Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 20: The Unexpected Result, part 4



...—Cestapola, Provinsi Matepola—...


Meminta maaf adalah hal pertama yang Xavier lakukan saat muncul di kamar penginapan yang dirinya dan Monica sewa. Ia tahu ia telah berlaku tak adil terhadap Monica, tetapi ia tak punya pilihan lain. Yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah memenuhi keinginan Monica. Karenanya, perlu sekali ia memulai dengan permintaan maaf.


Terlebih lagi, ia sempat menjanjikan akan memenuhi apa pun keinginan Monica saat sebelum berangkat ke Etharna tempo hari. Namun, hingga detik ini Monica belum mengatakan keinginannya. Pun dia masih memiliki dua permintaan yang juga belum dia minta. Total Xavier memiliki tiga hal yang harus ia turuti jika Monica memintanya. Ia tak ingin itu bertambah, karenanya penting untuk memanfaatkan hari ini untuk mengatasi semua permintaan itu.


“Aku takkan ke mana-mana lagi. Ah, tapi untuk malam ini kita perlu bermalam di Cornnas.”


“Aku agak skeptikal dengan kata-katamu. Kau jadi semakin tak bisa dipercaya.” Mata Monica memicing, kemudian mendudukkan diri di ranjang dan melipat tangan di bawah dada. “Tapi yah, anggap saja aku percaya. Lantas, apa tujuan kita bermalam di Cornnas? Kau tidak sedang ingin memperkenalkanku dengan Putri Arte-apalah itu, kan?”


Yap. Xavier tahu Monica benar-benar kesal. Lebih kesal dari kekesalan sebelum-sebelumnya. Jika sudah begini, tidak ada kata-kata yang bisa ia lakukan untuk menghilangkan kekesalannya. Kata-kata tak lagi berpengaruh; itu hanya akan membuat sang gadis semakin kesal. Saat ini hanya tindakan yang akan bekerja.


Oleh sebab itu, diiringi helaan napas panjang, Xavier mendudukkan diri di samping Monica. Gadis bermata biru itu menaikkan sebelah alis mata. Namun, sebelum mulutnya membuka melepas suara, Xavier telah terlebih dahulu merangkulnya dan menjatuhkan kepala Monica ke atas pahanya.


“Aku tidak berbohong, kau tahu.” Berkata Xavier, tangan kanan membelai pipi Monica yang sedikit syok dengan lembut. “Aku serius. Aku takkan ke mana-mana lagi setelah ini. Kita juga hanya akan menghabiskan satu malam di Cornnas, setelahnya kita kembali lagi ke sini. Karenanya, katakanlah apa maumu. Selama itu mungkin kulakukan, akan kupenuhi.”


...—Tengah hari, Nevada—...


Kanna baru saja keluar dari ruang kerjanya saat Meyrin memasuki lorong istana. Senyum tipis berkembang di bibir sang putri, dengan cepat memangkas jarak di antara mereka. Meyrin pun melakukan hal yang serupa.


Bukan “bagaimana hasilnya?” yang menjadi pertanyaan pertama Kanna. Meyrin kembali lebih cepat dari yang ia ekspektasikan. Namun tetap, pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Kanna adalah hal yang sederhana tetapi bermakna: “Apa kau baik-baik saja selama tidak di sini?”


“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” balas Meyrin sembari menerima pelukan sang putri. “Namun, ada sesorang di Axellibra—tepatnya dwarf yang kebetulan sedang berada di sana—yang mengenaliku sebagai anggota Keluarga Nevith. Karena itu aku langsung kembali ke sini.”


“Mari kita lanjut bicara di meja makan,” ucap Kanna sembari melangkahkan kakinya maju. Bukan, bukan ke meja makan istana tujuannya; mereka menuju ke restoran favorit sang putri untuk makan siang. Dengan berteleportasi, mereka hanya butuh total dua menit untuk bisa mendudukkan diri di meja khusus restoran—itu juga sudah termasuk waktu yang dibutuhkan untuk memesan.


“Itu tindakan yang bagus untuk langsung kembali,” lanjut Kanna mengomentari ucapan Meyrin sebelumnya. “Akan sulit bagimu melarikan diri jika bertahan di sana. Axellibra tempat yang berbahaya bagi mata-mata negeri asing. Namun, bagaimana bisa dwarf itu mengenalimu?”


“Aku sendiri tidak tahu, Nona, tapi kemungkinan besar itu karena aku menunjukkan diri saat memesan kedua pedang yang kau hadiahkan pada Xavier. Para dwarf sangat merahasiakan karya mereka, tetapi mereka begitu terbuka dalam masalah konsumen. Meskipun aku saat itu sudah menyembunyikan jati diri, kemungkinan mereka sudah mencari tentangku sampai ke akar-akarnya.”


Kanna mengangguk mengerti, tidak kaget mendengar sifat para dwarf tersebut. “Sekali lagi aku senang dengan keputusan yang kau ambil, Meyrin; aku tak ingin sampai kehilanganmu.” Kemudian ekspresi Kanna menjadi serius. “Lantas, apa ada informasi yang bisa kau dapatkan tentang Supreme Magic?”


Meyrin menggeleng. “Tidak ada hal penting yang bisa kudapatkan tentang sihir itu,” katanya. “Namun, aku mendapatkan informasi yang berhubungan dengan Supreme Magic: Six Crests of Hope.”


“Seperti namanya, ada total enam Crest yang disebut-sebut sebagai berkah dewa pada dunia. Keenam Crest itu tersebar ke seluruh penjuru permukaan dunia. Berdasarkan informasi yang kudapat, ada sekali dalam sejarah….”


...—Imperial Palace, Throne Room—...


Edward menutup pintu besar ruang singgasana, kemudian berbalik dan melangkah menghampiri sang emperor yang duduk tenang di singgasananya.


Barusan ia kembali bersamaan dengan Meyrin Nevith. Edward tidak tahu dari mana asisten Kanna itu kembali, ia hanya melihatnya saat dalam perjalanan ke Nevada. Namun, ia bisa mengasumsikan jika dia tidak bergerak atas kehendaknya—itu jelas berdasarkan perintah Kanna. Karenanya, Edward tidak mengkhawatirkan apa pun. Meyrin—walaupun dia sama lihainya dengan Neir, kendati tak semerepotkan Neir—memiliki loyalitas murni pada Kanna. Ia tidak perlu sampai berasumsi kalau dia menjual informasi ke luar.


“Kau pergi lebih lama dari yang kuekspektasikan.” Suara berat dan datar yang keluar dari mulut sang kaisar menggema ke segala penjuru ruangan. “Apa yang menahanmu?”


Bibir Edward melengkung ke arah yang tidak membuat orang lain nyaman memandangnya. “Dwarf Kingdom lebih merepotkan dari yang kita kira, Yang Mulia,” katanya dengan elegan. “Mereka sudah melanjutkan pengembangan rahasia terhadap senjata yang dulu pernah kaisar-kaisar sebelum Yang Mulia khawatirkan. Bukan itu saja, mereka juga sedang mengembangkan sepuluh transportasi udara. Apa Yang Mulia masih ingat dengan Kapal Vegasus?”


Kening Nueva mengernyit mendengar pertanyaan di akhir penjelasan Edward. “Jangan bilang mereka berhasil mengembangkan kapal itu, dan jumlahnya sepuluh pula?”


Kapal Vegasus. Itu adalah alat perang yang dulu dimililiki Aliansi Desa Centaur, kapal tercanggih sepanjang masa. Edward sendiri bahkan tidak tahu asal usul kapal itu. Yang jelas, kapal itu sudah ada ribuan tahun sebelum lenyapnya Danau Deus. Terakhir kali kapal itu beraksi adalah pada perang terakhir antara Islan dan Veria. Kapal itu berhasil menyapu para musuh dengan tanpa tandingan. Saat ini informasi akan keberadaannya sudah hilang; katanya itu tenggelam saat Empress Jiang Yue Yin menunjukkan kemarahannya.


“Dari desain luar, kesepuluh kapal itu sangat mirip dengan Kapal Vegasus,” jelas Edward. “Aku tidak mengecek ke dalam; para dwarf itu sangat paranoid. Mereka memasang sangat banyak jebakan. Meskipun benci kuakui, aku hampir terkena salah satu jebakan mereka.”


“Namun,” lanjut Edward sebelum Nueva sempat merespons, “aku ragu jika itu memiliki kualitas yang sama dengan Kapal Vegasus. Jika Hernandez saja tak mampu membuat ulang Kapal Vegasus, sangat mustahil orang lain bisa. Terlebih lagi, inti kapal itu adalah lonsdaleite, dan mereka harus berurusan dengan Kraken Lord jika ingin mendapatkan metal itu.”


“Tidak akan mengejutkan jika Fie mengambil lonsdaleite untuk mereka,” komentar Nueva dengan pandangan yang menajam. “Untuk saat ini kita perlu mengasumsikan yang terburuk. Karenanya, Edward, aku ingin kau membantu Edelweiss membuat tandingan untuk kapal-kapal Dwarf Kingdom.”


Pandangan Edward juga sedikir menajam. “Mohon maaf jika ini terkesan lancang, tetapi apa Yang Mulia sengaja ingin menjauhkanku darimu?”


“Tentu saja tidak. Kau tahu tidak ada yang lebih kupercaya darimu. Hanya saja, kau lebih tahu kapal itu dibandingkan siapa pun di kekaisaran. Sangat natural jika aku memintamu menghabiskan waktu di Divisi 3, bukan begitu?”


Edward tidak langsung merespons. Keningnya mengernyit memikirkan banyak kondisi. Namun, pada akhirnya dia mengangguk mengerti. “Sepertinya begitu. Baiklah, hamba mohon undur diri.”


Nueva hanya mengangguk, tidak berkata lebih. Edward meninggalkan ruang singgasana dengan kernyitan di kening.