
Asumsi Hekiel menjadi kenyataan. Knight Templar menerobos keluar dari mulut lorong.
Mereka bergerak ke sisi kiri dan kanan dinding diiringi syok yang kentara. Mereka tidak terkejut dengan keberadaan Imperial Army yang sudah menanti; parit lebar nan panjang yang menganga tanpa ampun adalah apa yang membuat mereka kaget. Kekagetan itu langsung dimanfaatkan prajurit Divisi 6 dengan baik. Mereka menyerang prajurit Knight Templar dengan agresif dan barbar.
Satu demi satu prajurit Knight Templar tewas. Baik itu oleh tebasan pedang maupun lesatan spell. Mayat-mayat mereka jatuh berserakan. Kebingungan membuat kerja sama musuh memburuk, tidak bisa melepaskan potensi penuh. Divisi 6 Imperial Army sungguh berada di atas angin.
Namun, seperti yang bisa diekspektasikan dari Knight Templar, mereka dapat keluar dari tekanan setelah beberapa menit berlalu.
Hekiel telah kehilangan pandangan akan berapa jumlah musuh yang telah tewas, yang jelas mereka tak ada habisnya. Ia tergoda untuk menutup lorong dan membunuh semua yang ada di dalamnya, tetapi itu akan merusak semua rencana yang telah mereka susun.
Akhirnya Hekiel melompat dari dinding kota dan melesat melompati parit selebar 20 meter. Ia bahkan tak merepotkan diri membawa pedang. Begitu mendarat, sang commander langsung mencengkeram leher seorang prajurit musuh dan menghancurkan tenggorokannya. Hekiel merampas pedang sang prajurit dan menggunakannya memblok ayunan pedang prajurit lain. Dari titik itu, Hekiel menghabisi prajurit demi prajurit.
Tak ingin mencuri panggung dari para pasukannya, Hekiel kemudian menciptakan anak tangga di atas bibir lorong dan melompat perlahan-lahan ke atas. Ia bisa menyerang dari atas. Jika musuh mencoba menaiki dinding, Hekiel bisa menghabisi mereka dengan lebih mudah jika berada di atas sana.
Entah ini kebetulan semata atau intuisinya terlalu tajam, Hekiel mendapati enam prajurit di atas dinding adamantite. Mereka kemungkinan Magic Caster yang ditugaskan menyerang dari atas, atau mungkin Magic Master. Yang jelas, Hekiel tak bisa membiarkan mereka melakukan apa yang ditugaskan kepada mereka.
Keenam prajurit itu terkejut melihatnya; mereka tak mengekspektasikan kehadiran mereka diketahui. Hekiel tak mengizinkan mereka menyerang atau sekadar mengirim pesan pada rekan-rekan mereka. Ia menghabisi empat prajurit dengan empat tombak adamantite dan dua sisanya dengan pedang. Hekiel menendang keenam mayat itu ke bawah, sedikit melebar di samping tempat terjadinya pertempuran, membuat mayat-mayat langsung masuk ke dalam parit yang dalam.
...— — — — — — — — — — —...
Gibral menggigit jari memikirkan cara lain mereka bisa memasuki kota. Parit itu memanjang selaras panjangnya dinding kota. Mereka tak mungkin memutarinya. Sementara itu, melompati parit selebar 20 meter itu terlalu riskan menjadi sasaran empuk Imperial Army. Jalan satu-satunya yang paling mudah memang mengalahkan Imperial Army dalam permainan mereka sendiri.
Namun….
“Aku akan bergabung dengan para Magic Caster,” putus Gibral. Tidak ada cara lain untuk membuka jalan bagi pasukannya; Magic Caster Imperial Army memang lebih superior daripada Magic Knight mereka. “Jez, kuserahkan komando di sini padamu. Tetap kirim pasukan untuk menyerang melalui kedua sisi dinding.”
Mendapatkan anggukan prajurit bersangkutan, Gibral melesat memasuki lorong satu-satunya pada dinding super panjang.
“Beri ruang!” serunya pada pada prajurit di kiri lorong, melesat dari celah sempit itu untuk memosisikan dirinya di paling depan Magic Caster. “Tetap serang!” perintah Gibral pada para Magic Caster di belakangnya sembari mempersiapkan spell.
Memerlukan beberapa detik untuk persiapan, tetapi akhirnya Gibral berhasil melesatkan salah satu spell andalannya: Spiral Dragon Lightning.
Seperti namanya, itu petir berbentuk naga yang berputar secara spiral. Itu sama besarnya dengan mulut lorong. Spell tersebut melesat tak terbendung melenyapkan semua spell yang musuh keluarkan. Namun, sebelum sukses menewaskan para Magic Caster musuh, petir naga tersebut ditubruk oleh dua angin berbentuk singa. Spell Gibral hendak menang, tetapi kemenangan itu langsung sirna saat dua api berbentuk singa menyatu dengan angin. Ledakan tak terelekkan.
Gibral langsung memanfaatkan efek ledakan itu untuk menyerang. Ia memerintahkan yang lain mengikutinya. Namun, hal yang sama juga dilakukan Imperial Army. Mereka melesat menerobos kepulan asap dan debu yang ledakan sebabkan. Pertempuran pecah di tengah-jengah jembatan.
...— — — — — — — — — — —...
Hanya saja, dari tadi yang membingungkannya, Alfonso tidak mendapati satu pun laporan dari aksi para Magic Caster di atas dinding sana. Mereka telah memulai aksi sedari tadi, tapi sampai sekarang tak kunjung ada pemberitahuan. Yang paling membingungkan, semua yang sudah naik ke sana tak pernah turun lagi. Ia sudah mengamatinya dengan teliti ‒ Alfonso yakin tak melihat satu pun prajurit yang turun.
Mungkinkah mereka lupa turun untuk memberi laporan karena keasikan menyerang? Atau, kehadiran mereka diketahui, dan mereka semua sudah mati?
Untuk pertama kali setelah hampir dua jam, Alfonso berdiri dari tempat duduknya. Ia memerintahkan hampir 20 ribu prajurit yang tersisa untuk bergabung dengan sisa pasukan yang Gibral pimpin. Kemudian ia melesa cepat menaiki anak tangga demi anak tangga. Ia akan ke puncak dinding untuk memastikan semuanya.
Satu dari asumsi Alfonso menjadi kenyataan saat ia tiba di puncak.
Semua Magic Caster yang tadi naik ke atas sini sudah tewas terbunuh. Pelakunya hanya seorang saja. Dari lencana yang dia pakai, dia jelas berposisi tinggi. Wakil commander, mungkin. Jika begitu, tak mengherankan para prajurit sudah dihabisi. Alfonso bisa merasakan aura petarung dalam diri pria itu.
“Kau Saint yang memimpin pasukan Knight Templar, apa aku salah?”
Sang saint tak merepotkan diri untuk merespons pertanyaan itu. Ia menarik pedang dari dalam sarungnya dan menyerang.
Alfonso mengutuk diri. Ia telah melakukan kesalahan fatal karena telah meremehkan musuh. Dia bukan commander, kemampuannya tak setara dirinya, begitu pikir sang saint.
Peremehan itu dibayar dengan cukup mahal. Tendangan pria itu telah terlebih dahulu menghantam wajah Alfonso sebelum pedangnya sempat terayun. Ia terlempar ke bawah secara diagonal, seperti batu yang dilemparkan miring untuk menambah daya rusak.
Buuum!
Tubuh Alfonso dengan telak menghantam tanah setelah beberapa detik meluncur. Rasa sakit yang tubuhnya terima sangatlah nyata. Ia jatuh dari ketinggian tanpa mampu mengontrol diri, dan dalam kecepatan tinggi pula. Jangankan orang biasa, prajurit yang terlatih sekalipun akan mati jika berada di posisinya, paling minimal patah leher atau kaki.
Alfonso yang hendak menunda untuk bangkit sampai rasa sakit yang ia terima sedikit mereda langsung membatalkan niatnya.
Pria itu sudah melompat turun dari atas sana, menukik tajam dengan sebilah pedang yang terayun. Alfonso langsung bangkit sembari bersalto sekali ke belakang. Ayunan pedang bertenaga besar dari pria itu sukses Alfonso blok dengan pedangnya, tetapi perbedaan momentum membuat sang saint terhempas ke belakang.
“Aku tak berpikir untuk langsung menghabisi pemimpin musuh, tetapi kau cukup lemah, dan itu membuatku berubah pikiran. Akan kuhabisi kau, kemudian pasukanmu menyusul.”
Alfonso sekarang menyadari kesalahan paling fatal yang telah ia perbuat. Pria di hadapannya bukan wakil commander seperti yang ia duga. Dia adalah pria yang membuat dinding adamantite itu, dia salah satu Commander Imperial Army. Jubahnya memang telah dicopot, tetapi hawa kehadirannya berbeda cerita. Terlebih lagi, jumlah lencana di bajunya terlalu banyak untuk seorang wakil commander.
Menyadari hal ini, keprbradian Alfonso Alsabnitz langsung berubah. Alfonso sudah kembali ke dalam alam bawah sadar, dan Alsabnitz muncul ke permukaan. Hal itu terlihat jelas dari perubahan rona wajah sang saint. Tidak ada tanda-tanda kebodohan dan kemaniakan dari wajahnya; Alfonso Alsabnitz sekarang berekspresi serius dan sedikit arogan.
“Jangan terlalu bangga diri karena berhasil menendangku sekali, Pendosa. Kau terlalu cepat seratus tahun untuk bersikap angkuh di hadapanku.”