
Terdapat total seratus kolom prajurit yang memanjang dari depan Markas Utama Ordo 1 sampai ke tepi jalan saat Arthur kembali ke Eden—saat itu matahari sudah mulai menepi. Jumlah baris juga sama dengan kolom. Artinya, total prajurit yang berbaris rapi berjumlah sepuluh ribu.
Seratus kolom itu terbagi menjadi sepuluh kolom yang lebih besar, sebuah batalion. Jarak antara satu batalion tersebut dengan batalion lain berjarak satu meter. Mereka semua memakai seragam abu-abu yang sama, zirah platinum tipis melapisi semua seragam itu. Berbeda dengan pasukan Knight Templar lain, di punggung mereka terdapat simbol yang sama dengan yang ada di belakang jubah Arthur.
Arthur berjalan di antara salah satu celah antar batalion. Seperti yang bisa diekspektasikan dari Ordo 1 yang sangat disiplin, tak seorang pun dari mereka yang menunjukkan ekspresi berarti saat ia lewat. Tentu saja Arthur merasakan ratusan pasang mata yang memborbardir dirinya begitu ia lewat, tetapi itu tak bisa terhindarkan ‒ ia adalah pemimpin tertinggi mereka.
“Merlin memerintahkan kalian ke Lembah Terlarang Ed?” tanya Arthur pada para kapten yang berdiri berbaris di depan semua prajurit.
“Benar, Sir, Dame Merlin memerintahkan kami meninggalkan Eden sore ini. Kami sedang menunggu kedatangan petugas teleportasi, Sir.”
Arthur mengangguk mengerti, berkata, “Apa pun yang terjadi, jangan pernah meninggalkan keberhati-hatian. Vermillion Empire cukup licik, inteligensi mereka tak bisa diremehkan. Pastikan tidak ada satu pun orang asing yang menginjakkan kaki di area Lembah Terlarang Ed.”
“Serahkan hal itu pada kami, Sir! Kami akan menghidupkan jiwa Knight Templar dalam segala aktivitas kami, Sir!”
Sekali lagi Arthur mengangguk, kemudian pergi berlalu memasuki bangunan besar dua lantai.
...—Verada, Vermillion Empire—...
Membandingkan informasi tentang Knight Templar tahun lalu dan yang terbaru, total jumlah mereka telah meningkat hampir dua kali lipat. Jika tahun lalu mereka berjumlah tiga ratus ribuan, sekarang mereka berjumlah lima ratus ribuan. Ordo 1, Ordo 2, dan Ordo 3…gabungan tiga ordo tersebut adalah separuh dari jumlah total Knight Templar. Ordo 1 sendiri berjumlah lebih dari seratus ribu, dan mereka adalah pasukan ofensif.
“Ketimpangan jumlah ini cukup tinggi,” gumam Xavier setelah menyusun lembaran kertas menjadi dua belas tumpukan—kertas teratas dari masing-masing tumpukan adalah profil Saint yang memimpin masing-masing Ordo. “Jika ada yang berteori Emiliel Holy Kingdom telah mempersiapkan pasukan itu jauh-jauh hari sebelum perkembangan Islan mencapai tahap ini, aku takkan merasa heran.”
Lebih dari itu, pertambahan jumlah prajurit Knight Templar adalah sesuatu yang wajar. Negeri itu sejak awal memang ingin menguasai Islan, tidak berbeda dengan kekaisaran. Bedanya, mereka tidak bersikap terang-terangan dalam ambisi mereka. Emiliel Holy Kingdom menunjuk diri mereka sebagai penjaga keseimbangan, dan pada saat yang bersamaan mereka mengatur agar jalan dominansi mereka terbuka.
“Deus Chaperon. Twelve Holy Saints. Twelve Commanders.” Xavier bergumam sembari menengadahkan wajah, kedua tangan terlipat di belakang kepala. “Dari kedua belas Saint, hanya First Saint sampai Sixth Saint yang merepotkan. Sisanya tidak begitu mencolok. Dermyus bisa mengalahkan semua dari mereka jika satu lawan satu. Darminic juga bisa. Dari semua Commander, mungkin hanya Emily yang tak bisa melakukannya.
“Sementara itu, Deus Chaperon sekarang lebih kuat. Selain enam Saint pertama, enam Saint terakhir takkan punya kesempatan untuk mengalahkan satu pun dari mereka. Krakart adalah anggota yang terlemah, tetapi bahkan dirinya berada dalam level yang sama dengan Reinhart. Hireklaf sepadan dengan Gilbert. Atland telah berkembang pesat, dia mungkin sama kuatnya dengan Zenith. Pun begitu dengan Whalef dan Diametra. Dan Tsusaza…dia akan menjadi padanan bagi Lilithia.
Dan, itu masih belum memasukkan para vampire kuat yang tergabung dalam Moon Temple. Dan Evillia. Dan Minner…. New World Order, mereka benar-benar kuat.
Xavier tidak berpikir mereka cukup kuat saat masih di sana, tetapi begitu mereka berada di sisi yang berlawanan, perbedaan itu mulai terlihat jelas.
Kening Xavier langsung mengernyit ketika kesimpulan yang tak bisa disangkal muncul di kepalanya: Vermillion Empire adalah pihak terlemah dari tiga kekuatan besar yang berkonflik.
“Nueva tidak punya pilihan lain selain turut berpartisipasi. Pun begitu dengan Edward Penumbra. Peran Menez juga akan sangat penting dalam kemenangan kekaisaran. Yang jelas, kemenangan pasti akan berada di tangan kekaisaran jika Vermyna dan Fie akan saling membunuh.”
Kernyitan di kening Xavier menghilang begitu kalimat terakhirnya barusan selesai terucap.
Rona wajahnya berubah drastis. Datar. Tajam. Kuat. Tak kenal ampun. Jika Nueva melihat ekspresi Xavier sekarang, dia akan berkomentar kalau mereka lebih mirip dari yang ia asumsikan. Lebih dari itu, Nueva akan memuji Xavier. Ekspresi yang Xavier sekarang pakai adalah ekspresi yang seharusnya berada di wajah mereka yang ingin mengubah dunia.
“Aku bisa memanfaatkan semuanya seperti yang kukatakan pada Minner,” ucapnya datar, dingin dan tajam. “Aku bisa mencari Vermyna sekarang, mengatakan kalau aku akan bergabung dengannya jika dia mengatasi Fie. Keinginan Evillia tak bertentangan dengan Kanna, aku bisa memanipulasi keduanya untuk bekerja sama secara diam-diam. Tidak terlambat bagi kekaisaran untuk bergabung dengan New World Order. Dengan matinya Fie, Kanna bisa menundukkan Holy Kingdom tanpa kesulitan. Yang tersisa adalah urusanku dan Nueva.”
Jika ia mengambil rute itu, semuanya akan menjadi lebih mudah. Pun itu tak mustahil untuk dilakukan. Ia Twelve Commander, tetapi ia juga El. Ia dekat dengan Kanna, dan Vermyna seperti menganggap diri Xavier spesial. Semuanya bisa ia gerakkan dengan mudah, layaknya bidak-bidak dalam papan permainan. Hal ini juga akan mengurangi jatuhnya korban. Cara yang paling efektif.
“…Heh, anehnya aku tak ingin melakukan semua itu.” Xavier mendengus pada dirinya sendiri. “Aku ingin menghancurkan kekaisaran. Mengenal Kanna membuatku hanya ingin menghancurkan Nevada saja. Dan sekarang…aku jadi ingin melindunginya.”
Xavier menyalahkan Artemys untuk hal itu. Wanita itu…dia cukup persuasif. Sulit bagi Xavier mengabaikannya. Terlebih lagi, dalam empat bulan wanita itu akan melahirkan kehidupan baru dalam dunia ini. Xavier…ia tak ingin melihat kekaisaran yang hancur. Anak yang akan terlahir nanti…Xavier harus memastikan dunia busuk ini tak mengontaminasinya.
Heh…apa ini naluri seorang ayah?
Xavier membiarkan dirinya terkekeh. Kepalanya bisa membayangkan bagaimana ayahnya akan meledeknya.
“Aku tak bisa memercayai ini,” gerutu Xavier, tetapi sesaat kemudian senyum tipis berkembang di bibirnya. “Luciel akan tertawa jika dia masih di sini….”