
Arthur Lancedragon dan wakilnya berhenti tepat sebelas meter di hadapan Kanna.
“…Jika aku dan Merlin kalah, atau salah satu dari kami terbunuh, Ordo 1 Knight Templar akan menyerah. Namun, jika kau yang kalah atau terbunuh, kedua divisi Imperial Army berikut kedua commander mereka harus menyerah juga. Bagaimana, Yang Mulia, apa jawaban ini bisa diterima?”
Kanna memejamkan mata dan menghela napas lega atas keputusan yang telah dibuat sang saint. Ia tentu saja bisa mengatasi mereka tanpa harus membunuh mereka semua. Kanna bisa langsung mengurung mereka semua dalam barier dimensi dalam sekejap, kemudian langsung melanjutkan perjalanan ke lokasi lain. Itu cara yang simpel dan sangat mudah untuk dilakukan.
Namun, dengan menjadikan masa depan sebagai pertimbangan, Kanna ingin mereka semua mengerti kalau ia bukan tiran. Mereka akan hidup dalam kekuasaannya setelah peperangan selesai. Kerja sama mereka diperlukan demi menjaga stabilitas dan menghindari pemberontakan besar-besaran. Tujuan perang ini untuk menegakkan kesatuan dan perdamaian; Kanna tak bisa melakukan hal yang membuat mereka memandangnya sebagai monster.
“Itu jawaban yang kuinginkan,” jawab Kanna pada akhirnya. “Jika aku terbunuh, kedua divisi akan menyerah hanya jika kalian menjamin keselamatan mereka sebagaimana aku menjamin keselamatan prajurit kalian.”
“Atas nama LANCEDRAGON, takkan ada kematian bagi mereka. Kami akan perlakukan mereka dengan baik.”
“Kalau begitu kita sepakat.” Kemudian Kanna menoleh pada Herena dan Darminic. “Beri kami ruang. 100 meter cukup.”
Tiga menit kemudian, kedua kubu pasukan sudah tidak lagi berada di belakang pemimpin-pemimpin mereka. Prajurit Knight Templar berbaris pada jarak 115 meter di belakang Arthur, sedang dua divisi Imperial Army berada 100 meter di belakang Kanna. Untuk membuatnya lebih aman, Kanna menciptakan empat replika kurtalægon dan melemparnya ke empat penjuru. Tepat lima detik kemudian, barier transparan berbentuk kubus—dengan panjang sisi 200 meter—tanpa tutup telah berdiri kukuh.
“Majulah kapan saja kalian siap,” gumam Kanna sembari memasang kuda-kuda bertarung, genggaman pada kedua pedangnya menguat.
Dengan tubuh yang berselimutkan zirah petir, Arthur langsung melesat maju. Sementara itu, Merlin menciptakan hampir tiga puluh pedang merah berpendar. Dua dia genggam, dua melayang di kanan dan kirinya, dan sisanya melesat ke berbagai arah. Mengingat bagaimana wanita itu tiba, Kanna bisa menyimpulkan kalau kesemua pedang yang dibuat itu berguna untuk meneleportasikan dirinya.
Mata Kanna dengan cepat berpindah pada Arthur yang menghunuskan tombak berbalutkan petirnya. Ia spontan saja mengarahkan pedang di tangan kiri untuk memukul tombal dengan bilah pedang, mencoba menepisnya ke kiri. Namun, mengejutkan Kanna, pedangnya dalam sekejap sudah menjadi seukuran telunjuk jari. Bukan saja pedang di tangan kiri, melainkan juga yang di tangan kanan.
Dan keterkejutan itu dimanfaatkan Arthur dengan sempurna: ujung tombaknya dengan telak menghantam tepat di antara kedua tulang selangka sang putri—tepat di bawah leher.
Kali ini yang terkejut adalah Arthur. Ujung tombaknya tak menembus kerah armor yang sang putri pakai, tidak pula membuatnya terhempas. Sebaliknya, sang saint justru terhempas ke belakang. Itu seolah-olah tenaga yang dilepaskan tombaknya berbalik menghantam dirinya sendiri.
Kanna tak punya waktu untuk mengejar sang saint, ia dipaksa menyamping menghindari dua laser merah panas yang ditembakkan kedua pedang merah berpijar Merlin. Baru berhasil menghindar, sebuah pedang sudah melesat tepat ke wajah sang putri. Reaksi Kanna sangat normal—reaksi yang mungkin akan dilakukan kebanyakan orang. Ia memiringkan kepalanya ke kiri menghindari laju pedang.
Tetapi mungkin itu adalah reaksi yang salah; itu adalah apa yang Merlin inginkan. Wanita itu tiba-tiba sudah berada di belakang Kanna. Satu tangannya menggenggam pedang yang baru saja Kanna hindari, sedang tangan yang satunya telah mengayunkan sebilah pedang mencoba menebas leher sang putri.
Jika Kanna belum pernah menyaksikan pertarungan Commander Reinhart, serangan Merlin tentu akan bekerja. Namun, bagi Kanna yang sudah melihat bagaimana Reinhart bertarung, kemampuan Arthur lebih mengejutkannya daripada aksi Merlin. Terlebih lagi, ia sudah melihat Merlin berteleportasi ke pedangnya saat dia tadi muncul.
Perisai es retak, dan kedua pedang Kanna telah terlebih dahulu mengecil sebelum mengenai sasaran. Kemudian Merlin lenyap dari posisinya di hadapan Kanna. Dan sejurus kemudian teriakan Arthur menggema.
“Barachiel Thunder Blast!”
Semua petir yang berkerumunan memenuhi awan gelap langsung jatuh menyasar Kanna dalam sekejap.
Sayangnya, usaha Arthur sama sekali tak membuahkan hasil. Semua petir itu terserap oleh formula rune yang muncul di telapak tangan kiri sang putri. Kemudian Kanna mengarahkan telapak tangan kanan pada Arthur yang berdiri bersebelahan dengan Merlin—terdapat formula rune lain pada telapak tangan itu. “Kukembalikan petirmu,” gumamnya, dan seketika petir yang tadi diserap keluar dari tangan tersebut.
Merlin sudah berteleportasi ke salah satu pedangnya yang menancap puluhan meter di kanan Kanna, sedang Arthur tetap berdiri di tempat dengan ujung tombak menyambut datangnya petir.
Arthur terseret belasan langkah ke belakang, tetapi dia mampu menampung semua petir itu dengan tombak dan tubuhnya—terlihat jelas dari petir tebal yang menyelimuti tubuh dan tombak tersebut. Kemudian kuda-kuda Arthur berubah dengan cepat. “Lancedragon Art: Longinus,” bisiknya pelan dengan tombak menusuk udara kosong di depannya.
Secara instan, segala yang ada di hadapan Arthur lenyap dalam lesatan petir berkonsentrasi tinggi. Petir yang bergerak bak laser itu melesat tajam menargetkan Kanna. Sang putri kali ini menghindar dengan melompat ke udara. Ia tak bisa menyerapnya dengan formula rune di tangan kiri; berbeda dengan kemampuan kurtalægon, Kanna perlu menunggu dua menit sebelum bisa menggunakannya lagi. Jika ia nekat, tangannya akan hancur akibat formula rune yang malfungsi.
Merlin memanfaatkan posisi Kanna yang lagi di udara dengan baik; puluhan laser merah panas menyasarnya dari berbagai arah.
“Rune Ice Magic: Empress Law.”
Lebih cepat dari puluhan laser yang melesat, segala di dalam barier kubus tak beratap—selain Kanna sendiri—membeku.
Merlin, pedangnya, lasernya, bahkan Arthur dan tombaknya seketika membeku total. Begitu juga dengan udara, terlihat jelas dari kristal es yang memenuhi ruang. Segalanya membeku. Tak ada yang diizinkan untuk tak membeku. Itulah Empress Law—spell yang membekukan segalanya selain sang pemilik spell. Spell yang Kanna ciptakan dengan menggabungkan [Rune Magic] dan [Ice Magic], terinspirasi dari sihir sang ayah.
Begitu kedua kakinya mendarat, Kanna lantas memanifestasikan dua replika kurtalægon dan melemparkannya ke arah Merlin dan Arthur yang membeku. Begitu mengenai target, seketika kedua replika pedang itu melebur menjadi rangkaian rune yang meliliti tubuh Arthur dan Merlin yang membeku.
Kanna menjentikkan jarinya, dan seketika semua es hancur berkeping-keping—kecuali tubuh Arthur dan Merlin. Tubuh kedua orang itu perlahan kembali normal. Dan sejak pertarungan dimulai hingga detik ini tiba, baru 21 detik berlalu.
“Apa kalian mengaku kalah? Atau, aku harus membunuh salah satu dari kalian terlebih dahulu?”