Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 29: x + y ≠ z, part 4



Alfonso tidak mengetahui siapa orang yang berdiri di atas pilar tanah tadi, tetapi tak salah lagi itu seragam Imperial Army—dan dia memakai jubah commander!


Kekuatan yang baru saja dia tunjukkan memantapkan dugaan kalau dia memang commander sungguhan; bukan kecohan.


“Hahahahaha. Sama sekali tak mengejutkan.” Alfonso melangkahkan kakinya ke depan. “Kalian semua, mundur!” perintahnya pada prajurit terdekat. “Kembali ke formasi barisan dan pastikan untuk memastikan tak ada prajurit yang dalam keadaan ‘tidak oke’. Jika ada, segera buat tempat peristirahatan.”


Meskipun ia yakin tak ada dari pasukannya yang cukup bodoh untuk membiarkan diri mereka mati akibat hantaman dinding itu, tetapi tetap saja mereka perlu memastikannya. Lagipula, situasi sekarang sudah berbeda. Mereka bukan lagi akan menghukum para pendosa. Kali ini definisi perang benar-benar bisa digunakan.


Kontrol akan sihir tanah yang menakjubkan. Dia bisa mengubah tanah menjadi adamantite. Alfonso jadi teringat pada Venia Moon yang dulu berpartisipasi dalam Grand Magic Tournament. Meskipun ia tidak bisa memastikan jika sihir mereka serupa, tetapi secara fundamental sama. Pria itu mengubah tanah menjadi admantite; Venia Moon mengubah pasir menjadi adamantite. Mereka kuat.


Sisi maniak bertarung dalam diri Alfonso seketika naik ke tingkat maksimum. Sayangnya, sekarang ia seorang Saint. Ia harus memerhatikan dan menggerakkan para prajurit secara optimal. Jika tidak, Alfonso sudah pasti akan melesat dan menyerang tanpa banyak pikir. Ia berlelah-lelah memelajari seni bertarung bukan untuk disia-siakan; itu untuk disalurkan. Seni bertarung ada untuk memuaskan hasrat bertarungnya.


Alfonso menghentikan kakinya sekira dua puluh meter di depan lubang di tengah dinding adamantite super panjang yang pemimpin pasukan musuh telah ciptakan. Ia tidak mau berkompetisi perihal strategi dengan para Saint senior, tetapi bahkan dirinya bisa menyimpulkan kalau dinding itu dibuat untuk mengulur waktu. Lubang itu untuk membatasi laju prajurti. Pasukan Imperial Army baru tiba; mereka membutuhkan waktu untuk memosisikan pasukan.


“Heh, kubiarkan kalian memiliki semua waktu yang kalian mau.” Alfonso mendengus meremehkan, berbalik arah melihat para pasukan yang sudah kembali membentuk formasi dengan cepat. “Laporkan situasi!” teriaknya.


...— — — — — — — — — — —...


Senyum sumringah Mortana tak bisa lebih melebar lagi. Seperti seseorang yang menemukan oasis setelah terperangkap seminggu di gersang dan panasnya padang pasir, sebegitulah bahagianya Mortana. Kerajaannya terselamatkan; sang dewa telah menunjukkan kekuasanya. Pemelihara semesta telah menggerakkan Imperial Army untuk melayani kota dan manusia pilihannya.


“Serukan pada semua prajurit untuk berkooperasi dengan Imperial Army. Berikan Commander mereka otoritas penuh untuk bertindak sesuai deduksinya. Katakan pada Commander kita untuk memilih dua ratus prajurit terbaik untuk ia pimpin dalam melindungi istana, prajurit sisanya agar diserahkan untuk membantu Imperial Army.”


Melihat Foratta mengangguk patuh, Mortana langsung berbalik meninggalkan balkon atas istana. Ia harus kembali ke dalam untuk berdoa dan berterima kasih pada dewa. Sempat ada sedikit ragu dalam hatinya tadi, Mortana akan memohon ampun untuk itu. Ia akan berlutut lebih dari setengah jam di depan altar.


...— — — — — — — — — — —...


Hekiel memandang puas pada kreasinya.


Mereka akan menerapkan strategi bertahan di sini. Prioritas utama adalah mengulur waktu, tapi mereka juga akan mengusahakan mengurangi jumlah musuh. Penempatan para pemanah sangat penting, dan para pasukan yang ditempatkan di depan gerbang haruslah mereka yang terkuat.


Panjangnya dinding akan meminimalisasikan peluang musuh untuk memutar. Namun, penting juga menempatkan pasukan di kedua sisi kota. Itu juga untuk mewanti-wanti jika Knight Templar mengirim pasukan tambahan dari dua sisi yang berbeda. Fokus mereka hanya pada Carolina; mereka tidak tahu jika kedua kota lain menjadi target atau tidak. Jika iya, kedua pasukan yang dikirim ke sana akan bisa mengacaukan pertahanan mereka jika tidak berhati-hati.


“Anda…Sixth Commander Hekiel von Vanguarta?” Seorang prajurit senior Ekralina Kingdom menghampiri, beberapa prajurit lainnya mengikuti.


“Tenang saja,” respons Hekiel. “Kami tidak datang dengan niat buruk. Favilifna Kingdom menginformasikan pergerakan Knight Templar. Kita tak bisa biarkan mereka bertindak semena-mena. Lagipula, kalian tidak lagi berpihak pada Knight Templar ‒ kalian bukan lagi musuh yang harus dibasmi.”


“Kalau begitu, kami senang menyambut Anda di sini, Sir Commander. Anda telah menyelamatkan kami dari situasi yang buruk. Terima kasih banyak, Sir.”


“Tidak perlu berterima kasih. Ah, tapi, jika itu tak masalah buat kalian, apa aku bisa meminta kalian membagi dua tim dan menempati sudut kanan dan sudut kiri kota? Kami akan mengatasi situasi di sini. Aku ingin kalian menghabisi prajurit yang mencoba memutar, jika ada.”


“Tentu saja, Commander. Kami akan berkooperasi.” Prajurit senior mengalihkan pandangannya. “Kalian dengar itu?! Tunggu apa lagi? Kalian yang di sis kiri gerbang, pindah ke sudut kiri kota. Sementara kalian yang di kanan, langsung ke sudut kanan kota. Luncurkan anak-anak panah kalian pada para Knight Templar yang hina!”


Para prajurit langsung bergegas menuruti instruksi. Mereka berlari di atas dinding kota menuju kedua sudut yang berbeda.


“Terima kasih untuk kerja samanya. Itu akan sangat membantu.”


“Tidak, tidak, justru kamilah yang harus berterima kasih, Sir. Kalau begitu saya pamit untuk bergabung dengan yang lain.”


Kurang dari dua menit, hanya Hekiel sendiri yang tersisa di dinding depan kota, matanya sudah memandang lurus pada lubang besar di tengah-tengah dinding.


“Jika Xavier di sini, aku akan menyuruhnya memenuhi parit dengan api hitam,” gumam Hekiel sembari sekali lagi mengatupkan kedua telapak tangan ‒ ia memenuhi parit dengan tombak-tombak tanah yang menghadap ke atas, kemudian semuanya ia ubah menjadi adamantite.


...— — — — — — — — — — —...


Satu jam telah berlalu sejak Alfonso menyeru prajuritnya mundur.


Ia telah menyuruh masing-masing sepuluh prajurit menuju dua kota lainnya untuk menyampaikan informasi pada kedua rekannya. Bukannya ia membutuhkan bantuan mereka, hanya saja Alfonso tidak tahu jumlah total pasukan musuh. Lebih dari itu, untuk menaklukkan sebuah kota, strategi pengepungan adalah yang paling efektif. Penduduk kota akan mati kelaparan jika tak ada suplai logistik yang masuk.


“Sir Alfonso! Kami sudah siap.”


Bibir Alfonso melengkung melihat sepuluh ribu prajurit sudah berdiri dalam empat kolom menyamping. Mereka dipimpin salah satu prajurit andalan Alfonso. “Bagus sekali!” serunya. “Segera masuk melalui lubang itu seperti yang musuh inginkan. Lihatlah apa yang mereka persiapkan di balik dinding. Aku akan melindungi kalian dengan [Shield Magic]-ku.” Cahaya coklat keemasan seketika membungkus setiap prajurit dalam barisan tersebut. “Sekarang pergilah.”


Mengikuti komando pemimpin mereka, para prajurit melangkah maju dengan serentak dan kemudian mengambil haluan kanan. Kolom panjang mereka bergerak bagai ular raksasa yang sedang menuju sarangnya.


Kemudian Alfonso mengutus masing-masing dua puluh lima ribu prajurit untuk bergerak ke kanan dan kiri kota.