Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 9: Causa Proxima, part 2



...—4th July, E642 | Markas Utama Divisi 12, Verada, Vermillion Empire—...


Begitu selesai berbicara dengan Monica perihal bergabungnya Menez dengan mereka, Xavier langsung kembali ke Verena. Ada hal penting lain yang harus ia lakukan. Bagaimanapun itu, ia harus meyakinkan Kanna untuk tidak memberitahukan “rahasia” yang ia karang pada Nueva. Kanna tidak boleh membeberkan pada Nueva kalau El adalah saudara kembarnya. Itu akan menjadi kesalahan paling konyol dalam hidupnya.


Beruntung bagi Xavier, Kanna masih berada di Verena. Dia sudah selesai berbicara dengan Emily dan para prajurit. Saat Xavier menghampirinya, sang putri sedang duduk di atas atap salah satu menara yang ada di kompleks Markas Divisi 11. Dia duduk dengan mata memandang ke bawah, tidak tahu apa yang ada di kepalanya.


Xavier membuka mulutnya, hendak menyuarakan kehadirannya—meskipun sejatinya ia yakin Kanna sudah mendengar pijakan kakinya di atas atap ini. Namun—


“Percaya atau tidak, aku mengekspektasikanmu untuk kembali ke sini, Xavier.”


—Kanna terlebih dahulu mengalahkannya dalam hal itu. Sang putri berbicara tanpa memandangnya, kedua matanya menutup seolah sedang mempertajam persepsinya.


“Apa yang ingin kau katakan? Apa kau ingin aku menyembunyikan perihal El dari Monica atau ayahku? Apa pun itu, katakanlah. Aku mendengarkan.”


“Tidak, bukan itu alasan utamaku kembali ke sini,” bohong Xavier, duduk tepat sepuluh inci di samping sang putri. Ia tidak berpikir alasan lain saat ke sini. Namun, alasan lain datang tiba-tiba saat Kanna sudah menebak alasan kedatangannya. Bukan atas maksud lain, hanya untuk membuat asumsi Kanna menjadi tidak sepenuhnya benar. Itu saja.


“Oh, berarti itu alasan sampingan. Lantas?”


“Saat kekaisaran mengangkat senjata mengatasi serangan musuh, artinya kita membela diri—meskipun kita tahu ada dari para prajurit yang mungkin takkan kembali. Namun, hari ini berbeda. Kekaisaran tidak membawa prajurit untuk membela diri; kita menyerang. Artinya, kita membawa para prajurit kepada kematian mereka. Hari ini keluarga mereka takkan bertanya-tanya akan keadaan anak/ayah/suami mereka jika kekaisaran tak memulai mengangkat senjata.”


“Apa kau mengimplikasikan ini kesalahanku karena mengindahkan perintah ayahku? Kau ingin mengatakan kalau tak akan ada korban jika aku menghentikan penyerangan? Atau, kau mempersoalkan kegagalanku dalam melindungi para prajurit?”


“Tentu saja tidak. Sama sekali tidak. Bagaimana kau bisa menyimpulkannya begitu?” Xavier menggeleng pelan, menggerutu kalau Kanna sensi seperti wanita lagi menstruasi—tentu saja itu dalam hati; Xavier cukup pintar untuk tidak mengatakan hal yang seperti pemicu ledakan itu. “Aku hanya ingin mengetahui keadaanmu,” lanjutnya. “Kita sama-sama tahu kalau kau membebankan hal itu pada dirimu. Pemikiran-pemikiran ‘jika aku melakukan ini’/’jika aku begitu’ pasti melintas dalam kepalamu.”


“…Kau ingin menghiburku?” Kanna menoleh, iris biru eksotisnya memandang intens Xavier—memberikan tekanan imajiner pada tubuhnya.


“A—” Xavier tak mampu menyelesaikan kalimatnya. Kanna telah memotong jarak di antara mereka, mendaratkan kepalanya di pundak Xavier. “Kau harus melakukannya,” kata sang putri. “Ceritakan sebuah cerita heroik padaku. Tidak ada yang le—”


—Kilasan memori dalam benak Xavier langsung memudar saat sebuah suara menghujam dalam menusuk indra pendengarannya. Sepasang manik biru telah memandang tajam ke dalam matanya. Itu tentu saja bukan iris biru Kanna; kekontrasannya berbeda. Iris biru yang seolah menarik pemandangnya itu tak lain adalah milik Monica.


“Apa yang kau pikirkan sampai terlalu larut di dalamnya seperti tadi?”


Kelopak mata Xavier mengerjap satu dua kali. “Monica….”


“Kau tidak menjawab pertanyaanku, tapi terserahlah.” Monica mengedikkan bahu. “Aku ingin menyampaikan kalau utusan dari Provinsi Emeralna ingin bertemu. Namanya Jenny. Katanya ia datang khusus untuk menyampaikan pesan dari Gubernur Artemys el Vermillion.”


“Jenny, huh?” Gambar sang pengikut setia Artemys segera saja muncul di kepala Xavier. “Sudah lebih dari dua minggu aku tidak mendengar tentangnya. Baiklah, suruh dia masuk. Jika dia repot-repot ke sini, itu artinya apa yang Artemys sampaikan melaluinya itu sangatlah penting.”


“Kau sepertinya sangat familier dengan Artemys ini….”


Mengejutkan dirinya, ia tidak berusaha mengelak; Xavier tidak berpikir ia perlu mengelak. Kepalanya mengangguk dengan spontan. “Artemys telah banyak membantuku; dia wanita yang menarik. Tidak saja dia dewasa, dia juga pintar dan berpengetahuan luas. Aku sering mengandalkannya dalam hal-hal yang merepotkan.”


“Monica…?”


“Tidak perlu khawatir; aku tidak marah ataupun sedih. Pun aku tak ingin menampar-nampar wajahmu atau semacamnya. Jika kau bisa merencanakan pernikahan di belakangku, hal lainnya sungguh takkan mengejutkanku. Santai saja; tidak perlu mengkhawatirkan apa pun.” Dan Monica pun menghilang dari pandangan Xavier.


Berkontradiksi dengan ucapannya, Monica jauh dari kata “tidak marah”. Xavier sangat menyadari itu. Karena itu pula ia mengernyitkan kening, sedikit bingung. Ia tidak mengerti apa yang membuat Monica bersikap be—eh, apa aku baru saja memuji Artemys di depan Monica?


Xavier tak kuasa menahan tangannya dari menepuk jidatnya sendiri, betapa kesalahan yang bodoh dan ceroboh!


Ada satu aturan dasar yang harus seorang pria pahami: jangan memuji satu wanita di hadapan wanita lain yang akrab denganmu, kecuali jika wanita yang dipuji itu sudah renta atau sudah tiada. Tentu saja hal itu berlaku sebaliknya. Namun, wanita lebih sensi, emosi mereka lebih cepat memuncak.


“Aku harap tidak mengganggu waktumu, Commander Xavier.”


Perhatian Xavier teralihkan dari kesalahan bodohnya saat suara yang tak asing baginya menginvasi ruangan. Matanya langsung menemukan Jenny yang sudah melangkah melewati ambang pintu.


“Jenny, hal penting apa yang membuat Artemys mengirimmu?” tanya Xavier tanpa basa-basi; ia ingin urusan ini cepat selesai sehingga ia bisa menjelaskan dengan benar pada Monica.


“Ini masalah yang cukup serius, sangat-sangat serius. Ini masalah yang sangat rahasia. Tidak boleh ada individu lain yang tahu. Jujur saja, saya tidak berani mengatakannya di sini; saya tidak tahu akan seperti apa reaksi Commander.”


Sekarang perhatian Xavier sudah sepenuhnya teralihkan pada Jenny—ia bahkan telah mengesampingkan masalahnya dengan Monica.


“Masalah apa? Apa ini berhubungan dengan apa yang kuminta Artemys lakukan?”


Jenny melengkungkan bibirnya. “Saya pikir lebih baik Commander Xavier ikut saya ke istana. Lebih baik Nona Artemys sendiri yang memberitahu. Meskipun Nona Artemys memberi pilihan bagi saya untuk menjelaskannya kepada Commander, tetapi saya putuskan saya tak pantas untuk mengatakannya.”


Sekarang Xavier benar-benar penasaran. “Baiklah,” katanya sembari berdiri. “Aku akan mengikutimu menemui Artemys.”


...—Royal Palace, Cornnas, Provinsi Emeralna—...


“Mengapa kau tidak duduk menemaniku di sini, Xavier, kita bisa berbicara setelah makanan ini habis. Oh, kau juga boleh membantu. Ah, tidak, tapi bantulah aku—kau bisa menyuapiku. Mereka bilang rasanya akan berlipat ganda jika disuapi orang lain.”


Kata-kata itu adalah apa yang menyambut kedatangan Xavier. Suara itu berasal dari ruang makan istana. Artemys duduk sendiri di salah satu kursi yang mengelilingi meja makan besar dan panjang. Dua orang pelayan wanita berdiri dengan kain lap putih di tangan, keduanya berada di kiri Artemys.


Xavier mengangguk; tidak ada alasan untuk menolak undangan itu. Berada di sisi Artemys selalu membuat pikirannya tenang. Ia selalu menikmati berada di sisinya. Sama sekali tidak ada alasan mengapa ia harus menolak undangan itu.


“Aku tidak bisa berlama-lama di sini,” katanya setelah ia menyamankan diri di kursi di samping sang putri, masing-masing tangannya mengambil pisau dan garpu yang terletak di piring. “Kau bisa bicara disela-sela aku menyuapimu.”


“Begitu? Baiklah. Kalau begitu biar kumulai dari sini, bagaimana menurutmu jika kau menjadi seorang ayah?”


…Dan garpu dan pisau yang Xavier pegang seketika jatuh menghantam lantai.