Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 49: Real and Fake, part 5



Qibtya masih berada di balkon menara tertinggi istana saat tiba-tiba ia mendengar langkah kaki yang sedang menaiki anak tangga di dalam menara – mereka sudah berada di bagian atas, hanya dalam belasan detik akan muncul dari lorong pintu yang ada di ujung balkon.


Venia masih belum kembali dari mengatasi ancaman yang akan mematikan kerajaan. Gelombang pasir itu memang tak lagi terlihat. Tetapi barangkali Venia memerlukan lebih banyak waktu untuk mengembalikan kondisi padang pasir yang luas ke sedia kala. Jadi, bukan Venia pemilik langkah kaki itu. Apalagi jumlahnya bukan satu pasang, melainkan tiga.


Apa mungkin mereka prajurit yang ingin melapor? Namun, bagaimana jika mereka pembunuh bayaran? Apa Jiren mengetahui keha—


Qibtya tidak melanjutkan apa yang melintas dalam kepalanya. Pemilik tiga pasang kaki itu sudah berada di lantai yang sama dengannya. Qibtya mengenali mereka semua: Achilles el Vermillion, Xavier von Hernandez, dan Menez Helberth. Dan yang paling menyita perhatian, Commander Xavier yang memimpin Menez dan Achilles—padahal Achilles sang perdana menteri. Tetapi yang paling patut dipertanyakan, mengapa Menez berada di sampingnya?


Setahunya, Menez loyal pada El. Dia bahkan keluar dari Deus Chaperon setelah Vermyna mengambil alih New World Order. Terlebih lagi, Commander Xavier adalah orang yang “katanya” membunuh El. Tidak mungkin Menez akan menemani pembunuh El dengan ekspresi tenang seperti itu. Jika Commander Xavier benar-benar membunuh El, Menez takkan mungkin ada di sampingnya.


Mengobservasi sang commander dengan lebih teliti, Qibtya menyadari postur tubuh Commander Xavier dengan El relatif sama. Jika Commander Xavier memakai pakaian dan topeng yang sama dengan yang El kenakan….


“Ratu Qibtya Ifrt Balqis—”


“Tuan El!” Seruan Qibtya memotong ucapan sang commander. “Bau ini,” gumamnya yang sudah memeluk sang pemuda tanpa permisi, “kau tak salah lagi Tuan El. Benar, kan, kalau kau Tuan El? Kau tak bisa menyembunyikannya lagi; kau tertangkap basah, Tuan El!”


Qibtya punya pikiran gelap untuk merencanakan kematian Twelfth Commander. Ia bahkan mempertimbangkan menjadi bagian dari kekaisaran dengan syarat mereka harus memenggal kepala sang commander. Walaupun ia yakin El belum mati, tetap saja Twelfth Commander harus dimatikan. Dia telah mengancam masa depannya. Siapa yang akan membantunya menciptakan penerus bagi kerajaannya ketika El tak ada untuk memberinya benih?


Tetapi hal itu tak perlu ia pikirkan lagi. Firasatnya yang mengatakan kalau El masih hidup sungguh benar. Tubuh tegapnya terasa pas untuk ia peluk – kehangatan tubuhnya sungguh membuatnya candu. Qibtya mengabaikan fakta kalau sebelumnya ia punya niat untuk membuat orang ini mati. Ia tidak berpikir identitas asli El adalah Commander Xavier; ketidaktahuannya bisa dimaafkan.


“…Dan aku berpikir untuk membuatmu terkejut.”


Qibtya—yang asyik membenamkan wajahnya sembari menghirup dalam-dalam aroma tubuh sang commander—menengadahkan wajah dengan muka berseri. “Kau tak berniat begitu,” tukasnya. “Kau ingin aku tahu sedari awal, makanya Menez berada di sampingmu. Benar, kan, Tuan El?”


“Aku tak bisa menyangkal kalau argumenmu begitu. Dan, namaku Xavier von Hernandez – kuharap kau memanggilku dengan nama asliku. Tapi sebelum kita bicara lebih jauh, bisa kau lepaskan pelukanmu? Pandangan tajam Achilles seakan menusuk menembus kepalaku.”


...—Dimensi Lain—...


Pertarungan antara Fie dan Vermyna masih belum usai. Namun, kali ini Vermyna yang lebih mendominasi. Setiap serangannya meninggalkan luka yang menganga pada tubuh Fie, sedang serangan Fie mayoritasnya sudah bisa ia hindari. Kemampuan Nizivia yang sekarang ia andalkan sungguh sangat membantu. Mungkin, jika anak keduanya yang nanti akan ia buat bersama Xavier berjenis kelamin perempuan, ia akan menamainya Nizivia Hellvarossa.


Vermyna memiringkan kepalanya menghindari pukulan berkekuatan super sang nephalem. Pada saat yang bersamaan, belati di tangan kirinya berhasil menebas tangan kanan Fie sampai putus. Meski hal itu harus dibayarnya dengan menerima tendangan di perut, Vermyna tidak menunjukkan kesakitan. Bersamaan dengan tubuhnya yang terpental ia berhasil membawa serta tangan kanan Fie yang berhasil ia putuskan.


Fie memandang horor saat Vermyna memasukkan tangan kanannya ke mulut. Itu tindakan kanibal! Setidaknya, itu apa yang ingin ia teriakkan. Namun, mata Fie sempat melihat kalau Vermyna terlebih dahulu menggunakan darah untuk meleburkan tangannya sebelum ia telan. Dia mengubah tangan Fie menjadi darah dan menelannya sampai habis. Itu menjijikkan.


Namun, Fie tak punya waktu untuk mengekspresikan kejijikan yang ia rasa. Vermyna sudah berada di hadapannya dengan seringaian gila di wajah. Tangan kanan Fie masih belum beregenerasi secara penuh, jadi ia menggunakan tangan kirinya berusaha mengenyahkan makhluk penghisap darah ini. Fie melepaskan tenaga penuh dalam lesatan tangan kirinya.


Mengejutkan sang nephalem, Vermyna menangkis pukulannya dengan mudah dan bahkan sampai mencengkeram lengannya. Kedua belati darahnya sudah tak lagi tergenggam di kedua tangan, keduanya sudah menusuk kedua sisi perut Fie tanpa ia sadari. Pada saat ini pula Fie menyadari satu hal fatal: [Anti Magic]-nya tak lagi bekerja pada sihir Vermyna!


Ucapan Fie tertahan. Laser ungu yang dibaluti energi kehidupan telah menembus bagian belakang lehernya hingga keluar dari bagian depan. Vermyna yang di hadapannya juga ikut terkena – dia langsung meluruh menjadi gumpalan darah yang besar. Dan sebelum Fie sempat mempertanyakan apa pun, jantungnya telah tertusuk. Tangan kiri Vermyna menerobos keluar dari pertengahan kedua dadanya.


“Kesalahan terbesar dirimu adalah membiarkan diriku mengonsumsi darah dirimu,” bisik Vermyna dari belakangnya. “Sekarang diriku kebal terhadap [Anti Magic] dirimu. Yang artinya, dirimu sudah tidak lagi berada dalam level yang sama dengan diriku.”


Fie menemukan dirinya tak lagi bisa bergerak. Darah Vermyna telah menyusup memasuki sistem peredaran tubuhnya, mengontrol setiap kinerja tubuhnya. Fie bahkan telah kehilangan kontrol akan kedua sihirnya. Ia benar-benar dalam keadaan tak bisa bergerak, tak berdaya. Tak ada yang bisa Fie lakukan untuk keluar dari situasi.


“Kau! Jangan pi—”


“One World, Unification.”


Vermyna tak membiarkan Fie mengeluarkan kalimat apa pun. Begitu ketiga kata itu keluar dari mulur leluhur para iblis dan vampire, jeritan yang memekakkan keluar dari mulut sang nephalem. Makhluk yang sebelumnya dianggap sebagai yang terkuat (mengesampingkan Edenia), sekarang menjerit kesakitan seperti setiap makhluk lemah di ambang kematian.


Namun, jeritan itu tidak berlangsung lama. Jeritan kesakitan itu langsung padam saat tubuhnya mulai meluruh menjadi gumpalan darah. Fie yang sebelumnya berwujud nephalem, sekarang telah sempurna berubah menjadi gumpalan darah. Dan Vermya tak menyia-nyiakan kesempatan – ia langsung menelan gumpalan darah Fie berikut gumpalan darah miliknya.


“…!”


Tubuh Vermyna menegang saat baru setengah jumlah darah yang memasuki mulutnya. Matanya melebar saat mendapati sebuah tangan keluar dari rongga dadanya.


“Aku punya dua nyawa,” bisik suara dari belakangnya, yang tak lain adalah Fie Axellibra dalam wujud nephilimnya. “Aku terpaksa mengorbankan tubuh nephalemku, tapi itu harga yang tak seberapa.”


Fie mencengkeram jantung yang ia tarik keluar dari rongga dada Vermyna, membuat sang ratu para vampire memuntahkan kembali semua darah yang sudah dia telan.


“Ini akhirmu, Vermyna Hellvarossa.” Fie berkata dengan intonasi yang datar. “Kau luar biasa kuat. Aku mengakui itu. Kau benar-benar pantas menjadi anomali yang pertama. Dan karena itu pula, riwayatmu harus tamat di sini. Mati dan bina—!”


“Siapa yang dirimu suruh binasa?”


Pertanyaan itu datang tepat dari belakang Fie. Dan bersamaan dengan itu, Vermyna yang jantungnya ia cengkeram melebur kembali menjadi darah. Ini yang kedua kalinya. Tapi bagaimana bisa? Fie benar-benar yakin yang jantungnya tadi ia cengkeram adalah Vermyna asli. Bagaimana ia bisa salah?


“Ba-Bagaimana bisa?” tanya Fie diiringi muntahan darah yang keluar dari mulutnya—tangan kiri Vermyna baru saja menusuk punggung bagian kirinya sampai tembus keluar dari dada sebelah kiri.


“Saat di mana diriku meminum darah dirimu, diriku mengetahui segala kemampuan dirimu. Tentang nyawa dirimu yang ada dua, diriku tahu itu. Ini kekalahan dirimu, Fie Axellibra. Punya kata-kata terakhir?”


...»»» End of Chapter 49 «««...