
Kegeraman Sataniciela spontan bergantikan amarah saat ia menyadari satu hal sakral tentang tubuh tempat jiwanya bernaung ini: Ia bukan lagi seorang wanita; organ kewanitaannya menghilang. Tubuh yang jiwa Sataniciela berada di dalamnya ini adalah seonggok pria ‒ itu terbukti jelas dari apa yang bisa ia rasakan di antara kedua selangkangannya. Menjijikkan.
“Mulai hari ini nama dirimu menjadi Satan, atau Sataniel. Terserah yang mana. Jelasnya, dirimu tak bisa lagi memanggil diri sebagai Sataniciela. Dirimu bukan lagi wanita.”
Naik pitam, Sataniciela tak berpikir dua kali untuk menyalurkan amarahnya; tubuhnya telah melesat dengan sendirinya menyerang makhluk hina yang telah mencuri tubuhnya. Dua tombak hitam terbentuk di kedua tangan. Pun tubuhnya sudah berbalutkan percikan petir yang menggelegar.
Namun, belum sempat ujung senjatanya menyentuh target, tiba-tiba tubuhnya dipaksa berhenti oleh sesuatu yang tak bisa diindra, dan sebuah tendangan mendarat dengan telak di wajahnya, membuat tulang hidungnya patah dan ia terhempas dengan kuat ke belakang.
Manusia bangsaaat! Teriak dalam hati Sataniciela sembari memaksa hidungnya beregenerasi; ia mendarat dalam keadaan satu kaki berlutut. Meski hidungnya sudah beregenerasi, tetapi bekas darahnya masih terlihat jelas.
Mendecih, Sataniciela coba berdiri, tetapi seketika ia menemukan dirinya tak bergerak dalam gelembung ruang.
Berbeda dengan sebelumnya, kali ini Sataniciela dihentikan oleh waktu, bukan oleh sesuatu yang abstrak hingga tak bisa dipersepsikan. Dan tak berhenti sampai di situ, gelembung yang mengurungnya ditelan portal hitam keunguaan yang pekat. Sataniciela lantas menemukan diri berada dalam dimensi yang dipenuhi tak berhingga dimensi.
...———...
Xavier menarik matanya dari memandang bekas gelembung dimensi yang mengurung Sataniciela berada, kembali memfokuskan pandangan pada makhluk yang tak jelas lagi rasnya apa.
“Urusan diriku sudah selesai di sini,” kata Vermyna sembari berdiri ‒ singgasananya menghilang ke dalam portal dimensi. “Diriku berterima kasih pada dirimu karena telah secara tak langsung membantu diriku mendapatkan tubuh ini kembali.”
Xavier mengernyit—untuk pernyataan itu dan juga untuk alasan lain. Memang, ia sudah mendengar dari Elmira kalau Neix mabuk cinta pada Vermyna Hermythys. Pun ia sudah berasumsi kalau Vermyna hanya memanfaatkan mereka. Namun begitu, konfirmasi selalu diperlukan.
Karena itu, kali ini Xavier tak segan melepas tanya: “Apa hubunganmu dengan Eternity? Sataniciela datang dari arah Lembah Terlarang Ed, dan Lembah Terlarang Ed adalah tempat di mana Eternity berada.” Xavier menjeda sejenak, sebelum melanjutkan. “Mereka alatmu?”
“Memanggil iblis sekaliber Sataniciela saat gerbang neraka disegel bukanlah hal yang mudah. Diriku memerlukan korban yang tak sedikit.” Bibir Vermyna melengkung tipis. “Dan dirimu tidak perlu memikirkan mereka lagi. Semua anggota Eternity dan pasukan Knight Templar yang berada di lembah terlarang sudah musnah. Mereka telah cukup berguna juga.”
Ah, rata-rata orang memang tidak memedulikan apa pun asalkan itu dapat membantu mereka mewujudkan keinginan. Cara tidak penting, yang utama hasil akhir. Ini adalah dunia yang seperti itu. Tidak perlu heran sama sekali. Xavier sendiri pun begitu.
“Sepertinya dirimu tidak lagi punya pertanyaan. Kalau begitu, diriku pergi sekarang. Sampai bertemu lain kali.”
Seolah dia tak berada di sana, Vermyna menghilang tak berjejak.
Xavier tidak tahu hendak ke mana makhluk itu pergi. Pun saat ini tak ia pedulikan. Memang, ada kemungkinan dia memaksa Sataniciela untuk menjadi bawahannya, tetapi tidak ada yang bisa ia lakukan untuk menghentikannya. Jika ia ingin punya kesempatan mengalahkan Vermyna, ia memerlukan bantuan Kanna—dan juga Nueva. Vermyna terlalu kuat untuk dihadapi satu lawan satu.
Menghela napas, Xavier mengalihkan pandangan ke sekeliling: kekacauan adalah apa yang matanya lihat.
Menghela napas sekali lagi, Xavier menghendaki [Reverse Law] untuk menginversikan lingkungan pertarungan ke kondisi sebelumnya.
Oh, mana yang terkuras lebih banyak dari mana yang diperlukan untuk menghentikan mobilitas Sataniciela….
“Siapa yang kau hadapi? Kau sudah menghabisinya? Aku tak melihat satu mayat pun. Dia melarikan diri?”
Suara dingin itu milik Lilithia. Xavier tidak perlu berbalik untuk tahu itu. Selain karena suaranya tidak asing, ia memang merasakan kehadiran sang first commander.
“Seorang iblis,” jawab Xavier sembari berbalik. Tidak perlu merahasiakan apa yang terjadi; memberitahukan hal yang sebenarnya lebih efektif. “Aku hampir menghabisinya, tetapi dia diselamatkan Vermyna Hellvarossa. Sekarang Vermyna telah pergi entah ke mana.”
“Benar.” Xavier tak mengelak. “Dia mengatakan tak tertarik untuk membunuhku. Mungkin ini karena dia ingin memanfaatkan kekaisaran untuk melemahkan Emiliel Holy Kingdom. Terlebih lagi, dengan tewasnya El, sekarang New World Order berada dalam kepemimpinan Vermyna. Jika kekaisaran dan Emiliel Holy Kingdom berperang dengan kekuatan penuh, keduanya akan kehilangan banyak pasukan, dan itu akan memuluskan bagi New World Order untuk menundukkan kedua negeri sekaligus.”
Kanna telah mengatakan pada yang lainnya kalau El tewas di tangan Xavier. Pun telah sangat jelas kalau Vampire Kingdom membela Elf Kingdom. Jadi, tidak ada yang perlu dipermasalahkan dalam ucapannya. Ia tidak memberi informasi yang seharusnya tak ia ketahui.
“Begitu? Baiklah. Aku mengerti ucapanmu.” Lilithia mengangguk pada dirinya sendiri. “Aku akan kembali ke Nevada sebentar; kau kembalilah ke Etharna. Jika kau bisa memperbaiki kerusakan yang terjadi pada tempat ini, tentu memperbaiki menara dan dinding kota yang rusak tidak akan menjadi masalah.”
Xavier tidak memberi respons, hanya mengangguk melihat sang commander ditelan cermin unik miliknya.
...* * *...
Vermyna menemukan sang nephilim duduk di tepi tebing yang menghadap langsung ke laut luas. Dia tidak sendiri, tetapi Vermyna tidak memedulikan naga yang tidur di samping penguasa tertinggi Holy Kingdom itu. Dan, tanpa memedulikan apa pun, Vermyna melesat dan memberikan tendangan menyamping dengan kaki kirinya ke punggung sang nephilim.
Fie sempat bereaksi, tetapi dia gagal melindungi diri dari tendangan Vermyna. Hal itu sontak membuatnya meluncur deras bagai meteor yang jatuh. Tubuh Fie menghantam permukaan laut, dan dia terus menembus ke dalam air dalam itu. Benturan antara tubuhnya dan permukaan air memicu gelombang yang melesat ke segala arah—saking kuatnya tendangan Vermyna.
“Heh, itu cukup memu—!”
Vermyna tak mampu menyelesaikan ucapannya. Sebuah kepalan tangan telah mendarat tepat di bawah dagu leluhur para iblis. Suara gemeretakan gigi yang beradu terdengar, dan tubuh Vermyna terdorong kuat ke udara. Saking kuatnya pukulan Fie yang sudah memakai wujud nephalemnya, Vermyna sampai menembus gumpalan awan dan terus terdorong hingga ke angkasa luar.
Vermyna terpaksa menciptakan barier ruang di belakangnya, jika tidak maka tentu ia akan terus terhempas hingga menabrak asteroid terdekat.
“Ini cukup sakit,” ucap Vermyna sembari memegang bawah dagunya—karena tidak ada media bagi suara untuk merombat, ucapannya sama sekali tak berbunyi. “Seperti yang bisa diharapkan dari Fie Axellibra.” Vermyna membiarkan bibirnya melengkung, dan dalam sekejap ia kembali berteleportasi ke tebing di sisi utara Islan.
“Kau ingin menantangku saat ini juga?” tanya Fie dengan mata yang sedikit berkilatan. “Aku tidak keberatan. Bisa kupastikan kau sekarang cukup kuat untuk menerima semua kekuatanku. Namun, planet ini bisa lenyap jika kita bertarung di sini. Jika kau ingin bertarung, kita harus melakukannya di angkasa luar. Edenia akan turun tangan jika kita sampai menghancurkan planet ini.”
“Tidak, tidak.” Vermyna mengibaskan tangannya menepis asumsi sang nephilim. “Itu hanya ucapan terima kasih dari diriku saja, tak lebih. Bertarung dengan dirimu saat ini kurang seru. Pertama sekali kita harus mengerahkan semua bidak yang kita punya, barulah kemudian kita bisa memiliki duel itu.”
“Aku juga berpikir begitu.” Fie mengangguk setuju, mengembalikan wujudnya menjadi nephilim. “Masalah di Islan harus diatasi, dan pertempuran besar yang akan datang akan menyelesaikan semua masalah yang ada.”
“…Katakan, Fie, apa dirimu tidak berpikir untuk menghabisi Edenia?” tanya Vermyna tiba-tiba. “Diriku tentu tak keberatan menghabisimu. Namun, diriku juga takkan menolak bantuan dirimu untuk membinasakan makhluk sialan itu.”
“Aku tidak punya masalah dengan Edenia.”
“Ah, begitu, sayang sekali. Baiklah, tidak ada pilihan lain.” Vermyna membalikkan badannya dan melangkahkan kaki. “Pertemuan diri kita selanjutnya akan menjadi hari kematian dirimu, Fie Axellibra.”
“Kata-kata itu lebih tepat kulayangkan untukmu, Vermyna Hellvarossa.”
Vermyna tersenyum tipis mendengar ucapan itu. Fie Axellibra…dia lawan yang sangat tepat untuk mengetes kekuatannya sebelum menghabisi Edenia.
“Nanti akan kita lihat mana yang benar,” kata Vermyna sembari melangkah memasuki portal ruang yang sudah ia ciptakan—dan seketika ia menemukan diri berada tepat di hadapan Sataniciela dalam tubuh Neix. “Diriku punya penawaran untukmu, Sataniel. Bertarunglah untuk diriku, dan diriku akan memberikan dirimu tubuh wanita. Menolak, dirimu akan menjadi laki-laki hingga keabadian sirna dalam pandangan matamu.”
...»»»»» End of Chapter 13 «««««...
#Bulan ini tak terlalu baik untukku, di Agustus akan kuusahakan update lebih stabil. Bagaimanapun, aku juga ingin menamatkan cerita ini secepat mungkin. Thanks for all your support, no matter how small it is.