
Waktu selalu memberi jawaban untuk hampir semua permasalahan. Begitu pun dengan masalah Lucifer. Ia berhasil menjawab pertanyaannya sendiri setelah cukup lama berkontemplasi: Ia telah keliru. Malaikat memang tidak dilahirkan, tetapi penciptaan mereka sendiri sudah otomatis menghubungkan diri mereka dengan Throne of Heaven. Karena pada dasarnya, penciptaan kehidupan tak bisa dilakukan tanpa Throne of Heaven.
Mendapatkan jawaban dasar untuk pertanyaannya, Lucifer mulai memikirkan syarat lain yang diperlukan. Bagaimana caranya ia bisa bertransendensasi? Apa evolusi bisa menjadi solusi? Fie tidak terlahir secara nyata dengan sayap hitam atau sayap putih, melainkan sayap hitam dan putih. Apa itu bisa dihitung sebagai evolusi? Kalau begitu, evolusi menjadi syarat kedua?
Lucifer melakukan berbagai eksperimen menggunakan jiwa manusia. Namun, tak ada yang berhasil. Selain karena ia harus membunuh jiwa janin yang baru terbentuk sebelum memasukkan jiwa manusia lain yang sudah mati, ia juga harus memastikan tubuh yang ia pilih kompatibel dengan jiwanya. Itu membutuhkan banyak waktu.
Namun, aksi Lucifer tak bisa ditutupi dengan sempurna. Luciel mengendus tajam aksinya.
Karena tak ingin semua usahanya diganggu dan diperlambat, Lucifer memutuskan untuk mengakhiri saudaranya untuk selamanya. Kebetulan pula waktu itu ia mendengar kalau Edenia sudah meninggalkan surga. Makhluk yang tak becus menjadi dewa itu meninggalkan singgasananya dalam penjagaan kedua belas seraphim terkuat. Waktu benar-benar berada di pihak Lucifer.
Rencana besar pun ia buat, dan peperangan pun terjadi dalam dimensi kosong yang menjadi penghubung antara surga, neraka, dan permukaan dunia.
Pertempuran itu lebih dahsyat dari sebelumnya. Namun, karena dua belas seraphim terkuat tak turut berpartisipasi, pihak Lucifer sedikit diunggulkan. Tetapi Luciel memang merepotkan. Lucifer lebih kuat, tapi mengalahkan Luciel memang sulit.
Pada akhirnya, Lucifer berhasil menghancurkan tubuh Luciel. Namun, Luciel berhasil melarikan jiwanya sebelum jiwa itu ia hancurkan dengan [Complete Annihilation]. Tetapi yang lebih mengejutkan dari itu adalah hancurnya dimensi kosong itu secara tiba-tiba. Semula Lucifer berpikir itu disebabkan akibat pertarungannya dengan Luciel, tetapi di kemudian hari ia menarik asumsi itu.
Karena dalam keadaan tubuh yang terluka, dan mepetnya waktu, Lucifer tak bisa berbuat banyak selain menarik seekor iblis terdekat secara asal dan memberinya instruksi, kemudian ia lemparkan iblis itu ke dalam celah dimensi sesaat sebelum dimensi itu runtuh seluruhnya. Lucifer dan para iblis lantas kembali terhempas ke neraka setelah dimensi kosong runtuh.
Lucifer langsung memanggil Mammon dan Beelzebub menghadapnya setelah keadaan para iblis stabil. Ia mengutarakan maksudnya pada kedua iblis itu. Karena, di antara petinggi iblis, hanya mereka berdua yang benar-benar loyal. Lucifer menyembunyikan jiwanya di dalam diri Mammon, dan ia memberi tugas Beelzebub untuk menjaga tubuhnya.
Masa penantian Lucifer terjawab saat akhirnya iblis itu menemukan manusia yang bisa digunakan sebagai tumbal untuk memanggil Mammon. Namanya Edward Penumbra. Lucifer melarang Mammon untuk membunuh Edward. Ia meminta sang iblis untuk menggunakan sihir darahnya dan mengendalikan tubuh Edward. Edward adalah petarung tangan kosong yang mencoba mengendalikan energi kehidupan, dia ke depannya bisa berguna.
Dengan adanya jiwa Edward dan jiwa Mammon, siapa pun akan kesulitan untuk merasakan keberadaan jiwa Lucifer. Bahkan jika Luciel berhasil menemukan inang yang kuat untuk dia ambil alih, kemungkinan besar dia juga takkan mampu merasakan kehadiran jiwanya. Sebuah keuntungan yang besar.
Namun, sebelum itu, Mammon terlebih dahulu menemukan manusia yang cocok untuk Lucifer manfaatkan sebagai wadah. Nueva Vermillion, manusia bertalenta yang berambisi menjadi dewa. Tidak ada manusia lain yang lebih cocok dari dia. Lucifer membiarkan Mammon melaksanakan tugas yang ia biarkan dengan caranya.
Hanya membutuhkan waktu beberapa tahun bagi Mammon untuk menyiapkan semuanya. Kemungkinan besar Luciel masih belum menemukan tubuh yang tepat untuk dia huni. Karena itu pula serpihan jiwa Thevetat berhasil dikumpulkan tanpa halangan. Dan dengan Mammon dan Nueva yang berhasil meyakinkan Hernandez sang blacksmith, Nueva berhasil dilahirkan kembali—walaupun mereka harus menunggu lama untuk itu.
Dan tentu saja, demi memastikan bukan Nueva yang bertransendensasi, Lucifer memotong sedikit bagian jiwa Nueva. Karena itu pula Nueva tidak mengingat kehidupan masa lalunya. Lucifer baru mengembalikan ingatan Nueva saat ia yakin Nueva takkan lagi bisa bertransendensasi setelah berevolusi. Dan sebagai pengaman, ia merekatkan energi penghancurnya pada potongan jiwa itu. Energi itu juga berperan sebagai penghubung dirinya dan Nueva di masa depan kelak.
“Benar sekali. Kau hanyalah alat yang kuperlukan untuk membantuku berevolusi sekaligus bertransendensasi,” jelas Lucifer lagi setelah ia sedikit mengulas tentang bagaimana ia bisa sampai pada hari ini. “Aku akan menyatukan tubuh dragonoidmu dengan tubuh malaikatku. Jiwamu akan hancur dalam proses penggabungan itu. Dan tak ada yang bisa kau lakukan untuk menghentikannya.”
“Tapi tenang saja,” lanjut Lucifer begitu gerbang neraka mulai muncul di belakang sang emperor. “Keinginanmu akan hidup dalam diri orang lain. Keinginanmu yang menjadi dewa, aku akan menjadi dewa untukmu. Dan keinginanmu untuk menciptakan dunia yang damai, seseorang yang lain mungkin akan mewarisi keinginan itu.”
Sama cepatnya dengan kemunculannya, gerbang neraka menghilang tak berjejak. Dan sejurus seketika, energi gelap mengurung sang emperor dalam kubus yang tak tertembus.
Namun, Lucifer tak punya waktu untuk memandangi gejolak energi yang begitu besar. Xavier telah berada di belakangnya dengan pedang api hitam pekat yang mengayun. Sang commander telah berhasil membuka celah dari serangan tak bertepi Lucifer. Bukan, lebih tepatnya, Xavier telah menyerap semua serangan Lucifer hingga tak bersisa.
Lucifer menunduk menghindari tebasan api hitam sang commander dan kemudian menyikut abdomennya sembari memutar.
Tebasan api hitam Xavier menerpa udara kosong, dan kemudian tubuhnya terhempas. Lucifer tak melepaskan sikutan yang terlampau keras. Jadi, tak mengherankan sang commander dapat mendarat dengan kedua kaki hanya beberapa meter dari Lucifer.
Namun begitu, meski sang commander telah mengganggunya dari menyaksikan kubus energi hitam yang menyembunyikan proses menakjubkan, Lucifer tidak kesal. Ia bahkan tak menunjukkan gestur ingin menyerang. Sebaliknya, bibir mantan malaikat agung ini justru melengkung. Ia tersenyum.
“Kukira kau pantas mendapatkan kata ‘terima kasih’ dariku,” ucap Lucifer santai. “Jika kau tak membuat Nueva menjadi tak berdaya, akan sulit bagiku menundukkannya. Jika Luciel masih berada dalam dirimu, aku juga ingin berterima kasih padanya. Tapi aku tak lagi bisa merasakannya. Meski begitu, terima kasih untuk kerja samanya, Commander Xavier.”