Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 5: Invisible Mask, part 2



Vermyna…leluhur para iblis?


Nueva tidak pernah berpikir hal itu akan ia dengar. Edward sudah memberitahunya banyak hal tentang iblis. Tentang sejarah dan kehidupan mereka. Tentang kedatangan Lucifer yang mengklaim diri sebagai pemimpin mereka semua setelah mengalahkan Sataniciela dalam duel satu lawan satu. Dan dari semua informasi itu, tidak ada satu pun bagian yang menyebutkan Vermyna sebagai leluhur para iblis.


Namun begitu, Nueva tidak meragukan kredibilitas yang baru saja Xavier utarakan.


Xavier tidak bodoh. Meskipun ada peluang ia akan terkecoh jika itu dusta, ada peluang juga ia akan mengabaikan kabar itu. Xavier tentu mengerti itu. Tidak mungkin dia akan bertaruh pada hal itu dengan kedustaan. Karenanya, apa yang dia katakan adalah kebenaran—setidaknya, kebenaran menurutnya.


Tentu saja ada kemungkinan Xavier berpikir itu adalah kesimpulan yang akan ia ambil, keberadaan Monica hanyalah pengarah agar ia berpikir ke sana. Namun, itu terlalu berisiko. Xavier tidak cukup bodoh untuk mengambil risiko itu. Kesimpulannya adalah benar.


“Jika memang begitu, lantas?” Nueva memandang intens ke dalam iris merah darah itu, iris yang mirip dengan miliknya.


“Aku ingin Yang Mulia menggantikan Monica dengan Vermyna. Jujur saja, aku bergabung dengan Imperial Army supaya dapat membunuhmu dengan mudah, tetapi kebencianku pada Vermyna lebih besar. Namun, Vermyna yang tadi malam kutemui dan Vermyna yang kudengar dari yang lain itu berbeda. Vermyna yang kutemui lebih kuat, dan itu dalam artian yang signifikan. Lebih dari itu, aku sudah lelah menjadi pionnya Luciel.”


Ekspresi Nueva tak berubah mendengar penjelasan itu, tetapi pikirannya berjalan cepat.


Edward telah memberinya informasi terkait Xavier yang mengalahkan Undead Thevetat. Ia tidak berpikir Vermyna lebih kuat dari Undead Thevetat. Memang, [Space Magic] Vermyna begitu menjengkelkan, dan benar kalau Undead Thevetat tak punya [Eternal Zero]. Namun, Nueva percaya Undead Thevetat lebih kuat dari Vermyna. Dan sekarang ia mendengar Xavier mengklaim Vermyna terlalu kuat untuk dia tangani….


Namun begitu, Nueva tak akan mengomentari klaim Xavier itu. Ia sudah mendengar sedekat apa dia dan Nizivia. Jika Vermyna mendatangi Xavier untuk mengatakan dia sudah membunuh Nizivia, tidak ada alasan lain mengapa Xavier berada di sini selain karena Vermyna lebih kuat darinya. Ia bisa menganggap ucapannya benar. Yang menjadi perhatian utama Nueva adalah kalimat terakhir Xavier tadi.


“Kau lelah menjadi pion Luciel? Elaborasikan.”


“Seperti Yang Mulia yang menginginkan Throne of Heaven, Luciel pun sama. Dia menginginkanku memfokuskan diri untuk itu. Aku menurutinya karena dia bersedia membuatku menguasai sihirnya untuk membunuhmu. Namun, mendengarnya adalah kesalahan. Dia memaksaku mendapatkan [Division Magic]. Jika aku tidak mendengar instruksinya, tentu aku bisa menyelamatkan Nizivia.”


“[Division Magic]…? Kau ingin mengatakan kalau El adalah Luciel yang menggunakan tubuh hasil penggunaan [Division Magic]?”


Xavier mengangguk mantap. “Bagaimana, Yang Mulia? Apa kau akan menerima permintaanku? Tentu saja aku takkan pernah memaafkan apa yang sudah kau lakukan, tetapi akan kukesampingkan hal itu sampai Vermyna tewas. Sampai saat itu, aku akan menjadi prajurit kekaisaran secara total.”


“Oh, kau tak menyembunyikan niatmu.”


“Aku tidak perlu melakukannya. Setelah Vermyna diatasi, aku akan membunuhmu. Aku akan memajang mayatmu di atas tombak, dan kemudian mendirikan tombak itu di pemakaman orang-orang Desa Carnal. Vermyna adalah masalah yang lebih besar. Untuk menghabisi makhluk itu, aku memerlukan bantuanmu dan Kanna.”


Nueva tidak bisa menahan dirinya dari tertawa. Tawanya bahkan bertahan hingga hampir dua menit.


“Baiklah, baiklah, kuterima permintaanmu. Aku tidak akan mengorbankan Monica Elsesky; sejak awal aku memang punya niat untuk menghabisi Vermyna. Namun,” jeda Nueva sembari mengubah posisi duduknya, “kau harus membuktikan ucapanmu: kau harus menjadi prajurit kekaisaran secara total dalam artiannya yang paling dasar.”


“…Tentu saja. Apa yang kau ingin aku lakukan, Yang Mulia?”


“Dengan kematian Commander Nizivia di tangan Vermyna, dan dengan pengkhianatan Commander Lumeira (jika ucapanmu memang benar), aku ingin kau yang menggantikan Commander Nizivia menyerang Elf Kingdom. Itu akan menjadi kerja sama antara Divisi 3, Divisi 11, dan Divisi 12. Yang akan menjadi pemimpin utama dalam penyerangan itu adalah Kanna ‒ Kanna secara langsung akan kutugaskan untuk menilai performamu.”


“Aku tidak keberatan. Namun,” kata Xavier dengan ekspresi yang serius, “kau tahu menghabisi Luciel olehku sendiri sama dengan bunuh diri. Saat ini, jiwa Luciel berada dalam raga hasil [Division Magic]. Jika aku menghancurkan raga itu, Luciel hanya akan kembali ke ragaku yang asli. Dan aku yakin saat itu dia tidak akan berpikir dua kali untuk mengambil alih tubuhku.”


“Baiklah kalau begitu. Kuterima tugas yang kau berikan. Vermillion Empire akan menghancurkan Elf Kingdom.”


“Bagus. Ah, Commander Xavier, mantan Kapten Emily akan dipromosikan menjadi Eleventh Commander, kau bisa membuat Monica menjadi sekretarismu. Aku akan menghadiahinya gelar bangsawan setelah beberapa bulan bekerja. Itu saja, kau bisa pergi.”


Xavier mengangguk. “Kalau begitu kami mohon undur diri, Yang Mulia.” Dan keduanya segera meninggalkan ruang singgasana dalam langkah yang tegap.


Nueva memejamkan kedua matanya begitu pintu ruangan kembali tertutup. Memorinya sedikit berputar ke masa lalu, pada saat ia kembali dari mengemis pertolongan kepada tabib desa agar bersedia mengobati ibunya. Usahanya berhasil, tabib desa bersedia. Namun, saat ia tiba di rumah kumuh mereka, …ibunya sudah meregang nyawa di tangan manusia hina.


…Itu hari di mana Nueva kehilangan kepercayaan pada yang namanya manusia. Itu hari di mana ia membenci dunia. Itu hari di mana Nueva berserapah menghina dewa. Itu hari tergelap dalam hidupnya. Ia merasa hampa. Sendirian. Dunia menjadi tidak berarti.


Pertemuan dengan ibunya Retsu membuat Nueva kembali melihat cahaya. Namun, hal itu hanya bertahan sebentar. Cahaya itu padam dengan begitu cepat. Dan sebelum Nueva menyadarinya, ia telah tersesat dalam kegelapan yang tiada penerang. Dalam keputusasaan itu, …ia bertemu Mammon.


“Yang Mulia.”


Kelopak mata Nueva membuka perlahan, memandang lemah pada Edward yang sedikit membungkuk di sisi kanan singgasana.


“Sesuatu mengganggu Anda?”


“Edward, cari Lumeira.” Nueva menghiraukan pertanyaan sang butler. “Xavier mengklaim dia kaki tangan Vermyna. Jika kau tak menemukannya, lenyapkan semua hal yang behubungan dengannya. Anggota Divisi 3 mungkin ada yang loyal padanya, habisi mereka. Kuserahkan padamu untuk memilih commander pengganti Lumeira.”


“Itu tidak mengejutkan,” komentar Edward dengan senyum tipis di bibir. “Apa aku harus mengatasi Vermyna juga jika kebetulan aku menemukan mereka berdua?”


“Xavier secara tak langsung mengklaim Vermyna yang sekarang lebih kuat daripada Undead Thevetat. Jika itu benar, dan mengingat dia sampai berani menyerang Fie, kemungkinan besar kau takkan mampu mengalahkannya. Vermyna…Xavier mengklaimnya sebagai leluhur para iblis.”


Nueva tidak pernah sekali pun melihat keterkejutan di wajah Edward, tetapi kali ini ia melihat reaksi itu.


“Kau tidak percaya?”


“Bukan, Yang Mulia.” Edward dengan cepat mengembalikan ekspresinya kembali seperti semula. “Hamba hanya baru ingat apa yang Tuan Lucifer katakan saat menanyakan jika ada yang bisa mengalahkan Phoenix. Saat itu dia menjawab dengan pelan: Vermyna Hellvarossa. Namun, makhluk itu seharusnya sudah tidak ada lagi. Namun, jika yang Xavier katakan benar….”


“Begitu rupanya,” gumam Nueva menyimpulkan, kembali menutup kelopak matanya. “Vermyna Hermythys sejatinya adalah Vermyna Hellvarossa, sang leluhur para iblis. Temukan informasi tentangnya kalau bisa, Edward, tetapi jangan sampai berkonfrontasi dengannya. Kau adalah individu satu-satunya yang kupercaya tanpa tapi, itu akan menyedihkan jika aku harus mendengar kalau kau mati.”


“Sebuah kehormatan mendengar hal itu dari Anda, Yang Mulia. Hamba usahakan untuk kembali secepat mungkin. Hamba pergi.”


Keheningan seketika mengisi ruangan begitu Edward menghilang, dan seketika pula mata Nueva kembali membuka.


Jika sebelumnya kosong dan kurang minat adalah apa yang bola matanya pancarkan, kali ini adalah ketajaman yang dingin. Pandangan Nueva begitu menusuk, itu seperti ia memandang jijik pada apa yang matanya lihat.


“…Individu satu-satunya yang kupercayai…betapa kedustaan yang manis.”