Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Intermission 2



...—Sebuah tempat tersembunyi, Veria—...


SETELAH menghabiskan satu malam beberapa jam di sebuah kamar mewah istana bersama dengan Jenny, Artemys akhirnya dibawa ke tempat di mana orang yang menjadi dalang penculikannya berada.


Seperti sebelumnya, kali ini matanya dan mata Jenny juga ditutup dengan kain; mereka mengkhawatirkan ia akan mengenali tempat dirinya berada. Dari hal ini, keyakinan Artemys kalau mereka tidak menginginkan kematiannya semakin kuat. Bukan saja mereka memperlakukannya dengan baik, ia juga diberi kebebasan mengeksplor tempat di mana ia bermalam—tentu saja dengan syarat ia tak mencoba melarikan diri. Mereka sungguh menginginkan kerja sama darinya.


Meskipun mereka sudah mencoba merahasiakan lokasi mereka hingga sedemikian rupa, Artemys sudah mengetahui kalau saat ini ia berada di Veria. Artemys suka mengamati langit malam; ia tahu seperti apa langit malam di Islan. Pun ia sudah membaca banyak buku tentang Medea, Gheata, dan Veria. Karenanya, seratus persen ia yakin kalau dirinya berada di Veria. Masalahnya, lokasi pastinya belum bisa ia pastikan.


“Silakan ke sebelah sini, Nona Artemys.” Seorang pelayan yang bertugas memandu mereka berkata, tangannya menggestur agar Artemys berbelok ke lorong sebelah kanan. “Silakan lurus ke sana, nanti Nona akan menemukan sebuah ruangan yang pintunya terbuka. Masuklah ke dalamnya. Yang Mulia Shiva sudah menantikan kedatangan Nona.”


Jika ucapan sang pelayan mengejutkan Artemys, ia tak menunjukkan. Sang putri hanya mengangguk dan mengajak Jenny memasuki lorong itu. Namun begitu, pikirannya berbanding terbalik dengan ekspresi wajahnya.


Shiva. Ketika mendengar nama itu, pikiran Artemys langsung tertuju pada Emperor yang menguasai Karna Great Empire. Dari kabar terbaru yang ia dengar, Shiva Rashta telah berhasil membawa semua penguasa Veria untuk duduk semeja dan bernegosiasi. Hal itu terjadi enam bulan lalu. Berbeda dengan Islan yang situasinya diambang peperangan besar, Veria telah memasuki momen perdamaian mereka.


Tentu saja, nama “Shiva” tidak hanya dimiliki satu orang di benua ini. Namun, seseorang yang bernama Shiva yang bisa mengirim seseorang untuk menculiknya dengan mudah…. Artemys tidak bisa memikirkan individu lain selain Shiva Rashta—seseorang yang digelari “Prince of Veria”.


Bagaimanapun, yang menjadi pertanyaan Artemys saat ini adalah: mengapa pelayan itu membeberkan kalau Shiva berada di balik penculikannya setelah sebelumnya mereka berusaha menyembunyikan?


Ada beberapa jawaban untuk menjawab pertanyaan itu, dan Artemys tidak bisa memutuskan mana yang benar sebelum melihat orang seperti apa Shiva Rashta yang terkenal itu.


Namun, jika situasi menjurus kepada hal yang tak diinginkan, ia bisa berteleportasi dari tempat ini. Setelah semuanya, waktu satu jam lebih dari cukup untuk menuliskan rune teleportasi di perutnya dan perut Jenny, apalagi satu malam. Mereka bisa pergi kapan saja jika situasi memburuk. Pasalnya, rune teleportasi miliknya menghiraukan segala bentuk barier.


Heh, aku menuliskan dua tahun untuk dibaca Xavier hanya untuk melihat seberapa jauh dia akan berusaha menyelamatkanku. Itu akan menyedihkan jika usahanya biasa saja….


“Nona Artemys, sepertinya itu ruangannya.”


Artemys mengangguk. “Tidak salah lagi,” katanya santai. “Ayo masuk. Mari lihat apa yang diinginkan Shiva ini dari kita.”


...—Kota Sihir Maidenhair, Islan—...


Belahan diri Xavier keluar dari tempat Eileithyia bernaung dengan ekspresi tenang di wajah. Eileithyia mengetahui identitas asli El tanpa perlu ia yakinkan. Karenanya, ia bisa mendapatkan jawaban dengan mudah. Malahan, ia mendapatkan lebih dari itu. Memang, agak kasihan melihat Eileithyia menahan sakit saat mengakses kemampuan Crest of Hope-nya. Namun, tidak ada pilihan lain lagi.


…Shiva Rashta, Emperor Karna Great Empire. Pemilik Soul of Sacred Waterfall. Pemilik Supreme Magic [Divine Insight]. Dia meminta Empress Mikazuki Empire (penguasa negeri asal Heisuke) untuk membawa Artemys pergi.


“…Heh, aku tidak berpikir akan menginjakkan kaki di Veria dalam waktu dekat, tetapi apa boleh buat.”


…Dan belahan diri Xavier menghilang dalam kobaran api hitam yang lantas menguap ke udara hingga tak menyisakan apa-apa. Dirinya sudah kembali ke tempat Xavier berada.


...—Agrippina, Caligula Kingdom—...


Sekarang? Peternakan itu telah menjadi begitu besar. Kemarian peternakan tersebut telah dinobatkan sebagai peternakan unta berpunuk tiga berekor dua terbesar di kerajaan ini.


Perkembangan pesat itu bisa terjadi karena adanya kerja keras seorang pria eksentrik yang sekarang telah sangat terkenal di kalangan para pedagang. Dia tak lain adalah Gwen Rushtalia—atau yang masyarakat kenal sebagai penggemar berat bangsawan tengikk yang sudah tewas sampai-sampai dia menggunakan namanya.


Karena dia, peternakan itu menjadi primadona. Unta-unta berpunuk tiga berekor dua yang liar sesekali datang bergerombol seolah menawarkan diri untuk Gwen ternakkan. Dan karena itu pula dia digelari Raja Unta.


Pria yang telah dipercayai sebagai kepala pengurus peternakan tersebut saat ini sedang berdiri gagah di hadapan seribu ekor lebih unta dewasa. Seperti biasanya, para unta itu memandang Gwen penuh hormat dan kagum. Mata mereka berbinar-binar, mereka seperti anak anjingg yang memandang tuannya meminta perhatian. Sungguh, julukan “Raja Unta” benar-benar terpatri erat dalam diri Gwen Rushtalia.


Jika ada yang bertanya tentang apa yang dilakukan Gwen dengan berdiri seperti itu di hadapan para unta yang setia memandangnya?


Jawabannya sangat jelas: Gwen sedang memberikan arahan bagi para pengikutnya untuk mewujudkan ambisi mereka dalam menguasai kerajaan ini.


“… Heh, heh, heh. Aku sama sekali tak meragukan kalian. Telah kubuktikan dengan mata kepalaku sendiri kalau kalian lebih cerdas dan lebih berguna daripada orang-orang bodoh di kerajaan ini. Namun,” jeda Gwen sambil mengepalkan tangan dengan ekspresi super serius, “kita masih kalah jumlah. Meskipun orang-orang di negeri ini bodoh, tetapi mereka menyampah di mana-mana. Tentu kalian memahami itu, kan?”


Para unta menderum dengan penuh semangat, mayoritas dari mereka sampai menghentak-hentakkan kaki depan dengan keras.


Gwen mengangguk-anggukkan kepala penuh kepuasan, merasa bangga dengan para pengikutnya. Mereka sangat bisa diandalkan, dan mereka sangat mengerti kalau di dunia ini tidak ada orang yang lebih jenius dari dirinya—tidak ada orang yang lebih pantas untuk dipatuhi daripada dirinya. Bahkan, jika saat ini ia berdiri bersebelahan dengan dewa, para unta ini pasti akan berpihak padanya.


“Dan karenanya,” lanjut Gwen saat situasi kembali kondusif, “kita masih akan memfokuskan diri pada memperbanyak jumlah kalian. Paling tidak, kita harus bisa mencapai angka di atas dua puluh ribu sebelum kita memulai operasi pengambilalihan kerajaan. Kalian paham itu, kan?!”


Kali ini deruman unta lebih menggila, dan hampir semuanya melompat-lompat kegirangan.


“Bagus sekali! Sekarang pergilah, bawa rekan-rekan kalian untuk mengikutiku dalam meniti jalan kebenaran! Bersama-sama kita akan mengukir jalan keagungan!”


Bagaikan kesetanan, unta-unta itu berlari dengan penuh tenaga ke arah gerbang keluar kota.


Gwen tertawa begitu keras melihat para pengikutnya begitu bersemangat. Saking keras tawanya, dia sampai terbatuk-batuk. Tetapi itu tak menghentikan kegembiraan hati Gwen. Saat ini ia bisa membayangkan dirinya berdiri di atas pilar tertinggi istana setelah memaksa orang-orang idiot itu untuk tunduk secara total.


Sibuk dengan tawanya, Gwen tidak menyadari kalau orang-orang yang mengamatinya dari jarak yang agak jauh juga sedang tertawa terpingkal-pingkal. Tidak, mereka sama sekali tidak sedang merendahkan atau menghina Gwen. Sebaliknya, mereka sangat menyukai Gwen. Sudah bukan rahasia lagi kalau melihat interaksi Raja Unta dengan para untanya telah menjadi aktivitas yang efektif untuk menghilangkan stres akibat pekerjaan yang melelahkan.


Memang, para warga dan pekerja lain di peternakan terkadang jengkel dengan ocehan Gwen yang menganggap dirinya jenius. Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang membenci Gwen. Jika dilakukan survei, orang yang akan menempati peringkat pertama sebagai orang yang paling populer dan disukai di Agrippina ini sudah pasti Gwen Rushtalia.


Gwen tidak menyadarinya, unta-untanya juga tidak, tetapi para warga benar-benar menyukai keberadaan mereka. Saking sukanya, mayoritas warga akan mengatakan kalau kota akan terasa hambar tanpa kehadiran mereka.


…Dan perjalanan Gwen masihlah panjang.


...#####...