
“Commander Lilithia?” Dua kata plus tanda tanya itu langsung melontar dari mulut Elmira saat tak mendapati sang commander bersama Xavier.
“Dia memiliki urusan yang harus dilakukan,” respons Xavier sekadarnya. “Lalu, apa maksud dari ‘pembersihan’ yang akan kau lakukan sama dengan apa yang kuinterpretasikan? Ngomong-ngomong,” Xavier tak menanti jawaban Elmira. “Aku tidak lagi memainkan peran bertopeng. Ada beberapa hal terjadi, dan posisiku direbut paksa. Jadi, sekarang tidak ada alasan mengapa kau perlu memikirkan pembicaraan kita kala itu.”
…Elmira tidak menyembunyikan keterkejutannya. Xavier tidak lagi berada di kepala New World Order? Ia sungguh tidak mengekspektasikan hal itu. “…Artinya siapa pun itu yang melengserkanmu, dia lebih kuat darimu?” tanyanya seketika—ia tiada memedulikan fakta kalau para prajurit yang mengawal mendengar ucapan mereka.
“Kau lihat serangan masif dari bulan yang tempo hari menargetkan Axellibra?”
Elmira mengangguk; tak mungkin ada yang lupa dengan insiden menegangkan itu.
“Pelakunya adalah orang yang sama dengan yang merebut paksa posisiku dariku. Dan ya, dia lebih kuat. Sihir yang biasa kuandalkan tak bekerja padanya. Setidaknya, sekarang aku tak bisa mengalahkannya. Saat ini, mungkin hanya satu orang yang bisa mengalahkan orang itu.”
“Fie Axellibra?”
Xavier mengangguk. “Aku tidak berpikir ada yang lain. Orang itu…dia bahkan tak menghadapiku dan Kanna dengan serius. Dia membatasi diri saat menghadapi kami. Karenanya, jika kau tetap ingin melanjutkan pembicaraan kita kala itu, kau tahu kalau musuh sebenarnya sudah berbeda.”
“Orang itu” yang Xavier maksud…Elmira tidak bisa memikirkan siapa pun selain Vermyna Hermythys—wanita dambaan Neix.
“Jadi, kau sekarang berpihak pada negeri yang kau sendiri ingin atasi?” tanya Elmira dengan raut ingin tahu di wajah.
“…Betapapun ini terdengar ironi, tetapi begitulah kenyataan. Aku hanya seorang individu; tidak banyak yang bisa kulakukan tanpa deking di belakang. Tentu saja akan berbeda jika aku cukup kuat untuk menundukkan Islan seorang diri, tetapi….” Xavier menggeleng kepala pelan, memandang intens Elmira. “Kau belum menjawab pertanyaanku,” katanya.
“Kau tak memberiku kesempatan menjawab,” kata Elmira sembari menggestur agar mereka mulai berjalan. “’Pembersihan yang kumaksud adalah….”
...—Gereja Etharna—...
Gallan adalah pendeta baru yang mengepalai gereja satu-satunya yang berdiri di Kota Etharna. Ia hanyalah pria biasa berusia tiga puluh dua tahun yang sudah berkeluarga dan sudah punya anak satu. Tidak ada yang spesial dari diri Gallan selain ketaatannya dalam melakukan perintah dewa yang ia puja. Dan hal itu pulalah yang membuatnya dipilih untuk menggantikan pendeta sebelumnya.
Ia baru menggantikan pendahulunya yang mati karena keracunan makanan tiga bulan yang lalu. Berdasarkan penyelidikan yang para prajurit dan pihak gereja lakukan, ditemukan fakta bahwa pendahuluinya terlibat perselingkuhan dengan istri salah satu orang kaya di kota ini. Dan karena tak ingin mencemarkan nama baik kedua belah pihak, akhirnya diputuskan bahwa Gallan keracunan makanan secara tak disengaja—bukan sengaja diracuni.
Tentu saja ada spekulasi kalau itu semua sudah diatur—ada pihak yang benar-benar menginginkan kematian pendahulunya sehingga membuat jebakan agar pembunuhan atasnya dapat dijustifikasi. Namun, tidak ada satu pun bukti yang bisa menguatkan spekulasi itu. Hal itu tak berbeda dengan peristiwa terbunuhnya satu keluarga besar dengan tragis. Meskipun ada spekulasi yang mengatakan ada dalang di balik itu, tetapi semua bukti mengarah pada konflik internal—persengkataan harta.
Mengesampingkan tugas wajib itu, salah satu tugasnya sebagai kepala pendeta adalah menjalin hubungan yang baik dengan penguasa negeri tempat gereja ini berdiri. Dalam hal ini, Elmira Cent Nix Favilifna—ratu yang mendapat alias “Holy Queen” dari para warga dan pengurus gereja. Dia ratu yang bersahaja; dia mengecek keadaan warga dengan berjalan kaki (tidak naik kereta kuda sebagaimana rata-rata penguasa/bangsawan); dia sangat ramah terhadap warga; dan Gallan sekali pun belum pernah mendengar ada warga yang menjelekkan Elmira di belakangnya.
Gallan sudah pernah bertemu dengannya dua kali, dan alias “Holy Queen” itu bisa ia pastikan bukan hanya sekadar kata. Dia adalah simbol penguasa yang ideal. Jika Elmira terlahir dari keluarga kerajaan di Axellibra, tentu junjungannya akan menunjuk sang ratu sebagai ratu Emiliel Holy Kingdom. Karenanya, begitu mendapat pesan kalau sang “Holy Queen” akan ke sini, Gallan menunda semua jadwalnya dan menyiapkan penyambutan terbaik untuk sang ratu.
Itu juga alasan mengapa sekarang ia dan beberapa pengurus gereja lainnya berdiri di depan pintu masuk gereja, menanti datangnya sang ratu dengan setia.
...***...
“…Begitu rupanya,” kata Xavier diiringi anggukan mengerti. “Itu cara yang sangat tepat untuk menghindari konflik. Namun, semua itu bergantung pada kepala pendeta dan pengurus gereja. Jika sebagian dari mereka tidak setuju, konflik tak bisa dihindari. Tentu saja itu kecuali jika kau memutuskan mengambil tindakan yang akan mencoreng namamu.”
“Bagaimanapun juga, rakyat harus mengerti kalau aku adalah pelayan kerajaan ini. Meskipun ini akan terkesan menyakiti mereka, tetapi kita adalah rakyat Favilifna sebelum kita pengikut gereja. Yang membuat para warga bisa hidup sejahtera adalah kerajaan, bukan gereja dan segala ajarannya. Rakyat tidak dilarang menganut paham apa pun, tetapi mereka harus memahami bahwa kerajaan ini berada di atas segalanya.”
Xavier sangat mengerti ucapan Elmira. Meskipun ia tidak terlahir dalam keluarga kerajaan, walaupun ia tidak bertanggung jawab atas kehidupan rakyat, perkataan Elmira sangat jelas artinya. Sebagai pemimpin, kedamaian dan kecukupan juga kesejahteraan rakyat menjadi tanggung jawabnya. Ketika rakyat kelaparan, ekonomi terpuruk, ancaman perang di ujung horizon, …siapa yang akan pertama kali bergerak?
Jawabannya yang jelas bukan gereja, apalagi dewa. Pemerintah kerajaanlah yang bergerak. Mereka yang sibuk memutar otak. Para prajurit yang mengorbankan darah yang bergerak. Tidak ada gerak tangan dewa. Tidak ada senyum gereja. Tidak ada keajaiban. Keberlangsungan sebuah kerajaan sepenuhnya tergantung pada sehebat apa pemerintahannya. Itu tidak pernah bergantung pada pertolongan dewa.
Karenanya, bagi seorang pemimpin yang mengutamakan realitas di atas segalanya, tidak ada tempat bagi dewa di dalam pemerintahan. Peran dewa hanyalah di dalam kehidupan spiritual setiap orang. Peran dewa hanyalah agar para makhluk fana tidak sampai tersesat dalam kehidupan mereka. Dewa adalah jawaban naluriah untuk menjawab pertanyaan atas eksistensi seorang individu.
“Jika demikian, julukan ‘Holy Queen’ sama sekali tidak pantas untukmu. Kata ‘Holy’ hanya pantas dimiliki mereka yang mengedepankan titah dewa di atas segalanya. Kau yang seperti memaksa dewa untuk membatasi perannya….”
“Itu tidak sepenuhnya benar. Aku tidak membatasi siapa pun. Malahan, aku semakin mendekatkan mereka pada dewa.” Keyakinan di mata Elmira terpancar terang. “Selama ini setiap gereja harus menuruti titah Pendeta Agung, mengikuti instruksi Gereja Agung Luciel. Mengapa begitu? Siapa mereka rupanya? Mereka bukan siapa-siapa. Setiap gereja yang memuja dewa harus berdiri sendiri, tidak di bawah perintah siapa pun. Benar, aku memberi mereka jarak yang lebih dekat kepada dewa.”
“…Perkataanmu ada benarnya,” Xavier terpaksa mengakui. “Mengesampingkan kenyataan kalau gereja-gereja takkan pernah ada jika Gereja Agung Luciel tak memulai menyebarkan ajarannya, keindependenan setiap gereja adalah hal yang bagus. Tanpa birokrasi yang ruwet dan dipenuhi kesempatan menistakan dewa dengan korupsi dan sejenisnya, sebuah gereja akan lebih transparan dan bebas. Dan dengan itu juga membuat para warga yang memanfaatkan gereja itu memiliki kuasa untuk bertindak jika ada hal yang tak beres dalam gereja. Itu murni kebebasan.”
“Kan? Tidakkah aku pantas digelari ‘Holy Queen’?” Elmira tak menanti jawaban Xavier; mereka sudah berada di hadapan gerbang masuk gereja. “Mengesampingkan pantas atau tidak, pertama-tama mari kita lihat apakah Kepala Pendeta Gallan seorang yang menyembah dewa atau Pendeta Agung/Fie Axellibra; mari kita dengarkan apakah dia mengelola gereja untuk dewa atau gereja untuk Gereja Agung Luciel.”
Xavier tidak memberi komentar atas pernyataan penuh provokasi itu—yang tak ragu itu akan mendapatkan kernyitan tajam dari para pembesar Gereja Agung Luciel.
“Kami sudah menantikan kehadiranmu, Yang Mulia Elmira. Kami sungguh merasa terhormat bisa menyambut Yang Mulia secara langsung.”