Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 8: Defeat in Victory, part 4



Dalam satu gerak waktu yang sama, semua Spatial Spear (yang warnanya hitam kelam) sirna dari alam eksistensi. Bukan tombak ruang saja yang hilang, semua Vermyna (selain yang asli) juga lenyap tak bersisa. Beberapa gelembung dimensi yang berada di dalam arena juga turut lenyap. Itu seolah sengaja dihilangkan sang pembuat, tetapi sungguh bukan.


“Butuh bantuan?” Sebuah tangan terulur ke depan bersamaan dengan bunyi tanya yang hanya berisikan dua kata itu.


Kanna tidak membiarkan uluran tangan itu berlama tak bersambut, tangannya dengan cepat meraih tangan itu. Pasalnya, suara itu sudah jelas milik siapa. Pun ekspresi itu nyata milik commandernya. Dan yang paling jelas, Kanna merasakan Xavier lebih kuat dari sebelumnya. Lebih dari itu, Xavier yang membantunya berdiri ini adalah Xavier yang lebih kuat dari saat menghadapi Undead Thevetat.


“Apa yang terjadi?” tanyanya ingin tahu, pasalnya ia tak mendapati keberadaan El sama sekali. Ini seperti apa yang terjadi saat pembelahan diri oleh [Division Magic] kembali ke tubuh asli. Akumulasi perkembangan keduanya terakumulasi menjadi satu, membuatnya lebih kuat dari yang sebelumnya.


“Nanti kujelaskan. Sekarang fokus kita adalah makhluk itu. Dia lebih kuat dari siapa pun yang pernah kutemui sebelumnya.”


Kanna mengangguk antara mengerti dan setuju. “Dia memiliki semua kekuatan Nizivia; aku tak bisa mendaratkan serangan padanya,” katanya pelan—rasa sakit yang mendera tubuh bagian dalamnya sudah tak lagi terasa. “Untuk mengalahkannya, kita harus mengurungnya dalam ruang anti-ruang dan anti-wak—ah, kita bisa mencoba ruang anti-sihir.”


“Kau bisa membuatnya?”


“Untuk mengekang makhluk sekaliber dia, aku memerlukan banyak waktu. Berapa lama kau bisa menahannya?”


Bibir Xavier melengkung. “Selama yang kau perlu,” katanya, dan dia sudah melesat memangkas jarak antara dirinya dan Vermyna sebelum Kanna sempat merespons.


Mengesampingkan berbagai pertanyaan (yang menuntut jawaban) yang mendominasi kepalanya, Kanna fokus pada apa yang menjadi bagian tugasnya. Lingkaran sihir hitam yang di dalamnya terdapat lingkaran sihir hitam yang lebih kecil muncul di bawah kaki Kanna, sedang kedua tangannya terentang dengan jemari yang menari-nari memunculkan aksara kuno yang ditulis dengan mana. Parallel Mind of Raphiel akan melindunginya jika sewaktu-waktu Vermyna menciptakan klon dan menyerangnya.


...* * *...


“Apa yang terjadi pada dirinya?” tanya Vermyna sembari menghindari rentetan laju kedua kepalan tangan Xavier. “Diriku sama sekali tak merasakan kehadiran dirinya di mana pun. Itu seperti diri Luciel musnah tak bersisa.” Kalimat terakhir Vermyna ucap dengan berbisik.


Nizivia dengan [Complete Sensory]-nya dapat merasakan jiwa Luciel di dalam raganya; jelas Vermyna agak terkejut saat dia tak bisa merasakan jiwa Luciel sama sekali.


“Kau menggunakan [Complete Sensory] jauh lebih baik dari Nizivia,” komentar Xavier, sama sekali tak tertarik meladeni pertanyaan sang leluhur para iblis. “Tak mengherankan Kanna—dan sekarang aku—tak bisa mendaratkan satu serangan pun.”


Bahkan setelah Xavier menggunakan Lightning Armor di atas Enchanted Flame Armor, situasi tak berubah. Tombak-tombak api hitamnya tak bisa menyentuh target. Gelombang petirnya hanya menghantam ruang kosong. Vermyna dengan [Complete Sensory] dan [Teleportation Magic]-nya adalah kombinasi yang super merepotkan.


Xavier sudah siap mengorbankan banyak mana untuk menghentikan mobilitas Vermyna dengan [Reverse Law], tetapi sang leluhur para iblis sudah terlebih dahulu menghindar dan balik menyerangnya dengan gelembung-gelembung dimensi yang dia ledakkan dalam seruan “Dimensions Blast”.


Tentu saja serangan tak berarti bagi Xavier. Ia juga bisa berteleportasi. Ini adalah pertarungan dalam level tinggi yang mengandalkan kecepatan dan teleportasi. Tidak ada serangan super destruktif; hanya murni tentang kecepatan. Dan tentu saja Xavier tak diuntungkan. [Complete Sensory] merasakan pergerakan setiap otot tubuhnya, membuat Vermyna selalu bisa menghindar sebelum serangan Xavier sempurna mendarat.


Karena itu kali ini Xavier mengubah caranya, ia berhenti dengan kedua telapak tangan dalam keadaan menyatu. Karena sekarang jiwa Luciel telah sepenuhnya dikonsumsi Magic Container-nya, Xavier sekarang bisa menggunakan Blessing of Divine. Dengan mendapatkan kemampuan itu, sekarang ia bisa mencapai puncak [Reverse Law]—hal yang membuat [Reverse Law] lebih menakjubkan dari semua Supreme Magic, setidaknya baginya dan Luciel.


Grand Order: kekuatan yang membuatnya dapat memerintah Hukum Semesta, bukan lagi membalikkan hukum dalam semesta. Lebih dari itu, ia tidak perlu memusatkan fokus pada objek yang ingin dikenai [Reverse Law]. Semesta melakukannya untuk Xavier. Selama jaraknya dan target tak terlalu jauh, Grand Order tidak akan gagal selama perintahnya jelas.


Jumlah mana yang lenyap dari tubuh Xavier luar biasa besar. Hampir sembilan puluh persen kapasitas mana-nya telah meninggalkan tubuh Xavier. Hal itu menunjukkan kalau entitas bernama Vermyna Hellvarossa adalah makhluk yang berada dalam kelasnya sendiri.


“—Don’t Move.”


Perintah Xavier menyata dengan cepat.


Vermyna yang sedang menciptakan tombak dimensi tiba-tiba menjadi kaku tak bergerak. Namun begitu, tombak sihirnya tak luntur. Meskipun tubuhnya terlihat tak bergerak, kesadarannya masih ada, dan sihirnya masih dalam kendali. Hanya saja, dia takkan bisa bergerak. Xavier tidak tahu berapa lama perintah itu bertahan, karenanya matanya dengan cepat melirik pada Kanna yang berdi—


“Jangan mengalihkan pandangan dari lawan. Great Lightning Explosion.”


—Xavier terpental akibat hantaman yang perutnya terima, kemudian ledakan petir yang besar menelan seluruh tubuhnya. Bersamaan kurang dari sedetik setelah itu, rentetan Spatial Spear turut berpartisipasi menghantam Xavier.


Xavier mendarat dengan satu kaki berlutut. Tubuhnya masih berasap akibat ledakan tadi. Jika ia sedikit lebih lambat dalam menggunakan [Reverse Law], tentu ia akan merasakan rasa sakit yang tidak menyamankan. Dan untungnya lagi Spatial Spear datang lebih lambat dari ledakan, ia jadi sempat menghilangkannya.


“Bagaimana kau bisa bergerak?” tanya Xavier seraya berdiri, ekspresi penuh tanya mewarnai wajahnya. Pasalnya, itu adalah Grand Order, puncak dari [Reverse Law]. Jika pun akhirnya dia bisa bergerak, itu setidaknya membutuhkan waktu yang tak sedikit, bukan hanya beberapa detik seperti yang terjadi pada Vermyna.


“[Reverse Law], itu sihir yang memiliki kelebihannya sendiri. Namun sayangnya, sihir seperti itu kurang tepat jika dirimu gunakan pada diriku. Dirimu bisa menganggap keberadaan diriku sebagai anti-[Reverse Law].”


“Tapi tadi kau sempat tak bisa bergerak.” Xavier yakin itu bukan salah lihat; tadi Vermyna memang sempat tak bergerak.


“Tentu saja. Kekuatan diriku saat ini belum sempurna benar. Itu saja alasannya. Dan tak lama lagi dirimu akan bisa melihat bagaimana saat kekuatan diriku sempurna. Itu tentu saja jika dirimu bisa selamat dari sini.”


Anomali. Xavier yakin itu berhubungan dengan kekuatannya sebagai makhluk tak normal. Tidak ada penjelasan lain.


“Bagaimana, ingin melan—oh, sepertinya diri sang putri sudah selesai membuat medan anti-sihir.”


Xavier tidak perlu melihat ke arah Kanna untuk memastikannya. Lantai arena yang dipenuhi aksaran Rune sudah cukup sebagai jawaban. Pun itu diperkuat dengan kubah transparan yang meliputi seantero arena yang super luas ini.


“Kau tak mencoba menghentikan ruang anti-sihir ini.” Kanna yang dalam sekejap sudah berada di samping Xavier bergumam. Xavier sendiri menyadari hal itu sekarang; Vermyna sedikit pun tidak memedulikan apa yang Kanna lakukan.


“Benar, diriku tak mencobanya. Tapi mari abaikan hal itu, sekarang saatnya menyelesaikan semuanya. Ini akan menjadi latihan bagi diriku sebelum menghadapi Fie. Diriku makhluk yang rendah hati. Karenanya, tak perlu menahan diri; maju dengan segenap kemampuan diri kalian.”


≠\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=≠


#Grand Order lebih kuat dari mantra perintah dalam "Fate/Series", tetapi (dalam hal tertentu) lebih lemah dari Absolute Obedience/Absolute Submission dalam "Code Geass".