
...—Etharna, Favilifna Kingdom—...
…XAVIER kembali ke Etharna setelah menghabiskan waktu lima belas menit mengolah pikirannya tentang apa yang baru saja terjadi. Ia berteleportasi ke menara yang sama yang sebelumnya ia tinggalkan.
Xavier kembali setelah menghilangkan apinya dan mengembalikan kondisi ruangan ke semula dengan [Reverse Law]—dan ia sama sekali tak memberitahu Zenith dan pasukannya tentang apa yang terjadi. Divisi 8 bertanggung jawab terhadap keamanan Cornnas. Musuh bisa menyusup dengan mudah dan bahkan sampai membawa pergi Artemys adalah bukti ketidakbecusan mereka.
Dari apa yang terjadi, dan dari pesan yang bisa Artemys tinggalkan, ada tiga hal yang bisa Xavier simpulkan: Pertama, pelaku di balik penculikan menginginkan pikiran Artemys. Pasalnya, api hitam itu telah menghilang—mereka mengetahui tentang apa yang ia kerjakan dengan bantuan Artemys. Tetapi alasan utamanya adalah membiarkan Jenny menemani Artemys. Karena itu pula Artemys percaya diri bisa pergi dari mereka paling lama dalam dua tahun.
Kedua, pelaku ingin mengkambinghitamkan Emiliel Holy Kingdom atas perbuatan terkutuk mereka. Mereka boleh jadi musuh Holy Kingdom, boleh jadi pula mereka hanya ingin memanaskan situasi di Islan. Pasalnya, Artemys bukan hanya seorang putri—dia juga seorang gubernur yang punya pengaruh besar. Mau tidak mau kekaisaran harus bertindak, jika tidak itu sama artinya dengan diam saja saat diludahi lawan.
Ketiga, anjingg tengik yang menjadi dalang penculikan ini punya sumber informasi yang luar biasa sekali. Api itu hanya diketahui olehnya, Artemys, dan Jenny saja. Dan Xavier lebih dari tahu kalau Jenny tidak akan melakukan hal menjijikkan seperti mengkhianati Artemys. Artemys tidak membiarkan seorang pengkhianat di sisinya. Jenny berada di sisinya dari dulu mengartikan kalau keloyalan Jenny tak perlu dipertanyakan.
Sejatinya, Xavier menduga Vermyna yang bertanggung jawab atas hal ini. Namun, dugaan itu dengan cepat terpatahkan logika. Vermyna Hellvarossa adalah individu yang memandang dirinya berada di atas siapa pun. Melakukan hal rendahan seperti menculik diam-diam bukanlah hal yang akan dia lakukan. Jika itu Vermyna, dia akan mendarat di tengah kota dan mengumumkan niatnya agar semua orang bisa mencoba menghentikannya.
Siapa pun orang ini, yang jelas bagi Xavier hanyalah satu hal: ia akan menunjukkan neraka padanya; Xavier takkan menunggu sampai Artemys kembali sendiri. Artemys adalah wanitanya—dalam rahimnya bahkan ada bakal anaknya. Tidak mungkin Xavier akan diam dan menunggu.
“Commander Xavier von Hernandez.”
Suara datar minim emosi—datar dalam artian datar yang sebenarnya, tidak dingin seperti suara Lilithia—memanggil dari arah belakang. Xavier tidak terkejut. Mary sama sekali tidak menyembunyikan kehadirannya. Karenanya ia hanya berbalik arah tanpa mengatakan satu kata pun.
“Datanglah lagi ke sini dua jam sebelum tengah malam; saat ini Crow dan yang lainnya sedang mengumpulkan semua anggota Eternity. Kami akan menuju Lembah Terlarang Ed dalam kurang dari tiga jam. Dan kita akan melanjutkan pembicaraan hari itu esok siang saat aku kembali ke sini.”
Mary tidak menunggu respons Xavier; tubuhnya sudah menjelma menjadi miasma dan turun dari menara—saat itu aura Mary lebih undead daripada undead apa pun yang pernah ia lihat.
Xavier memandang datar ke arah miasma itu pergi, sebelum kemudian berteleportasi beberapa ratus meter menjauh. Xavier menggunakan [Division Magic] dan memerintahkan replikanya ke Kota Sihir Maidenhair – Eileithyia pastilah bisa menjawab pertanyaannya. Barulah kemudian Xavier kembali ke tempat Lilithia sudah menunggu.
Belum ada satu kali pun dalam sejarah hidupnya Elmira gagal memenuhi apa yang ia inginkan. Terkadang satu keinginan memerlukan waktu yang lama untuk mewujudkannya, tetapi tetap pada akhirnya itu akan terwujud. Elmira tidak memiliki moral untuk membelenggunya seperti kebanyakan orang-orang sok suci di luar sana—atau orang-orang yang menggemborkan jiwa kekesatriaan. Cara apa pun yang diperlukan, itu akan ia lakukan selama memiliki peluang tinggi untuk berhasil.
Memanipulasi? Itu semudah membalikkan tangan. Membunuh? Elmira sudah melakukannya. Lebih dari itu, ia pernah membuat satu keluarga besar saling membunuh hanya untuk menghiburnya—tentu saja itu secara rahasia; ia tak mau mengambil risiko gelar “Holy Queen” yang rakyat berikan menjadi ternoda. Pokoknya, Elmira telah melakukan banyak hal yang membuat para psikopat dan sosiopat merasa inferior. Benar kata Miera, “Unholy Queen” adalah julukan yang sempurna untuknya.
Tak terkecuali untuk hari ini. Salah satu yang Elmira inginkan adalah negerinya bebas dari cengkeraman tangan bodoh Neix dan membalas penopeng idiot yang sudah berani berdelusi kalau ia berada dalam kendalinya. Seperti yang sudah-sudah, keinginannya terwujud. Selain Hebranest, tidak ada anggota Eternity yang tersisa. Dan selain Crow serta Zegyus, tidak ada anggota andalan Neix yang tersisa: Hebranest dan Miera sudah menjadi boneka Mary yang patuh padanya—dan Shiftor akan kembali bersama Mary ke sini dalam sosok Grim Reaper.
Favilifna Kingdom sekarang seratus persen menjadi miliknya, sepenuhnya menjadi taman bermainnya. Lebih dari itu, sekarang ia punya orang-orang kuat untuk berkompetisi dengan negeri-negeri lain. Ada informasi yang mengatakan kalau Kazarsia Kingdom memiliki Jendral Clown yang kekuatannya merivali Fie Axellibra. Namun, meskipun itu benar, Elmira meyakini sekarang tidak ada negeri kecil yang punya kekuatan militer lebih besar daripada Favilifna Kingdom.
Yang tersisa dari keinginan belum terwujud Elmira adalah membuat Xavier berada dalam kendalinya. Tentu saja itu tidak seperti kakaknya yang menyedihkan atau ibunya yang tak bisa diandalkan; Xavier tidak akan berada dalam pengaruh sihirnya atau sihir Mary. Elmira akan mengerahkan sisi sempurnanya sebagai wanita untuk membuat Xavier bertekuk lutut. Dalam hubungan mereka nanti, dirinyalah yang akan memegang dominansi. Xavier tidak akan ia biarkan terlalu bebas. Bila perlu, ia akan merantainya laksana anjingg yang setia.
Khukukukuku…. Tawa jahat penuh kepuasan melolong dalam kepala Elmira, tetapi ekspresi wajahnya bersih tanpa dosa laksana malaikat yang turun dari surga. Bukannya apa, sekarang orang yang ia ibaratkan seperti anjing yang setia sudah duduk di hadapannya bersama wanita cebol yang menjadi salah satu andalan kekaisaran.
“Maafkan karena aku terpaksa menyuruhmu menunda ke sini melalui Mary, tetapi aku tak punya pilihan karena Crow tadi masih berada di istana. Dia cukup berbahaya. Tentu saja aku tahu Commander Xavier luar biasa kuat, Commander Lilithia juga kuat, tetapi aku ingin semuanya berjalan mulus.”
Kanna memang telah secara tegas menolak permintaannya untuk membuat Xavier menikah dengannya sebagai syarat bagi Favilifna Kingdom untuk menjadi vasal kekaisaran. Namun, itu tidak akan mengubah apa-apa. Apa yang menjadi keinginannya akan terwujud. Jika mustahil baginya untuk mengandalkan sisi sempurnanya sebagai wanita, apa boleh buat, cara lain pun jadi. Di akhir cerita, keinginannya akan terwujud.
“Tidak masalah. Kami datang tanpa terlebih dahulu mengecek keadaan di Etharna.”
Lilithia mengangguk menyetujui ucapan Xavier.
“Terima kasih untuk perhatiannya,” kata Elmira bertepatan dengan datangnya minuman yang dua pelayan bawakan. “Minumlah; kalian bisa membasahi tenggorokan sembari mendengarku menceritakan apa yang terjadi hingga saat ini.”