
Di permukaan, Hekiel meletakkan telapak tangan di bibir lubang tepat saat bongkahan tanah raksasa terakhir sukses menubruk bongkahan tanah sebelumnya. Lingkaran sihir coklat seketika menutupi permukaan lubang, dan sejurus kumudian pilar tanah yang dikompres sedemikian rupa sehingga beratnya melebihi gunung keluar dan sepenuhnya menutup akses keluar. Sebagai pengakhiran, Hekiel menggunakan [Metal Manipulation Magic] untuk mengubah pilar tanah itu menjadi adamantite.
“Hekiel…apa ini tidak berlebihan?” tanya Dermyus—bahkan ia takkan selamat jika berada di posisi Xavier. “Reinhart, dia masih hidup?” tanyanya pada Reinhart saat melihat Hekiel tidak menggubrisnya—fokus sang Sixth Commander sepenuhnya telah tertarik oleh sihirnya.
“Persiapkan spell terkuatmu, Dermyus, Xavier akan keluar ke permukaan dalam setengah menit.” Berkata Reinhart dengan ekspresi serius. “Aku akan memberimu aba-aba: lepaskan spellmu saat aku membawa Hekiel dengan berteleportasi.”
Dermyus tidak perlu penjelasan tambahan setelah mendengar ucapan serius Reinhart. Dengan cepat ia mengambil jarak belasan meter dari kedua rekannya. Mana dalam intensitas tinggi seketika menguar dari tubuh Dermyus. Percikan petir biru keputihan bermunculan dalam kobaran mana tersebut.
Seolah mengikuti niat Dermyus, langit menggelap. Awan kelabu tebal terbentuk dalam waktu singkat. Lingkaran sihir biru keputihan raksasa muncul tepat di bawah awan kelabu tebal. Lingkaran sihir biru yang lebih kecil muncul satu meter di bawah lingkaran sihir raksasa. Begitu seterusnya hingga total terdapat sepuluh lingkaran sihir yang ruang di antaranya diisi oleh percikan petir yang liar.
Kedua telapak tangan Dermyus seketika menyatu, yang lantas membuat petir menggelegar dengan lebih menggila. Dermyus belum pernah melepaskan spell terkuatnya itu—walaupun akan lebih kuat jika menggunakan petir hitam—pada seorang pun. Spell itu akan melenyapkan mereka. Bahkan Gilbert yang pertahanannya begitu kuat pun takkan selamat. Itu spell pamungkas Dermyus. Ia akan menyerah jika lawannya berhasil keluar dari terjangan spellnya tanpa luka.
“Dermyus!” teriak Reinhart dari jauh, seketika menghilang dengan teleportasi bersama Hekiel.
Dermyus tidak menunggu sedetik pun lagi. Bersamaan dengan retaknya pilar adamantite yang besar itu, Dermyus melepaskan spellnya: “Akhirkan segalanya…Cluster Ungodly Lightning!”
Pilar adamantite hancur berkeping-keping—itu seolah hancur dari dalam, molekulnya saling tolak menolak sehingga seperti diledakkan dari dalam. Pada saat yang bersamaan, kesepuluh lingkaran sihir Dermyus berpendar terang dan petir dalam intensitas yang begitu besar turun dalam kecepatan yang membutakan. Xavier melesat keluar dari lubang, dan petir itu langsung menyambutnya tanpa belas kasih.
Namun, hal yang mengejutkan Dermyus terjadi. Ia dulu melihat Xavier menghentikan meteor ciptaan lawannya di Imperial Academy Arena, dan hari ini ia melihat spellnya berhenti tepat satu jengkal di atas telapak tangan kanan Xavier yang terangkat. Jika meteor dulu berhentinya perlahan, spellnya sekarang berhenti secara spontan. Tidak ada perlambatan sama sekali. Itu seolah [Time Magic] digunakan untuk memerangkap petirnya.
“Terlalu banyak energi,” ucap Xavier dalam volume yang masih yang cukup kuat untuk Dermyus dengar. Kemudian pemuda itu menghadapkan pandangan pada Dermyus, tersenyum dan berkata: “Apa kau ingin mengetes spellmu sendiri, Commander Dermyus?”
Dermyus tidak perlu bertanya apa yang Xavier maksud dengan pertanyaan itu. Matanya bisa melihat dengan jelas kalau sekarang Xavier berdiri di tempat di mana ia berdiri, dan kedua kakinya sangat mengerti kalau tidak ada pijakan di bawahnya. Dan, bersamaaan dengan gravitasi yang memaksa tubuh Reinhart jatuh, spellnya kembali bergerak.
Ledakan luar biasa besar menggetarkan tanah saat semua petir itu menghantam ke dalam lubang yang darinya Xavier berhasil keluar.
“Aku berhutang padamu, Reinhart,” kata Dermyus setelah ledakan itu mereda dan getaran di tanah menghilang ‒ Reinhart telah menyelamatkannya dari terkena spellnya sendiri. Meskipun resistansinya sangat tinggi terhadap petir, kekuatan spellnya terlalu besar untuk Dermyus tahan.
“Itu tak terlalu penting sekarang, Dermyus,” balas Reinhart dengan keringat dingin memenuhi pelipis. “Bagaimana kita mengalahkan anak itu? Dia bahkan lebih mengerikan dari Lilithia menurutku.”
“Api. Petir. Sensorik. Teleportasi. Menghentikan waktu…. Apa Xavier pernah melakukan ritual ilegal? Bagaimana bisa dia memiliki banyak sihir?” tanya Hekiel—ekspresinya antara bingung dan kesal. Tidak ada commander yang menyukai ritual ilegal, ekspresi Hekiel sangat beralasan.
“Aku tidak tahu, tetapi tidak mungkin Nona Kanna membiarkannya menjadi commander jika dia melakukan ritual ilegal itu.” Menjawab Dermyus. “Aku tidak tahu bagaimana dia bisa memiliki banyak sihir, tetapi pasti ada alasan yang bisa diterima. Tidak mengejutkan pula jika dia punya sihir yang memungkinkannya menggunakan banyak sihir seperti sihir Lumeira.”
“Aku sekarang tidak peduli bagaimana dia bisa memiliki banyak sihir,” timpal Reinhart. “Yang terpenting, bagaimana kita mengalahkannya? Dia bahkan tak terlihat seperti serius. Lihat saja cara berdirinya, dia seolah tak peduli kita bisa menyerangnya kapan saja.”
“Kau punya ide, Hekiel?” Dermyus melempar tanya pada Sixth Commander, dan pertanyaan itu direspons Hekiel dengan menembakkan ratusan tombak tanah yang kemudian diubah menjadi adamantite ke arah Xavier.
Namun, seperti sebelumya, semua tombak adamantite itu berhenti dalam sekejap. Kali ini bahkan Xavier tidak merentangkan tangannya. Semua tombak itu seperti berhenti sendiri beberapa jengkal dari Xavier. Itu seolah-olah semua tombak itu enggan menyakiti sang commander.
Hekiel tak berhenti begitu saja. Dia membuat lebih banyak tombak, melesatkannya dari arah-arah yang berbeda. Namun, semuanya berakhir sama. Tombak-tombak itu berhenti beberapa jengkal dari Xavier.
Dan, yang lebih mengejutkan Dermyus dan kedua koleganya, semua tombak itu kemudian menghilang tak berjejak ‒ mereka seolah tidak pernah tercipta.
“Sihirku spesial,” kata Xavier, akhirnya menghadapkan diri pada ketiga commander. “Salah duanya aku bisa menghentikan gerak dan menghilangkan spell yang ditujukan padaku. Aku juga bisa bertukar tempat dengan orang lain.”
Dermyus seketika menemukan dirinya memandang ke arah ketiga commander, dan sebelum ada yang sempat membuka mulut, Dermyus sudah kembali berada di tempatnya semula.
“Aku harus mengatakan kalau aku meminta maaf,” lanjut Xavier dengan ekspresi serius. “Kalian kuat, itu beralasan. Kalian pantas menjadi commander. Aku menghargai kalian sebagai commander. Dan yang jelas, kekaisaran membutuhkan kekuatan dan intelektual kalian sebagai commander. Sayangnya….”
Dermyus belum pernah merasakan rasa takut sebelumnya. Ia sudah pernah melihat bagaimana Lilithia kesal. Saat itu ia dan mayoritas commander jatuh tertelungkup tak berkutik. Tetapi itu hanya karena sihir Lilithia tidak bisa mereka konter. Namun, kali ini beda. Xavier hanya terlalu kuat. Dermyus bahkan tak sempat mengerjap saat sang commander secara tiba-tiba sudah berada tepat di sampingnya, di antara dirinya dan Hekiel.
Lebih buruk lagi, Dermyus menemukan tubuhnya mati rasa. Setiap inci bagian tubuhnya seolah mati. Bahkan berkedip saja ia tak bisa. Jangankan berkedip, jantung dan paru-parunya berhenti. Mati… Dermyus bisa melihat kematian di hadapannya, dan tidak ada yang bisa ia lakukan untuk menghindari itu. Mananya bahkan menolak menjawab panggilannya.
“…Kalian HANYA tidak cukup kuat untuk kuhadapi dengan serius. Ini bukan kearoganan, ini hanya kenyataan. Kita akan berperang menghadapi dua individu yang kekuatannya bahkan berada di atas kekuatanku. Sebagai commander, kita harus benar-benar mengerti hal ini…demi kemenangan kekaisaran.”
...»»» End of Chapter 26 «««...