
Lucifer tidak bercanda atau sekadar mengancam; dia benar-benar mewujudkan kata-katanya itu. Mantan malaikat agung tersebut mengecilkan ruang hampa ini sepuluh meter dalam tiap detik. Hal itu membuat gravitasi yang memborbardir setiap inci kubik tubuh Xavier meningkat sepuluh kali lipat setiap satu detik.
Organ dalam sampai pembuluh darah Xavier pecah dari dalam akibat tekanan yang begitu. Tetapi karena tekanan yang terlampau besar, darah tak mampu keluar dari tubuh Xavier. Dan meskipun tubuhnya tak henti-hentinya membakar mana untuk memulihkan diri, rasa sakit yang tubuhnya terima luar biasa besar.
Ia akan mati jika situasia ini terus dibiarkan. Xavier tidak punya pilihan lain selain menggunakan kartu andalannya. Sebagaimana ia menguras cukup banyak energi kehidupan dalam membuat Phoenix babak belur dulu, sekarang ia harus melakukan hal yang sama. Terlebih lagi, mana-nya berkurang dengan cepat; ia akan kehilangan kesempatan menang jika terus menahan diri.
“Divine Art:—”
Energi kehidupan seolah memancar keluar dari tubuh Xavier. Layaknya api yang membakar bola besi panas, seperti itulah energi kehidupan menggerogoti tubuh Xavier.
“—Cloak of God.”
Seketika energi kehidupan itu merembes kembali ke dalam tubuh Xavier. Dan seketika pula tubuh Xavier dibaluti jubah energi putih yang padanya terdapat pola akar berwarna hitam. Seluruh permukaan kulit dan rambutnya juga dilapisi energi kehidupan pekat.
Rasa sakit yang tubuh Xavier terima sepenuhnya menghilang. Tidak peduli sekuat apa gravitasi menggerogotinya, tubuh Xavier sepenuhnya menghiraukan gravitasi. Bahkan jika waktu dihentikan, tubuhnya juga akan menghiraukannya. Inilah kekuatan yang Edenia ajarkan. Tidak ada yang benar-benar bisa mempengaruhinya selain energi kehidupan juga. Dan tentu saja, pengguna yang lebih kuat yang akan menang.
“Aku tak suka apa yang kulihat.” Lucifer tidak menyembunyikan ketidaksukaannya. Jika wujudnya tidak berbentuk energi hitam pekat, tentu akan terlihat kernyitan hebat di kening. Namun begitu, suaranya tak gagal dalam mentransmisikan ketidaksukaan itu. “…Berpikir kalau kau masih bisa lebih kuat lagi….”
“Kita mulai ronde ketiga, Lucifer.”
Lucifer langsung berhenti mengontrol [Infinity Domain]-nya dan mengarahkan fokus penuh pada Xavier—tentu saja ia masih tetap menggunakan [Reality Destruction], tak ingin sang lawan sampai menggunakan [Reality Warping] miliknya.
Kurang dari satu milidetik kemudian, Lucifer refleks mengangkat tangan memblok pukulan super Xavier.
Lucifer berada dalam tingkat kekuatannya yang tertinggi, tetapi pukulan itu membuatnya terhempas jauh.
Dua belas pasang sayap hitam berbentuk energi muncul di punggungnya, kepakannya membuat laju Lucifer terhenti. Kemudian ia kembali mengepakkan sayap-sayapnya dan melesat maju. Tak sampai satu detik ia sudah berada di hadapan sang lawan. Lucifer melepaskan pukulan berkekuatan penuhnya. Ia tak sudi menerima kalau lawannya ini bisa mengimbangi mode terkuatnya.
Namun, pukulan Lucifer tidak mengenai apa pun selain ruang hampa; Xavier telah terlebih dahulu memiringkan kepala menghindari pukulan.
Mata Lucifer—walau matanya tak terlihat—melebar, tetapi dengan cepat ia ayunkan lengannya dengan jari lurus. Jika dia dapat menghindari pukulan di kepala maka ia akan coba putuskan lehernya. Namun, sekali lagi, tangan Lucifer membelah ruang hampa; Xavier telah terlebih dahulu merunduk sebelum tangannya mencapi target.
Lucifer tidak terhibur. Sembari mendengus ia meningkatkan intensitas serangan. Kedua tangannya melepaskan pukulan beruntun dan dari berbagai arah. Kedua kakinya juga ikut bermain. Lututnya juga begitu. Ia menggerakkan semua bagian tubuh yang bisa digunakan untuk menyerang Xavier.
Sayangnya, tak ada satu serangan pun yang berhasil. Xavier dapat menghindari pukulan demi pukulan yang ia lancarkan. Jika dia tak sempat menghindar, Xavier membloknya dengan kaki atau tangan. Bahkan saat Lucifer menyerang dari belakang pun bisa dihindari sang commander.
Tetapi bukan itu semua yang membuat Lucifer menggeram dengan gigi-gigi menggemeretak.
Yang membuat Lucifer sedikit frustrasi adalah ekspresi datar dan ketenangan pada wajah sang lawan. Tak ada ekspresi lain di wajah Xavier; hanya datar dan tenang. Sang commander seolah tak menanggapi serius dirinya. Segala kekuatan Lucifer seperti tak berarti di hadapannya. Bahkan dia tak mencoba menyerang balik.
“Eternal Annihilation: Frozen Eraser!”
Lucifer melepaskan gelombang energi gelap ke segala penjuru. Dari jarak nol dan sifatnya yang ke segala arah, Xavier terkena gelombang energi tersebut dengan telak. Tidak ada ruang baginya untuk menghindar jika pun dia mau menghindar. Frozen Eraser adalah serangan yang tak bisa dihindari.
“Apa-apaan pandanganmu itu, hah?!”
Tidak ada respons, dan Lucifer tak memedulikan itu. Ia langsung memusatkan semua tenaganya pada kepalan tangan kanan.
“Jangan pernah memandang seorang Lucifer dengan pandangan seperti itu!”
Bersamaan dengan seruan tersebut, pukulan Lucifer melesat tajam ‒ semua tenaga dan harga dirinya ia letakkan pada kepalan tangannya.
“Kau kuat.”
Kedua kata itu keluar dari mulut Xavier bersamaan dengan tangan kirinya yang menangkap kepalan tangan berkekuatan penuh Lucifer. Energi kejut yang dilepaskan begitu besar, tetapi Xavier hanya terdorong kurang dari satu meter.
Lucifer menghilangkan keterkejutannya dan spontan menarik tangannya. Namun, genggaman tangan Xavier terlalu keras. Lucifer tak mampu melepaskan diri.
“Tapi aku lebih kuat,” lanjut Xavier seraya melepas genggamannya pada tinju Lucifer. “Dan sekarang gantian aku yang menyerang.”
“Jangan a—”
Kepalan tangan Xavier terlebih dahulu menghantam wajah Lucifer sebelum ia sempat mengatakan kata kedua. Energi hitam yang membaluti wajahnya terkikis akibat pukulan itu, memperlihatkan sudut bibir Lucifer yang mengeluarkan darah. Padahal ia berada di dalam [Infinity Domain], tetapi darah di bibirnya benar-benar nyata.
Lucifer tidak punya waktu memikirkan bagaimana mungkin ia bisa terluka; Xavier sudah mendaratkan pukulan lain pada dadanya. Energi hitam yang membaluti dadanya terkikis, dan mulut Lucifer langsung memuntahkan darah. Dan itu tak berhenti hanya pada sebatas satu pukulan; Xavier menyerang Lucifer secara bertubi-tubi.
Lucifer tentu saja mencoba membalikkan situasi, tetapi ia tak menemukan celah. Xavier seolah sudah mengantisipasi apa yang akan ia lakukan. Ke mana pun ia bergerak, Xavier sudah terlebih dahulu di sana. Sebaik apa pun ia menangkis, pukulan Xavier tak pernah meleset. Sang mantan malaikat agung menjadi bulan-bulanan sang commander.
Pada titik ini, Lucifer hanya memiliki dua opsi: bertahan dan menunggu sampai mana Xavier habis, atau menggunakan trik terakhir yang ia miliki. Dan Lucifer tak ingin terus-terusan menjadi samsak tinju sang commander. Pilihannya sangat jelas.
“Infinity Domain: Total Destruction!”
Lucifer langsung menemukan dirinya kembali berada di Pegunungan Amerlesia yang hancur parah akibat pertarungan mereka sebelumnya. Ia muncul di udara lalu terjatuh dan terseret beberapa meter. Lucifer memuntahkan sejumlah darah, sebelum kemudian ia duduk kembali.
Kurang dari dua menit kemudian, Xavier muncul di udara tempatnya muncul. Dia terjatuh menghantam kawah dan terguling beberapa kali. Beda dengan Lucifer, kondisi Xavier buruk. Tidak ada lagi jubah putih dan energi kehidupan yang menyelubunginya. Mata dia bahkan sudah setengah terpejam.
“Harusnya tak ada yang bisa selamat dari kehancuran sebuah semesta,” kata Lucifer seraya berdiri dan menghampiri sang commander, “tapi kau berhasil selamat. Kau luar biasa kuat, Commander Xavier. Kau mendapatkan pengakuanku.”
“Namun,” Lucifer berhenti di hadapan sang commander, matanya memandang tajam pada mata Xavier yang berusaha melihatnya. “Akulah yang menang, dan kau yang kalah.” Sebuah tombak es berwarna hitam kelam terbentuk di tangan kanan sang mantan malaikat. “Jadi, kau akan mati hari ini. Punya kata-kata terakhir?”
Walaupun bertanya, Lucifer tak menunggu jawaban. Ia mengangkat tombaknya lalu menjatuhkannya kuat-kuat.
Tombak itu melesat tajam dan—
...»»» End of Chapter 46 «««...