Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 30: It Begins!, part 4



Hekiel merasa ada yang berbeda dari individu yang baru saja ia buat terseret di tanah. Auranya berubah drastis. Dibandingkan sebelumnya, sekarang dia lebih terasa mengancam. Tentu saja Hekiel tidak berpikir hasil akhir pertarungan akan berubah, tetapi ia merasa harus lebih berhati-hati dengan sang saint.


“Kau sudah mengirim sebagian besar pasukan mengitari dinding,” komentar Hekiel saat mendapati jumlah prajurit Knight Templar yang ada tak sebanyak yang ia dengar. “Langkah yang bagus.”


“Hentikan ucapan sia-siamu, Pendosa!” desis sang saint seraya mengatupkan kedua telapak tangan. “Take Over: Seraph Selaphiel.”


Ssssssst…. Tubuh sang saint seketika memancarkan aura putih suci. Kemudian aura putih itu tampak memanas, dan sedetik setelahnya memancarkan asap putih yang melayang ke udara.


Tatkala semua aura putih itu menghilang menjadi asap yang menguar ke udara, terlihat kalau kulit sang saint menjadi putih cerah. Irisnya yang sebelumnya coklat telah menjadi keperakan. Lalu, yang paling jelas, rambut coklatnya memutih sempurna. Sang saint memancarkan kekuatan yang besar dan suci. Dia sudah lebih kuat dari sebelumnya, dan Hekiel menjadi waspada karenanya.


“Maju kapan pun kau siap,” ucap sang saint dengan kedua tangan yang terentang seolah dia sedang memegang dua pedang. “Akan kubersihkan udara Islan dari kontaminasi napas yang kau embuskan, Pendosa.”


Hekiel melengkungkan bibirnya. Ia tak memberi respons verbal, tapi ia memutuskan untuk serius di sini. Hal ini ditandai dengan dua tombak tanah yang muncul di masing-masing tangannya, yang kemudian berubah menjadi adamantite. “Mengapa tidak kau saja yang maju, Saint,” tantangnya sembari mengacungkan satu tombak. “Itu tentu saja jika kau punya nyali.”


Entah dia termakan provokasinya atau sengaja menyerang, itu tidak penting. Hekiel menemukan bahu kirinya tersayat sebelum sang saint—yang tidak ia ketahui namanya—mencapai dirinya. Darah mengucur deras dari bahu sang commander. Apa yang terjadi membuat fokus Hekiel pada sang lawan teralihkan sesaat, dan itu dimanfaatkan sang saint untuk membalas serangan Hekiel sebelumnya.


Hekiel terhempas telak setelah kepala bagian kirinya terkena hantaman kaki pemimpin Knight Templar.


Commander Divisi 6 Imperial Army ini baru berhasil berdiri setelah terjatuh dan terseret beberapa meter. Tendangan tadi sama sekali tak menjadi perhatian Hekiel, melainkan bekas sayatan yang menganga pada bahunya. Ia tidak melihat apa pun, tapi jelas luka di bahunya disebabkan pedang.


“Itu menjelaskan mengapa dia terlihat seolah memegang pedang,” gumam Hekiel sembari menggunakan pemanipulasian metal untuk mengubah kulitnya menjadi adamantite. “Di masing-masing tangannya memang ada pedang, tapi tak terlihat.”


Namun begitu, itu tak menjelaskan bagaimana bahunya terluka. Hekiel yakin penyebabnya bukan kedua pedang tak terlihat di kedua tangan sang saint. Tidak ada pergerakan yang bisa menghasilan sayatan seperti pedang yang dilepaskan oleh busur panah. Tadi ia fokus pada sang lawan, tak sempat merasakan kehadiran penyebab luka pada bahunya. Namun, mungkinkah itu benar-benar pedang tak terlihat lain yang bisa dikendalikan?


“Commander Gilbert disebut bisa membuat tubuhnya menjadi sekeras adamantite, dan itu dilakukan tanpa mengubah kulitnya menjadi adamantite. Kemampuannya murni optimalisasi dari Enhancement. Tapi kau kebalikannya.” Sang saint berhenti delapan meter dari Hekiel. “Kau bisa mengubah kulitmu menjadi adamantite.”


Untuk sekarang, Hekiel akan mengasumsikan dugaannya benar. Ia juga akan menganggap lawannya memiliki lebih dari satu pedang yang dikendalikan dengan pikiran. Artinya, untuk menghadapi sang saint, ia harus membagi perhatiannya. Hekiel belum pernah menghadapi seseorang dengan kemampuan seperti sang saint sebelumnya, ini akan menantang. Pertarungan ini akan menuntutnya untuk memaksimalkan insting yang Hekiel punya.


Namun demikian, hasil akhir tetap takkan berubah. Hekiel akan menghabisi sang saint seperti yang sudah ia katakan sebelumnya.


“Hekiel von Vanguarta.” Hekiel memperkenalkan diri. “Siapa namamu, Saint?”


“Oh, kau sudah paham siapa yang berada di atas sekarang? Bagus sekali. Sudah sepantasnya pendosa sepertimu mengerti posisi yang kau miliki di dunia ini. Aku, Alfonso Alsabnitz, akan berbaik hati untuk menyucikanmu.”


Bibir Hekiel melengkung mendengar ucapan arogan itu. Ia melepaskan mana dalam jumlah lumayan, dan seketika area beradius 100 meter dari tempatnya berdiri menjorok ke dalam. Hekiel ingin mengisolasi diri mereka sekitar 100 meter di bawah permukaan tanah.


Asumsi Hekiel terbukti benar saat kedua tombak itu terpental saat mencapai setengah jaraknya dengan Alfonso. Tidak salah lagi itu disebabkan dua buah pedang tak terlihat. Hekiel spontan menyatukan kedua telapak tangan, membuat kecepatan tanah turun berakselerasi secara eksponensial.


“…Kau berpikir bisa mengalahkanku dengan mengisolasi diri kita di sini?” Alfonso, yang telah berhenti melompat mundur saat permukaan tanah tempat mereka berpijak berada dalam kedalaman 80 meter, bertanya dengan ekspresi murka. “Akan kutunjukkan padamu kekuatan Seraph Selaphiel.”


Tepat saat tanah tempat mereka berpijak berhenti turun (posisinya sudah berada 103 meter di bawah permukaan tanah), Hekiel merasakan tekanan datang dari tempat Alfonso berdiri. Hal itu membuatnya sedikit waspada. Ia langsung menciptakan dinding tanah di depannya, mengubahnya menjadi adamantite.


Kewaspadaan dan tindakan yang Hekiel ambil sungguh tidak sia-sia. Dinding adamantite di hadapannya dalam sekejap telah dibombardir pedang tak terlihat. Hekiel juga bisa merasakan udara yang terbelah di atas dan kedua sisinya. Pedang-pedang itu jumlah tidak dua, tiga, atau sepuluh, tetapi ratusan. Lebih buruk lagi, dinding adamantite yang melindunginya menunjukkan tanda-tanda kerusakan.


Pedang-pedang tak terlihat itu tidak normal, batin Hekiel sembari menciptakan lebih banyak dinding tanah dan tombak-tombak.


Sebagian besar dinding dan tombak tanah dihancurkan oleh pedang tak terlihat, tapi Hekiel berhasil mengubah lebih dari seper tiganya menjadi adamantite.


Hekiel melakukan hal yang sama terus-menerus. Hingga sepuluh menit berlalu, Hekiel telah berhasil menciptakan lebih dari 800 tombak dan 200 dinding adamantite. Sekarang ia berada di kerumunan dinding adamantite, di kanan-kirinya masing-masing melayang 400 tombak adamantite.


Dengan sebuah tameng adamantite di masing-masing tangan, Hekiel melompat ke udara dan berseru, “Sekarang,”—Hekiel terpental setelah kedua tamengnya dihantam beberapa pedang tak terlihat, tetapi ia dapat mengontrol diri dan mendarat di atas salah satu dinding—“giliranku!”


Sejurus seketika, 800 tombak adamantite melesat dari celah-celah dinding adamantite yang ada. Semuanya melesat dalam satu irama menyerang Alfonso Alsabnitz.


Sang saint bukan seseorang yang bisa ia hadapi dari jarak dekat dengan semua pedang-pedang tak terlihatnya. Jika Hekiel punya sihir sensorik, cerita akan berbeda. Sayangnya ia tak punya sihir sensorik. Hekiel tak punya pilihan lain selain meladeni sang saint dari jarak jauh. Dan, dengan melesatnya kesemua tombak itu, ia bisa mengalihkan sasaran pedang tak terlihatnya Alfonso.


Setidaknya, itu adalah apa yang Hekiel rencanakan ‒ ia akan memanfaatkan celah yang ada untuk memerangkap sang saint dalam himpitan dinding-dinding adamantite.


Sayangnya, semua tombaknya terlebih dahulu menghantang dinding transparan yang berada tepat di antara Hekiel dan Alfonso. Bersamaan dengan itu, rentetan pedang tak terlihat menyerbu kedua tameng yang sang commander genggam. Hekiel terpaksa membuat pilar tanah yang melontarkan tubuhnya ke udara, lalu membuat tanah pijakan untuknya melesat ke permukaan. Namun, laju Hekiel terpaksa terhenti saat kepalanya menabrak dinding transparan yang telah mengurung mereka.


“Jangan pikir aku akan membiarkanmu kabur!” teriak Alfonso Alsabnitz, dia sudah berada di dalam prisma segi lima yang berpendar biru. “[Shield Magic]-ku akan memastikan kau takkan bisa kabur dari pedang-pedang tak terlihatku.”


“Sihirnya cukup menarik,” puji Hekiel yang sudah menciptakan bola adamantite berjari-jari sepuluh meter untuk melindunginya dari hantaman pedang-pedang tak terlihat. Hekiel membuatnya cukup tebal sehingga sulit ditembus oleh pedang-pedang itu. “Aku akan terus terpojokkan jika tetap menghemat mana.”


Menarik napas yang dalam, Hekiel langsung menyatukan kedua telapak tangannya. Ia mengorbankan cukup banyak mana untuk membalikkan keadaan.


...»»»«««...