
...—23rd January, E643 | Etharna, Favilifna Kingdom—
...
Cainabel dengan mata terpejam mendarat di depan gerbang istana setelah terbang dengan kecepatan tinggi dari perkemahan pasukan New World Order yang berada di bawah komando Minner Ertharossa. Sebuah payung gelap tergenggam di tangan kirinya, memberikan sang vampire perlindungan dari sengatan matahari pagi yang sebetulnya baik bagi kesehatan—bahkan bagi para vampire sekalipun.
Cainabel berada di sini bukan karena kepentingan pasukan NWO, melainkan untuk mendapat jawaban atas tawarannya tempo hari.
Saat ini NWO belum melakukan serangan terhadap Dwarf Kingdom. Hecrust dan para vampire yang mereka bawa memang telah bergabung dengan pasukan Minner tadi malam. Namun, Lucard masih belum kembali. Mereka harus menerima intel darinya sebelum menyerang, apalagi telah ada bendera Knight Templar yang berkibar di beberapa lokasi di Dwarf Kingdom. Maka dari itu, Cainabel memanfaatkan kesempatan yang ada untuk menemui Mary Anna.
Jika sang necromancer setuju, ia bisa langsung mengajaknya bergabung dengan pasukan yang menyerang Dwarf Kingdom. Para undead bisa mengalihkan fokus para dwarf dan Knight Templar, apalagi jika jumlahnya sampai ratusan ribu. Ia dan para petinggi lainnya akan bisa fokus pada penundukan ibukota secata total. Negeri para manusia bertubuh kerdil itu pasti akan kewalahan. Mereka pasti akan jatuh dengan cepat.
“Siapa kau? Apa tujuanmu? Sudah punya izin memasuki istana?”
Cainabel tak bereaksi mendengar rentetan tanya seorang prajurit. Matanya yang semula terpejam seketika terbuka, dan seketika pula sang prajurit terkaget sampai jatuh ke belakang. Pekikan “vampire” yang keluar dari mulutnya langsung membuat para prajurit lain berdatangan. Kurang dari semenit, Cainabel sudah dihadang lebih dari dua puluh prajurit.
“Aku mau bertemu Mary Anna,” ucap Cainabel pelan dan datar. “Panggil dia ke sini, atau aku akan menemuinya sendiri.”
Para prajurit saling memandang satu sama lain. Jika Cainabel manusia, tentu mereka akan mengizinkannya masuk. Namun, Cainabel bukan manusia. Mereka tak memiliki yurisdiksi dalam mengizinkan vampire masuk. Meskipun Cainabel mengenal Mary Anna, bukan berarti maksudnya baik. Vampire tidak dikenal akan kebaikan mereka. Apalagi para prajurit tak mendapat pemberitahuan akan kedatangan vampire.
“Biarkan dia masuk!”
Seruan itu datang belasan meter dari belakang para prajurit. Mereka serentak berbalik. “Pa-Pangeran Basvona, Sir!” pekik mereka kaget, tapi dengan cepat memberi hormat.
“Biarkan dia masuk,” ulang Basvona. “Nona Mary dan Yang Mulia sudah menunggu.”
Mendengar keputusan sang pemimpin, para prajurit tak punya pilihan selain menuruti. Pintu gerbang dibuka, dan Cainabel melangkah masuk.
...—Aliansi Desa Centaur—
...
Atland baru saja menyelesaikan panggilan alam di tepi sungai saat tiba-tiba sebuah kepala melesat ke arahnya. Ia refleks merunduk, tipis menghindari kepala itu. Suatu benturan terdengar di belakangnya, tetapi Atland tak berniat melihat apa yang terjadi pada kepala yang menghantam batu besar di tepi sungai.
“Manusia.”
Panggilan penuh otoritas itu berasal dari mulut wanita cantik berambut hitam. Ciela namanya, wanita misterius yang Vermyna bawa untuk bergabung dengan mereka. Jika bukan karena kearoganannya yang tanpa tandingan, Atland pasti sudah mencoba menggodanya—sebagai latihan untuk semakin membuat Elenoa kelepek-kelepek padanya. Sayangnya, kearoganan dalam diri Ciela membuat kecantikan itu tak berarti di mata Atland.
“Apa yang bisa kubantu, Nona Ciela?”
“Itu kepala yang tersisa dari para penyusup dari Kota Carmel. Katakan itu pada Diametra. Kalian makhluk inferior perlu mempersiapkan diri untuk penyerangan yang akan datang. Jika dalam dua hari tak ada Knight Templar yang menyerang, kalian bisa mulai menyerang. Aku dan Lumeira akan ke Eden sekarang juga. Sudah saatnya kita bergerak.”
Atland tak diberi kesempatan untuk sekadar mengeluarkan sepatah kata. Sang wanita, yang mengklaim diri sebagai iblis (makhluk yang menurut dia superior), sudah menghilang begitu saja. Makhluk terkuat kedua dalam Deus Chaperon itu telah pergi tanpa pamit dan dengan cara yang arogan.
Atland mendengus, tapi tak ada yang bisa ia lakukan. Pemuda ahli pemanah ini hanya bisa mengedikkan bahu dan kembali ke perumahan para centaur.
...—Utara Carolina, Perkemahan Utama Knight Templar—
...
“Fourth Commander dan Seventh Commander tadi malam telah menyusup ke kedua kota bersama sejumlah pasukan. Ninth Saint Dimitar Kolovasteen dan Tenth Saint Marya Ellenswarth terlah terbunuh. Lebih dari setengah pasukan mereka baru tiba belasan menit, sisanya telah terbunuh.”
“…”
Mulut Rodolf membisu mendengar laporan tersebut. Wajahnya sontak memucat. Ia sampai jatuh terduduk di kursinya.
“Saint Rodolf, Sir?”
Rodolf menghiraukan sang prajurit. Keberadaannya telah hilang dari kesadaran sang saint. Tidak ada apa-apa dalam pikiran Rodolf selain bayangan kematiannya. Jika ketiga commander itu memutuskan menggabungkan pasukan lalu menyerang perkemahan, riwayat mereka tamat.
Bagaimana bisa…? Apa mereka telah terlalu arogan dan meremehkan Imperial Army?
Tidak. Imperial Army tak bisa disandingkan dengan Knight Templar. Ini commander mereka!
“Kapan Dame Bedivere tiba?” tanya Rodolf saat kesadarannya kembali ke alam nyata, mata memandang sang prajurit penuh tuntutan.
“Tidak dalam waktu dekat, Sir.”
Untung saja mejanya telah terlebih dahulu terjungkal. Jika tidak maka sang saint pasti sudah mendaratkan tinjunya di atas meja. Ketidakberadaan meja juga membuatnya terpaksa merilekskan diri.
Tenang. Pikirkan dengan matang. Meskipun Dimitar dan Marya terbunuh, mereka tak mungkin tak memberi perlawanan. Kedua commander itu kemungkinan terluka. Mereka tak mungkin akan langsung menyerang secara total dalam keadaan seperti itu.
“Baiklah,” ucap Rodolf untuk dirinya sendiri—dan untuk jawaban sang prajurit. “Kembali dan katakan pada para kapten untuk memperkuat penjagaan. Jangan kirim tim pengintai terlalu jauh. Jika mengirim jauh, pastikan ada lebih dari dua tim yang mendukung dari belakang. Kemudian, suruh tim peneleportasi ke Axellibra. Dame Bedivere harus tiba secepatnya.”
“Siap, Sir!”
Rodolf menghela napas setelah kepergian sang prajurit. Ia telah keluar dari karakter yang ia bangun untuk dirinya sendiri. Ia saint yang bijaksana dan dikagumi para prajurit; tak pantas ia berlaku seperti tadi.
Aku masih harus meningkatkan kontrol diri.
...* * *
...
Perjalanan Divisi 12 Imperial Army masih terus berlanjut. Mereka masih perlu menempuh jarak yang cukup jauh. Jika bukan karena ingin tetap merahasiakan keberadaan [Division Magic] dari siapa pun, Xavier sudah pasti menyuruh belahan dirinya untuk ke wilayah Emiliel terlebih dahulu supaya mereka bisa tiba di sana dengan portal dimensi.
“Commander, Sir!” panggil Amelia sembari berlarian dari belakang. “Kami dapat pesan dari tim intel Divisi 3 di markas.”
“Pesan apa?” tanya Xavier tanpa menghentikan langkah, memaksa sanh kapten untuk mensejajarkan langkah dengannya. Bersama dengan Heisuke, sekarang mereka di barisan paling depan bertiga. “Apa ada masalah di Verada?”
“Tidak, Commander. Ini bukan tentang Verada. Laporan mengatakan kalau pertempuran di Carolina sudah memanas. Tiga saint telah terbunuh. Mereka memperkirakan situasi akan semakin memanas. Kita diminta untuk bergerak dengan kecepatan tinggi. Divisi 1 bisa tiba di Axellibra hari ini juga. Kapan penyerangan dimulai, semuanya tergantung kapan kita tiba.”
Xavier harus mengaku kalau ia terkejut, tetapi itu bisa diekspektasikan dari Reinhart, Dermyus, dan Hekiel. Commander terlemah di Imperial Army saat ini adalah Emily, Cleria, lalu Edelweiss. Dan mereka bertiga takkan berpartisipasi aktif dalam perang. Emily dan Cleria akan fokus pada pertahanan bersama Gilbert, sementara Edelweiss memimpin Divisi 3 dengan sangat baik.
Knight Templar telah melakukan kesalahan fatal karena meremehkan Imperial Army.
“Baiklah. Heisuke, kita berhenti selama satu jam. Setelah itu kita ke Axellibra dengan kecepatan penuh.”