
Sembilan individu terbaring dengan tubuh tak berdaya, tak jauh dari mereka terdapat belasan ribu individu lain yang kondisinya tak jauh berbeda dengan kesembilan individu tersebut. Xavier berdiri di antara mereka, wajah menengadah memandang serpihan terakhir dari lingkaran sihirnya yang telah memudar. Salju yang telah mencair akibat api biru perlahan kembali menumpuk akibat langit yang masih belum berhenti membumbui tanah dengan kristal esnya.
“Kurasa kalian memang perlu beristirahat satu sampai dua jam,” komentar Xavier dengan mata yang sudah kembali berlabuh pada kapten-kaptennya. “Setelah dua jam, pastikan semua prajurit harus sudah melanjutkan latihan. Aku akan kembali ke sini tiga jam dari sekarang, saat itu kita akan melanjutkan lagi apa yang baru saja kita lakukan.”
Tanpa menanti respons para kaptennya, Xavier melayang ke udara lalu melesat kembali ke arah berdirinya Verada.
Heisuke sudah menanti di sana saat Xavier tiba di Markas Pusat Divisi 12 Imperial Army. “Aku sudah menerima informasi terbaru tentang Knight Templar, Commander,” lapornya, menyerahkan setumpuk kertas yang tebalnya sama dengan panjang jari telunjuk Xavier. “First Saint Ulbath Lancedragon telah tewas. Sekarang pemimpin Ordo 1 Knight Templar adalah cucunya, Arthur Lancedragon.”
Xavier menerima tumpukan kertas tersebut. Arthur Lancedragon, judul lembar teratas dari tumpukan itu terbacanya. Melihat lebih jauh, Xavier menemukan catatan yang digarisbawahi di kertas tersebut. Lancedragon dikenal sebagai keluarga yang menomorsatukan permainan tombak dibandingkan senjata apa pun. Ulbath Lancedragon memadukan [Explosion Magic] dengan teknik tombaknya. Namun, tidak ada informasi apa pun tentang Arthur selain pernyataan kalau dia mengalahkan Ulbath dengan tanpa kesulitan.
“Commander Gilbert pernah mengatakan kalau First Saint dan Second Saint bukan lawan yang bisa dia kalahkan,” komentar Xavier menanggapi profil Arthur yang dibacanya. “Jika Arthur bisa mengalahkannya dengan tanpa kesulitan, menarik untuk dilihat sekuat apa dia sebenarnya.”
“Jika kita yang dikirim mengatasi Ordo 1 Knight Templar, kau yang akan menghadapinya, Commander.” Heisuke memandang Xavier dengan pandangan yang tak mau menerima pembelaan diri. “Saat melakukannya, jangan memberi motivasi baginya untuk menunjukkan semua yang dia punya. Kau tentu kuat, itu tak perlu diragukan, tetapi seseorang bisa melarikan diri jika kau sengaja memberi waktu.”
“Kau ingin mengatakan kalau aku cenderung meremehkan musuh yang kuanggap tidak kuat?” tanya Xavier dengan sebelah alis terangkat—memorinya kembali mengingatkannya akan insiden di mana Rossia melarikan diri dari hadapannya.
“Tentu saja tidak, Commander, aku hanya menyiratkan agar kau tidak terlalu menikmati pertarungan.” Heisuke merespons dengan tenang, ekspresinya tidak merefleksikan pikiran apa pun yang ada di kepalanya. “Di dalam peperangan, kau harus membunuh seefektif mungkin. Di mata musuh kau memang akan terlihat sebagai monster haus darah, tetapi untuk kemenangan itu perlu dilakukan. Semakin banyak musuh yang tewas, semakin sedikit orang-orang kita yang mati.”
Tidak ada satu pun dari kata-kata Heisuke yang salah. Yang wakilnya katakan mutlak kebenaran. Jika nantinya Rossia membunuh banyak prajurit Imperial Army, sebagian kesalahan ada pada Xavier karena tidak langsung menghabisi gadis tersebut saat itu juga.
“Sepertinya kau telah benar-benar nyaman dengan posisimu, Heisuke,” ucap Xavier pada akhirnya, tidak langsung merespons ucapan sang wakil. “Kau akan menjadi commander yang hebat nantinya.”
“Hm, aku tidak bisa menyangkal ucapanmu.” Heisuke menghela napas, melanjutkan, “Aku tak lama ini mengunjungi keluarga dari prajurit-prajurit kita yang tewas. Kita memang telah menyantuni mereka, memastikan kebutuhan mereka terpenuhi. Namun, nyawa-nyawa yang hilang itu meninggalkan bekas luka yang tak pernah hilang. Anak-anak mereka yang sebelumnya menghabiskan sebagian besar waktu dengan bermain, kini telah berubah menjadi mengayunkan kayu seolah-olah itu pedang. Kematian benar-benar menyiksa mereka yang ditinggalkan.”
Mendengar penuturan jujur Heisuke, Xavier menghela napas panjang. Ia sudah mengerti itu. Semua yang Heisuke katakan sangat ia mengerti. Tetapi Xavier juga tahu kalau Heisuke tahu ia paham akan ucapannya. Heisuke hanya mengatakan agar Xavier tidak kehilangan kontrol atas dirinya. Di hadapan individu dengan kekuatan unik, Xavier cenderung menyuruh mereka untuk menunjukkan semua kekuatan mereka. Kebiasaan itu sulit untuk ia ubah. Berulang kali ia mengatakan akan lebih berhati-hati, tetapi berulang kali pula ia terbawa suasana.
“Saat aku berhenti menjadi commander, hanya kau yang cocok meneruskanku, Heisuke.” Xavier berkata seraya menepuk pelan pundak Heisuke dengan tangannya yang bebas. “Aku akan mengingat saranmu itu,” tambahnya lagi seraya melangkah memasuki ruangannya, meninggalkan Heisuke di depan pintu.
“Kau punya niat mengundurkan diri dari posisimu setelah perang berakhir, Commander?”
...—Axellibra, Emiliel Holy Kingdom—...
Berbicara tentang uang memang lebih melelahkan daripada berbicara tentang strategi dan siasat. Arthur menyadari itu setelah meninggalkan istana raja. Berbicara tentang strategi lebih mudah, semuanya punya satu visi yang sama: menang. Namun, ketika berbicara tentang uang, tidak ada yang namanya satu visi; semuanya mementingkan keuntungan masing-masing. Fakta kalau mereka adalah satu kesatuan terlupakan saat uang menjadi topiknya.
Itu sangat tidak sehat, tetapi nyatanya Arthur juga tak berbeda. Ketika menyangkut anggaran untuk Ordonya, ia melakukan semua yang ia bisa untuk mendapatkan dana yang besar. Menjatuhkan Ordo lain dan mengagung-agungkan Ordo sendiri adalah hal normal untuk dilakukan. Pasalnya, jika ada Ordo yang anggarannya tinggi, tentu ada Ordo yang harus puas dengan anggaran yang tak diharapkan. Itu memanglah sebagaimana seharusnya.
“Sialan, aku tak percaya anggaran yang Lexata berikan untuk Ordoku hampir seper empat kali lebih rendah dari tahun lalu. Beraninya dia!”
Pemilik suara penuh frustrasi yang terdengar dari belakang Arthur adalah Alfonso Alsabnitz, pemegang gelar Twelfth Saint. Dalam rapat penentuan anggaran militer tahun ini, suntikan dana terendah diterima Ordonya. Rossia yang Ordonya memiliki anggota lebih rendah dari Ordonya Alfonso bahkan mendapatkan anggaran yang hampir lima kali anggaran yang dia terima.
“Itu artinya kau yang terbodoh di sini, Alfonso!” celutuk Rossia Himera—dari suaranya Arthur bisa menduga kalau Rossia menikmati menghina Alfonso. “Kusarankan kau melakukan transplantasi otak. Ah, otak manusia lain terlalu berat untukmu. Bagaimana kalau kau mencoba otak gorila?”
…Suara hantaman dan benturan menyambut ejekan Rossia. Alfonso membuat dirinya terlihat lebih bodoh di mata Rossia ‒ wanita itu benar-benar menunjukkan kalau dia merasa terhibur.
Arthur menggelengkan kepala. Dari semua anggota Twelve Holy Saints, yang benar-benar mencerminkan seorang Saint hanyalah Seventh Saint Petracia Lliorente—dalam artian terlalu over, dia berdoa bahkan untuk hal kecil seperti ada semut lewat. Arthur sendiri hanyalah pria normal. Sisanya…. Arthur tidak punya kata-kata untuk menyebutkan mereka selain sekumpulan orang aneh. Terutama Bedivere. Wanita itu begitu kukuh menganggap dirinya sebagai anak kecil yang terperangkap dalam tubuh wanita berusia 25 tahun.
“Sir Arthur, apa Sir Arthur baru saja memikirkan hal buruk tentang Dame Bedivere?” tanya Bedivere sembari memasang ekspresi sok imut dengan boneka beruang di tangan—dia menyebut dirinya dengan namanya sendiri, menirukan bagaimana sebagian anak-anak bangsawan menyebut diri. “Itu bukan hal yang baik, loh, Sir Arthur! Dame Bedivere nanti kesal dan memberikan racun manis untuk Sir Arthur minum. Sir Arthur tidak boleh menjadi orang dewasa yang nakal.”
“Itu hanya asumsimu semata, Dame Bedivere,” respons Arthur tanpa berbalik—ia berada di urutan terdepan dalam perjalanan mereka menuju gerbang istana. “Tidak mungkin aku memikirkan hal buruk tentang anak kecil sesopan dan seimut Dame Bedivere, itu tak masuk akal.”
“Yey! Lihat, Pak Tua Lancelot, bahkan Sir Arthur mengerti kalau Dame Bedivere ini gadis kecil yang sopan dan imut! Bagaimana kau bisa tidak mengerti? Dame Bedivere benar-benar tidak paham. Mungkin Dame Bedivere perlu belajar psikologis orang-orang tua seperti Pak Tua Lancelot.”
Arthur tak bisa menahan diri dari menghela napas panjang. Sekarang ia jadi menyesal mengapa ia mau menjadi Saint. Jika saja ia mengetahui lebih awal orang seperti apa mereka ini, mungkin sekarang ia tak harus merasa sakit kepala dengan tingkah mereka. Oh, sungguh, orang bodoh mana yang akan tertawa cekikikan terhadap lelucon (yang tak lucu) yang dia buat sendiri seperti yang Tenth Saint Marya Ellenswarth lakukan? Tidak ada. Sungguh tidak ada.
Sekali lagi Arthur menghela napas panjang. Menjadi satu-satunya orang normal di sini sungguh melelahkan. Sekarang ia jadi tak heran mengapa kakeknya juga menjadi orang tidak normal.
Mungkin aku harus berpikir ulang untuk hadir dalam pertemuan-pertemuan berikutnya, batin Arthur dengan serius.