
...—Throne Room—...
Nueva tidak menunjukkan ekspresi apa pun saat Xavier von Hernandez muncul begitu saja beberapa meter di hadapan singgasanan miliknya di ruangan yang minim akan cahaya. Ia sudah mengekspektasikan pemuda itu akan datang. Hanya saja, ia tidak mengekspetasikan sihir teleportasi. Edward tidak memberinya informasi apa pun tentang sihir teleportasi Xavier. Namun begitu, ia tidak mengomentari tentang sihir yang sengaja ditujunkan di hadapannya ini.
“Aku sudah mengekspektasikan kehadiranmu,” kata Nueva sembari mengistirahatkan pipi di atas kepalan tangan kanan. “Kau bisa pergi, tetapi kembalilah dengan cepat. Tenagamu diperlukan.”
“Ini tidak mengejutkan,” kata Xavier seraya melangkah maju—ia tidak menunjukkan sedikit pun respek di wajah. “Pun begitu dengan reaksimu,” tambahnya tepat saat berhenti selangkah di depan singgasana dengan mata memandang rendah sang emperor. “Lantas, apa asumsimu terkait sang pelaku?”
Ini menggelikan, dan sekarang jadi jelas mengapa anak ini menunjukkan padanya kalau dia bisa sihir teleportasi. Aku lebih kuat darimu. Aku bisa datang kapan saja dan menghabisimu jika aku mau. Paling tidak, itu adalah apa yang ingin disampaikan Xavier secara tak langsung. Benar-benar menggelikan.
Untuk sesaat Nueva tergoda untuk melepaskan kekuatan penuhnya hanya untuk menjatuhkan ego manusia ini, tetapi itu takkan ia lakukan. Ia pernah muda. Tidak di kehidupannya yang lalu, memang, tetapi tetap saja dirinya pernah cukup arogan seperti Xavier. Ia masih ingat bagaimana dirinya berdiri di hadapan istana vampire dan menjadikannya es—meskipun pada akhirnya ia tahu kalau istana itu palsu.
“Mungkin kau perlu memerhatikan sikapmu di depanku; aku tidak memerlukan menantu yang tidak memiliki sopan santun di hadapan calon mertuanya.” Nueva tidak memandang Xavier saat kata-kata itu keluar dari mulutnya—matanya memandang lurus pada lantai ruangan. “Veria,” lanjutnya tanpa menanti respons apa pun, “tidak mengejutkan jika mereka dalangnya. Sangat masuk akal jika mereka ingin mempercepat kekisruhan di Islan.”
“…Aku ingin mengetes jika aku sanggup berdiri di hadapanmu tanpa sedikit pun tergoda untuk membunuhmu,” gumam Xavier datar, sebelum kemudian berbalik arah dan melangkah pergi. “Aku mengekspektasikanmu memberikan nama semua prajurit yang menghabisi penduduk Desa Carnal, …hanya dengan itu kurasa aku bisa berdiri di hadapanmu tanpa keinginan untuk membunuh.”
Sebagaimana dia datang, Xavier menghilang begitu saja—tidak ada lingkaran sihir teleportasi yang muncul.
“...” Nueva tidak mengeluarkan sepatah kata pun; matanya memejam tepat tiga detik setelah sang commander menghilang.
...* * *...
Satu jam setelah pembicaraan mereka dimulai, kesepakatan bersama telah berhasil diraih. Favilfina Kingdom akan bekerja sama dengan Vermillion Empire dalam segala lini, mulai dari ekonomi hingga militer. Tidak ada jangka waktu dalam kerja sama mereka. Namun, jika sewaktu-waktu penguasa salah satu negeri berganti, kemungkinan besar penguasa baru akan kembali duduk semeja untuk mencocokkan kesepakatan kerja sama dengan visi mereka.
Namun begitu, meskipun kedua penguasa berganti, kesepakatan awal tetap berlaku: Favilifna Kingdom tetap memberikan sepuluh persen pendapatan bersih sebagai upeti bagi kekaisaran.
“Kita harapkan dengan kerja sama ini bisa semakin meningkat kualitas kehidupan kedua negeri,” kata Kanna seraya menyalami sang ratu, kemudian mereka kembali lagi duduk dengan tenang. “Lantas, apa kau sudah memikirkan tindakan Favilifna selanjutnya? Mengetahui Holy Kingdom, mereka tidak akan berhenti begitu saja. Aku akan mengalokasikan lima batalion prajurit di perbatasan barat laut Favilifna, tetapi kita perlu tindakan yang efektif.”
“Aku sudah memikirkan itu,” jujur Elmira. “Favilifna akan berpura-pura seolah Knight Templar tak terlibat dalam penyerangan malam tadi. Aku juga akan mengatakan kalau kekaisaran bergerak sendiri; Favilifna Kingdom diselamatkan Vermillion Empire dari cengkeraman Eternity—organisasi yang seharusnya Knight Templar atasi. Secara tak langsung Favilfna Kingdom akan menyalahkan Holy Kingdom atas semua masalah.”
Elmira mengangguk setuju, kemudian ekspresinya menjadi sangat serius. “Vermillion Empire memusuhi Emiliel Holy Kingdom dan New World Order. Emiliel Holy Kingdom memusuhi Vermillion Empire dan New World Order. New World Order memusuhi Emiliel Holy Kingdom dan Vermillion Empire. Itu adalah hubungan yang membuat masing-masing khawatir untuk memulai peperangan. Kekaisaran juga tidak ingin menjadi yang pertama dalam menyerang, apa aku salah?”
Kanna menggeleng. “Tidak sama sekali,” tambahnya. “Jika kita harus berperang, masing-masing ingin menyeret semuanya ke dalam perang. Kekaisaran juga begitu. Jika kita harus menyerang Holy Kingdom, kita juga harus menyerang New World Order. Tidak ada kompromi dalam hal itu. Jadi, idemu sudah pasti akan menghentikan Holy Kingdom dalam melakukan hal drastis—mereka akan terpaksa diam.”
“Setidaknya di permukaan, bukan begitu?”
Kanna mengangguk cepat. “Holy Kingdom mungkin akan berupaya memperburuk hubungan New World Order dan kekaisaran. Hubungan kami sejak awal sudah buruk; satu-satunya alasan mengapa kekaisaran tidak mengambil langkah drastis setelah kekalahan yang kami raih adalah kekhawatiran akan aksi Holy Kingdom. Perbuatan Holy Kingdom 99 persen akan berhasil, dan perang ini sama sekali tak terhindarkan.”
“Aku tidak menyukai perang, tetapi situasi di Islan saat ini terlalu tegang…kecuali Kazarsia Kingdom.”
Kanna tak menyembunyikan kernyitan di kening saat mendengar negeri satu-satunya yang tidak berpihak pada siapa pun. “Keberadaan Jenderal Clown adalah faktor utama dalam keyakinan mereka,” komentar Kanna. “Setelah dengan mudahnya dia mengalahkan Commander Gilbert, juga rumor-rumor tentangnya yang tidak bisa diabaikan, sulit bagi negeri mana pun untuk bergerak.”
“Tidakkah kau seharusnya menginvestigasi sekuat apa sebenarnya dia? Atau memastikan mereka takkan berpihak pada siapa pun?” Elmira tak menanti jawaban. “Mengesampingkan hal itu, Favilifna Kingdom akan menyudutkan Ekralina Kingdom. Mereka sudah mencoba menginvasi Favilifna, kami punya hak untuk bertindak. Aku ingin kekaisaran memastikan Holy Kingdom tak ikut campur.”
“Kekaisaran akan melakukannya; pembelaan diri mutlak dibenarkan.”
“Baiklah. Kalau begitu kita akhiri pertemuan ini. Aku harus segera kembali ke Etharna dan mengirim surat peringatan pada King Mortana.”
Kanna berdiri dari kursinya dan sekali lagi menyalami tangan sang ratu. “Vermillion Empire mendoakan yang terbaik bagi kesejahteraan Favilifna Kingdom.”
“Begitu pun dengan Favilifna Kingdom.”
Dengan begitu, kedua pemimpin negeri itu berpisah. Elmira meninggalkan ruangan dengan hasil yang positif.
Namun, tentu saja, itu hanya sementara. Bagaimanapun, tujuan akhir Vermillion Empire adalah pembebasan total atas Islan. Ketika New World Order dan Holy Kingdom berhasil diatasi, tidak akan ada yang berdiri di antara mereka dan Islan.
Dan, tentu saja, Kanna akan melakukannya tanpa merusak perjanjian yang telah mereka sepakati. Sejarah telah membuktikan: tidak mustahil menundukkan sebuah negeri tanpa mengacungkan senjata pada mereka.