Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 24: And Then..., part 2



Xavier tidak memberi respons apa-apa. Matanya intens memandang menelisik jauh ke dalam mata Alice. Tetapi Alice tak mau kalah. Matanya memandang dengan lebih dingin, dengan lebih tajam, dengan lebih menusuk. Mulutnya bahkan kembali membuka melempar hinaan. Dahi dan hidung mereka yang menempel membuat napas mereka saling menerpa wajah satu sama lain, tetapi tak satu pun yang mau mengalah.


Barulah lima menit kemudian Xavier melepaskan cengkeramannya pada tangan Alice dan berdiri. Ia lalu duduk di kiri Alice. Kaki kirinya menekuk, sedang kaki kanannya lurus menyentuh tanah berumput. Pandangan sang pemuda lurus ke depan, pada horizon imajiner yang menyatukan langit dan permukaan dunia.


“Aku tahu kau sendiri, lelah, merasa tersesat, tidak punya harapan, tidak tahu apa yang mau dilakukan, berpikir kau harus melakukan ini untuk merasa puas, atau melakukan itu untuk merasa tenang, dan hal-hal yang semacamnya…. Namun, tidak perlu sampai melempar kata-kata itu padaku. Bahkan sebagai candaan, itu sudah terlalu kelewatan.” Xavier menggeleng pelan, menolehkan wajah pada sang gadis. “Katakan, Alice, apa masalahmu?”


Alice mendengus mendengar pertanyaan itu.”Tidak ada,” jawabnya lalu mendudukkan diri. “Aku sama sekali tak punya masalah. Tapi apa-apaan kata-katamu barusan. Sendiri? Lelah? Merasa tersesat? Tidak punya harapan? Tidak tahu apa yang mau dilakukan?” Alice memandang Xavier dengan pandangan yang menunjukkan kegelian. “Yang benar saja? Kau ingin mencitrai diriku sebagai wanita yang menyedihkan, huh?”


Alice menggeleng-gelengkan kepalanya, kesal dengan ucapan sang commander. “Itu sungguh menggelikan. Aku bahkan tak bisa berkata-kata.”


“Lalu, mengapa kau sampai melempar kata-kata itu ke mukaku? Jika itu bukan efek dari dirimu yang stress, lantas?”


“Tidak ada alasan khusus, mungkin melihat mukamu membuatku sebal.” Alice mengedikkan bahu, lalu melanjutkan, “Tanpa kau mencariku pun, sejak awal aku memang berencana kembali ke kekaisaran setelah mengetes kemampuanku di beberapa negeri. Menghabiskan waktu di panti asuhan itu awalnya memang sesuai yang kuinginkan, tetapi lama-lama aku merasa itu menjemukan. Aku nyatanya lebih cocok untuk mengayunkan senjata daripada membantu merawat anak-anak.”


“Walau begitu,” lanjut Alice, “aku tak mengekspektasikan kau akan bereaksi seperti itu. Jujur saja aku sedikit terkejut tadi. Sempat kupikir kalau kau akan melakukan yang tidak-tidak. Ah, aku akan berbagi cerita ini dengan Kanna. Hm...apa yang kau lakukan tadi bisa disebut pelecehan seksual?”


...* * *...


Manatite Carriage dengan segala kemegahannya melaju dalam kecepatan penuh meninggalkan wilayah Kazarsia Kingdom. Saat itu matahari sudah mencapai pertengahan langit, waktu makan siang tak lama lagi akan tiba. Namun begitu, kereta sihir kekaisaran hasil tiruan kereta sihir kerajaan para dwarf itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Manatite Carriage melaju kencang tanpa halangan.


Di dalam gerbong penumpang satu-satunya kereta mewah tersebut, Kanna dan Monica duduk di kedua sisi kursi yang berbeda, tetapi berhadap-hadapan. Keduanya tengah berbincang, mereka dipisahkan meja oval agak panjang. Meja itu tidak kosong. Selain kertas-kertas berisi tulisan yang saling menumpuk, ada juga makanan yang terletak di atas meja tersebut. Selain kedua gadis berambut sewarna itu, tidak ada individu lain di gerbong penumpang.


“Ngomong-ngomong, Kanna, apa pria berkepala plontos bernama Jendral Clown itu benar-benar kuat seperti yang kau katakan?” tanya Monica, tiba-tiba mengganti topik pembicaraan tanpa permisi.


“Benar, dia Jendral Clown. Aku yakin dia Jendral Clown. King Kressia dulu dengan arogan sekali memperkenalkan dia sebagai Jendral Clown. Ada apa memangnya, Monica?”


“Apa ini hanya perasaanku saja kalau dia terlalu normal untuk individu sekaliber yang dibicarakan? Aku pernah berdiri di hadapan Emperor Nueva. Melihatnya saja aku langsung tahu kalau ayahmu kuat, tetapi tidak dengan Jendral Clown. Dia terlalu lemah. Aku sebelumnya tak bertanya karena kupikir dia menekan kekuatannya. Tapi setelah kupikir-pikir lagi, tidak mungkin dia sampai terlihat selemah itu hanya dengan menekan kekuatannya.”


Kanna terdiam sejenak mendengar ucapan Monica. Ketika ia pikir-pikir lagi, ucapan Monica ada benarnya. Ia tidak pernah merasakan kekuatan yang besar dari Jendral Clown. Pria itu memang memasang ekspresi wajah layaknya para veteran perang, tetapi tidak ada kekuatan besar yang terasa darinya. Itu seolah dia bukanlah Jendral Clown yang mengalahkan Second Commander hanya dengan sebuah intimidasi.


“Kita perlu mendengar laporan dari Xavier untuk menjawab pertanyaanmu,” respons Kanna pada akhirnya. “Namun, jika kecurigaanmu benar, Monica, bisa jadi kalau dia bukanlah Jendral Clown yang sebenarnya. Barangkali dia boneka yang dikendalikan, barangkali pula dia hanyalah manusia lain yang dipasangi ilusi. Atau, dia menggunakan rune pada tubuhnya untuk membuatnya terlihat lemah.”


Monica mengangguk mengerti. “Apa kita akan singgah di Hongariand?” tanyanya, sekali lagi mengubah topik.


Monica menggeleng. “Aku yakin kau sibuk, jadi sebaiknya kita langsung kembali ke Nevada.”


“Kalau begitu kita langsung ke Nevada.”


...* * *...


Setelah berbicara panjang lebar dengan Alice, pembicaraan yang sangat menuntut kesabaran, Xavier dan Alice akhirnya meninggalkan wilayah Kazarsia Kingdom. Namun, saat akan berangkat ke Nevada, Xavier tiba-tiba teringat kembali atas insiden penculikan yang menimpa Artemys. Ia pun memutuskan memanfaatkan situasi yang ada.


Daripada mengajak Alice kembali ke Nevada dan melanjutkan kembali karier militernya di sana, Xavier menawarkan pada gadis tersebut untuk tinggal di Cornnas dan memulai karier baru di sana. Berbagai kata Xavier cetuskan untuk meyakinkan Alice. Itu butuh usaha ekstra, tetapi pada akhirnya Xavier berhasil. Lebih tepatnya, Alice memutuskan kalau menghabiskan waktu di kota yang selalu mengingatkannya pada Clara tidak akan sehat untuknya.


Oleh karena itu, saat ini keduanya berada di depan pintu istana tempat Artemys el Vermillion tinggal—wanita yang akan menjadi istrinya setelah nanti mereka melanjutkan rencana pernikahan yang sempat tertunda.


“Ah, Commander Xavier! Mengejutkan melihat Anda di sini. Ayo, silakan masuk. Saya yakin Nona Artemys akan sangat senang dengan kehadiran Anda yang tiba-tiba ini.”


Xavier mengangguk, melangkah memasuki istana tanpa sungkan. Jika Alice tidak bersamanya, Xavier tentu akan membuka sendiri pintu istana dan masuk seolah bangunan ini miliknya. Namun, karena ada Alice, ia setidaknya harus menunjukkan sedikit keformalitasan.


Melihat Xavier yang masuk begitu saja, Alice mengekor di belakangnya. Melihat interaksi singkat antara pelayan tadi dan Xavier, Alice bisa menyimpulkan kalau Xavier sering ke sini. Dia memang sudah mengatakan kalau dia memiliki hubungan yang akrab dengan putri tertua Emperor Nueva. Namun, mendengar kalau maid itu mengatakan Artemys akan senang, sulit dipercaya jika itu hanya “akrab” semata.


Tak membutuhkan waktu yang lama bagi mereka untuk bertemu sang penguasa istana; mereka sudah berada di ruang kerja sang putri.


“Siapa yang kau bawa kali ini, Commander Xavier?” tanya wanita berambut hijau eksotis yang kira-kira berusia dua tahun lebih tua dari Alice tersebut. Meski bertanya pada Xavier, matanya memandang intens mata Alice seolah sedang menyelidik jauh ke dalam jiwanya.


“Namanya Alice Skyward, dia lulusan akademi tahun yang sama denganku dan Kanna. Alice, aku yakin kau sudah menebaknya, tapi tetap akan kuperkenalkan. Namanya Artemys, dia gubernur provinsi ini.”


“Suatu kehormatan bertemu denganmu, Yang Mulia Artemys.” Alice sedikit menundukkan kepalanya memberi hormat. “Commander Xavier menawarkanku untuk menjadi pengawal Yang Mulia.”


“Senang bertemu denganmu, Alice.” Sang putri tersenyum ramah. “Jika Xavier menawarkanmu padaku, itu artinya aku tak perlu meragukan kemampuanmu. Jenny, kuserahkan Alice padamu. Jelaskan padanya apa yang perlu dia ketahui. Xavier, ada hal lain yang perlu kita bicarakan. Bawa aku berteleportasi ke tempat biasa.”


Alice tidak sempat membuka mulutnya untuk mengatakan apa pun, Xavier dan Artemys sudah menghilang dari ruangan. Kecurigaan Alice menguat melihat hal itu. Ia bisa menyimpulkan apa maksud keakraban mereka semudah bernapas. Tetapi Alice tidak mengatakan apa pun. Ia hanya mengangguk mengikuti wanita bernama Jenny.