
22.439. Itu adalah jumlah total prajurit yang tercatat dalam catatan statistik kemiliteran Kazarsia Kingdom. Itu bukan jumlah yang banyak. Dan, mengingat kualitas prajurit mereka tak sebanding dengan Imperial Army, satu divisi sudah cukup mengatasi semuanya. Hanya dengan mengirim satu divisi, Kazarsia Kingdom bisa jatuh ke tangan Vermillion Empire. Pun mudah bagi Knight Templar untuk menduduki kerajaan ini. Yang menjadi masalah hanyalah keberadaan Jendral Clown.
Bukan saja pria yang namanya terkenal itu menjadi penghalang bagi pihak mana pun yang ingin menduduki Kazarsia Kingdom, melainkan juga bagi selesainya tugas yang Xavier terima dari Kanna.
Ia sudah mengumpulkan semua informasi yang bisa ia kumpulkan, tetapi kekuatan tempur Jendral Clown masih misteri.
Dalam profil Royal Army, tidak ada informasi spesifik tentang Jendral Clown. Semua informasi yang tertulis adalah apa yang sudah ia ketahui melalui rumor. Prajurit-prajurit lain ada datanya, sihir-sihir mereka tertulis lengkap. Jendral Clown diselubungi misteri. Tidak ada cara lain selain mengetesnya langsung. Namun, untuk melakukan itu, ia harus memancing sang jendral ke luar kota untuk mengindari korban.
Aku harus ke istana sekarang, simpul Xavier sembari memasukkan kembali lembar profil Jendral Clown ke dalam lemari besi.
Xavier tak mencoba menghilangkan jejak. Penting bagi Royal Army untuk menyadari keberadaan penyusup. Hal ini juga akan membantu memudahkan memancing Jendral Clown ke luar dinding kota.
Mengangguk puas, Xavier melangkah ke luar gudang bawah tanah bangunan utama markas Royal Army. Ia tidak merepotkan diri menutup pintu. Xavier terus melangkah hingga kemudian menaiki anak tangga, tetapi tentu saja ia masih dalam lindungan [Reverse Law].
Bersamaan dengan keluarnya Xavier dari ruang bawah tanah, seorang pria berkepala plontos berwajah garang dengan ekspresi datar melangkah menuju tangga ke lantai bawah. Tidak ada hal yang spesial darinya. Kapasitas mana-nya bahkan tak melebihi seorang prajurit Imperial Army yang berbakat. Pria itu terlalu biasa, rata-rata. Tidak mungkin orang sepertinya adalah Jendral Clown yang disanjung-sanjung.
Kepalanya memang plontos, dan Jendral Clown berkepala plontos. Namun, sangat amat tidak mungkin kalau dia adalah Jendral Clown. Itu tak masuk akal. Hanya orang-orang idiot yang akan menduga dirinya sebagai Jendral Clown. Meski belum pernah melihat Shiva, Xavier mengetahui Shiva dari hanya melihatnya. Mengikuti kelogisan itu, tak mungkin ia takkan menyadari Jendral Clown jika dia melihatnya.
Itu adalah impresi Xavier saat melihat pria tersebut. Namun, saat mereka berpapasan, mata pria berkepala plontos dengan luka silang di kepalanya itu sekilas melirik ke arah Xavier. Itu seolah dia mengetahui keberadaan Xavier. Ia tentu saja terkejut. Namun, karena pria berkepala plontos itu tidak berhenti melangkah, kaki Xavier juga tidak berhenti.
Hanya kebetulan? Xavier membatin penuh tanya, tetapi ia tak punya jawaban selain mengangguk pada pertanyaan itu. Pasalnya, pria berwajah sangar itu terlalu lemah, mustahil dia menyadari keberadaan Xavier. Itu sangat tak masuk akal. Kebetulan adalah satu-satunya penjelasan mengapa lirikan mata mereka tadi bertemu.
Sekali lagi mengangguk pada dirinya sendiri, Xavier langsung berteleportasi ke luar bangunan. Kali ini ia akan langsung ke istana.
...———————————...
Kurasa aku harus menyuruh seseorang membersihkan lorong ini, batin Clown tepat saat kedua kakinya menuruni anak tangga. Barusan matanya sempat melirik adanya jaring laba-laba di dinding lorong. Memalukan untuk diakui, tetapi Clown punya phobia terhadap hewan berkaki delapan itu.
Bila perlu aku harus menyuruh beberapa dari mereka untuk mengecek seantero bangunan dan memastikan tidak ada laba-laba, tambahnya dalam hati sembari mengangguk-angguk setuju.
...——————————...
Meski tidak semegah Imperial Palace di Nevada, Royal Palace-nya Kazarsia Kingdom tidak bisa dibilang buruk. Sebaliknya, itu cukup bagus, mampu menyaingi Imperial Palace dalam segi keindahan. Namun begitu, tujuan Xavier menganjakkan kaki di atas dinding pembatas istana bukanlah untuk menikmati keindahan yang istana tersebut miliki.
Tak ingin diam berlama-lama, [Sensory Magic] Xavier langsung bekerja. Dalam sekian milidetik persepsinya sudah menyapu setiap mili area istana. Tidak ada bagian yang terlewat dari jangkauan persepsinya.
Namun…keberadaan Jendral Clown tak ia temukan.
Xavier tak menemukan seorang individu pun yang memiliki kapasitas mana yang mengagumkan.
Dari semua orang di istana, kapasitas mana paling besar hanyalah sekelas seorang kapten—dan itu pun masih lebih rendah dari kaptennya Xavier yang paling lemah. Itu pun hanya ada seorang saja. Sisanya lebih rendah dari itu.
“Apa itu artinya dia sudah mengetahui kedatanganku, dan dengan sengaja meninggalkan istana?”
Itu adalah alasan yang paling logis untuk menjawab misteri di balik ketidakberadaannya Jendral Clown. Jika surat pemberitahuan dari Kanna sudah tiba di istana, bukan hal yang mustahil jika Jendral Clown memikirkan kalau akan ada penyusup yang ingin mencari tahu kekuatannya. Jendral Clown terkenal dengan kemisteriusannya. Jika dia ingin mempertahankan kemisteriusan itu, sangat lumrah jika dia menghindari sang penyusup. Bukan begitu?
Xavier belum pernah bertemu Jendral Clown. Pun ia tidak tahu ciri-ciri sang jendral selain informasi kalau dia berkepala plontos. Sangat masuk akal jika dia akan pergi menyamar di antara para warga, dari jauh mengawasinya. Jika asumsi itu dianggap benar, hal yang efektif untuk membuat sang jendral keluar adalah dengan membuat kekacauan. Namun…Xavier tidak akan melakukan itu.
Hm…apa Jendral Clown telah menebak kalau aku takkan membuat kekacauan?
Mengingat kembali pujian pria tua yang namanya entah siapa itu, Jendral Clown disebut memiliki intelektual yang menakutkan. Dia bisa memikirkan rencana lawannya bahkan tanpa perlu tahu siapa lawannya. Jika begitu adanya, Jendral Clown mengetahui gerak-gerik Xavier sama sekali tidak mengejutkan.
Apa aku harus membuat kekacauan?
Xavier mengernyitkan keningnya, kemudian menggeleng. Ia memiliki banyak waktu sebelum Kanna tiba.
“Aku akan menyisir seluruh kota,” putus Xavier. “Tak peduli sebaik apa dia menyembunyikan diri, dia takkan mampu bersembunyi dari [Sensory Magic] dan [Reverse Law]-ku.”
Mengangguk pada keputusannya, Xavier meninggalkan istana dan mulai mencari keberadaan sang jendral dengan penuh ketelitian.
...——————————...
“Jendral Clown, Anda sudah mengatasi penyusupnya?” tanya seorang prajurit saat Clown keluar dari gudang penyimpanan berkas.
Eh, penyusup itu sudah ke sini?
“Kudengar kalau alasan Jendral Clown ke sini adalah karena Jendral telah mengetahui dia menyusup ke sini. Oh, apa penyusup itu memasuki gudang penyimpanan berkas? Dan karena itu Anda mengecek ke sana?”
Uh…?
“Ah, apa dia telah melarikan diri karena menyadari kehadiran Jendral?”
Clown menahan diri dari memijat keningnya sendiri. Jantungnya yang sedikit berpacu berusaha ia tenangkan. Kemudian, dengan ekspresi yang sangat serius, Clown mengangguk. “Dia menyusup ke dalam, mengecek berkas. Sayangnya, dia sudah terlebih dahulu pergi sebelum aku tiba. Dia…kemampuan menyusupnya sangat tinggi. Perkatatlah penjagaan, dan pastikan kau memberitahu staf agar memeriksa berkas-berkas itu. Segera laporkan jika ada yang hilang.”
Sang prajurit terperangah, kemudian dia cepat mengangguk dan memberi salut. “Kami takkan mengecewakanmu, Jendral!” tambahnya.
Clown mengangguk, menepuk bahu sang prajurit dengan senyum tipis di bibir, dan kemudian melangkah pergi.
A-Aku tidak tahu jika penyusup itu sudah ke sini! Berseru Clown dalam hati sembari bergegas pergi. Aku harus cepa-cepat mengirim para prajurit itu untuk memburunya!
...»»» End of Chapter 21 «««...