
Baik Xavier maupun Fie langsung menolehkan pandangan pada tamu tak diundang yang telah menunjukkan diri di hadapan mereka.
Terutama Xavier. Bahkan sebelum ketiga patah kata itu diucapkan sang individu, matanya sudah mengarah ke sana.
Memandangnya balik adalah mata abu-abu berpupil hitam vertikal.
Wanita setinggi satu setengah meter (lebih tinggi sekitar 20 centi dari Fie) itu memiliki rambut violet indah yang panjang sepinggang. Parasnya sungguh memperdaya mata; proporsi tubuh dan wajahnya sempurna. Kulitnya seputih susu, mulus memanjakan mata. Dan gaun hitam terusan sebetis dengan renda-renda merahnya sangat menyempurnakan penampilan wanita tersebut.
“Vermyna….”
Nama yang dikeluarkan mulut Fie itu seketika meleburkan segenap keraguan yang ada dalam diri Xavier. Memang, Vermyna yang ia ingat bertubuh kecil seperti Fie. Dia juga seorang vampire. Kedua hal tersebut tak dimiliki individu yang Fie sebut “Vermyna”. Namun begitu, Xavier tahu dia adalah Vermyna yang sama dengan yang menemaninya mengembuskan napas terakhir.
Dan karena itu pula, lidah Xavier menjadi kelu. Ia tak berpikir hal seperti ini bisa terjadi, tapi Xavier benar-benar merasa deg-degan sekarang. Jika Vermyna tidak memiliki ingatan atasnya, ia bisa bersikap biasa saja. Tetapi bagaimana jika Vermya memiliki ingatan tentangnya? Edenia tidak pernah bilang kalau kesirnaan akan memori tentangnya bersifat permanen.
“Mengapa dirimu memandangi diriku begitu? Dirimu belum pernah melihat diri wanita sesempurna diriku?”
…Seratus persen dia Vermyna, batin Xavier—mencoba tak menampilkan sedikit pun keterkejutan di wajah. “Siapa kau? Apa yang kau inginkan dengan tiba-tiba berada di sini, Nona Berambut Violet?” tanyanya.
“Siapa diriku? Apa yang diriku inginkan dengan berada di sini?” tanya balik Vermyna seolah menuntut konfirmasi, tetapi ia tak menunggu Xavier mengangguk atau memberi respons lain. Kedua kakinya melangkah mendekati Xavier dengan mulut yang kembali terbuka: “Yang lebih tepat untuk ditanyakan, siapa dirimu? Apa yang dirimu lakukan pada diri Commander Xavier?”
…Ada dua kemungkinan: Vermyna memang benar tak memiliki ingatan tentangku, atau Vermyna sengaja berpura tak mengenaliku. Jika kemungkinan yang pertama benar, aku tak perlu mengekspektasikan maksud tersembunyi apa pun. Tapi, jika yang benar kemungkinan kedua, alasannya sudah tak perlu dipertanyakan lagi.
Xavier memutuskan mengikuti permainan Vermyna—tentu saja ia sudah berhasil menenangkan diri dari rasa deg-degan melihat sang wanita.
“Seperti yang bisa diharapkan dari pemimpin para vampire,” ucap Xavier—sepenuhnya mengabaikan pertanyaan Vermyna. “Walaupun rasmu patut dipertanyakan, tapi itu tak mengubah kenyataan. Terlebih lagi pesonamu yang tiada tara, bahkan sang nephalem tak bisa berharap menyamaimu. Tidakkah kau kejam? Bagaimana bisa kau mencuri hatiku hanya dalam pandangan pertama?”
“…Ini aneh. Rasanya diriku pernah mengalami hal yang serupa dengan ini.” Vermyna berhenti tepat di hadapan Xavier, wajah menengadah memandang bingung dirinya. “Siapa dirimu sebenarnya? Apa diri kita pernah berinteraksi di masa lalu?”
…Vermyna benar-benar tidak mengingatku? Kalau begitu….
“Apa kita pernah berinteraksi di masa lalu? Hm, mungkin saja. Kau tahu, barangkali a—!”
Ucapan Xavier tertahan, tangan kiri Vermyna telah menusuk menembus ulu hatinya. Tangan tersebut sampai tembus keluar dari punggungnya. Lebih dari itu, tubuhnya menjadi kaku. Ia mulai tertarik ke dalam portal. Dan sebelum Xavier sempat mengeluarkan kata, tubuhnya tertelan sempurna ke dalam lubang gelap.
“Maaf atas ketidaknyamanan ini, Fie.” Berkata Vermyna tanpa memandang sang nephalem. “Tapi diri kami punya urusan penting yang harus diri kami lakukan. Tidak lama, kok, hanya satu atau dua menit dalam persepsi dirimu. Diriku akan segera kembali, dan saat itu diri kita bisa melanjutkan urusan diri kita yang tertunda.”
Vermyna menghilang dari tempatnya berdiri tanpa menunggu respons sang nephalem ‒ dia bahkan tak terlihat peduli jika Fie mau menunggu atau tidak.
Fie…tidak tahu. Ia tidak tahu jika ia harus marah, kesal, atau iri. Ia tidak tahu. Yang jelas, ia sekarang tidak senang. Sangat tidak senang. Karena apa? Entahlah. Yang jelas ia sangat tidak senang.
“Mmmmmghkjkn.” Fie berdumel tak jelas dan mendudukkan diri di bongkahan batu terdekat.
...* * *...
“Kau harusnya memeluk lalu mengecupku, My Queen, bukannya menusukku seperti itu. Itu sambutan yang tak ramah, kau tahu? Bagaimana jika aku benar-benar mati?”
Vermyna mendengus. “Diriku hanya perlu mengubur dirimu…lagi,” katanya—bagian terakhir sengaja ia tahan dan ucapkan dengan dingin. “Dan kali ini akan diriku lakukan dengan disertai perayaan.”
“Haaaa….”
Xavier berdiri bersamaan dengan helaan napas tersebut, melangkah pelan. Kedua kaki mereka sama-sama berhenti di hadapan satu sama lain. Karena dirinya lebih pendek, pandangan Vermyna menengadah. Sebaliknya, Xavier agak menunduk.
“…Sejak kapan ingatan itu kembali padamu?”
“Sejak setengah tahun lalu.”
“Kenapa kau tak menemuiku? Kenapa kau tak membantuku mengingat?”
“Mengapa diriku harus melakukannya? Terlebih lagi ketika dirimu memiliki wanita lain, dan bahkan salah satunya sekarang sedang hamil.”
“Eh….”
“’Eh….’ Apa hanya itu yang bisa dirimu katakan?”
“Te-Tenangkan dirimu, Vermyna, My Queen. Ini tidak seperti asumsimu. Ini…ini…ini tipuan Edenia! Ini salah Luciel! Gara-gara mereka, jiwaku terbagi dua. Benar! Yang berselingkuh bukan aku, tapi diriku yang lain! Lagipula, hubungan kita berakhir saat aku mati, seperti kesepakatan kita sejak awal. Ah, apa kau telah tak bisa hidup tanpaku?”
“Xavier.”
“…Ya?”
“Diriku memiliki [Complete Sensory]. Mata diriku bisa melihat dengan jelas kalau jiwa di dalam tubuh ini‒” Vermyna meletakkan telunjuk kanan di pertengahan dada Xavier. “‒hanya ada satu. Dirimu juga pasti sudah menyadarinya, kan, kalau dirimu hanyalah ingatan masa lalu yang mendapatkan kesadaran akibat sihir [Soul Incarnate].”
“Ah, jadi asumsiku benar. Xavier adalah aku, dan aku adalah ingatan masa lalunya. Dan karena pengaruh [Soul Incarnate], kekuatan yang terpendam dalam diri Xavier bisa kugunakan, tetapi tidak dengan kekuatan Xavier yang telah terbangun. Sesuai perkataanku padanya, aku adalah kekuatannya.”
“Bagus jika dirimu mengerti. Sekarang enyahlah, diriku tak bisa leluasa menghukum diri ‘Xavier’ jika dirimu mengendalikannya. Ah, diriku juga ingin menghukummu, tapi dirimu hanyalah kepingan ingatan yang tak berguna. Menghabisimu hanya buang-buang waktu.”
“…Ve-Vermyna, My Queen, ‘Xavier’ tak bersalah, kau tak se—”
“Dirimu ingin melihat apa yang terjadi saat amarah diriku tak lagi terkendali?”
“…La-Lakukan sesukamu! Bunuh dia jika perlu! Aku tidak tahu apa-apa. Aku hanya ingatan yang tak berguna.”
Dengan teriakan itu, tubuh Xavier tiba-tiba kehilangan kesadaran. Namun, sebelum tubuh tersebut terjatuh, Vermyna telah memeluknya lembut. “Sekarang diriku takkan ragu lagi,” bisiknya pelan. "Akan diriku ambil apa yang memang menjadi milik diriku."