
...—Dragonoa, Warebeast Great Kingdom—...
DRAGONOA adalah satu-satunya kota yang bisa ditemukan di seantero Warebeast Great Kingdom yang luas, sisanya adalah pedesaan.
Berbeda dengan elf, manusia, dan ras-ras lainnya, warebeast hidup bersuku-suku. Ada suku lionman, ada suku wolfman, ada suka birdman, dan banyak suku-suku lainnya. Masing-masing suku memiliki desa mereka sendiri (bahkan ada suku yang bercabang-cabang hingga punya banyak desa), dan masing-masing kepala desa hanya bertanggung jawab kepada sang raja. Jika di kerajaan lain ada bangsawan atau gubernur, di Warebeast Great Kingdom tidak.
Sebagai satu-satunya kota yang ada di tanah para warebeast, Dragonoa terbilang besar, cukup besar. Kota itu berbentuk segi empat sempurna. Jarak dari satu sudut dinding kota ke sudut yang berlawanan dengannya hampir menyentuh 80 kilometer. Di seperempat kota bagian utara, tembusan sungai melengkung seolah mengisolasi area tersebut dari seantero kota. Di ujung seperempat kota bagian selatannya, penjara terbesar dan satu-satunya di Warebeast Great Kingdom berdiri menempati area yang luas.
Royal Palace, sebagaimana rata-rata istana di kebanyakan negeri, berdiri di tengah-tengah kota. Ketinggian bangunannya tak bisa dibilang impresif, tetapi dikatakan bahwa ruangan bawah tanahnya tiga kali lebih banyak dan lebih besar dari area atasnya. Royal Palace tersebut memiliki tiga menara, dan ruang singgasana raja berada di ruangan teratas yang ada di menara tertinggi.
Alice Skyward sudah dua bulan tinggal di kota satu-satunya dalam sejarah berdirinya kerajaan para warebeast ini.
Itu bukan karena ia sedang dalam misi mencari anak-anak tak beruntung untuk ia bawa ke panti asuhan. Sama sekali bukan. Malahan, Alice sudah tidak lagi menjadi perawat di panti asuhan itu. Ia seorang petarung, Alice akhirnya sangat memahami kenyataan itu. Menjadi pengasuh anak-anak terlantar sama sekali tidak ada dalam darahnya. Ia hidup untuk bertarung, untuk itu ia terlahir dengan talenta yang tak sedikit.
Setengah tahun pertama, Alice tidak menyadari hal itu. Kekosongan, kejanggalan, dan ketidakpuasan dalam hidupnya baru terasa belasan minggu setelah itu. Meskipun ia memanfaatkan hampir semua waktu kosongnya untuk memperkuat diri, untuk semakin menguasai [Light Magic] hingga ke tingkat tertinggi, tetapi itu tidak memuaskan. Alice tidak pernah berpikir dirinya seorang maniak bertarung, tetapi hidupnya terasa hambar tanpa bertarung.
Itu juga alasan mengapa Alice berada di Dragonoa. Selain karena adanya turnamen para petarung yang akan diselenggarakan dalam tiga hari, Alice bisa memanfaatkan para penggila pertarungan di kota ini untuk mengembalikan ketajaman instingnya. Dalam dua bulannya tinggal di sini, hampir setiap malam Alice pergi ke arena untuk ikut berpartisipasi dalam pertandingan harian. Kadang dalam semalam ia beranding dua kali, tetapi ada juga malam di mana ia bertarung enam kali.
Malam ini pun tak terkecuali. Alice yang wajahnya ditutupi topeng ungu dengan ukiran senyum jahat di bagian bibir melangkah memasuki arena besar di area barat kota. Saat ia melangkah menaiki lantai arena, nama sarannya menggema diterikkan oleh para penonton. Bukan tanpa alasan, tentu saja. Sejak Alice untuk pertama kalinya berpartisipasi, ia belum pernah kali. Karena itu pula hampir setiap malam Alice membawa pulang uang minimal 50 koin emas.
“Apakah Evil Mask akan kembali memenangi duelnya malam ini?”
Pertanyaan komentator pertarungan disambut antusiasme penggemar Alice. Jawaban “ya” serentak menggetarkan udara. Namun begitu, banyak pula yang mengatakan tidak, terutama penggemar para petarung yang sudah ia kalahkan. Dan, tentu saja, Alice tak berminat menghibur mereka. Sebagaimana malam-malam sebelumnya, malam ini ia juga akan menang.
“Mulaikan pertarungan kapan pun dia siap,” ucap Alice dengan suara datarnya, pedang cahaya berwarna kuning keemasan sudah bermanifestasi di tangan kirinya.
...* * * * *...
...* * *...
...—14th July, E642 | Avarecia, Kazarsia Kingdom—...
Ia sudah memastikannya ke semua penjuru kota, tetapi tidak ada sang jendral. Telinganya tentu saja menangkap informasi dari mulut orang-orang, katanya Jendral Clown memang ada di kota. Namun, sekali lagi Xavier membuktikan kalau itu tidak benar. Tidak ada seorang pun di kota ini yang setara seorang commander, apalagi Fie Axellibra. Jendral Clown kemungkinan takkan kembali ke ibukota selama ia ada di sini.
Dalam perjalanannya menuju gerbang keluar kota, pandangan Xavier sekali lagi mendapati pria berkapa plontos yang di kepalanya ada bekas luka silang.
Di lorong menuju gudang bawah tanah markas Royal Army bukanlah satu-satunya perpapasan mereka. Total Xavier sudah berpapasan dengannya enam kali. Tentu saja dalam setiap kesempatan itu Xavier tidak bisa dilihat pria itu. Ini adalah kali ketujuh ia melihat pria kepala plontos tersebut. Apa kebetulan? Atau, …dia sebenarnya mata-mata Jendral Clown?
Ingin memastikan kecurigaannya, Xavier memutuskan menghampiri pria berwajah sangar yang duduk sendiri di bangku di belakang pohon seolah sedang bersembunyi dari orang-orang—ia tak lupa melepaskan jubah dan topengnya.
Membuat dirinya bisa terlihat, Xavier menepuk pelan bahu pria itu. Sang pria berkepala plontos terperanjat, tetapi dengan cepat dia mampu menenangkan diri—kontrol dirinya sangat baik, impresif malah.
“Apa yang membuat Paman sampai memasang ekspresi sulit seperti tadi?” tanya Xavier sembari mendudukkan diri di samping pria tersebut. “Apa Paman gagal dalam hal tertentu? Atau, Paman kehilangan pekerjaan karena membuat kesalahan yang tak bisa ditolerir?”
Pria berkepala plontos tak menjawab, sebaliknya ia bertanya siapa Xavier dan apakah ia mengenal sang pria.
“Aku baru tiba di sini kemarin, datang untuk mencari pamanku. Namun, karena dia sudah tidak lagi tinggal di kota ini, aku berencana untuk langsung kembali ke desa. Oh ya, namaku Er. Kebetulan saat aku hendak keluar gerbang, aku melihat Paman memasang ekspresi sulit. Sebagai sesama manusia, saling menolong adalah hal yang wajar. Aku tak keberatan menolong Paman jika ada masalah finansial yang membelitkan Paman.”
“…Kau tidak mengenalku?” tanya sang pria dengan sedikit terkaget, sulit memercayai apa yang dia dengar.
“Apa Paman seseorang yang terkenal?” tanya balik Xavier. “Penampilan Paman memang mirip Jendral Clown, tapi Paman terlalu lemah untuk disandingkan dengannya. Bukan bermaksud angkuh, tetapi aku bisa mengalahkan Paman dengan mudah.”
“Kau benar!” tegas sang pria. “Aku ini sangat lemah. Aku mantan pencuri. Hanya keberuntungan dan kebetulan yang membuatku bisa ada di kota ini. Sangat tak masuk akal jika aku ini bisa melakukan apa yang Jendral Clown lakukan dalam rumor itu, kan? Hanya orang-orang idiot yang akan menganggap aku ini super kuat, super cerdas, super duper dalam banyak bidang, kan?”
Xavier tidak mengerti mengapa pria berkepala plontos ini begitu bersemangat dalam menjelaskan kalau ia super duper biasa, tiada yang spesial darinya. Namun, pada akhirnya Xavier hanya mengedikkan bahu dan mengangguk pada pertanyaan sang pria.
“Lantas, mengapa banyak orang menganggapku spesial? Mengapa aku selalu beruntung? Bahkan saat aku ingin melarikan diri dari situasi berat, justru aku berakhir dengan melakukan hal yang menakjubkan tanpa aku melakukannya. Aku pernah secara asal mencampurkan bumbu makanan karena makanannya terasa kurang pas. Dan kau tahu apa yang terjadi?”
Xavier menggeleng. Mana mungkin ia tahu.
“Aku dianggap memiliki bakat dalam memasak, dan aku diberi penghargaan oleh juru masak istana. Lalu, saat aku berusaha meninggalkan kota, aku justru berakhir menemukan persembunyian kawanan penjahat dan lalu dianggap sebagai pahlawan. Di waktu yang lain, saat aku iseng memasuki sebuah gua, tiba-tiba kami menemukan cadangan orichalcum di gua itu. Kau ingin mendengar hal-hal yang tak masuk akal lainnya?”