
...—Pangkalan Sementara Imperial Army—...
Hekiel dan seluruh anggota Divisi 6 Imperial Army (prajurit dan staf) akan beroperasi di sini hingga konflik di Islan selesai. Meski begitu, itu bukan berarti kontrol pangkalan ini berada di tangan Divisi 6. Pangkalan ini akan menjadi basis militer kekaisaran yang terdekat dengan Ekralina Kingdom—kerajaan yang diasumsikan akan menjadi medan perang utama karena letaknya yang strategis di antara ketiga kekuatan besar. Kontrol penuh berada di tangan staf Divisi 3.
Itu jawaban yang Xavier peroleh saat mempertanyakan kehadiran Hekiel di ruangan besar—yang di tengah-tengahnya terdapat meja oval panjang dengan bagian tengah yang bolong—ini.
“Dan aku juga berpikir untuk bergabung dengan rencana kalian,” lanjut Hekiel. “Agenda Divisi 6 (selain latihan rutin) kosong untuk tiga minggu ke depan. Lebih dari itu, aku punya ide lebih baik.”
“Hekiel ingin kita menyerang pangkalan ini,” timpal Dermyus. “Jumlah prajurit Divisi 6 lebih banyak dari prajurit Divisi 4, 7, ataupun 12. Hekiel berpikir untuk memanfaatkan kita agar dia bisa punya pengalaman dalam mempertahankan pangkalan.”
“Aku tak berpikir itu ide yang buruk, Xavier.” Reinhart ikut berkata. “Latihan kita sebelumnya untuk mengetes satu sama lain, mencoba pertempuran tiga sisi. Dengan ide yang Hekiel tawarkan, kita akan berganti dari berusaha mengalahkan menjadi bekerja sama dengan satu sama lain.”
“Benar yang Dermyus dan Reinhart katakan.” Hekiel mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ini memang tak berbeda dengan latihan-latihan yang sebelumnya sudah dicoba, tetapi saat itu divisiku juga menyerang. Kali ini aku akan melindungi pangkalan ini. Bagaimana menurutmu, Xavier?”
Xavier membawa tangan kanan ke depan bibir, memandang intens pria paling tua dalam ruangan ini. “Kalian yakin itu ide yang baik?” tanyanya dengan serius. “Beda dengan latihan sebelumnya, kali ini takkan ada dinding yang melindungi pangkalan. Serangan nyasar bisa menghancurkan tempat ini. Aku yakin itu bukan hal yang baik, dan divisiku jelas takkan mau bertanggung jawab jika itu terjadi.”
“Hal itu tak perlu kau khawatirkan. Aku pengguna [Earth Magic] terbaik di dunia ini. Kau tak perlu merisaukan tentang kerusakan yang bakal terjadi. Jika pun ada, Divisi 6 akan bertanggung jawab penuh.”
“Itu klaim yang terlalu berani,” komentar Xavier, “tetapi jika sudah begitu maka aku takkan menolak. Divisiku akan menerima idemu, Commander Hekiel. Kapan anggotamu tiba? Aku tak melihat adanya anggota Divisi 6 di sini. Bagaimana pula dengan tempat kalian bermalam? Dari jumlah barak yang ada, aku tak berpikir itu cukup.”
“Sederhana saja, kalian semua akan berkemah di luar.” Gelak tawa keluar dari mulut Hekiel. “Para prajuritku akan tiba sore ini. Jadi, kalian harus sudah meninggalkan pangkalan sebelum itu.”
“Oi, oi, kita belum sepakat dalam hal itu, Hekiel!” Reinhart menolak. “Kami tak membawa perbekalan. Tak ada tenda yang bisa dipakai. Kau juga begitu, kan, Dermyus?”
“Sebanyak apa pun aku ingin membantumu, Commander Hekiel, Reinhart benar.” Dermyus juga menolak mengikuti keinginan Hekiel. “Kami tak bisa berkemah tanpa tenda. Pun aku sudah mengecek gudang penyimpanan di sini: jumlah tenda tak mencapai seribu.”
“Commander Hekiel,” panggil Xavier dengan lengan terlipat di dada—tak merasa terhibur dengan aksi sang Sixth Commander. “Divisi 6 tak punya pilihan lain selain berkemah di luar. Format latihannya kita ganti. Pangkalan ini akan kami kuasai, tugasmu merebutnya. Lalu, jika kau berhasil, kami akan memanfaatkan tenda-tendamu dan kau akan menguasai pangkalan ini. Barulah kemudian kami akan menyerang pangkalan ini dan kau akan mempertahankannya. Kurasa ini adalah jalan tengah yang bisa kita sepakati. Bagaimana menurut kalian, Commander Dermyus, Commander Reinhart?”
Anggukan kedua commander menyelesaikan kesepakatan hari ini; Hekiel terpaksa meninggalkan ruanganan dan kembali mempersiapkan divisinya untuk berkemah.
...—Keesokan Harinya—...
Semua bagian dinding itu dibuat oleh Sixth Commander Hekiel von Vanguarta. Pria berbadan tegap dan kekar itu telah bekerja dari sesaat setelah matahari terbit, dan dia baru selesai sesaat setelah matahari naik melewati tinggi rata-rata tombak. Dan seolah membuktikan klaimnya kemarin, Hekiel tak terlihat lelah setelah menciptakan dinding-dinding itu dengan sihir tanahnya.
“Apa kau akan berpartisipasi dalam upaya penaklukan yang akan divisimu lakukan nanti?” tanya Xavier sembari menghampiri sang commander. “Kita masih belum membahas apakah kita akan ikut serta atau tidak. Aku sudah mendengar tentang kekuatanmu, tetapi aku belum melihatnya secara langsung.”
Hekiel tertawa mendengar pertanyaan Xavier, kemudian mengalihkan pandangan pada Reinhart dan Dermyus yang juga melangkah menghampiri mereka. “Bagaimana menurut kalian? Apa kita juga harus ikut serta? Inti dari latihan ini adalah mengetes para prajurit, tetapi kurasa mengetes satu sama lain juga tak buruk.”
“Oh, aku punya penawaran lain,” sela Xavier sebelum Dermyus dan Reinhart sempat menjawab. “Tiga lawan satu. Kalian bertiga, aku sendiri. Kurasa ini adalah solusi yang lebih tepat. Aku tak punya keraguan kalau kalian takkan berkutik menghadapiku jika satu lawan satu. Bagaimana?”
Secara serentak Dermyus, Reinhart, dan Hekiel melayangkan tekanan membunuh pada Xavier. Mana menguar hebat dari tubuh mereka bertiga. Namun, kobaran mana dan tekanan yang Xavier keluarkan dari tubuhnya seketika menghempaskan ketiga commander.
“Aku tidak sedang arogan atau meremehkan kalian,” katanya dengan tenang—tanah di bawah kakinya beretakan dengan hebat. “Tetapi ini adalah kenyataan. Aku commander terkuat. Tidak adil jika kita bertarung satu lawan satu. Tiga lawan satu. Ini juga menjadi tes bagi kalian dalam menghadapi musuh yang kuat. Bagaimanapun juga, kekaisaran kali ini memiliki musuh yang kuat-kuat.”
“Sulit melawan ucapanmu setelah kau menghempaskan kami hanya dengan melepaskan energi saja,” kata Dermyus yang sudah kembali tenang. Well, dia memang tidak terlihat kesal sejak awal. Tidak ada yang terlihat kesal. Apa yang mereka lakukan adalah hal normal untuk menunjukkan kalau mereka seorang commander, bukan prajurit kaleng-kaleng.
Reinhart mengedikkan bahu. “Bagaimana denganmu, Hekiel, apa kau sudah siap sedikit membungkam mulut besar Xavier?” tanyanya pada sang commander.
“Hm…jika Xavier mengklaim diri sebagai yang terkuat setelah menjalani tugas bersama dengan Commander Lilithia, maka kita tak punya pilihan selain bekerja sama. Namun, Xavier, apa itu artinya divisi Reinhart dan Dermyus akan bergabung dengan divisiku?”
Xavier menggeleng kepala dengan cepat. “Kita sparing di tempat lain; biarkan para prajurit bergerak sendiri. Pemimpin pasukan melawan pemimpin pasukan dan para prajurit berhadapan dengan lawan selevel mereka. Bukankah itu apa yang akan terjadi nanti di medan pertempuran?”
Dengan anggukan mengerti Hekiel, kesepakatan pun terjadi. Mereka lantas berbicara tentang tempat untuk sparing dan waktu mereka memulainya. Divisi 6 akan bergerak satu jam setelah makan siang, dan disetujui pula kalau mereka akan bertarung saat sore tiba.
“Aku akan membuat arena yang cocok,” tambah Hekiel setelah waktunya mereka sepakati.
“Tentu saja. Oh, kalian bisa langsung bergabung dengan Commqnder Hekiel,” kata Xavier pada Dermyus dan Reinhart. “Tolong lakukan yang terbaik untuk bekerja sama. Buat perangkap jika perlu. Aku juga ingin mengetes diriku sendiri.”
Dermyus ahli pedang nomor satu kekaisaran. Sihir petirnya yang terbaik. Reinhart punya teknik bela diri yang mematikan. Gaya bertarungnya juga merepotkan. Sementara itu, Hekiel mengontrol elemen tanah semudah bernapas. Siapa pula yang tahu sihir unik apa yang mungkin dia rahasiakan?