
KHROMETH akhirnya mendudukkan diri hampir sepuluh menit setelah kedatangan Minner. Meski begitu, ia tak memandang sang lionman. Khrometh tak keberatan menghabisi Minner sekarang juga, tapi saat ini seluruh amarahnya sudah tersalurkan pada Cainabel. Ia sangat amat ingin menghabisi wanita vampire itu sekarang juga.
“Sampai kapan kau mau menghiraukanku, Khrometh? Ah, kau pasti sangat marah karena kreasi kebanggaan kalian dihancurkan, bukan begitu? Kau sekarang sangat ingin menghabisi Cainabel dan melampiaskan amarahmu?”
Khrometh mendengus ‒ ogah mendaratkan pandangan pada pria yang biasa ia ejek “singa jantan”.
“Sebaiknya lupakan saja keinginanmu itu. Peluangmu menang jauh lebih besar bertarung denganku ketimbang dengan Cainabel. Wanita itu lebih kuat dari asumsi orang-orang. Bahkan jika kita berdua bersama, kemungkinan kita akan kalah. Daripada itu, ayo selesaikan masalah di antara kita. Ini akan menjadi yang terakhir. Hanya satu dari kita yang akan kembali hidup-hidup.”
Khrometh masih tidak mau meladeni sang lionman, tetapi tendangan kaki kanan yang dilayangkan secara tiba-tiba memaksa Khrometh menyilangkan kedua tangan melindungi diri. Meski kedua tangannya sempat memblok kaki itu, tenaga besar di balik tendangan Minner tetap membuat Khrometh terhempas.
Khrometh telah secara drastis menjadi lebih kuat dibandingkan saat mereka masih bersama dalam Deus Guardian. Minner tak seharusnya mampu menghempaskannya seperti ini. Tetapi kenyataan tidak begitu. Hal ini hanya menunjukkan kalau Minner juga sudah lebih kuat—atau mungkin ia yang terlalu meremehkan mantan rekannya itu.
“Tak masalah jika kau tak berminat melawan. Itu hanya akan membuat pekerjaanku lebih cepat. Aku tak ingin membuat para prajurit yang sedang menghancurkan apa yang tersisa dari Dwagnowa menunggu terlalu lama. Kami perlu dengan cepat melanjutkan agresi ke Holy Kingdom.”
Mendengus kesal, Khrometh bangkit berdiri dari tempatnya terjatuh dan memandang intens sang lionman. “Biar makin jelas, Minner, bukan aku yang membunuh saudarimu. Dia lebih kuat dariku. Kau bisa menyalahkan orang lain untuk itu. Tapi kalau kau segitunya mau mati menyusul Evana dan yang lainnya, maju sini. Akan kuhancurkan kau hingga tak ada yang bersisa.”
“Ini tak ada hubungannya dengan masalah itu,” ujar Minner bersama langkah kakinya yang tenang. “Kau terlalu lemah dan idiot untuk bisa melakukannya. Tapi kenyataan kalau kau telah mengkhianati Deus Guardian dan berpihak pada Knight Templar tidak bisa dikesampingkan. Aku akan mewujudkan pesan terakhir Pope Gramiel sekarang juga. Kematian adalah hukuman yang paling tepat bagi pengkhianat.”
“Pengkhianat?” Khrometh terkekeh. “Deus Guardian berakhir sejak Danau Deus lenyap. Jika ada yang perlu kau salahkan, salahkan Pope Gramiel atau bahkan Edenia secara langsung. Dengan hilangnya Air Ethereal, tetap menjadi bagian dari kalian adalah buang-buang waktu dan tenaga. Lebih dari itu, aku sudah muak dengan kalian yang selalu mengagung-agungkan Hernandez bangsat itu.”
“Ah, kau memang selalu iri dan dengki pada Hernandez. Tapi, Khrometh, apa kau tahu kreasi ‘masterpiece’ Hernandez?”
Khrometh kembali mendengus. Ia sudah tak menghitung berapa kali sudah ia mendengus, tetapi berbicara dengan orang seperti Minner mustahil membuatnya tak mendengus.
“Hm…. Kukira tidak ada gunanya lagi berbicara denganmu. Kau sudah berada di titik di mana mustahil bagimu untuk kembali. Persiapkan dirimu, Khrometh, ini akan menjadi pertarungan terakhir dalam hidupmu.”
Khrometh tidak menerima kata-kata itu begitu saja. Itu kata-kata ofensif yang tak bisa dibiarkan tanpa konsekuensi. Semua formula rune yang ia pasang pada tubuhnya langsung ia aktifkan secara bersamaan. Sebuah kapak bermata dua muncul dengan begitu tiba-tiba di tangan kiri Khrometh, dan zirah hitam keemasan telah membaluti bagian vital tubuh sang dwarf.
“Aku tak punya niat menghabisimu, Minner. Tapi kalau kau memang mau mati, sini maju! Akan kuantar kau ke depan pintu gerbang kematian!”
Minner tak perlu disuruh dua kali, dan ia juga tak memerlukan undangan sang dwarf. Dengan aura keemasan yang telah menyelimuti tubuhnya, Minner melesat menerjang mantan rekannya dengan cakar tajam di kedua tangan. Dalam lesatannya ke sana, Minner langsung memasuki mode Beastification-nya. Ia takkan membuang-buang waktu dalam pertarungan ini; ia akan hancurkan Khrometh dengan kekuatan penuhnya.
Sebelum Khrometh sempat berdiri, Minner sudah berada di hadapannya. Tubuh Khrometh kembali terhempas. Lebih dari itu, kali ini darah mengucur keluar dari luka menganga yang cakar Minner sebabkan. Khrometh tadi memang telah mengenakan zirah, tetapi tetap tak mampu menahan cakar tajam dan keras Minner dari menembus kulitnya.
“Ada apa, Khrometh? Tubuh tuamu tak lagi ingat cara bertarung? Apa perlu kutunggu sampai kau siap?”
Khrometh mendecih dan bangkit dari posisinya terjatuh setelah terhempas, terpelanting, dan terseret-seret.
“Jangan besar kepala, Minner.” Berkata Khrometh sembari memiringkan kepala ke kanan dan ke kiri dengan agak cepat. “Kau hanya beruntung saja. Lebih tepatnya, aku membiarkanku mengenaiku. Itu saja.”
Sebagai respons atas ucapan arogan sang dwarf, Minner memunculkan puluhan lingkaran sihir oranye di kanan dan kirinya. Dan tanpa aba-aba ataupun menggumkan nama spellnya, rentetan laser cahaya berwarna oranye melesat memborbardir tubuh pendek Khrometh.
Namun, jika sebelumnya Khrometh menjadi bulan-bulanan sang lionman, kali ini Khrometh tak diam saja. Puluhan barier emas berbentuk segitiga muncul secara bersamaan di hadapan sang dwarf. Secara sempurna mereka memblok laser yang ditembakkan Minner.
Pada saat spell ofensif dan defensif itu saling beradu, Khrometh melompat mundur dan melemparkan kapaknya secara diagonal ke udara. Kemudian kedua telapak tangannya menyatu dan dadanya membusung. Khrometh membatin, Water Magic: Fang of Poseidon!
Laser air bertekanan super tinggi hingga bagian luarnya menguar menjadi uap melesat keluar dari mulut Khrometh. Barier ciptaannya—yang bahkan tak mampu dihancurkan laser cahaya Minner—langsung hancur berkeping-keping saat dihantam laser air bertekanan dan berkecepatan super tinggi tersebut. Kecepatannya tentu saja tak mampu menyamai cahaya, tetapi itu ratusan kali di atas kecepatan suara.
Namun begitu, insting Minner yang berada pada level superior tak mampu dilampaui serangan mematikan tersebut. Meskipun hanya belasan milidetik, tetapi Minner sempat menunduk menghindari laser air yang mulut Khrometh semburkan.
Laser itu begitu berbahaya. Gunung kecil belasan ratus meter di belakang mereka sampai bolong setelah menerima laser air tersebut.
Minner yang hendak mengomentari serangan sang dwarf kembali dikejutkan oleh jeritan peringatan insting tajamnya. Dengan segenap tenaga ia gerakkan tubuhnya untuk melompat ke kanan. Dan—buuuuuum! Kapak Khrometh menghantam tempat Minner sebelumnya berdiri. Ledakan yang kapak itu sebabkan cukup besar sampai membuat Minner terhempas walau sudah menghindar.
“Aku lupa kapaknya memiliki efek peledak,” gumam Minner setelah berhasil mendarat, matanya menyipit memandang kapak itu mengudara dan melesat kembali menuju pemiliknya. “Dan dia telah lebih mahir dalam sihirnya. Tidak buruk, Khrometh.”
Akan tetapi, sedikit pun itu tak menggentarkan Minner. Sebaliknya, antusiasmenya meningkat. Bibirnya melengkung cukup lebar. Memang beginilah seharusnya. Duel mereka kali ini adalah duel antara hidup dan mati. Akan sangat amat mengecewakan jika ia bisa menang dengan mudah.
“Aku maju, Khrometh!”