Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 28: Sheer Stupidity, part 5



Alfonso tersenyum sumringah mengikuti barisan para prajurit yang berjalan rapi dan serentak menuju Carolina.


Total prajurit ada delapan puluh ribu. Awalnya ada seratus ribu, tetapi masing-masing sepuluh ribu telah bergerak di bawah komando Marya dan Dimitar menuju dua kota Ekralina Kingdom yang lain. Aneh kedua commander itu memang, tetapi mereka bisa diandalkan dalam hal membasmi musuh. Keduanya juga memiliki kepiawaian dalam memimpin dan menyusun strategi; mereka tidak dipilih menjadi Saint hanya karena lebih kuat dari kandidat lain.


Dengan membawa jumlah prajurit yang besar, Alfonso tidak berdelusi kalau pihak lain tidak akan waspada. Jika ada informan dari kekaisaran atau New World Order yang menyusup ke Ekralina, dan Alfonso yakin para pengerat itu ada, kabar tentang mobilisasinya pasti akan segera sampai pada mereka. Pun Alfonso takkan terkejut jika berita ini telah sampai lebih awal pada mereka. Ia juga takkan kaget jika mereka juga telah menggerakkan pasukan.


Pope Genea tidak memberi larangan khusus untuk Alfonso dan ketiga koleganya; instruksinya jelas: dapatkan kontrol atas Ekralina Kingdom ‒ jadikan itu basis penempatan pasukan Knight Templar.


Permasalahan tentang cara mereka memenuhi instruksi itu tidak penting. Meskipun Ekralina Kingdom adalah pengikut setia Gereja Agung Luciel, tetapi posisinya cukup strategis untuk bisa dimanfaatkan dalam situasi ini. Emiliel Holy Kingdom bahkan siap menampung semua warga Ekralina. Mereka sama sekali tidak sedang melakukan gejahatan genosida di sini. Sebaliknya, Emiliel Holy Kingdom berusaha keras menyelamatkan mereka yang layak diselamatkan.


Senyum di wajah Alfonso melebar, kesenangan terlihat jelas di sana. Jika dunia adalah animasi, tentu kerlipan akan terpancar dari kedua bola matanya. Alfonso sangat puas, bahkan ia sampai berpikir kalau dirinya Saint yang paling berkompeten dari yang lainnya. Dan, saat tugasnya ini selesai dengan sempurna, Alfonso akan memastikan ia akan mengelapnya ke muka si Idiot Rossia.


“Ha-ha-ha-ha!”


Alfonso tak mampu menahan gelak tawanya saat membayangkan semua pujian dan kepuasan yang akan menantinya di depan.


...* * *...


Alforalis Grammolia masih ingat dengan jelas kekalahan yang ia terima dari Kanna el Vermillion waktu itu. Gadis itu masih cukup muda, tetapi kekuatannya luar biasa besar. Ia dan Evillia bahkan bisa dikalahkan dengan tanpa kesulitan. Alforalis dikalahkan dengan begitu memalukan. Ia tentu saja tahu Evillia tidak bisa menggunakan sihir penuhnya karena sihir itu juga akan melenyapkan Elf Kingdom. Namun, kekalahan tak bisa berubah arti; kalah tetaplah kalah.


Jika bukan karena kehadiran Vermyna Hellvarossa, Elf Kingdom mungkin sudah dipaksa tunduk mematuhi Vermillion Empire. Bukan berarti Alforalis telah mengabaikan kebejatan para vampire dulu, tetapi kenyataan mereka berhutang besar pada para vampire adalah sesuatu yang tak terbantahkan. Terlebih lagi, Evillia telah mengatakan padanya kalau mustahil visi mereka terwujud jika menolak kepemimpinan Vermyna Hellvarossa.


Itulah alasan mengapa sekarang ia berada di belakang para pasukan gabungan kerajaan-kerajaan yang tergabung dalam New World Order. Untung saja tidak ada vampire dalam pasukannya. Jika ada, Alforalis mungkin takkan bisa menahan diri untuk menjadikan mereka umpan di garda terdepan. Atau, ia akan menjadikan mereka sebagai tim pengintai dan secara tak langsung menyeret mereka ke jurang kematian.


Orang-orang menganggapnya sebagai individu yang tenang dan profesional, tetapi sebenarnya Alforalis tipikal yang sulit menghilangkan kemarahan jika ia sudah marah. Mungkin itu pula salah satu alasan mengapa Evillia mengirimnya sebagai pemimpin di sini. Ia diekspektasikan untuk menghilangkan amarah di sini. Sayang sekali lawannya bukan Imperial Army, tetapi Knight Templar juga bukan lawan yang buruk untuk melampiaskan emosi.


“Komandan!” panggil seorang warebeast yang menjabat sebagai satu dari lima kapten dalam pasukan. “Apa sebaiknya kita tidak meningkatkan tempo?”


“Tidak,” respons tegas Alforalis. “Kita tetap dalam kecepatan ini. Daripada tiba lebih awal atau tepat waktu, lebih baik tiba terlambat. Kita memang bersekongkol dengan Imperial Army untuk menghancurkan Knight Templar, tetapi pada saat yang bersamaan mengapa tidak kita biarkan mereka tersudutkan sehingga mengurangi jumlah mereka?”


Minner Ertharossa telah memercayainya untuk membuat keputusan, dan itu adalah apa yang akan dengan senang hati Alforalis lakukan.


“Jumlah kita sedikit,” lanjut Alforalis. “Jika kita tak bisa menambah jumlah, maka jelas strategi kita adalah membuat jumlah mereka berkurang. Lagipula, memperlihatkan diri kita sebagai penolong di tengah kesulitan akan mengurangi kesiagaan Imperial Army terhadap kita. Musuh kita bukan hanya Knight Templar, melainkan juga Imperial Army. Hal ini tak bisa kita kesampingkan.”


...* * *...


Sebagaimana yang seharusnya seorang commander contohkan, Hekiel adalah yang terdepan dalam rombongan besar para prajurit Imperial Army yang sedang melakukan perjalanan ke utara.


Hekiel juga tak berbohong atau mengumbar janji palsu pada prajuritnya. Hekiel mengatakan ia akan memimpin mereka langsung, tetapi ia tak menjamin keselamatan mereka. Ia tidak super kuat; Hekiel hanya bisa melakukan apa yang bisa ia lakukan. Terlebih lagi, mereka tak tahu kapan pasukan bantuan tiba. Mereka hanya bisa bertahan selama yang mereka bisa.


Sebagian dari mereka akan gugur, hal itu sungguh tak terelakkan. Ketika seseorang terjun ke medan perang, dia harus sudah berpikir kalau dia takkan selamat ‒ kalau kematian sudah menantinya di depan. Dengan pola pikir seperti itu, para prajurit akan bisa melepaskan potensi penuh mereka. Jika kematian saja sudah tak lagi mereka takutkan, apa yang akan menghalangi mereka?


Tentu saja Hekiel paham kalau menjadikan keluarga yang ditinggalkan sebagai motivasi akan memberi semangat yang lebih besar.


Namun, jika itu ia doktrinkan pada para prajurit, efeknya seperti pedang berbilah ganda. Di satu sisi itu akan membuat mereka lebih bertenaga dalam menghadapi musuh, tetapi di sisi lain itu akan menimbulkan perasaan takut dan khawatir di dalam diri. Perasaan ingin segera bertemu keluarga bisa membuat seorang prajurit menjadi pengecut dan akhirnya melarikan diri dari medan perang.


Dengan keyakinan seperti itu, Hekiel memimpin prajuritnya menuju dua jalan: jalan kehormatan dengan mati membasmi musuh, atau jalan kejayaan dengan tetap hidup hingga musuh yang terakhir binasa.


...—Imperial Palace, Nevada, Vermillion Empire—...


Ketika Xavier hendak membuka pintu ruang singgasana, pintu itu telah terlebih dahulu bergerak sebelum sempat tersentuhnya. Pelakunya Nueva el Vermillion. Dia sendiri; tidak ada Edward bersamanya. “Ikuti aku,” katanya, “kita bicara sembari berjalan.”


Xavier tidak memberi respons verbal. Kakinya langsung melangkah mengikuti Nueva menyusuri lurung istana. Dia berkata mereka akan berbicara sembari berjalan, tetapi Nueva sama sekali tak membuka mulut. Sang emperor menutup mulut rapat. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Mereka berjalan dalam diam hingga tiba di balkon di ujung lorong.


“Ini kota yang damai, bukan begitu?” berkata Nueva sembari meletakkan tangan di atas pembatas balkon, matanya memandang teduh pada hamparan kota yang terlihat. “Ini tidak seperti Eden yang kubangun dulu, tetapi tingkat kriminalitas di sini sangat rendah. Setiap orang yang mencari peruntungan di kota ini akan selalu mendapatkan kesempatan mereka. Ini ibukota yang ramah bagi siapa pun yang berada di dalamnya. Aku ingin kota ini tetap berdiri.”


Xavier turut meletakkan tangan di atas pembatas balkon, berdiri hampir semeter dari Nueva.


“Tetapi mengatakan ini bukan alasan aku memanggilmu ke sini,” lanjut Nueva tanpa menanti respons Xavier. “Monica Elsesky…. Kau memintanya bersama Kanna karena yakin Kanna akan melindunginya dariku jika sewaktu-waktu aku melanggar kesepakatan. Itu langkah yang bagus. Kanna akan bisa melindunginya. Dia sudah sangat kuat. Tetapi tanpa perlindungan Kanna pun Monica akan aman dariku.”


“Aku lebih percaya seonggok batu daripada ucapanmu,” ucap Xavier datar, matanya tak berpindah dari memandang ujung kota.


“Ha-ha-ha-ha. Sudah seharusnya kau tak memercayai siapa pun, bahkan dirimu sendiri.”


“Aku ingin kau dan divisimu menyerang ibukota Emiliel Holy Kingdom secepat mungkin,” lanjut Nueva, tiba-tiba mengubah pembicaraan. “Lilithia dan divisinya akan menyerang kota-kota lain, tetapi mereka akan berangkat dari sisi yang berbeda dengan yang akan kau lalui. Kalian mungkin akan berpapasan di satu titik, mungkin juga tidak. Tapi yang jelas, tidak ada divisi lain yang akan menyerang wilayah mereka selain divisi kalian berdua.”


Xavier antara mengekspektasikan dan tak mengekspektasikan hal ini. Namun, ia sedikit mengerti dengan keputusan yang Nueva ambil. Bagian yang tidak ia mengerti adalah bagia yang tak berhubungan dengan kepentingan kekaisaran, apa niat personal Nueva di balik keputusannya?


“Kapan kami harus tiba di Axellibra?” tanya Xavier pada akhirnya—ia hanya harus memastikan Monica ikut ke mana pun Kanna pergi.


“Tidak perlu bergegas dalam perjalanan, tetapi kalian harus mulai berangkat besok pagi agar Lilithia dan divisinya bisa bersiap. Perhatian akan teralihkan ke Ekralina; kalian bisa tiba di Axellibra secara diam-diam. Kanna akan langsung membantumu jika Fie sampai turun tangan. Jika itu terjadi, Vermyna juga akan terpaksa turun tangan mengingat kebenciannya pada Fie. Ketika Vermyna dan Fie berhadapan, lanjutkan dengan menduduki Axellibra. Aku akan ke sana setelah Fie mengalahkan Vermyna—atau sebaliknya. Itu saja. Kau bisa langsung kembali.”


...»»» End of Chapter 28 «««...