Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 34: Chaos in Holy Kingdom, part 3



Terletak di selatan Eden, kondisi Kota Carmel masih diselimuti kedamaian. Tak ada satu pun serangan yang menyentuhnya. Tentu saja itu bukan berarti tak ada musuh yang datang. Hanya saja, Rossia bertindak cepat saat mendapati batalion yang ia kirim ke Aliansi Desa Centaur tak kunjung memberi kabar. Mewanti-wanti datangnya serangan, ia memobilisasikan pasukannya keluar dari kota sejak kemarin.


Keputusan tersebut bukan saja sangat tepat, melainkan juga telah menyelamatkan Carmel dari menjadi medan pertempuran. Rossia bisa berbangga diri.


Namun begitu, situasi bukan berarti ada di pihak Rossia sepenuhnya. Ia telah membuat kesalahan karena tak bertanya secara detail pada Pope Genea. Ia tak berpikir yang datang menyerang adalah tiga anggota Deus Chaperon sekaligus. Tidak ada tambahan pasukan; hanya mereka bertiga saja—salah satunya cukup ia ketahui.


“Nona, apa kita mulai langsung menyerang?”


Rossia tak langsung menjawab pertanyaan sang asisten. Matanya masih memandang intens pada tiga individu yang berjalan santai menuju tempat perkemahan pasukan Ordo 11 yang Rossia pimpin—yang berlokasi empat kilometer di barat kota. Jarak mereka masih terpaut lebih dari 800 meter. Rossia dapat melihat mereka karena ia berada di atas pilar tanah setinggi 30 meter.


“Nona Rossia…?”


“Bagi pasukan menjadi empat,” instruksi Rossia. “Kirim masing-masing sepuluh ribu untuk menghadapi mereka bertiga. Sisanya perintahkan untuk kembali ke Carmel.”


“Siap, Nona! Akan langsung saya laksanakan.”


Rossia masih diam bergeming di atas pilar tanah tersebut bahkan setelah sang asisten pergi. Matanya masih tak beranjak dari memandang ketiga individu itu. Rossia mencoba mengukur kekuatan mereka, mencoba menganalisis sekuat apa masing-masing dari mereka.


“Atland cukup kuat, terlebih sudah lebih dari dua tahun sejak terakhir kali aku melihatnya bertarung. Warebeast itu juga agak kuat. Tapi sepertinya yang lebih mengancam memang pria berekspresi tenang yang satunya. …Apa dia dari ras centaur?”


Kemungkinan besar begitu. Pria itu seorang centaur. Artinya, dia eksepsional dalam pertarungan jarak dekat. Sementara itu, Atland ahli jarak dekat sekaligus jarak jauh. Rossia menduga hal yang sama juga berlaku pada sang warebeast.


“Mereka sebagai tim akan sangat merepotkan, tapi masih bukan sesuatu yang tak bisa kutangani.”


...* * *...


Diametra tak memedulikan kedua rekannya yang saling menghina dan merendahkan. Ia sudah pernah melerai mereka berkali-kali, dan sekarang ia sudah bosan. Selama mereka tidak membuang-buang tenaga dengan saling berbaku hantam, Diametra takkan melakukan apa-apa untuk melerai mereka. Perhatian utama Diametra mengarah ke depan.


Dari jarak ratusan meter, dan dengan permukaan tanah yang tak rata, Diametra tak bisa melihat jelas keadaan musuh. Selain perkemahan yang terlihat seperti titik-titik kecil, sebuah pilar tanah yang meninggi adalah satu-satunya objek yang terlihat jelas. Ada orang di atasnya, tapi tak terlihat jelas di mata Diametra. Silau matahari menghalangi pandangan. Yang jelas, dia perempuan.


“Oi, Diametra, aku sudah bosan berjalan santai begini. Mengapa kita tidak langsung melesat ke sana dan mulai membantai mereka dengan cepat?”


“Normalnya aku takkan pernah setuju dengan warebeast barbar seperti Krakar, tapi kali ini dia benar. Aku merasakan mereka sudah bergerak. Mereka sudah siap menghadapi kita. Menurutku, langsung mendarat di tengah-tengah perkemahan mereka adalah keputusan yang tepat. Kita kacaukan formasi dan strategi mereka.”


“Aku bukan pemimpin di sini, posisi kita sama.” Diametra menjawab dengan intonasi monoton tanpa memandang kedua rekannya. “Kalau kalian mau langsung ke sana, silakan ke sana. Centaur adalah ras yang menjunjung tinggi nilai kekesatrian; aku hidup dalam prinsip itu. Bahkan di dalam medan perang sekalipun.”


“Eh, kukira aku berubah pendapat.” Atland dengan cepat menimpali. “Berbeda denganmu, Krakart, Diametra bukan makhluk barbar. Wajar jika prinsipnya sangat berbeda jauh darimu. Dan karena aku juga bukan makhluk barbar, aku mendukung ucapan Diametra.”


“Atland bangsat! Kau tak punya pendirian, plin-plan seperti perempuan! Kau harus punya harga diri! Jangan mudah menarik kembali ucapanmu sendiri!”


“Eh, aku manusia baik-baik. Jangan ajak aku menelusuri jalan kebarbaran yang kau buat.”


“Bangsat! Kau mau cari gara-gara la—”


“Krakart,” sela Diametra, mata memandang tajam sang birdman. “Jika kau mau langsung menyerang, lakukan saja. Tapi, jika kau mati, kau hanya punya dirimu sendiri untuk disalahkan. Ordo 11 dipimpin Fourth Saint. Kau mengerti kalau posisi First sampai Sixth Saint tidak diberikan kecuali pada mereka yang eksepsional, kan?”


Krakart mendengus. “Kau mengimplikasikan aku tak mampu menghadapi mereka?” tanyanya dengan mata menyipit.


“Itu hanya interpretasimu semata,” jawab Diametra masih dengan tenangnya. “Aku hanya mengimplikasikan agar kau berhati-hati.”


“Cih, terserah kau sajalah.”


“Eh, Krakart, kau tak jadi menyerang dengan penuh keberanian dan heroik seorang diri?”


“Diam, kambing air!”


…Dan mereka meneruskan perjalanan masih dalam tempo yang santai. Sebaliknya, pasukan musuh mulai berlari cepat memendekkan jarak dengan mereka.


...* * *...


Begitu pasukan yang diharuskan kembali ke Kota Carmel meninggalkan perkemahan, Rossia langsung mengudara mengikuti tiga rombongan pasukan yang membentuk tiga kolom besar. Tak satu pun dari ketiga pria itu yang bisa dibandingkan dengan Commander Lilithia, tetapi Rossia tak ingin melakukan kesalahan yang sama. Ia takkan membiarkan pasukannya dibantai.


Dengan mobilitas tinggi yang ditunjukkan pasukannya, hanya dalam hitungan menit mereka sudah berhadapan langsung dengan ketiga anggota Deus Chaperon. Pertempuran pecah. Dengan teriakan-teriakan yang memekakkan, prajurit Ordo 11 Knight Templar menyerang dengan kekuatan penuh.


Berada ratusan meter di udara, Rossia mengobservasi jalannya pertempuran. Ia takkan maju menyerang. Sebagai pemimpin mereka, ia harus memberi kesempatan bagi para prajuritnya untuk berjuang. Satu per satu mereka berguguran, tetapi itu adalah konsekuensi yang sudah mereka pahami. Hari di mana mereka mendaftar menjadi anggota Knight Templar adalah hari di mana mereka mendatangi kematian mereka.


Namun begitu, bukan berarti Rossia diam saja dan membiarkan prajuritnya bermatian. Ia sudah mempersiapkan lingkaran sihir putih raksasa puluhan meter di atas medan pertempuran. Dream Sanctuary. Rossia akan melepaskan spell itu saat para prajuritnya merasa sulit, saat moral mereka turun.