Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 39: Goddess of War, part 4



“…Untuk sihir es, itu tadi spell dengan waktu pengaktifan yang sangat cepat,” komentar Herena tepat saat barier kubus menghilang. “Bahkan jika seseorang mampu merasakan kemunculan efek spell itu dengan sihir sensorik, spell itu akan terlebih dahulu aktif sebelum dia sempat menjauh.”


Darminic tak bisa memindahkan matanya dari sosok anggun sang putri. Bukan, itu bukan karena ia tiba-tiba telah jatuh hati. Hati Darminic takkan pernah berpindah dari Herena yang seksi, menawan nan menggoda. Mata Darminic terpaku pada Kanna el Vermillion karena ia masih sulit memercayai apa yang ia lihat. Pertarungan berakhir bahkan sebelum genap setengah menit.


Darminic tentu saja telah mengetahui kekuatan sang putri. Namun, dibandingkan terakhir kali ia melihatnya, Kanna telah berkembang pesat. Memang, sang saint sepertinya belum mengerahkan kekuatan penuhnya. Tetapi begitu pula dengan sang putri. Bahkan Kanna tak terlihat kesulitan sedikit pun. Darminic bahkan mulai meyakini kalau emperor sekalipun takkan mampu mengalahkan Kanna.


“Jika sebelumnya aku tak terlalu yakin dengan terwujudnya ambisi kekaisaran, sekarang aku tak punya keraguan. Aku jadi bersemangat.”


Herena menghela napas mendengar ucapan rekannya. “Pastikan saja kau tak membuat dirimu sendiri terbunuh.” Kemudian Herena menoleh ke belakang dan menggestur para prajuritnya untuk maju. “Ayo,” ujarnya pada Darminic sembari melangkah maju. “Sekarang kita hampiri Yang Mulia.”


...* * *...


Raut tak percaya mewarnai wajah prajurit Knight Templar, terutama wajah para kapten. Mereka tak pernah membayangkan akan melihat pemimpin mereka dikalahkan dalam sekejap. Melihat bagaimana pemimpin mereka dibekukan, semuanya sadar kalau mereka takkan bisa menghindar. Dengan sihir semacam itu, 100.000 prajurit bisa dibekukan secara instan. Tak mengherankan sang saint menyarankan mereka menyerah.


Ekspresi keterkejutan yang memenuhi wajah para kapten spontan digantikan ketegangan saat melihat kedua pemimpin mereka memimpin putri kekaisaran menghampiri mereka. Tak satu pun dari mereka bisa menduga apa yang tadi dibicarakan di sana; para kapten hanya bisa menanti maksud kedatangan sang putri.


“Saint Arthur….”


“Sir….”


Arthur berhenti tiga meter di hadapan semua kaptennya. Merlin berada sekitar lima meter di belakangnya bersama dengan sang putri.


“Jika ada dari kalian yang berasumsi aku belum menggunakan kekuatan penuh, kalian benar.” Arthur berterus terang. “Aku lebih kuat dari apa yang sudah kalian lihat. Namun, hal yang sama bisa dikatakan terhadap Putri Kanna. Dia masih lebih kuat dari apa yang bisa kalian bayangkan. Jadi, jika kalian berpikir aku berpura-pura kalah, pikiran itu bisa kalian enyahkan.”


Lantas Arthur berbalik badan tanpa menanti respons para kaptennya—atau prajurit yang mendengarnya. Merlin melangkah cepat ke kiri Arthur, kemudian berbalik membelakangi para prajurit sebagaimana sang saint.


“Putri Kanna, sekarang kau bisa menahan mereka semua seperti kau menahan kami. Sesuai kesepakatan, kami menyerah dan sekarang menjadi tahananmu.”


Kanna tidak memerlukan perkataan apa-apa lagi. Kedua telapak tangannya langsung menyatu dengan satu sama lain. Dan seketika, replika-replika kurtalægon bermunculan di udara. Jumlahnya terus bertambah secara signifikan.


Begitu jumlahnya mencukupi, kesemua replika pedang itu melesat menuju para prajurit Knight Templar.


Panik mengonsumsi pikiran mereka. Sebagian besar bahkan sudah memasang kuda-kuda bertahan, sebagian lagi sudah bersiap menggunakan spell pelindung, dan hanya sebagian kecil saja yang diam pasrah. Para kapten Knight Templar termasuk golongan sebagian kecil itu.


Kesemua replika pedang langsung melebur menjadi rangkaian rune sebelum berbenturan dengan senjata atau spell pelindung mereka. Dan sebelum keterkejutan sirna dari wajah-wajah itu, tubuh mereka telah dibaluti rangkaian rune yang sama dengan yang membaluti tubuh Arthur dan Merlin.


“Dengan adanya segel ini, kami sudah tak bisa lagi memberi ancaman bagi keamanan kekaisaran. Sekarang, apa Tuan Putri akan membawa kami menjadi tahanan di kekaisaran?”


Pandangan Kanna kembali fokus pada sang saint. “Tidak,” jawabnya tenang. “Kalian akan ikut bersama kami memasuki wilayah kekaisaran. Tujuan kita adalah menyelamatkan Emiliel Holy Kingdom dari kehancuran. New World Order adalah musuh kita bersama. Mereka ingin meratakan Emiliel Holy Kingdom dengan tanah, sedang kekaisaran ingin Holy Kingdom membantu kekaisaran dalam mendirikan persatuan dan perdamaian di Islan.”


Mata Arthur menyipit. Namun, bukan mulutnya yang membuka untuk memberikan komplain, melainkan mulut Merlin.


“Kita tidak membuat persetujuan dalam hal itu. Kesepakatan kita murni pada penyerahan diri dan jaminan untuk memperlakukan satu sama lain dengan baik jika ditahan. Kami tak bisa menerima kau memanfaatkan Ordo 1 Knight Templar, Yang Mulia.”


Bibir Kanna melengkung tipis. “Aku tidak menyuruh kalian atau memanfaatkan kalian,” katanya dengan pelan dan ramah. “Aku mengajak kalian untuk sama-sama menyelamatkan Emiliel Holy Kingdom yang terluka. Tidak ada yang lebih kuinginkan selain perdamaian Islan secara total seperti saat Danau Deus masih ada. Dulu kita selalu bisa mengatasi invasi Veria dan Medea karena kita bersatu. Bukankah sejak awal tugas utama Knight Templar adalah demi keamanan Holy Kingdom?”


“Waktu kalian satu jam untuk memutuskan. Apakah kalian mau membantu kami menyelamatkan tanah air kalian? Atau, kalian bisa tetap di sini dan menunggu berita tentang kehancuran Emiliel Holy Kingdom.”


Itu adalah kata-kata terakhir yang Arthur dan Merlin dengar sebelum sang putri benar-benar menjauh.


“…Arthur…wanita itu…dia berbahaya….”


Arthur memandang Merlin dengan sebelah alis terangkat. “Bukankah itu yang sejak awal kukatakan? Kanna el Vermillion adalah individu yang berbahaya.”


“Bukan berbahaya seperti itu maksudku,” jelas sang wanita. “Bagaimana mengatakannya biar kau paham? Hm, begini, bukankah kita sejak awal sudah tahu kalau kekaisaran mau menguasai seluruh Islan?”


Arthur mengangguk.


“Namun,” lanjut Merlin, “mendengarnya dari mulut Putri Kanna memberikan kesan yang berbeda. Ucapannya, ekspresinya, sorot matanya…. Tidakkah kau berpikir kata ‘saint’ lebih pantas disandangnya dibandingkan siapa pun dari Knight Templar.”


“Kita loyal pada Nona Fie, Merlin.”


“Bukan pada Emiliel Holy Kingdom?”


“….”


Pertanyaan sederhana yang keluar dari mulut Merlin itu sukses membuat Arthur terbungkam.


“Apa kau pernah mempertanyakannya, Arthur, mengapa Knight Templar pas ada Danau Deus berbeda dengan Knight Templar setelah danau tersebut lenyap?”


“…Apa maksudmu?”


“Knight Templar dulu adalah pelindung Emiliel Holy Kingdom, sebagaimana yang Nona Fie inginkan. Namun, sejak danau itu lenyap, Knight Templar mulai berubah menjadi pelindung dan penjaga stabilitas Islan. Knight Templar meruntuhkan Deus Holy Church dan merusak pamor Deus Guardian.


“Pertanyaanku, mengapa hal itu terjadi? Mengapa tujuan Knight Templar berubah? Mengapa kita disuruh mendirikan pusat Islan di sini? Apa benar ini keinginan Nona Fie? Apa kau pernah mendengarnya secara langsung dari mulut Nona Fie?”


“Dari apa yang kuperhatikan,” lanjut Merlin, “Nona Fie tidak memedulikan apa-apa yang terjadi selain keamanan Holy Kingdom. Dia juga hanya akan bertindak jika ada interfensi dari luar benua atau ada pihak yang ingin menimbulkan kerusakan drastis pada Islan. Tidak sekali pun Nona Fie mengatakan ingin membawa Islan dalam kontrol Gereja Agung Luciel. Dan yang lebih penting, apakah Nona Fie ingin dirinya dijadikan simbol terpenting dalam gereja?”


“…Kau mau mengatakan segala yang kita percaya selama ini murni keinginan Pope Genea?”


...* * *...


“Kerja bagus, Yang Mulia.” Kedatangan Kanna disambut pujian Herena. “Apa kita akan langsung melanjutkan perjalanan?”


Kanna menggeleng. “Kita tunggu di sini selama satu jam,” jawabnya. “Aku punya rencana untuk memudahkan kita mendapatkan kontrol atas Emiliel Holy Kingdom. Aku tidak suka dengan cara ini, tapi ini diperlukan demi menghindari hal yang tak perlu. Kita akan mempengaruhi rakyat Holy Kingdom untuk mengecam pemerintahan yang dijalankan pemimpin-pemimpin mereka. Kita akan menjadi penyelamat bagi mereka atas efek yang peperangan ini timbulkan.”


Aku perlu menghubungi Edelweiss dan Kak Achilles untuk mempersiapkan logistik demi meyakinkan para korban, tambah Kanna dalam hati. Tapi sebelum ke sana, Fie Axellibra harus ditangani terlebih dahulu.


...»»» End of Chapter 39 «««...