Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 50: Changing Tides, part 2



Lumeira tak punya waktu bahkan hanya untuk berteleportasi. Kanna sudah menjerat tubuh dan kedua tangannya dengan [Rune Magic] pengekang. Putri Nueva itu sangat cepat, dan [Rune Magic]-nya memang benar-benar berada pada level yang berbeda. Bahkan dengan [Magic Absorption] kreasinya, Lumeira tak mampu menyerap segel pengekang itu. Sebaliknya, justru mana-nya yang terserap oleh segel tersebut.


“Kau harus membayar pengkhianatanmu, Commander Lumeira.” Kanna—yang sudah berdiri di hadapan Lumeira dengan wajah serius—berkata dengan intonasi yang datar. “Bukan saja kau telah mengkhianati kekaisaran, kau juga telah mengacaukan markas Divisi 3. Persiapkan dirimu untuk hukuman yang berat.”


“Aku bisa membela diri,” ucap Lumeira—mencoba yang terbaik untuk tak menunjukkan kelemahan. “Kau tak bisa menuduhku berkhianat ketika sejak awal aku memang tak pernah seti—”


Lumeira tak mampu menyelesaikan pembelaan diri. Mulutnya refleks menghentikan ucapannya saat tiba-tiba kulit Kanna dipenuhi simbol garis-garis hitam berbentuk bulan sabit. Ia tak perlu [Sensory Magic] untuk mengetahui seberapa berbahaya Kanna sekarang. Ia ragu Crow ataupun Cainabel bisa berbuat sesuatu padanya. Mungkin hanya Vermyna sendiri yang bisa menghentikan wanita ini.


“Mulai detik ini kau tawananku,” ucap Kanna sembari meletakkan telunjuk kanan pada dahi Lumeira. “Kusegel sihir dan mana-mu.”


Tepat setelah mengatakan itu, Lumeira tak lagi bisa merasakan keberadaan mana-nya. Ia tak bisa lagi menggapai sihirnya. Sekarang mantan Commander Divisi 3 ini tak lebih dari sekadar vampir biasa. Bahkan lebih lemah lagi; hilangnya kendali atas mana-nya membuat Lumeira tak lagi bisa beregenerasi atau sekadar mengendalikan darah.


Kali ini Lumeira tak menahan diri dari menunjukkan kekesalannya. Tak peduli sekuat apa wanita di hadapannya ini, apa yang dia lakukan telah terlalu berlebihan. Bagaimana jika tiba-tiba ada senjata yang terlempar ke arahnya? Ia bisa mati!


Namun, Lumeira seakan tak diberi kesempatan untuk menyuarakan kekesalannya. Tiba-tiba saja dinding gereja di sampingnya hancur. Tubuh Lancelot terpental keluar bersama dengan puing-puing dinding yang hancur. Valeria menyusul setelah itu. Pukulan kerasnya kembali menghantam Lancelot dan membuat sang saint terpelanting hingga mengenai bangunan lain.


Valeria mendarat belasan meter di hadapan gereja, tak jauh dari tempat Lumeira berdiri. Vampire itu bergumam tak jelas. Gerak tubuhnya menunjukkan kalau dia berniat melanjutkan serangan pada Lancelot. Namun, tiba-tiba saja dia terdiam saat akhirnya sang vampire menyadari kehadiran mereka. Kepala itu perlahan-lahan menoleh ke belakang, dan seketika pula keterkejutan mewarnai wajahnya.


“Oh, sial.”


Lumeira tidak tahu jika ia harus prihatin atau tertawa. Itu reaksi yang sama dengan yang ia tunjukkan saat tadi mendapati kehadiran Kanna. Dan sama seperti sebelumnya, Kanna tak memberi ruang bagi Valeria untuk melawan atau melarikan diri. Sang vampire sudah dalam keadaan berlutut dengan tangan kanan Kanna berada di atas bahu kanannya. Dan sebelum dia bisa melakukan apa pun, formula [Rune Magic] sudah menyelimuti tubuhnya.


“Ah, hai, sesama tahanan.” Lumeira menyapa dengan senyum lebar di bibir. “Selamat datang dalam kehidupan tahanan tanpa kekuatan. Mari kita nikmati penderitaan ini sama-sama.”


Kanna mengabaikan kedua wanita yang saling melempar ejekan itu, melangkah menghampiri Lancelot yang terluka parah.


“…Kanna el Vermillion.” Lancelot, dengan keadaan tubuh yang berlumuran darah, memaksakan diri untuk duduk. “Apa yang kau lakukan di sini? Apa kau datang mau meratakan kota ini dengan tanah?”


“Sayangnya bukan.”


Keinginan Lancelot untuk meminta penjelasan akan jawaban singkat itu terabaikan sejenak saat tiba-tiba tubuhnya diselimuti energi hangat. Sebuah formula sihir telah muncul di permukaan tempatnya duduk. Dan dalam sekejap ia telah pulih seperti sedia kala.


“Aku datang untuk menyelamatkan kota ini,” jawab Kanna – ia mulai melangkah menuju selatan kota. “Aku mau menyelamatkan kerajaan ini dari kehancuran. Saint Arthur mengerti maksudku, dan dia setuju denganku. Kau bisa ikut dan melihat bagaimana Arthur menghentikan pertempuran yang sebenarnya tak diperlukan. Tapi sebelum itu, katakan, di mana Fie Axellibra?”


Lancelot tidak mengerti apa yang telah terjadi. Tetapi melihat kedua vampire itu tak lagi bisa melawan, Lancelot bisa melihat kebenaran dalam ucapan putri sang emperor. Dia juga telah menyembuhkannya. Karena itu, ia merasa tak punya pilihan selain mengikuti sang putri. Ia juga perlu melihat jika ucapannya tentang Arthur memang benar atau hanya bualan.


“Kami tidak tahu di mana Nona Fie,” jawab Lancelot berusaha mengejar langkah Kanna. “Aku hanya melihat Nona Neira yang ke sini, tapi dia sudah pergi berduel dengan First Commander. Hingga kini dia belum kembali.”


“Kalau dia memang dalam perjalanan ke sini, bisa dipastikan Nona Fie akan menghentikannya.”


Kanna mengernyit mendengar jawaban itu. Apa yang Lancelot katakan sangat masuk akal. Jika Xavier berada di dekat ibukota, Fie pasti akan langsung menghentikannya. Namun, Kanna belum merasakan sinyal dari anting yang ia berikan pada Xavier. Jadi, kemungkinan besar mereka belum bertarung…kecuali jika ada yang mengintervensi sinyal yang anting itu kirimkan. Atau….


“Bagaimana dengan Vermyna Hellvarossa?” tanya Kanna memastikan – tidak menutup kemungkinan kalau Vermyna turun tangan langsung untuk menghentikan Fie sebelum sang nephilim berhadapan dengan Xavier.


Namun, kalau kemungkinannya begitu, di mana Xavier? Kenapa ia tak bisa berteleportasi ke tempat anting itu berada meski ia tahu kalau anting itu masih ada?


“…Dia belum menampakkan diri.”


Itu menjelaskan semuanya, batin Kanna menarik kesimpulan. Kemungkinan saat ini Vermyna, Fie, dan Xavier berada di tempat yang sama. Vermyna menyadari fungsi anting yang dipakai Xavier, dan dia sengaja menyegel anting itu. Pasalnya, ia akan langsung tahu jika anting itu hancur. Jadi, pastilah begitu.


Kalau begitu, aku harus mencari lokasi dimensi itu berada dan segera bergabung dengan mereka.


“Apa sebenarnya yang kau inginkan? Apa kekaisaran berubah pikiran dan memutuskan bersekutu dengan Emiliel Holy Kingdom?”


Kanna mulai menggerakkan telunjuk kirinya menulis formula rune yang akan mencari lokasi dimensi itu untuknya. Pada saat yang bersamaan, ia tak menghentikan langkah kakinya. Mereka menuju gerbang selatan tanpa memedulikan kedua vampire yang tak bisa apa-apa lagi itu.


“Kekaisaran akan melindungi Emiliel Holy Kingdom,” ucap Kanna menjawab pertanyaan Lancelot. “Perang ini harusnya tak diperlukan. Kekaisaran dan Emiliel Holy Kingdom akan bekerja sama untuk membawa Islan ke era perdamaian. Bukankah itu tugas Knight Templar? Tapi kenapa kalian justru berbuat sebaliknya. Untuk alasan itulah kekaisaran akan menyelamatkan Emiliel Holy Kingdom dan mengembalikan Knight Templar ke jalan yang seharusnya.”


“…Apa kau mengimplikasikan akan memvasalisasikan Emiliel Holy Kingdom? Kau kira kami semua akan menerima semua itu?”


“Apa aku ada berbicara tentang itu?” Kanna tak menunggu jawaban. “Kutekankan sekali lagi, kekaisaran akan membantu Emiliel Holy Kingdom dan mengembalikan kembali kehormatan Knight Templar. Jika kau punya interpretasi lain atas ucapanku ini, itu terserah padamu, Sir Lancelot.”


Wanita ini….


Lancelot menghela napas pelan. Lebih baik ia diam dan menunggu penjelasan Arthur. Lagipula, tak banyak yang bisa mereka lakukan tanpa Fie Axellibra. Benci Lancelot mengakuinya, tetapi posisi mereka benar-benar tersudutkan.


...*****...


#Pertarungan Fie dan Vermyna sengaja tak diperdetail demi membuat pertarungan Xavier vs Nueva/Lucifer tetap menjadi yang terbesar.


Dan, er…ini bisa jadi volume terakhir—plot volume 7 dan Volume 8 telah dijadikan satu. Melihat Xavier sudah sekuat itu, tak ada tempat untuk Volume 8. I admit I made a mess.