
...—Nevada, Vermillion Empire—...
“Dasar pengkhianat!” teriak Cleria dengan wajah murka. Jika bukan karena Gilbert yang menahannya, dia pasti sudah kembali berdiri menyerang Xavier walau kedua tangannya sudah dirantai. “Kau akan membayar semua ini. Dan Gilbert, bangsatt, kenapa kau menahanku?! Cepat serang pengkhianat itu! Kau juga Emily, Edelweiss, serang dia!”
Xavier memandang Cleria tak terhibur. Dia masih belum memahami situasinya sekarang. Sifatnya yang sangat loyal barangkali telah mempertumpul ketajaman pikirannya. Gilbert selalu mengutamakan rakyat kekaisaran – dia tidak memedulikan siapa yang memimpin. Edelweiss lebih berhati-hati, dia peka terhadap kekuatan Xavier yang tak bisa dia komprehensikan. Sementara Emily…dia antara merasa dikhianati dan tidak tahu harus apa.
“Pengkhianat yang sebenarnya adalah Emperor Nueva el Vermillion.”
Suara yang datang—sebelum ada yang merespons amarah Cleria—itu bukan milik Xavier, melainkan Achilles yang baru datang bersama Menez. Perhatian para commander langsung teralihkan pada sang perdana menteri.
“Nueva berambisi menjadi dewa dan mengontrol dunia,” lanjut Achilles. “Dia bersekutu dengan pemimpin para iblis, Lucifer sang Malaikat Jatuh. Lucifer juga adalah identitas yang sebenarnya dari Edward Penumbra. Nueva menginginkan perang agar dia bisa dengan mulus mewujudkan rencananya.”
“Tapi kau tak perlu khawatir, Commander Cleria.” Achilles berjongkok di hadapan Cleria yang terduduk dan memegangi pipi kirinya dengan senyum ramah di bibir. “Xavier tidak berencana menguasai kekaisaran. Vermillion Empire akan berganti menjadi Vermillion Kingdom, dan Verissinia akan menjadi ratunya. Provinsi Emeralna, Hongariand, Matepola, dan Maggarithaz pun akan kembali menjadi kerajaan. Dia sudah bilang akan menjadi emperor seluruh Islan, kan?”
Xavier belum mengatakan apa pun pada Achilles tentang hal itu, tetapi ketajaman pikirannya memang tak perlu diragukan lagi. Sayang sekali dia tidak diberkahi dengan kekuatan. Jika Achilles juga terlahir dengan kekuatan dan potensi yang besar, mungkin dia akan menjadi lawan yang merepotkan. Kekuatan meracuni pikiran, apalagi jika pikiran itu tajamnya bukan main. Achilles mungkin akan lebih buruk dari Nueva dan Lucifer.
“United Empire of Islan,” lanjut Achilles seraya berdiri kembali. “Kami akan menyatukan seluruh kerajaan di Islan di bawah naungannya. Xavier akan menjadi emperor. Aku akan menjadi perdana menteri. Dan setiap kerajaan akan tetap memiliki raja-raja dan ratu-ratu mereka sendiri. Tetapi mereka semua akan bertanggung jawab langsung pada Emperor.
“Ini bukan rencana menguasai dunia. Ini upaya membawa perdamaian bagi Islan. Peperangan yang sedang terjadi dan akan terjadi perlu kita atasi. Setiap pemimpin bertindak hanya demi kepentingan kerajaan mereka sendiri. Kerajaan lain yang lebih kuat dipandang sebagai ancaman, sedang yang lebih lemah dipandang sebagai alat. Tidak ada relasi yang benar-benar sehat di antara kerajaan-kerajaan. Dan hal ini harus diubah.”
Achilles melebarkan senyum ramahnya dan memandang tajam ke dalam mata Cleria. “Aku tidak menginginkan adanya konflik, dan kalian (para commander) adalah aset berharga kerajaan ini. Apa kau, Commander Cleria, dan kalian bertiga bersedia membantu? Verissinia akan membutuhkan bantuan kalian dalam memimpin kerajaan ini.”
“…Bagaimana dengan Nona Kanna? Bukannya dia yang akan menggantikan Emperor Nueva?” tanya Cleria setelah beberapa belas detik.
“Masalah itu tak perlu kau khawatirkan,” respons Achilles. “Kau sudah memikirkan tentang hal itu, kan, Xavier?” tanyanya seraya menoleh memandang pemilik nama. Pandangan Achilles membuat semua mata turut menoleh padanya. Jika Evillia (yang sudah kembali untuk menghentikan upaya penyerangan terhadap kota-kota lain) masih di sini, dia juga akan memandangnya intens.
“…Aku sudah membunuh ayahnya, kau pikir dia akan menerima?”
Xavier menghiraukan pandangan tajam Achilles. “Ada kemungkinan dia akan menghentikan berdirinya United Empire of Islan, tapi mari kita harap semoga tidak mengarah ke sana. Yang lebih penting, apa jawaban kalian? Kami akan memenjarakan kalian kalau menolak; akan merepotkan jika kalian sampai memberontak dari dalam.”
“Menez,” Xavier tak menunggu jawaban satu orang pun. “Bawa Cleria ke penjara. Reinhart, jika dia masih hidup, akan menentang hal ini. Pendirian Cleria akan berubah jika itu terjadi.”
“Kau! Apa kau tahu apa ya—” Cleria telah terperangkap dalam ilusi sebelum dia sempat menyelesaikan kalimatnya. Kemudian dia menghilang bersama Menez. Xavier berhasil mendeteksi dimensi yang Menez gunakan untuk berpindah tempat.
“Tak perlu khawatir. Klonku sedang berbicara dengan Verissinia. Dia yang akan memutuskan apakah akan membebaskannya atau tidak. Seperti katamu, Verissinia yang akan menjadi ratu negeri ini. Aku takkan ikut campur dalam masalah internal di sini.” Xavier menjeda sejenak dan memandang intens Emily dan Gilbert. “Kuserahkan perlindungan Verissinia pada kalian.”
Xavier langsung menghilang setelah mengatakan itu. Ia muncul tepat di depan pintu istana kerajaan yang menjadi kediaman Qibtya, ratu Desert Kingdom. Belasan detik kemudian, Menez dan Achilles muncul di belakan Xavier—dan pada saat yang bersamaan para prajurit serentak jatuh tertelan ke dalam mimpi.
“Sudah lama aku tak ke sini,” gumam Xavier sembari membuka pintu istana dengan agak kasar.
...—Evrillia, Elf Kingdom—...
“Tahan, Camelia!” seru Evillia segera setelah matanya mendapati sosok elf yang kesetiaannya tak perlu dipertanyakan—saat ini mereka berada di ruang luas yang menjadi lobi utama markas Black Shadow. “Kau tidak perlu mengirim mereka. Aku membatalkan niat. Kita takkan menyerang kekaisaran. Aku be—kau sudah mengirim dua skuad? Cepat pergi dan bawa mereka kembali!”
Camelia hendak membuka mulut mempertanyakan perubahan keputusan sang ratu, tetapi keseriusan yang mewarnai wajah Evillia membuatnya berubah pikiran. Camelia mengangguk lalu langsung pergi. Ia kembali hampir sepuluh menit kemudian dengan kedua skuad yang ia kirim tadi. Evillia sudah tak lagi berada di lobi, begitu juga dengan sisa skuad lainnya.
“Kalian bisa kembali ke aktivitas kalian sebelumnya; aku akan menemui Yang Mulia untuk mendapatkan alasan detailnya.”
Mendapati anggukan kedua rekan sesama kapten sepertinya, Camelia langsung lenyap ditelan bayangannya sendiri.
Camelia keluar dari gumpalan bayangan di ruang singgasana, dan Evillia sudah kembali menduduki singgasananya. Ia tidak tahu jika Evillia sedang senang atau kesal, tapi wajahnya tak terlihat dibebani banyak pikiran seperti sebelumnya. Apa ada sesuatu yang terjadi di Nevada?
“Ada apa?” tanya Camelia serius (ini bukan momen yang tepat untuk memasukkan candaan), kedua kakinya melangkah mendekati singgasana. “Apa ada emperor di sana, sehingga kau berubah pikiran?”
Evillia yang memandang diam pada salah satu patung yang menghiasi istana seketika menolehkan pandangannya pada Camelia.
“Xavier menghentikanku,” jawab sang ratu—dan itu mengejutkan Camelia, pasalnya ia mengetahui Xavier sedang tak berada di kekaisaran. Apa peperangan sudah selesai, dan karena itu dia kembali ke Nevada?
“Dia mengklaim diri sebagai emperor Islan secara keseluruhan dan menanyakan apakah aku mau menjadi bawahannya atau musuhnya….” Evillia menjeda sejenak, sebelum kemudian melanjutkan dengan ekspresi wajah tidak yakin. “Apa kau berpikir Xavier kesal padaku karena menuruti Vermyna karena vampire sialan itu lebih kuat? Dia tadi tak bersikap kayak biasa.”
…Camelia menarik kembali asumsinya; Evillia tidak sedang senang atau kesal, tapi khawatir akan sesuatu yang tidak penting dan tak perlu.
“…Jadi, kau akan mengeluarkan Elf Kingdom dari New World Order?” tanya Camelia – ia sepenuhnya mengabaikan pertanyaan tak penting sang ratu.