
...—16th July, E642 | Vladivta Kingdom—...
ALICE—yang wajahnya masih disembunyikan topeng Evil Mask—spontan berhenti saat Azet mendadak berhenti tak jauh dari gerbang ibukota Vladivta Kingdom. “Ada apa? Kau merasakan ada yang mengikuti kita?”
“Ah, tidak, tidak ada yang mengikuti kita. Hanya saja, silakan kau sendiri memasuki kota itu. Tugasku selesai sampai di sini. Klienku akan menemuimu sendiri. Sekarang aku harus pergi. Sampai jumpa lagi, Evil Mask.”
“Tunggu dulu! Seingatku perjanjiannya hanya berbicara dengan—cih, dia sudah menghilang!”
Alice tidak mengekspektasikan Azet akan pergi tiba-tiba. Namun, jika ia pikirkan lagi, memang mencurigakan ia dibawa ke kota ini hanya untuk berbicara. Mereka bisa bicara di penginapannya, itu tempat yang privasi. Atau, di arena juga tidak ada masalah. Berbicara di ruang terbuka akan meminimalisir kepenasaran orang-orang yang mengawasi (jika ada).
Oh, mungkinkah Azet pergi untuk melepaskan topeng dan mengganti pakaiannya, kemudian bertemu dengannya dalam jati diri yang asli dan bersikap seolah Azet bukan dirinya?
“Yah, terserahlah.” Alice mengedikkan bahu dan berbalik arah. “Aku hanya menyepakati untuk mendengar Azet berbicara,” gumamnya dan melangkah pergi.
Benar sekali. Ia hanya bersepakat untuk berbicara dengan Azet, bukan dengan yang lain—meskipun itu identitas asli pria bertopeng itu. Karenanya, jika Azet memutuskan pergi, sudah sewajarnya ia juga pergi. Kepergian Azet artinya penulifikasian kesepakatan, dan itu artinya Alice tidak mengkhianati ucapannya sendiri. Ia sama sekali tidak salah karena pergi tanpa memasuki ibukota.
Mengangguk menjustifikasi diri, Alice mengubah lajunya dari berjalan menjadi berlari. Melapisi tubuh dengan Light Armor, Alice dengan mudah melesat melampaui kecepatan suara. Alice meninggalkan Kota Vlad dengan kecepatan yang setara tiga kali kecepatan udara. Hanya dalam semenit, jaraknya dan kota itu sudah lebih dari enam puluh satu kilometer.
Alice berlari ke arah berdirinya Warebeast Great Kingdom. Namun, kali ini tujuannya bukan lagi tanah para warebeast. Alice memutuskan untuk menghabiskan beberapaa waktu di Caligula Kingdom. Kebetulan saja akses terdekat adalah melalui jalan yang menghubungkan Warebeast Great Kingdom dengan kerajaan itu.
Lari Alice seketika terhenti. Sebuah anak panah yang sepenuhnya terbuat dari api biru—yang dikompres sedemikian rupa sehingga memancarkan panas yang sungguh besar—melesat dari dari sisi kiri. Anak panah itu menembus udara kosong beberapa meter di hadapan Alice, kemudian menghantam sebuah pohon dan menimbulkan ledakan besar yang lantas diikuti kobaran api biru. Jika Alice tak menghentikan larinya, mungkin ia sudah terkena anak panah itu.
“Kau ingin pergi ke mana, Alice?” Xavier—dalam balutan seragam Imperial Army lengkap dengan jubah commandernya—mendarat belasan meter di hadapan Alice. “Kurasa aku sudah menekankan pada Azet untuk menyuruhmu menemuiku di Vlad. Apa dia tidak mengatakannya padamu?”
“Tidak bisa kukatakan aku terkejut,” respons Alice tanpa melepas topengnya—tidak merasa heran Xavier mengenalinya. “Jadi, siapa yang mengirimmu? Kanna? Evillia? Ah, aku jadi memikirkannya, berpihak pada siapa sebenarnya kau ini? Apa kau hanya menjadi mata-mata Elf Kingdom di kekaisaran?”
“Seharusnya kau bertanya apa kabar, Alice, bukankah itu hal yang normal ditanyakan saat bertemu kawan lama?” tanya Xavier dengan kasual, tangan kirinya terahkan pada kobaran api biru itu…dan seketika semuanya lenyap tak berjejak, bukan padam. “Kanna memintaku membawamu kembali ke Nevada.”
“Kau yang membantuku kabur, dan sekarang kau ingin membawaku kembali?”
“Aku tak berpikir untuk memaksamu jika kau masih di panti asuhan itu, tetapi kau justru pergi dan memparadekan diri sebagai Evil Mask. Kanna takkan mengetahui keberadaanmu jika kau tak melakukan itu. Jika kau tetap di sana seperti keinginanmu dulu, aku takkan berada di sini memakai seragam ini.”
Alice tak langsung merespons. Ia melangkah menuju pohon terdekat, kemudian mendudukkan diri dan bersandar pada batang pohon tersebut. “Kupikir itu adalah apa yang kuinginkan, kupikir itu memberiku tujuan, kupikir itu akan memberiku kepuasaan….”
Lingkaran sihir coklat tiba-tiba muncul di depan Alice, sebuah kursi tanah keluar dari lingkaran sihir itu. Kurang dari sedetik kemudian, Xavier sudah duduk di atas kursi tersebut.
Alice tidak ingat Xavier punya sihir tanah. Jelas dia tidak punya sihir tanah. Pun begitu dengan teleportasi. Namun, yang barusan jelas adalah sihir tanah. Pemuda itu juga telah berteleportasi. Jika begitu….
“Aku takkan bertanya jika kau Azet atau bukan,” gumam Alice. “Pun aku takkan bertanya maksudmu apa.” Alice menghela napas, kemudian matanya memandang intens iris merah darah itu. “Yang kudengar tentang Nizivia…apa itu benar?”
“Kurang lebih.”
“…Itu sulit dipercaya.”
Alice mengembalikan pandangannya ke langit, dan keheningan sejenak mendominasi ruang yang menyelimuti mereka berdua.
“Jadi, apa kita akan kembali ke Nevada?” Keheningan itu Xavier pecahkan. “Kau harus memberi alasan yang jelas jika ingin membuatku kembali sendiri. Jika tidak, aku akan terpaksa memawamu dengan cara yang tak kusukai.”
“Aku bisa mengatakan pada Kanna kalau sebenarnya kau berada di pihak Elf Kingdom,” ancam Alice.
Senyum terhibur berkembang di bibir Xavier. “Silakan katakan,” katanya diiringi kedikan bahu. “Aku ingin melihat apa Kanna akan percaya atau tidak, tapi aku berani bertaruh dia takkan percaya. Jika aku mengatakan padanya kalau kau berkata begitu karena kesal kupaksa kembali, Kanna pasti akan menganggap ucapanmu sebagai bualan. Lebih dari itu, Emperor Nueva sendiri tahu banyak hal tentangku. Mengatakan hal itu pada Kanna tidak akan mengubah apa pun.”
“Kau telah jatuh ke sisi yang gelap, Xavier.” Alice menghela napas. “Aku yakin kau bahkan tak menangis saat mengetahui Nizivia telah tewas,” tambahnya. “Siapa yang tahu pula jika kau benar-benar memiliki rasa padanya. Tidak mengejutkan bagiku jika kau hanya mempermainkan Nizivia, dan Kanna, dan Evillia, dan bahkan juga Monica. Heh, lihat, berapa banyak nama wanita yang harus kusebut? Mungkin Clara akan menyesal karena dalam hidupnya pernah menyukaimu.”
“Pilihanmu?”
“Kau menghiraukan ucapanku.” Mata Alice menyipit pada Xavier, memandangnya dingin dan menusuk. “Apa terlalu benar ucapanku hingga kau merasa terpaksa untuk mengabaikannya? Betapa menjijikkan. Aku bisa membayangkan betapa kecewanya ibumu jika dia masih hidup sa—”
Alice gagal menyelesaikan ejekannya. Tubuhnya telah jatuh terbaring; pohon tempatnya bersandar telah hancur tak bersisa. Kedua tangan Alice telah Xavier cengkeram. Pemuda itu berada di atasnya, dahi dan ujung hidung mereka saling menyentuh. Itu terjadi begitu cepat sampai Alice tak sempat menghindar.
“Perlu kutunjukkan seberapa jauh aku telah terjatuh?” tanya Xavier dengan volume pelan, tetapi tajam. Matanya pun memandang mengancam. “Kau ingin melihatnya?”
“Aktingmu buruk,” komentar Alice, tidak ciut nyali meski diintimidasi sampai seperti ini. “Kau takkan berani melakukan apa pun padaku. Mentalmu terlalu lemah. Batinmu dipenuhi konflik. Bahkan saat aku berhasil kau kunci seperti ini, kau bahkan tak berani membungkam mulutku. Apa aku salah?”