Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 49: Real and Fake, part 2



Vermyna—yang tubuhnya berbalutkan energi kehidupan—menghindari pukulan Fie dengan hati-hati. Meskipun ia telah unggul segalanya dari sang nephalem, kekuatan fisik Fie adalah satu-satunya pengecualian. Tubuhnya begitu tangguh sampai Vermyna kesulitan membuatnya terluka. Jika bukan karena [Eternal Body] yang membuat tubuh Vermyna mustahil dihancurkan, ia mungkin telah menerima luka parah kendati mendominasi pertarungan.


[Complete Sensory] sangat berguna dalam pertarungan jarak dekat seperti ini. Ketika Fie tak menggunakan [Anti Magic], ia bisa menghindari pukulannya dengan efektif dan efisien—tak peduli seagresif apa sang nephalem menyerang. Namun, situasi akan berbeda ketika [Anti Magic] digunakan. Vermyna akan dipaksa memblok setiap serangan yang datang.


Vermyna sedikit meringis saat memblok pukulan Fie yang dilayangkan ke wajahnya. Bocah ini…apa yang dia makan sampai tenaganya sebesar ini? Mendumel Vermyna sembari menggunakan aspek Infinity dari [Limit Breaker] miliknya, membuat pukulan beruntun Fie tak pernah sampai pada tubuhnya. Walaupun jarak mereka dekat, tetapi aspek Infinity membuat jarak itu seakan tak terjangkau.


“Cih, kau punya kemampuan yang menyebalkan!” komplain Fie yang sedikit frustrasi akibat tak mampu menjangkau Vermyna walau yang bersangkutan berada tepat di hadapannya.


Vermyna merespons komplain sang nephalem dengan menciptakan seribu doppelganger dari waktu yang berbeda. Walaupun mereka semua akan lenyap setelah terkena satu atau dua serangan vital, mereka bisa melakukan semua yang bisa ia lakukan (dalam skala yang terbatas).


“Anak kecil tidak boleh komplain saat diri orang dewasa memberi diri mereka pelajaran,” ucap Vermyna dengan nada mengejek. “Dirimu juga harus begitu kalau ingin tumbuh besar.”


Vermyna tak bisa menahan diri untuk tak tertawa saat melihat perubahan reaksi pada wajah Fie. Oh, betapa senang Vermyna karena tubuh aslinya adalah tubuh yang sudah dewasa. Jika ia masih berada di dalam tubuh Vermyna Hermythys, ia takkan bisa mengejek Fie seperti ini. Rasanya itu sungguh melegakan, apalagi saat mengingat kekalahannya dulu. Ini sungguh pembalasan yang memuaskan.


Selagi keseribu doppelgangernya menyerang Fie yang murka, Vermyna berteleportasi ke puncak gunung terdekat.


Bukan karena alasan apa-apa, ia perlu mempersiapkan diri untuk menggunakan Assassin Art milik Nizivia. Tubuh gadis itu sudah menjadi gumpalan darah dalam tubuhnya; jiwanya juga sudah lenyap ia telan sesaat setelah mendapatkan tubuhnya kembali. Karena itu, Vermyna tak bisa menggunakan kekuatan Nizivia semudah Nizivia – tubuhnya tak terlatih untuk itu. Ia memerlukan persiapan.


Concentrated Engulfing Silence.


Itulah teknik yang akan Vermyna gunakan kali ini. Pasalnya, dalam arsenalnya tak ada yang bisa ia gunakan untuk menghancurkan Fie. [Eternal Body] hanya membuat tubuhnya kekal abadi, sedang [Limit Breaker] hanya memberinya empat kemampuan: Unification, Infinity, Endless, dan Boundless—dan tak satu pun dari keempatnya memiliki kemampuan ofensif. Sementara itu, sihir menjadi tak berguna saat di hadapan makhluk empat dimensi seperti mereka.


Paling minimal, selain mengandalkan kekuatan fisik dan energi kehidupan, ia perlu dua Supreme Magic bertipe ofensif untuk bisa memberi luka pada makhluk empat dimensi—seperti yang sekarang dilakukan Fie. Ia tidak tahu bagaimana Fie bisa menggunakan [Celestial White Flame] dan [Complete Annihilation]. Barangkali dia punya kemampuan yang bisa memproduksi sihir. Yang jelas, Vermyna tak memiliki Supreme Magic bertipe ofensif.


Oleh karena itu, Vermyna memerlukan Concentrated Engulfing Silence untuk bisa menghancurkan sang lawan. Memang, meski tanpa kekuatan ofensif yang spektakuler, ia akan menang juga. Tubuhnya tak bisa dihancurkan; Fie takkan bisa membunuhnya. Namun, ini akan menjadi pertarungan panjang – tergantung pada seberapa lama Fie mampu terus bertarung. Seminggu, sebulan, bahkan setahun. Vermyna takkan terkejut jika Fie bisa bertahan lebih lama dari itu.


Kesal karena jumlah doppelganger terus bertambah dan bertambah, Fie menggbungkan kedua energi Supreme Magic di kedua tangannya membentuk api abu-abu yang bersifat seperti plasma. Bukan itu saja. Fie turut melapiskan api abu-abu tersebut dengan selubung [Anti Magic]. Kemudian api itu ia lesatkan ke segala arah dalam bentuk anak panah api yang jumlahnya jutaan.


Tak ada dari para doppelganger yang bisa melindungi diri dari terjangan panah api super. Setiap anak panah api plasma abu-abu sukses melenyapkan satu doppelganger. Namun, satu juta sangat sedikit bila dibandingkan dengan ratusan juta. Para doppelganger seperti tak terlihat berkurang; mereka masih menyampah di segala arah, mengerubungi Fie seperti semut di hadapan gula.


Fie kembali melesatkan sejuta anak panah api plasma abu-abu. Dan kemudian melesatkan sejuta lagi. Dan sejuta lagi. Dan sejuta lagi. Dan lagi….


Terlalu fokus pada menghabisi para doppelganger membuat Fie mengabaikan pertahanan untuk sesaat. Hal itu dimanfaatkan oleh para doppelganger untuk menyerang. Salah satu dari mereka berhasil memukul Fie tepat di atas kepalanya, sedang dua lagi berhasil menghantam kedua pipi Fie secara bersamaan. Sementara itu, satu doppelganger lain berhasil menyusup ke bawah sang nephalem dan mendaratkan kaki di antara kedua kaki Fie.


“Ups! Sepertinya diriku mengenai sesuatu yang menonjol, apa dirimu sebenarnya laki-laki? Pantas saja dada dirimu datar seperti triplek.”


Semua kontrol yang ada dalam diri Fie memudar tak berjejak, amarahnya memuncak. Teriakan murkanya menggema memenuhi ruang dimensi. Api plasma abu-abu menguar dengan begitu membara, menyebar dan melenyapkan apa saja laksana riak air di tengah lautan. Dan ketika teriakan Fie mereda, tak ada lagi doppelganger yang tersisa.


Bukan itu saja, arena super luas yang di atasnya berdiri banyak gunung juga lenyap. Tidak cuma satu, tetapi puluhan. Bahkan puing-puing arena tak lagi ada. Hanya ruang kosong yang tersisa, mengesampingkan udara dan energi yang bercampur padu mengisi ruang. Lebih dari itu, sekarang tubuh Fie dibaluti api abu-abu plasma seperti zirah. Ia telah mencampurkan kedua Supreme Magic dengan [Anti Magic] secara sempurna.


“Aku takkan memaafkanmu.”


Vermyna—yang sekarang dalam keadaan melayang—terkekeh mendengar ucapan sang nephalem. Sayang sekali ia tak mendapat memori dari para doppelganger, jadi ia tak ikut merasakan sensasi dari menendang di antara kedua kaki Fie. Tentu saja ia tahu kalau doppelgangernya sengaja mengatakan itu untuk mengolok-olok Fie, tetapi bagaimana jika doppelgangernya benar? Bagaimana jika Fie menyembunyikan sesuatu yang menonjol di balik pakaiannya?


Vermyna tak sanggup menahan tawa membayangkan semua itu. Ia terbahak-bahak sampai memegangi perutnya sendiri. Bahkan matanya sampai berair. Jika sekarang Vermyna berdiri di atas tanah, mungkin ia sudah berguling-guling. Siapa yang sanggup menahan hal yang menggelitik seperti itu?


“Bangsatt! Bajingann! Makhluk kuno anjingg! Kuhabisi kau!”


…Fie tak menerima perlakuan bejat itu. Walau ia tak tahu apa yang Vermyna pikirkan sampai membuatnya terbahak-bahak, harga dirinya sebagai wanita terasa tercabik-cabik. Ia melesat menyerang sang ratu vampire seperti singa gila.