
Xavier memiringkan kepalanya ke kiri menghindari tusukan tombak cahaya Alice, kemudian ia berputar di tempat dengan kedua pedang yang mengayun. Alice memblok satu pedang petir Xavier dengan pedang cahayanya, sedang pedang yang satunya membentur batang tombak cahaya. Xavier menambah tenaganya, membuat retak timbul di kedua senjata cahaya Alice.
Tak ingin mengambil risiko, Alice melompat menjauh sembari merejuvenasikan kedua senjatanya sehingga kembali solid.
Xavier mengejar Alice, kali ini ayunan pedangnya lebih agresif. Bola mata Alice bergerak lincah, mengantasipasi semua pergerakan Xavier agar dia bisa membloknya dengan sempurna. Sejauh ini gadis bertopeng itu berhasil memblok setiap serangan Xavier dengan baik. Dan seperti yang sudah-sudah, dia selalu menjauhkan diri untuk merejuvenasikan kedua senjatanya saat tombak dan pedang cahaya itu retak.
Tentu saja Xavier bisa menghabisi Alice saat ini juga dengan skill berpedangnya. Meskipun kemampuan Alice dalam memainkan tombak dan pedang sangat memukau, berada dalam level yang sama dengannya dan mungkin juga Dermyus, dia cukup lambat. Xavier harus menahan diri agar tidak secara tidak sengaja melukai Alice dan memperlihatkan kesemuan kalau mereka setara. Tentu saja Xavier tahu kalau Minner sudah mengenalinya sebagai El, pria itu sulit ditipu.
“Kau menahan diri,” desis Alice dengan suara dinginnya, secara langsung menyuarakan ketidaksukaannya. “Kau berpikir diriku terlalu lemah hingga kau sampai menahan diri dari mengeluarkan kekuatanmu?”
“Apa terlihat seperti itu?” tanya Xavier sembari memiringkan tubuh menghindari tebasan pedang cahaya Alice.
“Itu terlihat seperti itu!” desis Alice, tombaknya menusuk tajam, tetapi dengan mudah Xavier dapat menepisnya.
“Oh, kukira aku sukses dalam memperlihatkan kalau kita setara. Ah, aktingku buruk, sepertinya aku harus lebih banyak belajar lagi.”
Respons terhibur Xavier memantik amarah dalam diri Alice, terlihat jelas dari geraknya yang menjadi liar dan agresif. Namun begitu, sang gadis tak mampu menyudutkan Xavier—hal itu membuatnya semakin kesal.
“Mengapa kau tidak diam saja dan biarkan aku menyayatmu?” celetuk Alice penuh kekesalan, sungguh-sungguh kesal.
“Ok.” Dan Xavier berhenti bergerak, membuat tombak Alice seketika menusuk menembus tepat di tengah-tengah dada Xavier. “Kau bahkan tak bisa menyakitiku saat aku diam,” komentar Xavier merespons serangan sang gadis. “Apa aku harus menyakiti diri sendiri?”
Decakan lidah adalah apa yang merespons pertanyaan sarkas Xavier. Alice kemudian mundur menjauh dengan cepat. Mana pekat menguar menyelubungi tubuhnya, dan dalam sekejap dia menjelma menjadi manusia yang dibungkus selimut cahaya tebal. Tombak dan pedang cahayanya pun ikut menebal, tampak hawa panas menguar dari kedua senjata buatan itu.
“Nah, itulah yang sudah kutunggu-tunggu!” seru Xavier dengan bibir yang melengkung tajam. “Majulah, tunjukkan padaku kehebatan Evil Mask yang sebenarnya!”
Dalam sekelip mata, Alice sudah berada di hadapan Xavier dengan tusukan tombak yang mematikan. Dia cepat, sekitar sepuluh atau sebelas kali lebih cepat dari sebelumnya. Jika Reinhart melihat kecepatan Alice, playboy yang sedang belajar untuk setia itu pasti akan memuji. Reinhart harus mengandalkan teleportasinya untuk mengungguli kecepatan Alice.
Namun begitu, butuh lebih dari itu untuk membuat Xavier terkejut. Tusukan tombak mematikan Alice dapat Xavier tepis dengan sempurna. Tetapi Alice terus menyerang dan menyerang, dia bertambah agresif setiap detiknya. Bahkan saat Xavier mampu menepis dan memblok setiap serangannya, Alice tetap berusaha menekan.
“Seperti dugaanku, Light Zone tak cukup untuk mengunggulimu.” Alice melompat menjauh, cahaya tebal yang menyembunyikan penampilannya perlahan menipis dan kemudian memudar. “Kalau begitu, aku akan mengetesnya sekarang, Ultra Light Zone.”
“Aku belum pernah mengetes mode terkuat dan tercepatku ini pada siapa pun, kau adalah yang pertama. Ini adalah teknik yang kukembangkan untuk mengalahkan Eleventh Commander Imperial Army dalam hal kecepatan. Aku tidak bisa mengetes jika aku sudah lebih cepat darinya karena kudengar dia sudah terbunuh, tetapi kau juga kuat dan cepat.”
“Menarik,” komentar Xavier seraya menghilangkan kedua pedangnya. “Aku juga sudah mendengar tentang kecepatan Eleventh Commander yang fenomenal. Jika kau mengembangkan mode itu untuk mengalahkannya maka kau luar biasa cepat. Karena itu, bagaimana jika kita bertaruh?”
“Cih, kau masih berlagak arogan. Tapi baiklah, taruhan seperti apa yang kau inginkan?”
Xavier tersenyum tipis di balik topengnya. “Aku takkan membuat tubuhku bisa menembus benda. Jika kau bisa mendaratkan satu serangan padaku, kau menang, dan aku akan memenuhi satu permintaan apa pun darimu—bahkan jika kau menginginkanku menjadi pelayanmu seumur hidup.”
“Cih, betapa arogan. Lantas, bagaimana jika aku kalah? Kau ingin aku menjadi pelayanmu? Menjadi wanitamu?”
“Itu tawaran yang tak buruk, tetapi aku tak menginginkan keduanya. Jika aku menang, kau ikut aku ke Vladivta Kingdom. Di sana aku ingin berbicara serius denganmu.”
...—————...
Alice mengernyitkan kening di balik topengnya. Persyaratannya itu sangat mencurigakan. Jangan-jangan dia orang suruhan Kanna atau Karen? Itu artinya Kanna atau Karen sudah menunggu di Vladivta Kingdom?
Jika ia perhatikan lagi, postur tubuh Azet dan kepercayaan dirinya yang tinggi agak mirip dengan Xavier. Namun, Xavier tidak pernah menggunakan sihir petir. Meskipun Xavier juga menggunakan dua pedang, tetapi ia tak melihat satu pun teknik pedang yang pernah Xavier gunakan. Pun Xavier tidak memiliki sihir yang bisa membuatnya bisa menembus benda. Mengubah arah benda, ya, tetapi tidak dengan menmbus benda.
Bila benar dia—entah bagaimana—Xavier, bisa jadi kalau yang menyuruhnya Monica. Atau mungkin juga Evillia. Ia sudah meninggalkan panti asuhan itu lebih dari dua bulan, sangat mungkin jika mereka mengirim Xavier. Namun, itu kurang masuk akal jika Evillia/Monica. Elf Kingdom dan Warebeast Great Kingdom adalah sekutu, Alice tahu benar itu. Jika itu Evillia/Monica, tidak perlu mereka repot-repot mengirim Xavier.
Itu jika dan hanya jika dia Xavier. Namun, jika dia bukan Xavier, apa dia punya hubungan khusus dengan petinggi Vladivta Kingdom? Mungkin mereka ingin merekrutnya?
“Hmph, baiklah, tak masalah.” Apa pun itu, Alice tak melihat ada hal buruk yang mungkin terjadi. Jika pun ada, ia hanya perlu melarikan diri. “Kuterima syaratmu itu. Aku akan mengikutimu ke Vladivta jika kalah.”
“Bagus sekali. Ada cara yang lebih mudah meyakinkanmu, tetapi hal itu tak lagi diperlukan karena kau sudah tujuh. Nah, sekarang majulah, mari kita selesaikan pertarungan ini.”
Alice tidak perlu mendengar kata apa-apa lagi. Sebelum satu detik berlalu, ia sudah berada di hadapan Azet dengan pedang cahaya yang mengayun tajam.