Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 26: The Imperial Army, part 1



...—8th January, E643 | Pangkalan Sementara Imperial Army—...


BILA Favilifna Kingdom terletak sejajar secara vertikal dengan Avada, Ekralina Kingdom berada dalam satu garis imajiner lurus dengan Verada. Hanya saja, jarak antara Ekralina Kingdom dan Kota Verada hampir dua setengah kali jarak antara Avada dan Favilifna Kingdom. Dengan kereta kuda biasa, satu bulan perjalanan adalah waktu tempuh yang diperlukan untuk tiba di Verada dari negeri kecil tersebut.


Pangkalan Sementara Imperial Army terletak tepat di titik tengah antara Verada dan Coralina, ibukota Ekralina Kingdom. Titik itu juga sejajar dengan jalan utama menuju Kota Sihir Maidenhair yang membelah Hutan Basah Swamp menjadi dua bagian. Namun, tentu saja, perbedaan jarak yang signifikan tak memungkinkan untuk melihat jalan itu dari pangkalan tersebut.


Seperti namanya, Pangkalan Sementara Imperial Army adalah tempat sementara penempatan pasukan utama ofensif Imperial Army untuk perang yang akan datang. Saat ini sudah terdapat ratusan barak prajurit yang berdiri berblok-blok di sana—satu blok terdiri atas lebih dari sepuluh barak. Pusat informasi, gudang senjata, gudang logistik, dapur umum, dan berbagai macam fasilitas sudah dibangun. Sebagian fasilitas memang masih belum rampung, tetapi mayoritasnya sudah selesai.


Xavier dan tujuh batalion (delapan dengan batalion medis) Divisi 12 Imperial Army tiba di pangkalan tersebut setelah melakukan perjalanan dari Verada. Di sana ia mendapati Divisi 7 yang dipimpin Dermyus sudah tiba kemarin, sedang Divisi 4 tiba dua hari sebelum Divisi 7 tiba. Kedua divisi itu masing-masing juga membawa tujuh batalion, tetapi satu batalion mereka jumlahnya 500 dan 700 prajurit lebih banyak daripada jumlah satu batalion Divisi 12.


Seperti rencana yang sudah dibuat jauh-jauh hari, mulai besok hingga enam hari setelahnya Divisi 12 akan latihan bersama dengan Divisi 4 dan Divisi 7 di pangkalan sementara ini. Bukan saja pasukan ofensif, melainkan juga pasukan medis.


Xavier menginstuksikan delapan kaptennya untuk memastikan semua prajurit mendapatkan tempat beristirahat di barak-barak prajurit. Satu barak rata-rata bermuatan 80 prajurit. Dengan total pasukan yang Xavier bawa melebihi sebelas ribu lima ratusan, setidaknya memerlukan 145 barak/asrama. Ia tidak tahu ada berapa barak yang bisa dipakai mereka, tetapi jika tidak cukup maka mereka terpaksa harus mendirikan tenda.


“Commander Xavier, selamat datang!” sapa seorang wanita dengan atribut kapten dari Divisi 3. “Silakan ke ruangan utama. Saat ini Commander Reinhart dan Commander Dermyus sudah berada di sana. Commander Hekiel juga berada di sana. Tadi pagi Commander Cleria mampir sebentar ke sini, tetapi dia sudah pergi satu jam yang lalu.”


Xavier berterima kasih pada sang kapten, kemudian melesat menuju ruangan yang dimaksud. Ia tidak tahu tujuan Hekiel berada di sana, tetapi tidak akan mengherankan jika dia ditunjuk menjadi pemimpin utama pangkalan sementara ini.


...—Markas Ordo 1 Knight Templar, Eden, Emiliel Holy Kingdom—...


Arthur tidak terkejut begitu menerima pemberitahuan kalau Ordo 7, Ordo 8, Ordo 10, dan Ordo 12 telah diinstruksikan Pope Genea untuk bermobilisasi ke utara Ekralina Kingdom. Saint Rossia sudah dikirim untuk bernegosiasi dengan King Mortana. Asumsi Merlin kalau Mortana telah dimanipulasi tentu sudah dilaporkan pada sang Pope, tetapi berdasarkan laporan yang tiba di mejanya beberapa menit lalu, Pope Genea menganggap pemanipulasian itu tidak ada.


Jika memikirkannya sekilas, itu tindakan yang tak bijaksana dari Pope Genea. Membebaskan Mortana akan memberikan penjustifikasian yang lebih “benar” bagi Emiliel Holy Kingdom. Namun, Arthur mengerti mengapa Pope Genea memutuskan untuk mengikuti permainan pelaku di balik pemanipulasian Mortana. Beliau ingin mewarnai Ekralina Kingdom sebagai pengkhianat. Itu akan membuat tindakan mereka untuk menguasai kerajaan tersebut menjadi lebih bisa diterima.


Dengan Knight Templar yang bergerak sebagai kesatria pilihan dewa, dan mengingat reputasi Mortana tak begitu baik di tengah-tengah rakyatnya, mengungsikan mayoritas penduduk ke Holy Kingdom takkan sulit.


“Namun…mengirim empat Ordo sekaligus?”


Di antara dirinya dan Merlin, Arthur tak malu mengatakan jika ia tak lebih cerdas. Merlin lebih pintar, lebih licik, dan lebih menyebalkan darinya. Arthur hanyalah pria normal yang berlatih keras menjadi kuat. Tidak ada dalam dirinya yang tidak normal. Mungkin, bahkan di seantero semesta, tidak ada yang lebih normal darinya. Karenanya, ia yang tidak langsung mengerti mengapa Pope Genea mengirim empat Ordo sekaligus sama sekali tidak perlu diherankan.


Arthur menguras pikiran mencoba menemukan alasan lain, tetapi pada akhirnya ia mengedikkan bahu saat tak ada alasan lain yang lebih masuk akal datang memasuki kepalanya.


...—Royal Palace, Etharna, Favilifna Kingdom—...


Tawa Elmira memecah keheningan ruang singgasana begitu menteri ekonomi selesai memberikan laporan tahunannya. Tawa itu terdengar merdu, penuh kesenangan, penuh kebahagian; tiada kesalahan di dalamnya. Namun, bagi mereka yang mengenal seperti apa Elmira sebelumnya, tawa itu begitu mengerikan hingga membuat tulang serasa menggigil.


Menteri ekonomi adalah salah seorang dari beberapa yang mengetahui seperti apa sebenarnya Elmira Cent Nix Favilifna. Keringat dingin yang memenuhi pelipisnya adalah bukti jelas kalau ia merasa di antara hidup dan mati berada di ruang singgasana. Apalagi saat ia melirikkan mata pada makhluk mencekamkan yang melayang di belakang Elmira. Sang menteri merasa kapan saja ia bisa menyusul orang-orang yang telah mati sebagai bidak dalam papan permainan sang ratu.


“Kerja bagus, Menteri,” ucap Elmira saat tawannya mereda. “Pastikan kau tetap mempertahankan kerja bagusmu. Hm, aku punya peran lain yang bisa kau mainkan jika kau merasa tak sanggung menjalankan tugasmu sekarang, tetapi aku tahu kau sudah tak sabar ingin menghasilkan keuntungan yang besar bagi istana, bukan?”


“Te-Tentu saja, Yang Mulia. Hamba akan terus berusaha mengeruk kekayaan Ekralina Kingdom dengan cara yang ‘menghibur’.”


“Bagus, bagus, aku bisa mengekspektasikan banyak hal darimu. Sekarang kau bisa pergi, nikmati hari liburmu sebanyak tiga hari.”


“Te-Terima kasih banyak, Yang Mulia. Hamba akan usahakan yang terbaik, dan hamba pasti akan menikmati hari libur yang telah Yang Mulia berikan.”


Sang menteri menundukkan kepala memberi hormat, kemudian berbalik badan dan melangkah dengan cepat meninggalkan ruang singgasana.


“Kau tak mau membunuhnya, atau mengubah pikirannya?” tanya Mary yang berbaring di lantai di belakang singgasana. “Dia sudah mengetahui seperti apa kau sebenarnya. Kau tak khawatir kalau dia akan mencari sekutu lalu merencanakan penurunanmu dari tahta?”


“Hihihihi, itu akan menarik untuk dilihat, bukan begitu?” Elmira tak menanti jawaban Mary, rona wajahmu dengan cepat menjadi serius. “Bagaiman dengan pergerakan Knight Templar? Sudah hampir dua minggu sejak wanita itu kita biarkan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di Ekralina Kingdom. Kupikir sudah seharusnya mereka bertindak untuk memanfaatkan hal itu.”


“Belum ada pergerakan ke Ekralina, tetapi Lembah Terlarang Ed sudah dikuasai Ordo 1 Knight Templar.”


“Begitu? Hm, beri tahu aku begitu ada pergerakan ke Ekralina. Aku harus memastikan Imperial Army akan bergerak saat Knight Templar bergerak. Lebih cepat mereka saling membunuh lebih baik. Ah, aku juga harus merekrut lebih banyak prajurit untuk melindungi kerajaan. Mungkin turun ke jalan dan memperlihatkan kesungguhan kekhawatiranku akan efektif untuk menarik jiwa patriot orang-orang. Bagaimana menurutmu, Mary?"