengah melayang dengan sepasang sayap malaikat yang membentang. Meskipun fisiknya seperti seorang gadis berusia dua belas tahun, Xavier tahu betul kalau dia hampir seratus kali lebih tua dari dirinya—mungkin lebih.


Gadis itu mengenakan jubah abu-abu tanpa tudung. Meskipun berada dalam jarak yang cukup jauh, Xavier dapat melihat simbol sepasang sayap malaikat di kerah tudung tersebut. Namun, beda dengan kedua sayapnya, salah satu sayap pada simbol itu berwarna hitam legam.


Tiba-tiba, gadis yang dielu-elukan sebagai pelindung Emiliel Holy Kingdom itu mengepakkan sayapnya. Dan dalam sekejap dia sudah mendarat dengan kasar di antara Xavier dan prajurit Knight Templar.


Xavier memandang datar perempuan bertubuh mungil, beriris keemasan dan berambut perak panjang sepinggang itu. “Fie Axellibra, aku tak menyangka akan bertemu dengan sang nephilim satu-satunya di dunia ini,” gumamnya datar, keningnya mengernyit tidak suka. “Kupikir aku harus ke Axellibra untuk membuatmu turun tangan.”


“Kalian semua, pergi ke Axellibra sekarang juga.” Fie memerintah, dan para prajurit langsung pergi tanpa tanya atau tapi. Kemudian sang nephilim mengarahkan tombak bermata adamantite bergagang mythril miliknya menunjuk Xavier. “Wahai anjing emperor, Twelfth Commander Xavier von Hernandez,” ucapnya tegas tapi tanpa emosi, “masa hidupmu berakhir hari ini.”


“Anjing emperor…? Aku…? Kau menyebutku anjing emperor? Itu terlalu menggelitik sampai aku lupa terta—ghuaaaah!”


Kepalan tangan kiri Fie sudah mendarat di perut Xavier sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya. Fie merivali Nizivia dalam kecepatan; sang nephilim bergerak tanpa Xavier sempat melihatnya. Bahkan teleportasi memerlukan jeda belasan milidetik, tetapi tangan Fie menghantam perutnya lebih cepat dari itu. Rasa sakit yang dulu Nizivia berikan padanya saat Xavier masih lemah tak bisa berharap merivali pukulan Fie. Rasanya seperti organ dalamnya digiling dengan gilingan yang massanya berton-ton


Ketika mata Xavier mengerjap karena refleks, tubuhnya sudah menghantam sebuah bukit. Bukit itu hancur; tubuh Xavier menghantam bukit di belakang bukit itu. Tubuhnya baru berhenti setelah menghantam bukit ketiga.


Jika bukan karena penggunaan [Reverse Law] yang cepat (yang membuat tubuhnya kembali ke dalam kondisi prima), Xavier takkan menyangkal kalau dia akan mati. Suara tulang belakangnya yang hancur dan organ-organnya yang pecah bahkan masih terngiang di kepalanya.


Pukulan itu benar-benar gila. Meski aku sudah memperkuat tubuh dengan mana, aku tetap saja hampir mati.


“…Kau masih hidup.” Fie telah berada puluhan meter di atas Xavier yang masih dalam keadaan tertelentang. “Luciel memiliki tubuh yang kuat, normal jika dia selamat. Tapi kau hanya manusia, bisa selamat dari pukulan nephilimku sangat mengesankan. Kau menguasai [Reverse Law] dengan baik. Tapi kau harus lebih baik lagi, karena aku akan gunakan kekuatan penuh nephilimku.”


...»»» End of Chapter 37 «««...